Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 048

“Coba beri aku sedikit saja,” katanya dan jantungnya berdebar khawatir.

Kenapa ia begitu percaya kepada pemuda ini? Bagaimana kalau pemuda ini seperti Sam Kwi atau seperti Bhok Gun dan melolohnya dengan arak sampai mabok? Akan tetapi, ketika Hong Beng mengulurkan tangan memberikan cangkir yang sudah diisi sedikit arak, ia menerima tanpa ragu, kemudian meminumnya sedikit demi sedikit, dikecupnya sedikit saja. Dan memang enak! Selain rasanya mengandung sedikit manis dan berbau sedap, juga kalau diminum sedikit tidak mencekik leher dan juga ada hawa panas yang enak memasuki perutnya.

Enak bukan main makan seperti itu. Hanya nasi dengan daging ayam dipanggang sederhana, dengan bumbu sederhana sekali, garam dan bawang dan kecap, dimakan panas-panas sambil duduk di atas rumput di tempat teduh, tanpa sumpit atau sendok atau pisau, hanya dengan lima jari tangan saja. Enak! Perut sudah lapar, tubuh lelah dan baru saja terlepas dari ancaman maut dan mengalami hal-hal yang menegangkan, itulah yang membuat hidangan sederhana menjadi lezat bukan main.

Berbahagialah orang yang sehat tubuh dan hatinya, sehat badan dan batinnya, di manapun juga dia berada. Bagi orang yang sehat badannya, segalanya terasa nikmat. Panca indera yang sehat dapat menikmati segala yang dilihat, didengar, dicium, dimakan dan dirasakan. Tinggal menikmatinya saja! Segala sudah berlimpahan di sekelilingnya.

Akan tetapi, badan sehat harus pula dilengkapi dengan batin sehat. Kalau tidak, maka badan sehat itupun tidak akan dapat menikmati segala yang ada, karena batinnya mencari dan mengharapkan keadaan yang lain dari pada yang dihadapinya, keadaan lain yang diharapkan dan dibayangkan lebih hebat, lebih baik, lebih menyenangkan dari pada yang telah ada. Pencarian ini, harapan ini otomatis melenyapkan keindahan dari keadaan yang diharapkannya itu. Dan timbullah kekecewaan, tidak puas, penyesalan dan kedukaan.

Keadaan Hong Beng dan Bi Lan itu dapat dijadikan contoh suatu keadaan. Karena tubuh mereka sehat, lelah dan lapar, maka sudah sepatutnya kalau mereka dapat menikmati hidangan sederhana itu. Dan keadaan batin merekapun pada saat itu sehat. Andaikata tidak demikian dan mereka itu membandingkan dengan keadaan lain yang mereka harapkan, makan dengan hidangan yang lebih lengkap, duduk di kursi dan menggunakan sumpit, dilayani dan segala macam keenakan lain yang tidak ada pada saat itu, dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan dapat makan selahap dan selezat itu!

Jelaslah bahwa segala macam keindahan dan keenakan bukan terletak pada benda di luar diri kita, melainkan tergantung sepenuhnya kepada batin dan badan kita sendiri. Sarana untuk dapat menikmati hidup ini bukanlah kekayaan, kedudukan, kepandaian, ataupun kekuasaan. Sarana yang mutlak hanyalah kesehatan badan dan batin. Tawa bukan hanya milik orang kaya dan tangis bukan hanya bagian orang miskin. Tawa sebagai cermin suka dan tangis sebagai cermin duka akan selalu silih berganti mengombang-ambingkan manusia yang belum sehat badan dan batinnya.






Orang yang memiliki segala-galanya dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, yang mampu menikmati setiap tarikan napas, mampu menikmati setiap teguk air, mampu melihat dan mendengar keindahan segala sesuatu yang nampak dan terdengar, adalah orang bijaksana. Orang bijaksana tidak tersentuh dalam arti kata terseret suka duka. Orang bijaksana adalah orang yang sehat badan dan batinnya.

“Tidak tambah lagi? Ini nasinya masih, dagingnya juga masih.” Hong Beng menawarkan.

Bi Lan menggeleng kepala dan minum air jernih.
“Cukup, aku sudah kenyang sekali.”

“Araknya lagi? Sedikit lagipun tidak apa-apa.”

Kembali Bi Lan menggeleng kepala.
“Teruskanlah makanmu sampai kenyang. Aku sudah cukup, lebih dari cukup.”

Ia lalu menggunakan air untuk mencuci kedua tangannya yang masih berlepotan minyak gajih ayam yang gemuk tadi. Hong Beng melanjutkan makannya, nampak enak sekali dan Bi Lan menatap dan mengamati wajah pemuda itu.

Seorang pemuda yang mukanya bersih dan cerah, berkulit kuning dan tampan. Akan tetapi, seorang pemuda yang sederhana. Sederhana lahir batinnya. Bukan hanya pakaian yang berwarna biru dengan sabuk putih itu yang sederhana, juga sepatunya yang sudah hampir butut, melainkan juga muka yang bersih itu tidak pesolek. Rambut yang hitam gemuk itu tidak berbekas minyak seperti rambut Bhok Gun yang mengkilap dan berbau wangi.

Tidak, pemuda ini tidak pesolek walaupun dalam ketampanan tidak kalah oleh Bhok Gun. Sikapnya membayangkan batin yang sederhana. Selalu nampak rendah hati, padahal, dengan ilmu kepandaian seperti itu, biasanya orang akan menjadi sombong dan besar kepala, tinggi hati. Seorang pemuda yang terlalu sederhana, akan tetapi justeru di situlah letak daya tariknya.

“Sekarang aku yakin benar bahwa engkau tidak mempunyai niat buruk terhadap diriku....”

“Terima kasih, legalah hatiku kalau tidak dicurigai lagi,” kata Hong Beng memotong.

“Tapi....”

Sepasang mata yang jeli itu menatap tajam, seolah-olah sinarnya ingin menembus dan menjenguk isi hati pemuda itu.

“.... lalu kenapa engkau bersusah payah menolongku ketika aku dikepung, dan mengobatiku ketika aku terluka jarum beracun? Kalau tidak ada pamrihmu, untuk apa engkau menolongku? Kita bukan sahabat, bahkan bukan kenalan, kenapa engkau membantu aku dan menentang mereka?”

Hong Beng menyuapkan segenggam nasi ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan-lahan sambil mengamati wajah yang manis itu. Seorang dara cantik sekali, cantik manis walaupun kulit muka yang putih mulus itu tidak berbau bedak dan gincu. Manis, terutama sekali mulut yang kecil mungil itu, dengan lesung pipit di kanan kirinya, nampak membayang kalau bicara, nampak mengintai kalau cemberut, dan nampak cerah dan jelas kalau tersenyum. Sepasang mata itu bersinar-sinar penuh gairah dan semangat hidup penuh kegembiraan. Seorang gadis yang manis.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan semua itu? Jawablah agar aku tidak merasa penasaran.”

Hong Beng menelan makanan dalam mulutnya. Sebelum menjawab, dia menghabiskan sisa arak dalam cangkirnya.

“Nona, sejenak aku tak mampu menjawab. Pertanyaanmu itu amat aneh terdengar olehku. Kenapa seseorang menolong orang lain? Kenapa seseorang melakukan gangguan kepada orang lain? Kenapa orang selalu melakukan kebaikan atau keburukan kepada orang lain? Nona, kalau menurut pendapatmu, anehkah kalau orang menolong orang lain tanpa pamrih?”

“Tentu saja aneh, bahkan tak masuk akal! Segala perbuatan kita tentu terdorong oleh sesuatu pamrih, untuk mencapai sesuatu, atau memiliki tujuan tertentu. Kalau tadi aku memukulmu, hendak membunuhmu, tentu ada sebabnya, bukan? Sebabnya, karena engkau kuanggap jahat. Dan kalau sekarang aku mau makan minum bersamamu, duduk bercakap-cakap, tentu ada sebabnya pula, karena kini aku percaya padamu sebagai seorang yang baik. Nah, tentu ketika kau menolongku tadi, ada pamrihnya.”

Hong Beng bengong. Alasan-alasan itu sungguh mengandung kebenaran bagi manusia pada umumnya. Akan tetapi sekaligus membuka mata betapa kotornya kalau setiap perbuatan itu mengandung pamrih. Katakanlah pertolongannya terhadap Bi Lan berpamrih, maka pamrihnya itu tentu kotor. Apa yang kiranya dapat diharapkannya dari gadis ini? Satu-satunya tentu karena gadis ini manis, dan pamrihnya tentu dikuasai nafsu berahi. Tidak! Sama sekali tidak demikian yang mendorongnya menolong gadis itu.

“Nona, bagiku, apa yang kulakukan terhadap dirimu tadi bukanlah perbuatan yang didorong oleh pamrih, melainkan didorong oleh perasaan iba terhadap yang tertindas, dan perasaan menentang terhadap segala macam kejahatan. Perbuatan tadi kuanggap sebagai suatu keharusan, suatu kewajiban. Andaikata bukan engkau yang tadi terancam maut, andaikata seorang laki-laki pun, atau seorang nenek tua buruk sekalipun, tetap saja aku akan turun tangan dan berusaha menyelamatkannya.”

Bi Lan mengerutkan alisnya dan nampak kepalanya sedikit bergoyang. Agaknya sukar baginya menerima alasan ini. Di dalam dunia Sam Kwi yang dikenalnya sejak ia masih kecil, segala perbuatan tentu ada pamrihnya, pamrih untuk kepentingan diri sendiri, untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri. Akan tetapi ia teringat bahwa suhu dan subonya dari Istana Gurun Pasir pernah mengatakan bahwa seorang yang berjiwa pendekar harus selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong orang-orang yang lemah tertindas, dan menggelung lengan baju menentang arang-orang yang kuat dan jahat.

“Engkau seorang pendekar?” tiba-tiba ia bertanya sambil menatap wajah itu.

Hong Beng sudah selesai makan dan sedang mencuci kedua tangannya seperti yang dilakukan Bi Lan tadi.

Hong Beng menggeleng kepala.
“Pendekar bukanlah suatu kedudukan atau pangkat, nona. Penilaiannya terserah kepada si penilai, tergantung dari sepak terjangnya dalam kehidupannya. Aku seorang manusia biasa saja yang kebetulan bertemu denganmu di rumah makan itu, dan merasa curiga terhadap orang-orang berpakaian merah itu karena aku sudah mendengar tentang adanya Ang-i Mo-pang yang kabarnya merajalela di Kun-ming. Karena itulah aku diam-diam membayangimu. Ketua Ang-i Mo-pang itu lihai sekali dan juga jahat. Melihat kau dikepung dan terancam bahaya, dengan melupakan kebodohan sendiri akupun lalu terjun ke dalam perkelahian dan untung dapat melarikanmu.”

Bi Lan mengangguk-angguk.
“Kalau begitu engkau seorang pendekar! Siapakah namamu?”

Girang hati Hong Beng. Sejak tadi dia ingin sekali berkenalan dengan nona ini, akan tetapi tidak berani bertanya nama. Sekarang gadis itu menanyakan namanya, berarti mereka menjadi kenalan dan dia tentu akan mendengar tentang keadaan nona yang menarik hatinya ini.

“Namaku Gu Hong Beng, nona. Dan siapa kau, nona?”

“Aku Can Bi Lan, tapi guru-guruku dan suciku menyebut aku Siauw-kwi.”

Hong Beng tertawa.
“Aihh, guru-gurumu dan sucimu tentu hanya berkelakar. Masa orang seperti nona ini disebut Iblis Cilik?”

“Benar, aku disebut Siauw-kwi. Kami semua memakai sebutan Iblis. Aku Iblis Cilik, suciku disebut Iblis Cantik, dan tiga orang guru kami dikenal sebagai Tiga Iblis....“

“Kaumaksudkan.... Sam Kwi....?”

“Benar. Aku dan suci adalah murid-murid Sam Kwi yang terdiri dari Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, dan Iblis Mayat Hidup....“

“Ahh....! Ohhh....” Hong Beng terbelalak.

“Kenapa kau ber-ah-oh seperti gagu?”

“Aku pernah mendengar bahwa Sam Kwi adalah tiga datuk kaum sesat yang namanya pernah menggegerkan dunia persilatan di barat dan selatan.”

“Benar, habis mengapa?”

“Nona....”

“Nanti dulu! Jemu aku mendengar engkau menyebutku nona-nona segala macam. Namaku Bi Lan dan engkau boleh menyebutku Bi Lan atau Siauw-kwi, terserah, akan tetapi jangan nona-nonaan!”

Hong Beng mengangguk-angguk. Kini sikap Bi Lan itu tidak dianggapnya lucu lagi. Pantas sikapnya demikian liar, kiranya gadis ini murid Sam Kwi.

“Bi Lan, kalau sucimu itu murid Sam Kwi, memang tepat. Akan tetapi siapa mau percaya bahwa engkau murid Sam Kwi? Engkau begini.... begini.... polos, jujur dan baik. Sukar dipercaya bahwa kau murid Tiga Iblis itu.”

“Percaya atau tidak terserah. Dan bagaimanapun juga, Sam Kwi adalah tiga orang tua yang menyelamatkan aku, menjadi pengganti orang tuaku, guru-guruku, dan amat sayang kepadaku.”

Hong Beng menggeleng kepala perlahan. Sungguh luar biasa.
“Menurut pendengaranku, Sam Kwi adalah tiga orang datuk kaum sesat yang amat kejam dan jahat. Dan engkau, yang menjadi muridnya, begini baik dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang demikian baiknya. Luar biasa. Apakah kau sejak kecil menjadi murid mereka, Bi Lan?”

Gadis itu mengangguk. Wataknya memang polos dan kasar, walaupun kekasaran yang tadinya liar itu sudah menjadi jinak dan tahu aturan semenjak ia digembleng oleh suami isteri sakti Kao Kok Cu dan Wan Ceng.

Suling Naga