Ads

Kamis, 07 Januari 2016

Suling Naga Jilid 053

“Tapi.... tapi saya merasa kasihan kepadanya....”

“Saudaraku yang baik. Benarkah itu? Benarkah engkau merasa kasihan kepada isterimu dan karena kasihan itu engkau menangisi kematiannya? Kalau benar demikian, mengapa engkau merasa iba kepadanya? Karena dia mati? Bagaimana mungkin kau dapat mengasihani seseorang yang mati kalau kau sendiri tidak tahu bagaimana keadaan orang setelah mati? Yang jelas, ia telah kehilangan badannya yang menua dan rapuh, tidak merasakan lagi gangguan usia tua, bebas dari penanggungan badannya. Tidak, kalau kita mau jujur, akan nampaklah oleh kita bahwa yang kita tangisi dalam kematian seseorang bukanlah si mati, melainkan diri sendiri.

Kita menangis karena kita ditinggal, karena kita kehilangan sesuatu yang menyenangkan yang kita peroleh dari orang yang kita cinta itu. Cinta tidak mengandung ikatan, dan karena tidak ada ikatan inilah, maka tidak akan ada duka pada saat perpisahan. Dalam kedukaan saudara ini, yang ada bukanlah cinta, melainkan nafsu dan terputusnya ikatan yang mengakar dalam batin. Duka saudara bukan karena cinta kepada yang mati, melainkan karena iba diri sendiri yang ditinggalkan”.

Wan Tek Hoat merasa seolah-olah kepalanya disiram air dingin yang membuatnya gelagapan, akan tetapi juga membuat dia sadar. Hatinya tersentuh keharuan dan diapun menjatuhkan diri berlutut.

“Suhu.... saya dapat melihatnya sekarang. Saya harap suhu sudi memberi bimbingan kepada saya untuk selanjutnya. Saya akan belajar mencari kebebasan....“

“Omitohud, omonganmu itu keliru, saudara. Jangan katakan mencari kebebasan, karena kebebasan tidak mungkin dapat dicari. Yang penting, patahkan semua belenggu dari batin. Kalau sudah tidak ada ikatan, dengan sendirinya sudah bebas, bukan? Dalam keadaan terbelenggu mencari kebebasan, mana mungkin? Berada di dalam kurungan nafsu keakuan, tak mungkin mencari kebebasan. Kebebasan yang ditemukan di dalam kurungan itu bukanlah kebebasan yang sejati. Hanya kalau kita mampu menjebol kurungan itu dan berada di luar, barulah kita boleh bicara tentang kebebasan.”

“Saya ingin mempelajari tentang kehidupan dari suhu, harap suhu suka menerima saya sebagai murid.”

Kakek itu tersenyum dan mengajak pergi Wan Tek Hoat. Semenjak hari itu, tidak ada seorangpun di Bhutan yang pernah melihat lagi bekas panglima itu. Oleh kakek yang arif bijaksana itu, Wan Tek Hoat diajak merantau ke Tibet, diperkenalkan dengan para pendeta Lama dan para pertapa, memperdalam kewaspadaan dan kebijaksanaan, mempelajari tentang kehidupan, tentang alam. Wan Tek Hoat mencukur rambut kepalanya, mengenakan jubah pendeta sederhana dan memakai nama Tiong Khi Hwesio.






Akan tetapi di Tibet terdapat hanyak aliran keagamaan. Banyak orang-orang pandai di kalangan pendeta itu yang saling memperebutkan kekuasaan sehingga terjadi perpecahan dan ada pula pemberontakan ditujukan kepada Kerajaan Ceng. Hal ini menyedihkan hati Tiong Khi Hwesio. Tak disangkanya bahwa biarpun manusia ada yang sudah berjubah pendeta, namun tetap saja jarang yang benar-henar sudah bebas, dan nafsu masih mencengkeram dalam berbagai bentuk, dengan umpan-umpan yang berbeda pula dengan yang dikejar orang di dunia ramai.

Kalau di dunia ramai orang berebutan mengejar harta dan kemuliaan atau kesenangan-kesenangan lainnya, di tempat sunyi itu, para pendeta itu saling memperebutkan kedudukan, yaitu nama dan kehormatan!

Akhirnya, pemberontakan-pemherontakan itu dapat dipadamkan oleh bala tentara yang dikirim Kaisar Kian Liong. Keadaan di Tibet menjadi aman kembali. Akan tetapi, ada satu golongan yang selalu memberontak dan mengeruhkan keamanan di Tibet. Golongan ini menamakan dirinya golongan Lama Jubah Merah dan dipimpin oleh Sai-cu Lama yang sakti. Karena para pendeta Lama di Tibet merasa kehabisan akal untuk dapat menundukkan Sai-cu Lama dan anak buahnya, akhirnya Tiong Khi Hwesio yang dikenal oleh para pendeta sebagai seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, dimintai tolong oleh para pendeta itu.

Mula-mula Tiong Khi Hwesio menolak permintaan bantuan ini. Dia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak melibatkan diri dalam urusan dunia, apa lagi dia mendapatkan banyak pelajaran dari gurunya, hwesio perantau yang tak pernah dikenal namanya itu yang kini sudah meninggal dunia.

“Aku sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak lagi menggunakan kekerasan untuk menghadapi orang lain,” demikian dia menyatakan penolakannya kepada para pendeta Lama di Tibet. ”Kekerasan hanya mendatangkan kebencian dan permusuhan, menimbulkan dendam. Tidak, aku tidak akan mau mempergunakan kekerasan lagi, para suhu yang baik,” katanya.

Lama tertua di antara para pendeta itu melangkah maju dan merangkap kedua tangan ke depan dada.

”Omitohud, semoga Sang Buddha memberkahi keyakinan hati saudara yang budiman. Memang, kita semua maklum bahwa menggunakan kekerasan bukanlah perbuatan yang baik. Akan tetapi, saudaraku yang budiman, menjadi kewajiban mutlak bagi kita untuk melindungi diri dari pada ancaman dari luar, terutama sekali melindungi orang lain dari pada ancaman dari luar. Golongan Jubah Merah telah menyebar maut, bertindak sewenang-wenang hanya untuk melampiaskan nafsu-nafsu hewani mereka. Kalau kita menentang mereka, bukan berarti kita suka akan kekerasan, melainkan kita menggunakan tenaga untuk menghentikan perbuatan yang justeru bersifat kekerasan itu. Apakah saudara hendak membiarkan saja golongan itu merajalela, menyiksa dan membunuh, merampok dan memperkosa, tanpa ada sedikitpun semangat dalam batin saudara untuk menolong mereka yang tertindas itu? Benarkah dan patutkah seorang pencinta kehidupan seperti saudara ini membiarkan orang-orang merusak kehidupan? Apa lagi kalau diingat bahwa saudara memiliki sarana untuk menghentikan perbuatan laknat itu.”

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang dan membuka mata memandang kepada semua pendeta itu.

”Aih, tidak bolehkah aku menghabiskan sisa hidupku yang tidak seberapa ini dengan penuh ketenteraman dan kedamaian?”

“Bagaimana hati kita dapat tenteram dan damai kalau di sekitar kita terdapat srigala-srigala yang haus darah? Haruskah kita mendiamkan saja srigala-srigala itu menyerang, menerkam dan membunuh banyak orang?”

“Sudahlah, sudahlah.... pinceng akan menemui dan membujuk mereka.... “ akhirnya dia berkata.

Para pendeta Lama itu segera menyatakan terima kasih dan rasa bersyukur mereka. Dengan penuh perasaan gelisah karena dia lagi-lagi harus menghadapi kekerasan, Tiong Khi Hwesio yang dahulunya bernama Wan Tek Hoat dan berjuluk Si Jari Maut itu, segera mendatangi perkampungan para Lama Jubah Merah.

Dan apa yang didapatinya di sini membangkitkan jiwa pendekarnya yang sejak lama tidur. Bagaimana dia dapat berdiam diri saja menyaksikan betapa para pendeta Lama ini menjadi budak-budak nafsu mereka yang nampak jelas di dalam perkampungan mereka? Mereka itu berpesta pora atas hasil perampokan-perampokan dan penculikan-penculikan mereka, mengumpulkan harta rampasan, minum-minum sampai mabok dan bahkan ada yang sedang menghina wanita-wanita culikan dengan semena-mena. Tentu saja Tiong Khi Hwesio menjadi marah, akan tetapi dia masih berusaha untuk menemui kepala atau pimpinan kelompok Jubah Merah itu.

Melihat munculnya seorang hwesio di pintu gerbang mereka, beberapa orang Lama Jubah Merah menyambutnya dengan mulut menyeringai.

”Sobat, apakah engkau datang ingin ikut bersenang-senang dengan kami?”

“Pinceng datang untuk bertemu dan bicara dengan pemimpin kalian, Sai-cu Lama.”

“Ha-ha-ha, pemimpin kami sedang bersenang-senang dengan wanita pilihannya yang baru saja kami dapatkan. Beliau tidak suka diganggu pada saat ini. Kalau ada keperluan, bicara dengan kamipun sama saja, kawan. Ada keperluan apakah?”

Tiong Khi Hwesio mengerutkan alisnya yang masih tebal walaupun warnanya sudah putih. Hatinya sedih sekali menyaksikan tingkah polah para pendeta Lama ini, yang sungguh berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan jubah mereka dan kepala gundul mereka.

“Maafkan, pinceng tidak dapat bicara dengan siapapun juga kecuali dengan Sai-cu Lama dan dia harus keluar menyambut pinceng sekarang juga. Kalau tidak ada di antara kalian yang mau memanggilkannya, biarlah pinceng sendiri yang akan mencarinya.”

Berkata demikian, Tiong Khi Hwesio melanjutkan langkah kakinya memasuki perkampungan itu.

“Heii, tunggu dulu!”

Dua orang pendeta Lama cepat menghadang dan muka mereka menunjukkan kemarahan. Lenyaplah senyum mereka tadi yang ramah, terganti pandang mata penuh curiga. Terpaksa Tiong Khi Hwesio berhenti dan menghadapi dua orang itu dengan sikap tenang.

”Siapakah kamu, berani. hendak mengganggu pimpinan kami? Kamu tidak boleh mengganggu dan pergilah dari sini sebelum kami mempergunakan kekerasan!”

“Omitohud!” Tiong Khi Hwesio menyembah dengan kedua tangan di depan dada. “Pinceng datang bukan untuk mencari pertentangan, melainkan hendak bicara dengan pimpinan kalian. Panggil dia ke luar.”

“Tidak! Apakah kamu belum mengenal para Lama Jubah Merah dan datang mencari penyakit?” Seorang Lama yang bertubuh tinggi besar dan nampak bengis wajahnya membentak dengan sikap mengancam. ”Pergilah sekarang juga. Kami masih memandang kedudukanmu sebagai seorang hwesio, Pergilah atau terpaksa aku akan melemparmu keluar!”

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang.
”Siancai.... sekali lagi pinceng katakan bahwa pinceng tidak mencari permusuhan.” Lalu dia mengerahkan khi-kang dan berteriak, suaranya lantang menembus udara dan terdengar sampai jauh di seluruh penjuru perkampungan itu dan mengejutkan semua orang, “Sai-cu Lama, keluarlah, pinceng hendak bicara denganmu!”

Melihat ini, dua orang pendeta Lama itu menjadi marah dan mereka sudah menubruk dan hendak menangkap hwesio tua yang datang membuat kacau itu. Akan tetapi, mereka berdua menangkap angin karena yang ditubruk tahu-tahu sudah lenyap dari depan mereka! Tentu saja mereka kaget bukan main dan para pendeta Lama yang lain kini sudah datang mengepung Tiong Khi Hwesio yang tadi dapat mengelak dengan mudah dari tubrukan dua orang lawan itu.

“Tangkap pengacau! Pukul roboh dia!”

Terdengar teriakan-teriakan dan kini para pendeta yang semua memakai jubah merah itu mengepung dan menyerang Tiong Khi Hwesio dari segala jurusan. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang amat tinggi, Menghadapi serangan dari semua jurusan ini, Tiong Khi Hwesio sama sekali tidak menjadi gentar.

Kalau serangan itu dilakukan terhadap dirinya sepuluh tahun yang lalu saja, tentu dia akan mengamuk dan merobohkan mereka semua tanpa ampun lagi. Akan tetapi, Tiong Khi Hwesio sekarang ini sama sekali berbeda dengan Wan Tek Hoat atau Si Jari Maut.

Selama beberapa tahun ini dia hidup di dekat kakek hwesio yang menyadarkannya, dia telah mampu mengalahkan kekerasan hatinya. Kini tidak mudah hatinya tersinggung kemarahan atau emosi yang lain lagi. Dia selalu tenang dan memandang segala hal yang terjadi dengan sinar mata penuh pengertian sehingga keadaan batinnya seperti air telaga yang dalam dan selalu tenang, sikapnya halus dan wajahnya selalu tersenyum.

Terjangan yang dilakukan dengan kemarahan oleh para pendeta Lama berjubah merah itu, hanya disambutnya dengan elakan dan tangkisan. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga beberapa kali dia seperti menghilang saja dari kepungan, membuat para pengepung terheran-heran dan keadaan menjadi semakin kacau balau.

“Sai-cu Lama, apakah engkau termasuk orang yang berani berbuat akan tetapi tidak berani bertanggungjawab?” kembali Tiong Khi Hwesio berteriak dengan pengerahan khi-kangnya ketika dia kembali berhasil meloncat keluar dari kepungan dan membiarkan para pengeroyoknya kebingungan mencari-carinya.

Mendengar suaranya, kembali para pendeta yang kini jumlahnya tidak kurang dari duapuluh orang itu sudah menerjang dan menubruknya, bahkan sebagian di antara mereka ada pula yang menggunakan senjata.

Tiong Khi Hwesio sedang berdiri tegak ketika duapuluh orang pendeta itu menerjangnya dari depan, belakang dan kanan kiri. Karena tidak mungkin mengelak atau menangkis semua serangan itu satu demi satu, Tiong Khi Hwesio tidak mengelak dan tiba-tiba saja dari mulutnya terdengar suara melengking, kedua kakinya terpentang dan kedua lengannya juga dikembangkan lalu diputar di sekeliling tubuhnya. Akibatnya, para pengeroyok itu berpelantingan seperti diterjang angin puyuh yang amat kuat!

Terkejutlah kini para pengeroyok itu. Tak mereka sangka bahwa hwesio yang datang ini memiliki kesaktian yang demikian hebat, dan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa kalau lawan itu menghendaki, tentu mereka semua sudah roboh dan terluka berat, tidak hanya berpelantingan seperti itu.

Timbul kekhawatiran hati mereka. Jangan-jangan orang ini sahabat dari pemimpin mereka yang mempuyai keperluan ingin bertemu dengan Sai-cu Lama. Akan tetapi mereka tidak perlu ragu-ragu lagi karena pada saat itu terdengar suara keras dan mengandung getaran parau seperti suara seekor singa mengaum. Mendengar suara ini, para pendeta Lama cepat-cepat menahan napas, bahkan ada yang menutupi kedua telinga karena tidak tahan mendengar suara yang mengandung khi-kang amat kuat dan yang menggetarkan jantung mereka itu.

Suling Naga