Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 046

“Wuuuuttt.... bukkk....!”

Pukulan itu dahsyat sekali, datang dari jarak dekat dan sama sekali tidak disangka-sangka oleh Hong Beng yang sedang mengerahkan tenaga untuk menyalurkan sin-kang ke dalam tubuh Bi Lan itu. Akan tetapi dia masih sempat menarik kembali tenaganya karena kalau sampai dia terpukul dengan tangan masih menempel di pundak, maka tenaga pukulan gadis itu akan terus menyusup melalui tangannya ke dalam dada gadis itu sendiri dan mungkin gadis itu akan celaka.

Dia menarik kembali tenaganya dan karena itu sama sekali tidak sempat berjaga diri. Untung dia masih ingat untuk mengumpulkan tenaga yang ditariknya itu ke arah dadanya sehingga dada itu masih dapat terlindung terhadap pukulan yang dahsyat itu. Begitu terkena pukulan itu, tubuh Hong Beng terjengkang dan bergulingan, lalu berhenti menelungkup dan tidak bergerak lagi!

Bi Lan meloncat berdiri akan tetapi ia mengeluh dan hampir roboh kembali. Ia berdiri dengan kaki gemetar dan ternyata pahanya yang terluka itu terasa nyeri, perih dan panas. Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, terutama lengan kirinya. Lengan kirinya sudah tidak lumpuh lagi dan ia sudah mendapatkan kembali tenaganya. Tenaganya sudah pulih kembali, akan tetapi kakinya tidak mampu bergerak dengan tangkas karena luka di pahanya!

Dan pemuda yang dipukulnya itu belum tentu sudah tewas. Kalau bangkit kembali tentu ia tidak akan mampu menandinginya dengan kaki seperti itu. Dengan terpincang-pincang ia menghampiri tubuh Hong Beng yang masih menggeletak menelengkup tak bergerak-gerak itu. Pemuda itu pingsan oleh guncangan pukulan yang dahsyat tadi.

Setelah tiba dekat, Bi Lan mengangkat tangan meraba pinggang dan ia terkejut. Pedangnya hilang! Tidak ada di pinggangnya, tinggal sarungnya saja. Lalu teringatlah ia bahwa tadi pedang itu masih dipegangnya. Ke mana perginya Ban-tok-kiam? Tentu orang ini yang mengambilnya. Celaka, pedang itu dipinjamkan oleh nenek Wan Ceng kepadanya, kalau sampai lenyap bagaimana ia akan mempertanggung jawabkannya? Niat hati untuk membunuh pemuda itu segera mereda.

Tidak, ia tidak akan membunuhnya sebelum pemuda itu mengembalikan Ban-tok-kiam yang tentu disembunyikannya. Akan tetapi kalau tidak dibunuh orang ini amat berbahaya.

Bi Lan mendapatkan akal. Orang ini harus dibuat tidak berdaya dulu. Nanti kalau sudah sadar, akan diancam dan dipaksanya mengembalikan Ban-tok-kiam, baru akan dibunuhnya karena kekurangajarannya yang luar biasa tadi.






Karena tenaga di kedua tangannya sudah pulih, mudah saja bagi Bi Lan untuk melakukan totokan pada kedua pundak dan kedua pinggang pemuda itu untuk melumpuhkan kaki tangannya.

Akan tetapi, pemuda itu terlalu berbahaya dan lihai, maka Bi Lan masih menambahkan dengan mengikat kedua kaki tangan Hong Beng dengan robekan baju pemuda itu sendiri. Dengan gemas ia merobek baju pemuda itu, teringat akan baju di pundaknya yang robek, dan mempergunakan kain yang kuat itu, setelah dipintalnya, untuk mengikat kedua pergelangan kaki dan tangan. Barulah ia membalikkan tubuh pemuda itu terlentang. Pemuda itu masih pingsan. Agaknya hebat sekali pukulannya tadi.

Wajah pemuda itu pucat dan dari ujung bibirnya mengalir sedikit darah. Bi Lan meraba dadanya dan ternyata pemuda itu masih bernapas, jantungnya masih berdenyut dan hatinyapun lega. Pemuda ini tidak boleh mati sebelum pedang pusakanya dikembalikan!

Penerangan api unggun makin menyuram karena api unggun itu kehabisan bahan bakar. Bi Lan terpincang-pincang mencari tambahan kayu kering dan tak lama kemudian api unggun itu membesar lagi. Ia duduk dekat tubuh Hong Beng yang masih terlentang tak bergerak, seperti tidur, seperti mati. Dan Bi Lan termenung. Yang terus teringat olehnya hanyalah bagaimana pemuda ini dengan kurang ajar sekali tadi telah merobek bajunya, menciumi pundak mungkin juga dekat payudaranya,

Teringat ini, mukanya menjadi panas sekali. Dan teringat pula ia betapa ia siuman dan melihat pemuda itu seperti hendak memperkosanya, menciumi pundaknya yang telanjang, ia tidak mampu menggerakkan kedua kaki tangan saking takutnya ia menjerit dan tak ingat apa-apa lagi. Ketika ia siuman kembali, bagaimanapun juga ia merasa lega karena pakaiannya, terutama pakaian dalamnya, masih melekat di badannya. Akan tetapi pemuda itu masih membelai dan mengelus pundaknya, maka pemuda itu lalu dihantamnya. Pemuda biadab! Ia membayangkan hal yang bukan-bukan dan bulu tengkuknya meremang. Hampir saja, pikirnya dan ia semakin marah.

Di bawah penerangan api unggun, ia melihat seekor nyamuk besar terbang dan hinggap di pipi Hong Beng. Dengan pandang matanya yang tajam ia melihat betapa nyamuk itu menghisap darah dari pipi itu, perutnya yang tadinya kempis putih itu perlahan-lahan berubah menghitam dan mengembung.

Perasaan tidak tega membuat ia mengangkat tangan ke atas, siap untuk memukul mati nyamuk itu. Akan tetapi perasaan lain mengatakan bahwa tidak sepantasnya ia mengasihani pemuda ini dan perasaan ini memaksanya mengingat betapa pemuda itu telah menciumi pundaknya dengan bibir dan pipi itu! Tangannya melayang turun.

“Plakk!”

Nyamuk itu mati gepeng dan perutnya pecah, darah merah bergelimang di sekitar bangkai nyamuk itu. Bi Lan menarik napas panjang untuk menekan perasaannya yang terpecah menjadi dua pihak yang bertentangan. Sepihak merasa puas bahwa ia telah membunuh nyamuk yang sedang menghisap darah pemuda yang sedang pingsan tak berdaya itu, akan tetapi dilain pihak menyangkal dan mengatakan bahwa yang ia lakukan tadi adalah untuk melampiaskan panas hatinya, untuk menghukum karena pemuda itu tadi berani kurang ajar kepadanya.

Biarpun sudah dibantahnya demikian, tetap saja ada dua macam kepuasan terasa di dalam hatinya, kepuasan karena membebaskan pemuda itu dari gangguan nyamuk dan kepuasan sudah menampar pemuda itu. Kenyataan ini mengganggu hatinya dan Bi Lan mengalihkan perhatian kepada pahanya yang terluka.

Celananya yang kanan melekat pada pahanya. Bagian paha itu terbuka dan nampak luka merah menganga, sudah tidak mengeluarkan darah lagi akan tetapi terasa amat nyeri, pedih dan panas. Untuk memeriksa luka ini, harus celana itu dibuka. Hal ini tidak mungkin karena di situ ada orang lain, seorang lelaki pula!

Merobek celana itu di bagian paha juga tidak mungkin karena pahanya akan terbuka dan telanjang dan hal ini amat memalukan. Bagaimana kalau pemuda kurang ajar itu nanti siuman dan melihat pahanya yang tidak tertutup? Dengan hati-hati ia menguak celana yang terobek pedang itu untuk memeriksa lukanya. Perlu dicuci, pikirnya, dan harus cepat diberi obat luka. Kalau tidak, bias berbahaya. Ia meraba-raba bajunya akan tetapi tidak dapat menemukan obat. Teringatlah ia bahwa obat-obatnya berada di dalam buntalan dan buntalan itu tentu saja sudah tercecer ketika ia berkelahi tadi. Semua pakaian bekalnya juga hilang.

Api unggun mulai mengecil dan akhirnya padam, hanya meninggalkan asap putih yang makin mengecil juga. Akan tetapi Bi Lan tidak menyalakannya kembali karena malam telah berganti pagi dan biarpun mataharinya sendiri belum nampak, namun sinarnya telah membakar ufuk timur dan mengusir kegelapan malam.

Pagi itu dingin sekali, akan tetapi Bi Lan yang sibuk memeriksa luka di pahanya tidak memperhatikannya. Mulutnya mendesis-desis menahan rasa nyeri yang seperti menyusup ke dalam tulang-tulang, terutama di sekitar pahanya.

“Luka itu harus dicuci bersih dan aku mempunyai obat luka yang manjur.”

Bi Lan yang sedang tenggelam dalam perhatian memeriksa luka di pahanya, terkejut dan cepat menutupkan kembali kain celana robek itu pada pahanya. Mukanya merah dan seperti seekor kelinci ketakutan, ia sudah meloncat ke dekat Hong Beng akan tetapi ia mengeluh karena pahanya terasa semakin perih ketika ia meloncat dan luka di paha itu tergeser dan tergores kain. Dengan jari-jari tangan mengancam kepala Hong Beng, Bi Lan menghardik,

“Hayo kembalikan pedangku, kalau tidak, akan kucengkeram ubun-ubunmu sampai hancur!”

Ketika tadi siuman kembali, Hong Beng merasa betapa kaki tangannya lumpuh, bahkan terikat tali yang terbuat dari bajunya sendiri yang sudah robek-robek. Lalu dia teringat, dan hatinya merasa mendongkol bukan main. Celaka, pikirnya. Ini bukan hanya air susu dibalas tuba, bahkan lebih menjengkelkan lagi.

Gadis itu bukan hanya tidak mengenal budi, bahkan jahat dan kejamnya seperti iblis! Dia harus berhati-hati karena nyawanya terancam di tangan gadis yang jahat seperti iblis ini. Maka, biarpun sudah siuman, dia diam saja dan segera dia mengerahkan tenaga sin-kangnya.

Tenaga sin-kang yang dimiliki keluarga para pendekar Pulau Es memang hebat bukan main, berbeda dari pada sin-kang dari aliran persilatan yang lain. Keluarga Pulau Es itu sudah mampu menguasai latihan untuk menghimpun tenaga sin-kang, bahkan untuk mengendalikannya sedemikian rupa sehingga para pendekar Pulau Es dapat membuat tenaga sin-kang itu menjadi panas seperti api dan dingin seperti es, juga dapat sekaligus menggunakan dua hawa tenaga yang berlawanan itu dengan kedua tangan.

Dengan penggunaan kedua hawa tenaga itu, akhirnya dalam waktu sebentar saja Hong Beng mampu membebaskan pengaruh totokan Bi Lan. Akan tetapi dia diam saja karena ikatan tali kain itu tidak ada artinya baginya. Dia hanya bersiap siaga, ingin melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh gadis yang jahat dan kejam seperti iblis betina itu.

Akan tetapi ketika dia melirik dan melihat betapa Bi Lan memeriksa luka di pahanya sambil mendesis-desis dan mengeluh dengan suara seperti akan menangis, seperti sikap seorang anak kecil yang cengeng, kemarahannya mencair dan diapun merasa kasihan. Maka dia lalu memberi nasihat tadi agar luka itu dicuci dan bahwa dia mempunyai obat luka yang manjur.

Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu memang benar-benar jahat. Kini gadis itu mengancam ubun-ubun kepalanya, siap membunuhnya dan menanyakan pedang pusaka yang juga mengerikan itu. Kini tahulah dia mengapa gadis itu memiliki sebatang pedang yang demikian menyeramkan. Kiranya ia sendiripun mempunyai watak yang mengerikan.

“Hemm, kau kira aku mencuri pedangmu yang ganas itu? Aku hanya menyimpannya. Pedang itu berada di bawah pohon di sana itu.”

Hong Beng menunjukkan tempat pedang itu dengan pandang matanya. Bi Lan menengok dan terpincang-pincang ia menghampiri pohon itu. Benar saja. Ban-tok-kiam menggeletak di situ. Cepat pedang itu diambilnya. Pedangnya sudah ditemukan dan sekarang pemuda itu harus dibunuhnya, untuk menghukumnya atas kekurang ajarannya. Iapun terpincang-pincang menghampiri lagi Hong Beng yang diam-diam sudah siap siaga membela diri. Akan tetapi dia masih tetap rebah terlentang.

“Dan sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!” bentak Bi Lan sambil mengangkat pedangnya.

Hong Beng tersenyum mengejek.
“Hemm, benar saja. Aku telah keliru menolong anak setan yang amat jahat.”

Bi Lan menahan pedangnya.
“Siapa yang jahat?”

“Huh, siapa lagi kalau bukan engkau? Aku telah menyelamatkanmu, menolongmu, akan tetapi engkau hendak membalasnya dengan membunuhku. Apa namanya itu kalau tidak jahat seperti iblis?”

“Engkau yang jahat seperti iblis! Memang kau telah menolongku, akan tetapi pertolonganmu itu berpamrih keji. Kebaikanmu itu belum cukup untuk menghapus kekejian dan kekurang ajaranmu terhadap aku. Dibunuh sepuluh kalipun masih belum dapat menghapus dosamu!”.

Hong Beng membelalakkan kedua matanya.
“Ehh.... ehhh.... engkau tidak hanya jahat dan kejam, akan tetapi bahkan licik dan pandai membalik-balikan kenyataan. Sungguh tak kusangka. Kau bilang aku jahat dan keji dan kurang ajar? Coba, di bagian mana aku jahat dan keji dan kurang ajar?”

Hong Beng benar-benar merasa penasaran sekali. Ingin dia merenggut lepas tali-tali itu dan menghajar gadis yang keterlaluan ini, akan tetapi dia masih ingin mendengarkan terus karena diam-diam dia merasa terheran-heran bagaimana ada gadis yang begini berani mati dan tanpa malu-malu memutar balikkan kenyataan.

Akan tetapi, sikap Hong Beng itu bahkan membuat Bi Lan menjadi semakin marah.
“Heh, kau laki-laki yang sombong dan engkaulah yang pura-pura suci. Apa yang kau lakukan tadi sewaktu aku pingsan? Engkau telah menciumku....“

“Ehhh....? Bohong seribu kali bohong! Aku tidak pernah menciummu!” bantahnya dan ada suara berbisik menyambung dalam hatinya, “....walaupun aku ingin sekali kalau mungkin....!”

Heran sekali dia, mengapa ada mulut dapat nampak begitu manis biarpun mulut itu sedang cemberut dalam kemarahan! Dan lebih heran lagi dia, mengapa ada wajah yang begitu jelita memiliki mata yang demikian jahat dan kejam! Sepasang mata itu mencorong seperti mengeluarkan sinar berapi.

“Apa! Kau yang bohong, pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya sendiri. Ketika aku sadar dari pingsan, engkau menempelkan mulut dan hidungmu di pundakku. Apa lagi itu namanya kalau bukan mencium? Apa kau mau bilang bahwa kau hendak menggigit dan memakan daging pundakku? Dan ketika aku siuman untuk ke dua kalinya, engkau.... engkau membelai dan meraba-raba pundakku. Keparat!”

Tiba-tiba Hong Beng tertawa sehingga Bi Lan yang sedang marah itu tertegun heran.
Gilakah orang ini? Diancam mau dibunuh malah ketawa-tawa.

Suling Naga