Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 047

“Ha-ha-ha, jadi itukah sebabnya mengapa engkau jatuh pingsan lagi, dan kemudian kau menyerangku secara semena-mena?”

Hatinya lega bukan main. Kalau begitu, gadis ini sama sekali tidak jahat! Gadis ini bersikap kejam karena marah dan merasa dihina, mengira dia seorang pria kurang ajar yang mempergunakan kesempatan selagi gadis itu pingsan, telah berani mencium pundaknya lalu meraba-raba pundak dan mungkin lain tempat lagi! Itulah sebabnya gadis itu menjadi marah dan kejam! Bukan karena memang wataknya jahat.

“Ha-ha, nona, engkau salah kira. Aku tidak mencium pundakmu, juga tidak ingin makan daging pundakmu biarpun perutku memang lapar sekali.”

“Jangan coba menyangkal atau berkelakar. Aku tidak ketawa dan tidak merasa lucu! Kalau tidak mencium, lalu mau apa kau....?”

“Nona, aku memang menempelkan mulutku di pundakmu, akan tetapi bukan mencium, melainkan menyedot darah yang sudah tercampur racun dari luka di pundakmu.”

Bi Lan terkejut dan baru ia teringat bahwa ketika berkelahi, pundaknya terkena jarum beracun sucinya dan menjadi lumpuh lengan kiri itu.

“Luka....?” Di pundak....?” ia tergagap.

“Terkena jarum beracun. Aku terpaksa menyedot darah yang keracunan itu, sekalian mengeluarkan jarumnya, kemudian kupergunakan sin-kang untuk membantumu memulihkan jalan darahmu, dan menempelkan tanganku di pundak yang terluka itu....”

“Ahh....!”

Bi Lan kini menggunakan tangan kirinya meraba-raba pundak dan memang masih ada lukanya di situ, luka kecil karena jarum, akan tetapi menjadi agak besar karena disedot dan kini sudah kering dan sudah tidak terasa nyeri sama sekali.

“Ahhh....!” kembali ia berseru bingung. Pedang yang dipegang oleh tangan kanan itu kini menurun. “Ahhh....!” Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Menyesal, malu, dan ditambah perasaan nyeri di pahanya.

Melihat betapa gadis itu hanya dapat berah-ah-uh-uh dengan canggung, Hong Beng merasa kasihan.

“Luka di pahamu itu perlu dirawat, nona. Perlu dicuci bersih dan aku membawa obat luka yang manjur, yang tadipun sudah kukenakan pada luka di pundakmu. Aku belum berani merawat luka di pahamu karena khawatir kau....”






Bi Lan menarik napas panjang. Pengalamannya dengan Sam Kwi, kemudian dengan Bhok Gun, membuat ia bercuriga kepada setiap pria dan ia tadinya menduga bahwa pemuda inipun tiada bedanya dengan yang lain. Akan tetapi ternyata ia salah duga, salah sekali.

“Aih, aku telah keliru.... kukira engkau.... kiranya tidak demikian....“

Hong Beng tersenyum.
“Tidak aneh, nona. Memang di dunia ini lebih banyak orang jahat dari pada yang benar. Akan tetapi, tentu engkau sekarang sudah percaya kepadaku, bukan?”

Melihat betapa pemuda itu memandang ke arah pedang Ban-tok-kiam yang masih dipegangnya dengan tangan kanan, Bi Lan cepat menyimpan pedangnya itu dengan muka merah.

“Tentu saja, aku telah salah sangka. Biar kulepaskan ikatan dan totokanmu....”

Akan tetapi gadis itu terkejut bukan main ketika ia hendak membuka totokan dan ikatan kaki tangan, tiba-tiba pemuda itu menggerakkan kaki tangannya dan semua ikatan itupun putus dan pemuda itu bangkit duduk sambil tersenyum.

“Ah, kau.... kau....” Bi Lan tak melanjutkan kata-katanya dan memandang dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi semakin merah. “Tadi.... kau kutotok dan kuikat....“

“Baik sekali itu, nona, demi keamanan karena kalau seorang yang dicurigai dibiarkan terlepas, tentu berbahaya.”

“Dan tadi.... kuhantam dadamu, keras sekali. Kau tidak apa-apa....?”

“Aku roboh pingsan. Memang hebat sekali pukulanmu tadi.”

“Maksudku, kau tidak terluka parah....?”

Ucapan Bi Lan kini terdengar penuh dengan nada penyesalan dan makin gembiralah hati Hong Beng karena dia kini merasa yakin bahwa dia tidak salah mengira ketika pertama kali bertemu dengan gadis ini di restoran. Gadis ini lain dengan sucinya itu. Gadis ini polos dan murni, hanya agak liar dan penuh curiga. Dia menggeleng kepala, tidak tega menggoda dan menambah penyesalan dalam hati gadis itu.

“Pukulanmu tadi cepat sekali datangnya, dan untung aku masih sempat melindungi dadaku. Kalau tidak, tentu sudah berantakan isi dadaku tadi.”

“Ah, aku menyesal sekali. Sungguh aku jahat sekali, engkau sudah membantuku, menyelamatkan aku, akan tetapi aku sejak pertama mencurigaimu. Kuanggap engkau kurang ajar ketika memondongku dan melarikan aku, kemudian engkau untuk kedua kalinya menyelamatkan aku dengan mengobati lukaku, akan tetapi aku malah makin curiga dan menyangka buruk. Ah, betapa jahatnya aku....“

“Sudahlah, nona. Salah sangka merupakan kelemahan semua orang. Dan mungkin karena engkau kurang pengalaman, dan kita belum saling mengenal, maka terjadi kesalah pahaman itu. Lebih baik kau rawat dulu luka di pahamu, ini obat luka yang manjur. Pakailah. Ketika lari ke sini, di bawah itu terdapat sumber air. Mari kuantar....“

Bi Lan bangkit dan ketika Hong Beng mengulurkan tangan, tanpa ragu-ragu ia lalu memegang lengan pemuda itu dan sambil terpincang-pincang, dibantu oleh Hong Beng, mereka menuruni lereng itu dan benar saja, tak jauh dari situ terdapat mata air yang mengeluarkan air jernih dari celah-celah batu dan menjadi anak sungai.

“Cucilah lukamu, aku menanti di sana.”

Hong Beng lalu pergi meninggalkan gadis itu lalu duduk di atas sebuah batu, di tempat yang agak tinggi sehingga nampak oleh Bi Lan betapa pemuda itu duduk bersila di atas batu datar, membelakanginya. Kembali wajahnya terasa panas karena malu. Pemuda itu demikian sopan, akan tetapi tadi hampir dibunuhnya karena dianggapnya kurang ajar! Lain kali ia harus berhati-hati menilai orang dan tidak bertindak secara sembrono.

Dengan hati-hati ia lalu merobek celananya lebih lebar sehingga luka di pahanya nampak nyata. Luka itu sebetulnya tidak berapa lebar, hanya terluka oleh tusukan pedang, akan tetapi agak membengkak dan merah sekali.

Biarpun terasa amat perih ketika disentuh air, ia menggigit bibir dan tidak mau mengaduh, khawatir terdengar oleh pemuda itu. Dicucinya luka itu sampai bersih, kemudian ia menaruh obat bubuk putih itu di atas luka itu sampai penuh dan tertutup, kemudian dibalutnya pahanya dengan kain putih dari ikat pinggangnya. Terasa dingin dan nyaman sekarang. Akan tetapi dengan sedih ia melihat celananya yang kini robek dan tidak dapat menutupi lagi seluruh kakinya, juga bajunya di bagian pundak kiri sudah robek sehingga nampak kulit leher dan sebagian pundaknya.

Ia melihat bahwa pemuda itu masih duduk bersila di atas batu, menghadap matahari pagi yang sudah mulai muncul dengan sinarnya yang kuning keemasan, cerah sekali. Sedapat mungkin Bi Lan menutupi paha dan pundak yang nampak ketika ia menghampiri pemuda itu.

“Sudah kuobati luka di kakiku,” katanya sambil mengembalikan bungkusan obat luka.

Hong Beng memandang dan melihat betapa gadis itu dengan canggungnya mencoba untuk menutupi robekan celana dan baju, ia segera mengambil bungkusannya dan mengeluarkan satu stel pakaiannya.

“Nona, pakaianmu robek-robek, kau pakailah pakaian ini untuk sementara sebelum engkau mendapatkan pengganti yang pantas.”

Bi Lan menggeleng kepala.
“Pakaianmu tentu terlalu besar untukku, juga, aku tidak suka memakai pakaian pria.” Ia melihat pakaiannya dan menarik napas panjang. “Kalau saja aku dapat menambal dan menjahit bagian yang robek, untuk sementara dapat dipakai sebelum mendapatkan yang baru....“

“Aku punya jarum dan benang! Dan untuk menambal, kau pergunakan ini.” Tanpa ragu-ragu lagi Hong Beng merobek kain ikat pinggang yang panjang, berwarna putih, dan menyerahkan robekan kain itu bersama jarum dan benangnya kepada Bi Lan. “Akan tetapi, untuk menjahit pakaianmu, sementara engkau harus berganti dulu, nona. Kaupakailah dulu pakaian ini sebelum pakaianmu dijahit. Maukah kau kubantu? Aku pandai menjahit, dan aku akan menjahit pakaianmu yang robek....“

“Tidak!” kata Bi Lan cepat-cepat. “Aku akan menjahitnya sendiri!”

Hong Beng tersenyum.
“Baiklah, kau berganti pakaian dan jahit pakaianmu yang robek. Aku mau mencari bahan makanan untuk kita.”

Setelah berkata demikian, Hong Beng meloncat dan lari memasuki sebuah hutan lebat yang berada di dekat puncak, tak jauh dari lereng itu.

Bi Lan cepat membawa satu stel pakaian Hong Beng dan masuk ke belakang semak-semak belukar. Ia menanggalkan pakaiannya sendiri dan memakai pakaian Hong Beng yang tentu saja terlalu besar untuknya itu sehingga ia harus menggulung kelebihan kaki celana dan lengan baju. Ia nampak lucu setelah keluar dari balik semak-semak, membawa pakaiannya sendiri kembali ke batu besar tadi dan mulai menjahit dan menambal baju dan celananya sendiri yang robek-robek. Ia sudah biasa menggunakan jarum benang, maka sebentar saja baju dan celananya yang robek-robek itu telah dijahitnya dengan rapi dan rapat.

Setelah Hong Beng kembali ia sudah berganti dalam pakaiannya sendiri dan pakaian Hong Beng yang tadi dipakainya telah dilipatnya lagi dengan rapi dan dikembalikan ke dalam buntalan pemuda itu.

Hong Beng dengan wajah berseri memperlihatkan dua ekor ayam hutan yang gemuk, yang dirobohkannya dengan sambitan jarum-jarumnya.

“Lihat, ini bahan makanan untuk kita. Aku sudah lapar sekali.”

“Mari kubantu membersihkan bulu-bulu dan isi perutnya. Berikan padaku, akan kucuci di sumber air itu.”

“Dan aku mempersiapkan api dan menanak nasi, juga mempersiapkan bumbu-bumbunya.”

“Nasi? Bumbu?”

Hong Beng tertawa dan mengeluarkan beras, panci, garam dan bumbu-bumbu sederhana dari dalam buntalannya, seperti bermain sulap saja. Bi Lan tersenyum dan ia sudah pulih kembali kesehatannya sehingga kegembiraannya juga timbul karena pada hakekatnya gadis itu berwatak periang dan jenaka.

“Bagus, akan makan enak kita hari ini! Perutku sudah lapar bukan main!”

Dan iapun lalu berlari-lari kecil menuju ke sumber air. Ketika rasa nyeri pahanya membuatnya menjerit kecil, barulah ia ingat akan kakinya yang sakit dan iapun melanjutkan lari terpincang-pincang.

Hong Beng memandang sampai gadis itu lenyap di balik pohon-pohon. Lucu dan menarik, menyenangkan sekali gadis itu, pikirnya. Seorang gadis yang amat baik, yang mungkin selama ini memperoleh pergaulan dengan orang-orang yang tidak patut. Baru dia teringat bahwa dia belum tahu siapa gadis itu, dari perguruan mana dan bagaimana riwayatnya, mereka belum saling berkenalan, padahal sebentar lagi mereka sudah akan makan bersama. Akan tetapi dia tidak berani bertanya-tanya tentang diri gadis itu. Wataknya demikian aneh, jangan-jangan kalau ditanya nama lalu timbul lagi kecurigaannya.

Matahari telah naik tinggi ketika keduanya duduk menghadapi nasi dan panggang daging ayam yang gemuk sambil berteduh di bawah pohon besar. Dengan lahap mereka lalu makan nasi dan daging ayam. Ketika Hong Beng mengeluarkan seguci arak, Bi Lan mengerutkan alisnya dan ia menggeleng kepala dengan keras ketika pemuda itu menawarkan arak padanya.

“Tidak, tidak....! Sampai matipun aku tidak akan minum lagi minuman setan itu!” katanya dan ia lalu minum sedikit air jernih yang sejak tadi sudah ia siapkan di dalam panci.

“Nona, arak amat berguna seperti api. Kalau dipergunakan menurut aturan, dia akan baik sekali bagi kesehatan. Akan tetapi kalau dibiarkan menguasai kita dan kita minum tanpa aturan, tentu akan mencelakakan dan merusak kesehatan. Arak ini bukan arak yang keras, sudah dicampur dengan air, kalau diminum setelah perut terisi makanan, akan menjadi penghangat tubuh.”

Pemuda itu lalu menuangkan sedikit arak ke dalam cangkir dan meminumnya sedikit demi sedikit dan kelihatan memang enak sekali. Apa lagi bau arak itu sedap. Tiba-tiba ia mengulurkan tangan.

Suling Naga