Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 045

Hong Beng terus membawa lari Bi Lan sampai jauh naik ke lereng sebuah bukit. Bulan sudah naik tinggi dan hal ini amat menolongnya karena malam menjadi terang, memudahkan dia memilih jalan melarikan diri. Semenjak memasuki hutan ke dua tadi, dia sudah berhasil meninggalkan para pengejar dan kini tidak nampak seorangpun pengejar di belakang.

Tiba-tiba Hong Beng merasa ada benda dingin sekali menempel tengkuknya, dan ujung sebatang pedang yang tajam runcing menempel tepat di jalan darahnya. Sedikit saja pedang itu ditusukkan, akan tamatlah riwayatnya! Ketika teringat bahwa pedang itu adalah pedang hijau kehitaman yang mengeluarkan hawa mengerikan, yang dipegang oleh gadis yang ditolongnya, seketika Hong Beng merasa betapa semua bulu di tubuhnya bangkit satu-satu karena ia merasa seram.

“Berhenti dan lepaskan aku! Kalau tidak, pedangku akan menembus tengkukmu!” bentak Bi Lan dengan suara ketus.

Biarpun ia merasa bahwa orang ini telah menolongnya, mungkin juga menyelamatkannya dari ancaman maut, akan tetapi hatinya panas dan ia marah sekali karena pemuda ini telah berani menyentuh tubuhnya. Bukan hanya menyentuh, malah memondong dan ia merasa betapa lengan itu melingkar di pinggul dan pinggangnya! Kurang ajar sekali orang ini!

Mendengar ucapan yang ketus itu dan merasa betapa todongan ujung pedang itu tidak main-main, Hong Beng terpaksa melepaskan pondongannya.

“Bukk....!”

Tubuh Bi Lan terbanting, biarpun tidak keras akan tetapi pinggulnya terasa pegal juga karena tubuhnya memang lemah. Karena ia sudah kehabisan tenaga, maka ketika pondongan itu dilepaskan, ia terbanting.

“Hemm, kau berani membanting aku, ya? Awas kau, kalau sudah sembuh, akan kuhajar kau!”

Bi Lan semakin marah dan dengan pedang masih di tangan kanan, ia menggunakan tangan kirinya mengusap-usap pinggul yang tadi menimpa tanah berbatu yang keras.

“Ah, maaf.... bukankah kau yang minta agar aku melepaskanmu, nona?”

Karena memang demikian keadaannya dan pihaknya memang keliru, Bi Lan hanya mengomel,

“Kau memang laki-laki kurang ajar sekali!”






Hong Beng memandang wajah yang cemberut itu dengan bingung. Bukan main cantik dan manisnya wajah cemberut itu tertimpa sinar bulan yang redup terang kehijauan.

“Nona, aku datang dan melihat engkau dikeroyok, maka aku segera turun tangan membantumu, dan karena mereka tadi mengejar, engkau kularikan sampai di sini dan sekarang kau sudah aman. Akan tetapi, kenapa engkau malah menodongku dan marah-marah kepadaku?”

“Siapa menyuruh engkau memondongku seperti itu!” bentak Bi Lan, hatinya masih panas karena malu mengenangkan betapa tadi ia dipondong seperti anak kecil dan dilarikan.

“Tapi.... tapi.... bagaimana aku akan dapat menyelamatkanmu kalau tidak memondongmu?”

Hong Beng membantah sambil mengerutkan alisnya karena dia mulai merasa marah juga. Sungguh seorang gadis yang tidak mengenal budi, sudah ditolong malah marah-marah dan menyalahkannya!

“Sedikitnya engkau bisa minta ijin dulu apakah aku suka atau tidak kau pondong. Enak saja memondong orang semaunya. Huh, dasar laki-laki tak mengenal sopan santun!” Bi Lan menggigit bibir menahan rasa nyeri di pundaknya, lalu mengomel lagi, “Sudah begitu masih membanting aku lagi, sudah tahu bahwa aku terluka. Laki-laki kejam dan tidak berperikemanusiaan!”

Bi Lan mendengar tentang sopan santun, tentang perikemanusiaan dan sebagainya itu selama ia menjadi murid Pendekar Naga Sakti.

Hong Beng merasa betapa mukanya menjadi panas. Dia merasa terpukul, malu dan juga penasaran. Dia malu karena bagaimanapun juga, dia teringat bahwa memang tidak pantas seorang laki-laki seperti dia memondong tubuh seorang gadis tanpa perkenan si pemilik tubuh, akan tetapi dia juga merasa penasaran karena selama hidupnya baru satu kali ini dia bertemu dengan orang yang begini tidak mengenal budi.

“Maafkan, nona, maafkan semua kelancanganku,” katanya dan tanpa pamit lagi dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Bi Lan, gadis yang dianggapnya tidak mengenal budi itu, tidak perduli bahwa gadis itu sejak tadi masih saja duduk di atas tanah, belum mampu bangkit berdiri, sungguh tidak sesuai dengan kegalakannya.

Dan memang Bi Lan tidak mampu bangkit berdiri lagi. Tubuhnya terlalu lemas, bahkan kepalanya terasa pening, matanya berkunang, dan ketika Hong Beng pergi, ia yang sejak tadi menahan diri agar tidak pingsan kini terkulai lemas.

Hong Beng tidak pergi jauh. Di dalam hatinya, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Bi Lan begitu saja. Dia tahu bahwa gadis itu terluka, hanya dia tidak tahu betapa sejak tadi gadis itu mempergunakan kekuatan tubuh dan hatinya untuk bersikap keras dan pura-pura tidak apa-apa.

Biarpun dia perlu memberi “pelajaran” kepada Bi Lan atas kekerasan sikapnya yang galak, namun dia tidak tega pergi jauh-jauh dan diam-diam dia menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak untuk kembali ke tempat itu dan mengintai untuk melihat bagaimana keadaan gadis itu dan apa yang akan dilakukannya.

Tentu saja dia terkejut bukan main ketika melihat bahwa di tempat yang ditinggalkannya tadi, Bi Lan sudah menggeletak dalam keadaan tak sadarkan diri. Gadis itu telah jatuh pingsan di tempatnya, masih di tempat yang tadi, hanya kalau tadi dia masih duduk, kini ia sudah rebah miring, mukanya yang tertimpa sinar bulan itu nampak pucat, akan tetapi pedang yang mengerikan itu masih dipegangnya erat-erat!

“Hayaa....”

Hong Beng berseru perlahan dan cepat menghampiri dengan amat hati-hati. Dia mempergunakan telunjuk kanannya untuk perlahan-lahan menyentuh tangan Bi Lan yang memegang pedang, seperti orang hendak melihat apakah harimau itu sudah mati ataukah belum, takut kalau tiba-tiba dicakarnya.

Setelah yakin bahwa gadis itu tidak bergerak lagi dan dalam keadaan pingsan, barulah dia berani mengambil pedang itu dari genggamannya. Dia harus lebih dulu menyingkirkan pedang, karena dengan pedang itu di tangan, siapa tahu tiba-tiba gadis itu akan menyerangnya dan hal itu amat berbahaya karena dia dapat merasakan bahwa pedang itu adalah sebuah pusaka yang luar biasa ampuhnya.

Kini dia yakin bahwa gadis itu memang pingsan, dan dia menarik napas panjang setelah menaruh pedang di bawah sebatang pohon, lima meter jauhnya dari situ.

“Aih, seorang gadis yang berhati baja dan berkepala batu....“ katanya sambil mulai memeriksa pergelangan tangan gadis itu.

Dia kini tidak perduli lagi apakah gadis itu nanti akan marah atau akan mengamuknya, akan tetapi dalam pemeriksaannya dia tahu bahwa gadis itu menderita luka karena hawa beracun yang hanya dapat ditimbulkan oleh senjata rahasia. Dia harus mencari di mana bagian tubuh yang terkena senjata itu.

Memeriksa tubuh gadis galak itu, di dalam cuaca remang-remang lagi! Betapa sukarnya dan betapa berbahayanya karena kalau gadis itu keburu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya diraba-raba olehnya, huh, betapa akan mengerikan akibatnya.

Akan tetapi, karena menurut denyut nadi itu si gadis berada dalam keadaan cukup berbahaya kalau hawa beracun itu tidak cepat-cepat dienyahkan, Hong Beng nekat. Biarlah kalau sampai berakibat si gadis itu marah sekali dan menyerangnya nanti, yang terpenting adalah kenyataan bahwa dia tidak berbuat hal-hal yang tidak patut atau tidak sopan. Dia hanya ingin menolong dan menyelamatkan gadis itu sekali lagi dari ancaman maut yang kini datangnya dari hawa beracun yang amat berbahaya.

Mulailah Hong Beng melakukan pemeriksaan. Mula-mula dia hanya meraba-raba kedua lengan dan kaki, kemudian leher. Ketika meraba-raba kaki inilah dia menemukan kenyataan bahwa paha kiri gadis itu terluka, cukup parah dan mengeluarkan banyak darah. Inilah menjadi satu di antara sebab-sebab mengapa gadis itu sampai pingsan, yaitu karena terlalu banyak mengeluarkan darah pula.

Ketika jari tangannya meraba ke pundak, dia terkejut, merasakan betapa kulit pundak kiri gadis itu panas sekali. Tanpa ragu-ragu lagi Hong Beng lalu merobek baju bagian pundak kiri gadis itu dan jari-jari tangannya meraba-raba. Dia mengangguk-angguk. Sebuah jarum beracun kiranya yang menancap sampai masuk ke dalam daging pundak, dan terselip di bawah tulang pundak!

Ketika menjadi murid pendekar sakti Suma Ciang Bun, Hong Beng juga mempelajari ilmu pengobatan, terutama mengenai luka-luka yang diakibatkan oleh senjata beracun atau luka-luka karena pukulan dan pukulan beracun. Maka setelah dia tahu bahwa gadis itu terkena jarum beracun yang kini berada di dalam pundaknya, diapun tahu apa yang harus dilakukannya.

Dia sendiri adalah seorang ahli mempergunakan senjata rahasia jarum, walaupun jarum-jarumnya tidak diberi racun. Pertama-tama jarum itu harus dapat dikeluarkan, dan juga darah di sekitar jarum itu dikeluarkan. Dia tidak mempunyai waktu untuk mempergunakan alat-alat, apa lagi cuaca remang-remang saja dan juga gadis itu harus cepat-cepat ditolong agar racun itu tidak menjalar semakin luas. Satu-satunya jalan hanyalah mempergunakan kekuatan sin-kangnya untuk menghisap keluar racun dan jarum itu.

Hong Beng adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu akan keanehan watak Bi Lan. Kalau dia sedang melakukan pengobatan lalu gadis itu siuman dan menyerangnya, dia tentu akan celaka. Pukulan seorang gadis selihai ini tidak boleh dibuat main-main. Maka sebelum melakukan pengobatan, lebih dahulu dia menotok beberapa jalan darah yang akan membuat gadis itu tidak mampu menggerakkan kaki tangannya kalau siuman nanti.

Setelah itu, dia merobek baju di bagian pundak itu lebih lebar lagi, lalu dia menempelkan mulutnya pada luka di bawah depan tulang pundak. Kulit yang putih halus dan hangat bahkan mendekati panas itu tidak mempengaruhinya karena pada saat itu Hong Beng mencurahkan seluruh perhatiannya hanya pada satu hal, yaitu untuk mengobati Bi Lan!

Dengan pengerahan tenaga khi-kang, pemuda itu menyedot. Darah yang agak menghitam tersedot dan diludahkan. Sampai beberapa kali dia menyedot. Akan tetapi, tiba-tiba bulan tertutup awan tebal dan keadaan menjadi gelap pekat. Terpaksa Hong Beng menghentikan pengobatan itu dan mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun.

Tak mungkin melakukan pengobatan dalam cuaca gelap gulita. Api unggun itu perlu sekali untuk mendatangkan cahaya penerangan, untuk melihat warna darah yang dihisapnya dan agar dia dapat melihat bagian tubuh yang terluka itu. Setelah api unggun bernyala besar dan mengusir kegelapan di sekitarnya, kembali Hong Deng menempelkan bibirnya pada pundak itu.

Apa yang dikhawatirkannya tadi terjadilah. Tiba-tiba gadis itu bergerak, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan kaki tangannya! Dan gadis itu lalu menjerit penuh kengerian, lalu jatuh pingsan lagi!

Tentu saja Hong Beng menjadi terkejut dan heran. Menurut perhitungannya, setelah kini hampir semua racun tersedot keluar, sepatutnya gadis itu menjadi hampir sembuh. Akan tetapi kenapa begitu siuman ia menjerit lalu pingsan lagi? Ia cepat memeriksa denyut nadi, dan ternyata denyutnya lebih kuat dan cepat dari pada biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa gadis itu mengalami guncangan dan kekagetan. Dia merasa semakin heran. Apa yang begitu mengejutkan gadis perkasa ini dan mengguncang batinnya sampai jatuh pingsan? Dengan gelisah dia menoleh ke kanan kiri, mencari-cari. Tidak ada apa-apa.

Hong Beng lalu melanjutkan usahanya mengobati Bi Lan. Sekali lagi dia menyedot dan setelah yang keluar darah merah, dia menghentikan sedotannya, menaruh obat bubuk putih yang dikeluarkan dari saku bajunya. Obat luka ini manjur sekali, selain dapat menghentikan keluarnya darah, juga dapat menahan segala macam kotoran masuk ke dalam luka, dan membuat luka cepat mengering. Setelah itu, dia menempelkan telapak tangannya ke atas pundak yang terluka itu, mengerahkan sin-kang untuk menyalurkan tenaga dalamnya membantu gadis itu memulihkan jalan darahnya dan mengusir sisa-sisa hawa beracun dari dalam tubuhnya.

Hong Beng sama sekali terlupa bahwa gadis yang diobatinya itu seorang yang amat berbahaya sehingga tadi dia terpaksa menotoknya lebih dulu. Dia lupa bahwa kini, karena dia menyalurkan sin-kang ke dalam tubuh gadis itu melalui pundaknya, maka tenaga ini dengan sendirinya melancarkan jalan darah dan membebaskan totokannya sendiri!

Maka, begitu Bi Lan siuman dan gadis itu melihat betapa ia masih rebah terlentang dan pemuda itu masih berlutut di dekatnya dan sekarang secara kurang ajar sekali menempelkan tangannya ke pundaknya yang telanjang karena bajunya sudah dirobek, dengan kemarahan meluap-luap Bi Lan lalu menggerakkan tangannya memukul dada pemuda itu.

Kini kaki tangannya dapat bergerak lagi dan saking marahnya, Bi Lan memukul dengan pengerahan tenaga dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat yang pernah dipelajarinya dari kakek Kao Kok Cu pendekar Istana Gurun Pasir.

Suling Naga