Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 050

“Celaka....!” Bi Lan hampir menangis, marah sekali dan membanting-banting kaki kanannya sampai tanah di depannya itu melesak ke bawah. “Pusaka pinjaman dari subo itu telah dirampas iblis tua bangka tadi. Celaka....!”

“Tenanglah, Bi Lan. Setidaknya kita sudah mengenal nama julukannya. Sai-cu Lama, nama yang asing bagiku. Dan dia adalah seorang pendeta, agaknya dia tidak bermaksud buruk, hanya meminjam pusaka itu karena tertarik, dan tidak akan merampasnya begitu saja. Aku percaya bahwa sebagai seorang pendeta, dia akan mengembalikan pusaka itu. Tadi dia pergi karena terkejut mendengar suara melengking itu, entah siapa yang membuatnya begitu kaget dan ketakutan.”

“Kalau aku tidak percaya! Aku tidak percaya kepada segala macam pendeta. Biasanya, jubah pendeta itu hanya untuk kedok agar kejahatannya tidak nampak.” Gadis itu cemberut. ”Buktinya, begitu jumpa dia sudah merampas pedangku. Kalau dia tidak ingin merampas, mengapa tadi dia menyerang, kita? Bahkan tusukannya yang terakhir tadi amat berbahaya dan kalau aku tidak cepat mengelak, tentu aku sudah mati. Tidak, dia bukan manusia baik-baik.”

Hong Beng tidak mau membantah karena dia tahu bahwa gadis itu sedang jengkel dan marah.

“Aku akan membantumu mencari pendeta itu dan minta kembali pusakamu. Biarpun aku belum mengenal nama Sai-cu Lama, akan tetapi seorang dengan ilmu kepandaian setinggi itu tentu dikenal di dunia kang-ouw dan aku akan menyelidiki di mana aku dapat mencarinya.”

“Aku harus cepat melapor kepada subo kalau aku tidak mampu merampasnya kembali. Ah, subo tentu akan kecewa dan marah kepadaku....“ Dengan cemberut Bi Lan dan Hong Beng lalu keluar dari dalam hutan itu.

“Sstttt!”

Tiba-tiba Hong Beng berbisik dan menuding ke depan. Dari tempat mereka berdiri, di luar hutan itu, mereka melihat seorang kakek berkepala gundul sedang berjalan perlahan-lahan menuruni lereng.

“Keparat, tentu dia orangnya....!” Bi Lan berteriak dan cepat gadis ini melompat ke depan dan melakukan pengejaran.

“Bi Lan, nanti dulu....!”

Hong Beng berseru dan terpaksa mengejar pula dengan cepat karena dia tidak ingin gadis itu salah tangan. Dari jauh dia sudah melihat bahwa biarpun orang yang baru berjalan menuruni lereng itu juga berkepala gundul, akan tetapi jubahnya yang lebar itu berwarna kuning, bukan kotak-kotak merah kuning seperti yang dipakai oleh Sai-cu Lama tadi.






Kini Bi Lan sudah tiba di dekat kakek gundul itu dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah mengirim pukulan dari samping. Hebat sekali pukulan gadis ini, karena saking marahnya, ia sudah mengeluarkan satu di antara pukulan yang oleh subonya sudah dipesan agar tidak sembarangan mempergunakannya, seperti juga pedangnya, yaitu Ilmu Pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun). Itulah sebuah pukulan yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang tertentu, tidak terlalu keras nampaknya, akan tetapi pukulan ini mengandung hawa beracun yang sudah merendam tangan Bi Lan ketika dilatih oleh subonya!

“Wuuuttt....!”

Nampaknya kakek gundul itu hanya bergerak sedikit saja, akan tetapi, nyatanya pukulan Bi Lan itu hanya mengenai tempat kosong.

“Bi Lan, tahan dulu....!” Hong Beng yang sudah tiba di situ cepat memegang lengan gadis itu. ”Lihat, dia bukanlah pendeta tadi!”

Bi Lan juga sudah tahu bahwa orang itu bukanlah Sai-cu Lama. Dia seorang kakek berkepala gundul, bertubuh sedang dan masih tegap walaupun usianya tentu sekitar tujuhpuluh tahun. Jubahnya berwarna kuning, melibat-libat tubuh yang memakai pakaian serba putih dari kain kasar. Seorang pendeta yang sederhana, matanya tajam dan mulutnya seperti tersenyum mengejek. Dia berdiri dan memandang dua orang muda di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik.

“Dia juga seorang yang berjubah pendeta, tentu lihai seperti tadi. Mungkin sekutunya! Para pendeta itu memang bersekutu dan saling bantu dalam melakukan kejahatan. Orang tua jahat, kembalikan pedangku!”

Bi Lan kembali menyerang dan melihat sepasang mata pendeta itu demikian tajam dan mulutnya tersenyum mengejek, timbul juga kesan buruk dalam hati Hong Beng dan diapun membantu Bi Lan menyerang.

Kalau Bi Lan kini menggunakan pukulan dari Ilmu Sin-liong Ciang-hoat, Hong Beng yang dapat menduga akan kelihaian pendeta ini, juga sudah menggunakan tenaganya dan menyerang dengan ilmu ampuh dari Pulau Es, yaitu Hong-in Bun-hoat! Ilmu ini adalah ilmu silat yang amat halus dan indah gerakannya, sesuai dengan namanya, Silat Sastera Awan dan Angin!

Tubuhnya bergerak perlahan, kedua tangannya membuat coretan-coretan di udara seperti menulis huruf, akan tetapi jari-jari tangan itu merupakan alat menyerang yang amat ampuh. Kakek pendeta itu nampak kaget juga menghadapi serangan gadis dan pemuda itu.

“Dari mana bocah-bocah tolol ini menguasai ilmu-ilmu ini!” bentaknya dan diapun cepat bergerak ke belakang untuk mengelak, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang, jari-jari tangannya bergerak seperti ujung-ujung pedang membalas serangan dua orang muda itu sehingga Bi Lan dan Hong Beng terkejut dan cepat berloncatan ke belakang karena serangan balasan pendeta itu benar-benar hebat.

Akan tetapi yang lebih mengejutkan hati mereka adalah suara melengking tadi karena mereka teringat bahwa Sai-cu Lama tadipun seperti orang lari terbirit-birit karena terkejut dan takut mendengar suara melengking ini.

Melihat dua orang muda itu tertegun, kakek itu lalu mengangkat tangan kanan ke atas.
”Omitohud, kalian ini bocah-bocah sungguh lancang, mempergunakan ilmu-ilmu yang demikian tinggi dan pilihan hanya untuk menyerang seorang tua tanpa sebab. Sungguh keji!”

Wajah Hong Beng sudah menjadi merah sekali karena malu dan menyesal. Memang sungguh tidak patut menyerang seorang kakek tua renta, berpakaian pendeta pula, tanpa sebab yang jelas. Akan tetapi Bi Lan memandang kakek itu dengan mata melotot, marah sekali.

“Engkau ini kakek berpakaian pendeta, tentu jahat seperti yang lain! Kepala gundul dan jubahmu itu hanya sebagai kedok untuk menutupi kejahatanmu!” Bi Lan berkata dengan suara lantang.

“Omitohud....!” Kakek pendeta itu berkata lirih dan tersenyum geli. ”Betapa cocok pendapatmu itu dengan pendapatku ketika aku masih muda dahulu. Akan tetapi engkau keliru, nona, seperti kelirunya kebanyakan orang. Ada yang beranggapan bahwa semua pendeta adalah manusia-manusia baik karena mereka itu beribadat dan mentaati agama, sebagian pula menyatakan bahwa mereka hanyalah munafik-munafik. Ada yang beranggapan bahwa golongan ini baik dan golongan itu tidak baik. Semua anggapan itu tidak benar sama sekali. Baik tidaknya seorang manusia tergantung dari diri manusia itu sendiri, bukan dari agamanya, golongannya, bangsanya, kedudukannya dan sebagainya.

Kalau ada seorang beragama yang menyeleweng, bukan agamanya melainkan manusianya itulah yang menyeleweng. Agama, kepandaian, kedudukan, golongan, bangsa, semua itu hanya merupakan pelengkap saja, pelengkap kebutuhan hidup bermasyarakat. Baik buruknya segalanya itu adalah si manusia itu sendiri yang menentukan. Jadi, mungkin saja ada seorang pendeta yang menyeleweng, akan tetapi juga tidak kurang yang benar-benar hidup saleh. Jangan menyamaratakan saja karena setiap orang manusia itu memiliki tingkat kesadarannya masing-masing walaupun kedudukannya mungkin sama.”

Hong Beng sudah dapat menduga bahwa pendeta ini tidak sama dengan yang tadi, bahkan melihat sikap Sai-cu Lama tadi, yang kelihatan ketakutan mendengar suara melengking yang jelas dikeluarkan oleh hwesio ini, mungkin di antara mereka terdapat suatu pertentangan. Maka diapun cepat menyentuh lengan Bi Lan dan dia memberi hormat kepada kakek itu.

“Harap locianpwe sudi memaafkan kami orang-orang muda yang kurang pengalaman dan bertindak lancang terhadap locianpwe. Hendaknya locianpwe ketahui bahwa sikap kami itu adalah karena baru saja kami bertemu dengan seorang pendeta seperti locianpwe yang telah merampas pedang pusaka milik sahahat saya ini. Karena itu tadi kami mengira bahwa locianpwe adalah sahahat pendeta itu.”

Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum mengejek. Kiranya senyum khas ini adalah kebiasaannya, bukan karena dia memang hendak mengejek.

”Seorang pendeta Lama yang mukanya seperti singa?”

“Benar dia!” Bi Lan berseru. ”Dia mengaku bernama Sai-cu Lama!”

“Omitohud....! Sungguh masih beruntung bagi kalian, telah bertemu dengan dia akan tetapi hanya kehilangan pedang saja. Biasanya dia tidak mau bekerja kepalang tanggung, dan jarang ada orang dapat lolos dari tangan mautnya.”

“Tadipun kami didesaknya dengan pukulan-pukulan maut dan entah apa yang akan terjadi dengan kami kalau dia tidak tiba-tiba melarikan diri setelah mendengar suara melengking yang agaknya dikeluarkan oleh locianpwe.” kata Hong Beng dengan jujur.

“Locianpwe, di mana kami dapat mencari si muka singa itu? Aku harus bisa menemukannya dan merampas kembali pedangku yang diambilnya tadi,” kata Bi Lan, kini tidak lagi memaki-maki kakek itu karena iapun sadar bahwa kakek ini bukan sahahat Sai-cu Lama tadi.

“Omitohud.... ! tidak mudah mengejarnya. Pinceng sendiri sudah mengejarnya sejak dari Tibet sampai di sini dan belum juga berhasil menangkapnya. Kalau kalian ingin menemukannya, kalian harus pergi ke kota raja karena ke sanalah dia pergi”

“Kota raja? Wah, perjalanan yang jauh sekali dan kebetulan akupun hendak ke sana, Bi Lan. Mari kita kejar dia dan kita bersama pergi ke kota raja.”

“Biarpun dia lari ke neraka sekalipun akan kukejar. Aku harus dapat merebut kembali pedang pusaka itu, Hong Beng. Kalau tidak, bagaimana aku akan dapat menghadap subo?”

“Omitohud, muda-mudi yang malang, bertemu dengan manusia iblis Sai-cu Lama. Kalau kalian tidak membawa senjata pusaka yang menarik hatinya, biasanya diapun tidak mau gatal tangan mengganggu orang tanpa sebab. Pinceng melihat pukulan-pukulan yang luar biasa ketika kalian menyerang pinceng tadi. Orang muda, apakah engkau masih ada hubungan dengan keluarga Pulau Es?”

Hong Beng terkejut dan makin yakinlah hatinya bahwa dia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi, yang demikian tajam pandang matanya sehingga baru satu jurus dia tadi memainkan Hong-in Bun-hoat, kakek ini sudah dapat ”mencium” ilmu dari keluarga Pulau Es! Maka diapun cepat memberi hormat lagi.

“Sesungguhnya, guru saya adalah seorang anggauta keluarga Pulau Es, locianpwe.”

“Aha! Siapakah gurumu itu, orang muda?”

“Suhu bernama Suma Ciang Bun,”

“She Suma? Ha-ha, benar sekali. Dia tentu putera Suma Kian Lee atau Suma Kian Bu.”

Girang sekali hati Hong Beng. Kiranya kakek ini malah mengenal keluarga Pulau Es!
“Suhu adalah putera sukong Suma Kian Lee.”

“Omitohud....! Benar kiranya bahwa dunia ini tidak begitu besar kalau orang mempunyai banyak kenalan. Berpisah dari Suma Kian Lee sejak muda, sekarang tahu-tahu bertemu dengan murid dari puteranya. Dan kau, nona muda? Dua kali pukulanmu tadi mengingatkan pinceng akan ilmu mujijat dari Gurun Pasir....“

“Mereka adalah suhu dan subo!” Bi Lan berseru. ”Suhu adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!”

“Omitohud....! Engkau yang begini muda menjadi murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng? Luar biasa sekali! Ha-ha-ha-ha, makin sempit saja dunia ini. Akan tetapi, nona muda. Kalau engkau benar murid mereka, bagaimana sampai pedang dari tanganmu dapat terampas oleh Sai-cu Lama? Walaupun dia memang lihai sekali, akan tetapi agaknya tidak akan mudah mengalahkan murid suami isteri dari Istana Gurun Pasir!”

Wajah Bi Lan berubah merah karena ucapan itu merupakan celaan kepadanya dan harus diakuinya bahwa ia menjadi murid suami isteri sakti itu hanya selama setengah tahun saja. Ia seorang yang jujur dan ia tidak mau menurunkan harga diri dari suami isteri yang amat baik kepadanya itu, maka iapun cepat berkata,

“Andaikata aku belajar ilmu dari suhu dan subo sejak kecil, tentu sekali tonjok saja si muka singa itu akan mampus di tanganku!”

Timbul kembali sifat kasar dan liarnya berkat ajaran Sam Kwi sehingga kakek itu memandang dengan mata lebar.

”Akan tetapi sayang, hanya setengah tahun saja aku dilatih oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, dan sebelum itu aku menjadi murid Sam Kwi selama tujuh tahun.”

Kembali kakek itu terbelalak.
”Kaumaksudkan Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup itu?”

Suling Naga