Ads

Kamis, 07 Januari 2016

Suling Naga Jilid 054

“Hwesio tolol dari manakah berani main gila di depan Sai-cu Lama!” demikian bentakan suara itu dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang kakek bertubuh tinggi besar dan berperut gendut sekali, kepalanya gundul dan jubahnya bukan hanya merah seperti yang dipakai para pendeta di situ, melainkan kotak-kotak berwarna merah kuning.

Biarpun kepalanya gundul plontos licin, namun mukanya penuh cambang bauk seperti muka singa karena dari cambang, sampai semua pipi, kumis dan dagunya penuh rambut yang keriting berwarna agak kekuning-kuningan!

Melihat pendeta ini, Tiong Khi Hwesio dengan mudah dapat menduga bahwa tentu inilah orangnya yang berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Muka Singa) itu. Diam-diam dia kagum melihat kakek yang masih membayangkan kegagahan itu, walaupun usianya tentu sudah enampuluh tahun lebih. Memang muka seperti itu pantas sekali kalau memakai julukan Muka Singa.

Sejenak hati kakek ini tertegun. Melihat muka pendeta Lama itu, teringatlah dia akan gurunya yang pertama kali ketika dia masih muda. Gurunya yang pertama adalah seorang kakek yang berjuluk Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Muka Singa) yang memiliki muka seperti Sai-cu Lama ini, penuh cambang bauk yang bagus dan gagah seperti singa.

Hanya bedanya, gurunya yang memakai julukan Ki-mo (Iblis Tua) itu adalah seorang gagah perkasa sebaliknya kakek yang memakai julukan Lama (Pendeta Buddha Tibet) ini malah seorang hamba nafsu yang jahat! Jelaslah bahwa manusia tidak dapat diukur dari namanya, julukannya, apa lagi dari pakaiannya.

Setelah merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan orang yang dicarinya, Tiong Khi Hwesio segera melangkah menghampiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, menjura ke arah kakek bermuka singa itu.

“Omitohud, kalau tidak keliru pinceng berhadapan dengan yang terhormat Sai-cu Lama, benarkah itu?”

Sejenak sepasang mata yang lebar dan penuh wibawa itu memandang Tiong Khi Hwesio penuh selidik. Memang kakek bermuka singa inilah Sai-cu Lama yang amat terkenal di Tibet itu. Mula-mula kakek ini heran mendengar di luar ada orang memanggil-manggil namanya, akan tetapi karena dia sedang sibuk dengan seorang gadis yang dipilihnya di antara para wanita yang diculik, dia tidak memperdulikan panggilan itu dan menyerahkan kepada anak buahnya untuk menghadapi orang yang berani mengganggu kesenangannya.

Akan tetapi, dia kemudian mendengar teriakan-teriakan anak buahnya. Dengan ogah dan marah dia keluar meninggalkan korbannya dan terkejutlah dia melihat betapa seorang kakek hwesio yang tua bergerak dengan amat cepatnya menghindarkan semua serangan para Pendeta Lama. Bahkan dia dibuat tertegun melihat betapa sekali menggerakkan tubuhnya, pendeta tua itu berhasil membuat duapuluh orang anak buahnya berpelantingan. Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang yang berkepandaian, yang bukan merupakan lawan para anak buahnya, Sai-cu Lama lalu menghampiri tempat itu.






Kini dia memandang Tiong Khi Hwesio dengan teliti, mencoba untuk mengingat-ingat.
Akan tetapi dia merasa heran dan penasaran karena dia belum pernah mengenal hwesio tua renta ini.

“Benar, aku adalah Sai-cu Lama. Setelah mengenalku, engkau masih berani membikin kacau di perkampungan kami. Apakah kau sudah bosan hidup?”

Tiong Khi Hwesio tersenyum halus dan ramah.
“Sai-cu Lama, pinceng datang sebagai seorang sahabat, bukan hanya karena kita berdua sama-sama murid Sang Buddha, akan tetapi juga terutama sekali karena kita berdua sama-sama manusia yang wajib saling memberi ingat kalau ada yang salah tindak.”

“Dan kau datang untuk memberi peringatan itu?”

Sai-cu Lama berkata, alisnya yang tebal keriting itu berkerut dan mulutnya menyeringai seperti seekor singa mencium bau kelenci.

Tiong Khi Hwesio mengangguk.
”Omitohud, betapa sukarnya bagi kita untuk mengenal diri sendiri dan melihat kesalahan-kesalahan sendiri. Selalu harus ada orang lain yang membantu memberi ingat. Sai-cu Lama, tanpa kuberitahu sekalipun, kiranya engkau sudah tahu bahwa saat ini engkau sedang melakukan penyelewengan dari pada jalan kebenaran seperti yang sudah sama-sama kita pelajari. Engkau menghimpun kawan-kawanmu ini, terkenal di Tibet sebagai kelompok yang selalu mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat. Merampok, mengganggu wanita, membunuh, mengumpulkan kekayaan. Bukankah semua itu merupakan perbuatan yang bahkan harus dipantang oleh orang-orang yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta seperti kita? Sai-cu Lama, pinceng datang untuk memberi ingat kepada kalian semua agar kalian sadar dan mengubah kesesatan itu mulai saat ini juga, dan kembali ke jalan kebenaran.”

“Keparat!” Sai-cu Lama membentak, lalu dia tertawa bergelak. ”Ha-ha-ha, siapakah engkau ini yang berani sekali datang untuk memperingatkan dan mengancam aku? Ha-ha, orang yang bosan hidup, apakah nyawamu rangkap?”

Mendengar ucapan dan tawa pemimpin mereka, para pendeta Lama yang mengurung tempat itupun tertawa dan mereka merasa yakin bahwa sebentar lagi mereka akan melihat hwesio tua itu pasti akan dihajar oleh pemimpin mereka sampai mampus.

“Pinceng tidak mengancam, melainkan ingin menyadarkan kalian dari pada kesesatan.”

“Hemmm, tua bangka tak tahu diri. Siapakah engkau? Dari perguruan mana? Dari pertapaan mana?”

Sai-cu Lama bertanya, teringat bahwa kakek itu tadi telah memperlihatkan kesaktiannya.

“Omitohud....” Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang, merasa bahwa agaknya tidak mungkin baginya mengingatkan orang seperti Sai-cu Lama ini. ”Pinceng hanyalah seorang perantau biasa, tanpa perguruan bahkan tidak mempunyai pertapaan, nama pinceng Tiong Khi Hwesio. Pinceng mendengar tentang gerakan dari kelompok Lama Jubah Merah dan mendengar ratapan rakyat, maka terpaksa pinceng datang ke sini untuk berusaha menyadarkan kalian.

Muka yang seperti singa itu nampak beringas dan bengis.
”Tiong Khi Hwesio, engkau ini sudah tua bangka, umurmu sudah tidak berapa lama lagi akan tetapi tindakanmu masih jahil dan mulutmu masih usil! Tindakan-tindakan kami sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu, akan tetapi engkau berani tidak memandang mata kepadaku dan berani memperingatkan aku. Dengarlah. Aku mau mendengarkan nasihatmu itu dan mau membubarkan kelompok kami ini kalau engkau mampu mengalahkan aku!”

Terdengar suara di sana-sini mentertawakan Tiong Khi Hwesio. Hwesio ini menarik napas panjang.

”Siancai...., pinceng datang bukan untuk mempergunakan kekerasan.”

“Mau mempergunakan kekerasan atau tidak, masukmu ke perkampungan kami sudah merupakan tindak kekerasan, yang melanggar dan untuk itu engkau sebagai orang luar sudah dapat dijatuhi hukuman mati. Nah, majulah, kalau engkau tidak mau mati konyol. Aku sendiri tidak suka membunuh orang yang tidak mau melawan”.

Tiong Khi Hwesio kini memandang dan sepasang matanya mencorong penuh teguran.
”Sai-cu Lama, belum tentu pinceng dapat mengalahkanmu dalam ilmu silat, akan tetapi ketahuilah bahwa di atas puncak Gunung Thai-san yang tertinggi sekalipun masih ada awan. Bersikap tinggi hati mengandalkan kepandaian sendiri akan mempercepat kejatuhannya....“

“Sudah, tak perlu banyak kuliah lagi, sambutlah ini!”

Sai-cu Lama sudah menerjang ke depan, jubahnya berkembang karena gerakan ini mendatangkan angin dan tangan kirinya yang besar itu menyambar ketika dia menggerakkan lengan. Tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka mencengkeram ke arah kepala Tiong Khi Hwesio, sedangkan tangan kanannya menyusul dengan dorongan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

“Wuuuuuttt....!”

Bukan main dahsyatnya serangan yang dilakukan Sai-cu Lama itu. Cepat seperti kilat menyambar dan mengandung kekuatan yang mengerikan. Entah mana yang lebih berbahaya, cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala itu ataukah hantaman ke arah dada. Kepala dapar hancur berantakan dan dada dapat pecah kalau terkena serangan itu!

Tiong Khi Hwesio mengenal pukulan-pukulan ampuh, maka sambil mengeluarkan seruan diapun menggerakkan tubuhnya ke belakang. Cepat dan ringan tubuhnya itu bergerak ke belakang, seolah-olah terdorong oleh angin pukulan lawan dan Sai-cu Lama juga menahan seruan kagetnya. Dia merasa seperti menyerang sehelai bulu saja yang melayang pergi sebelum serangannya mengenai sasaran! Maklumlah dia bahwa lawannya ini, biarpun sudah tua sekali, namun memiliki gin-kang yang istimewa dan sukarlah menyerang orang dengan gin-kang seperti ini kalau tidak mempergunakan pukulan jarak jauh dan kecepatan kilat.

“Haiiiiittt....!”

Diapun membentak nyaring dan kedua tangannya didorongkan ke depan dan kini Sai-cu Lama menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang sepenuhnya. Pukulannya ini, yang dilakukan dengan kedua tangan terbuka, tidak membutuhkan kontak langsung dengan tubuh lawan. Angin pukulannya saja sanggup untuk merobohkan lawan dengan guncangan yang akan dapat merusak jantung!

“Omitohud...., keji sekali pukulan ini!”

Tiong Khi Hwesio berseru dan diapun cepat memasang kuda-kuda, bukannya mundur, bahkan dia melangkah maju dan kedua tangannya juga didorongkan ke depan, menyambut langsung kedua telapak tangan lawan.

“Desss....!”

Dua pasang telapak tangan saling bertemu, nampaknya saja empat buah tangan itu memiliki telapak tangan yang lunak, akan tetapi ternyata mengandung tenaga sin-kang yang hebat. Pertemuan tenaga sin-kang melalui dua pasang tangan itu hebat bukan main, sampai terasa oleh semua pendeta Lama yang berada di situ karena udara di sekitar tempat itu seolah-olah tergetar, seperti bertemunya dua tenaga Im dan Yang di musim hujan yang menciptakan kilat dan guntur.

Akibat dari pada pertemuan tenaga dahsyat itu, dua orang pendeta itu terdorong ke belakang, masing-masing lima langkah. Keduanya tidak sampai jatuh, akan tetapi berdiri dengan muka berubah agak pucat. Sejenak keduanya memejamkan mata dan mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi dada dari pengaruh guncangan hebat itu. Hal ini saja membuktikan bahwa keduanya memiliki tenaga sin-kang yang seimbang.

Terkejutlah keduanya. Tiong Khi Hweiso sendiripun terkejut bukan main. Belum pernah dia, kecuali di waktu muda dahulu, bertemu dengan lawan yang sekuat ini, maka diapun bersikap hati-hati, maklum bahwa dia harus berjaga dengan sepenuh tenaga dan kepandaian. Juga Sai-cu Lama terkejut sekali. Dia memang tadinya sudah menduga bahwa lawannya ini lihai, akan tetapi tak pernah disangkanya akan selihai itu, kuat menahan pukulannya tadi yang dilakukan sepenuh tenaga, bahkan tangkisan itu membuat dia terdorong ke belakang sampai lima langkah dengan dada terasa sesak dan panas.

Akan tetapi di samping rasa kagetnya, timbul pula perasaan marah yang berapi-api. Inilah kesalahan Sai-cu Lama. Sebetulnya, dalam hal ilmu silat dan tenaga, dia tidak kalah oleh lawan, hanya dalam satu hal dia kalah, yaitu dalam kekuatan batin. Kalau Tiong Khi Hwesio menghadapi kenyataan akan kekuatan lawan itu dengan sikap hati-hati, sebaliknya Sai-cu Lama menjadi marah menghadapi kenyataan itu. Dan kemarahan merupakan kelemahan yang mengurangi kewaspadaan, bahkan kemarahan menghamburkan tenaga dalam.

Dengan suara menggeram seperti seekor singa. Sai-cu Lama kini sudah meryerang lagi, disambut tangkisan oleh Tiong Khi Hwesio yang segera membalas pula. Tiong Khi Hwesio sudah tidak mempunyai nafsu untuk meraih kemenangan, apa lagi mencelakai lawan, namun menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama yang menyerang dengan pukulan-pukulan maut, kalau hanya melindungi diri sendiri saja akhirnya dia tentu akan terkena pukulan dan roboh. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah mengalahkan Sai-cu Lama dan untuk dapat mengalahkannya dia harus membalas serangan lawan yang tangguh itu.

Terjadilah perkelahian yang sengit dan hebat. Saling menyerang dengan jurus-jurus pilihan yang aneh dan dahsyat. Demikian cepatnya mereka bergerak sehingga pandang mata para anggauta Lama Jubah Merah menjadi kabur. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang kakek itu, hanya melihat bayangan kuning dan bayangan kemerahan dari jubah mereka berdua itu berkelebatan dan berloncatan ke sana-sini.

Andaikata para pendeta Lama itu disuruh membantu pemimpin mereka pada saat itu, mereka tentu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena sukarlah menyerang lawan yang tidak nampak dan yang bayangannya seringkali menjadi satu dengan bayangan merah. Juga, saking dahsyatnya gerakan dua orang kakek itu, pukulan-pukulan mereka mendatangkan hawa pukulan yang menyambar-nyambar ke segala penjuru, membuat para pendeta yang nonton perkelahian itu terpaksa mundur sampai pada jarak yang cukup jauh dan aman.

Suling Naga