Ads

Kamis, 07 Januari 2016

Suling Naga Jilid 052

Setelah mendengar semua kata-kata dalam nyanyian itu, Wan Tek Hoat mengerutkan alisnya dan diapun meloncat. Sekali tubuhnya melayang, dia sudah tiba di luar tanah kuburan itu dan berhadapan dengan seorang kakek yang berkepala gundul, memakai jubah hwesio, tangan kiri memegang tongkat, lengan kirinya digantungi sebuah keranjang dan tangan kanannya asyik memetik daun-daun obat yang dikumpulkannya di dalam keranjang.

Sekali mengulur tangan, Wan Tek Hoat sudah mencengkeram jubah pendeta itu pada dadanya dan dengan mudah dia mengangkat tubuh pendeta itu ke atas, siap untuk memukul atau membantingnya. Akan tetapi, wajah pendeta yang usianya lebih tua darinya itu nampak tersenyum demikian lembutnya, pandang matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget atau takut sehingga timbul keheranan dan kekaguman di hati Wan Tek Hoat.

“Kau bilang hidup dan mati tidak ada bedanya? Bagaimana kalau sekarang kubanting hancur tubuhmu dan nyawamu melayang ke akhirat?” bentaknya dengan suara mengejek.

“Siancai....! Orang lemah batin dan hanya kuat lahir, kau kira kau akan mampu melenyapkan kehidupan? Omitohud, semoga penerangan mengusir kegelapan dalam batinmu. Tubuh ini dapat kau hancurkan, tanpa kau hancurkanpun pada saatnya akan rusak sendiri. Mati hidup bukan urusan kita, akan tetapi mengisi kehidupan dengan kesadaran itulah kewajiban kita. Wahai saudara yang lemah batin, kalau kau anggap bahwa dengan jalan menghancurkan tubuhku ini engkau akan dapat terbebas daripada duka, silahkan. Aku tidak pernah terikat oleh apapun, tidak terikat pula oleh tubuh yang sudah tua dan rapuh ini. Silahkan!”

Mendengar ucapan itu, dan melihat betapa benar-benar kakek yang tua renta ini sama sekali tidak gentar menghadapi ancamannya, seketika kedua lengan Wan Tek Hoat gemetar dan diapun menurunkan kakek itu kembali, lalu dia menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Saudara yang kuat lahir namun lemah batin, apa manfaatnya bagimu sendiri atau bagi orang lain atau bagi alam ini kalau engkau menenggelamkan dirimu di dalam lembah duka seperti ini? Mengapa kau biarkan racun kedukaan yang melahirkan kebencian itu menguasai batinmu?”

Air mata menetes-netes turun melalui celah-celah jari tangan Wan Tek Hoat. Dia menangis sesenggukan! Peristiwa ini merupakan hal yang amat luar biasa. Wan Tek Hoat adalah seorang pendekar yang berhati baja. Biasanya, tangis merupakan pantangan besar baginya.

Hatinya tak pernah menyerah dan tidak pernah memperlihatkan kelemahan. Di depan orang lain, sampai matipun dia tentu merasa malu untuk menangis. Akan tetapi kini, mendengar ucapan kakek itu, dia menangis sesenggukan, tak tertahankannya lagi karena air matanya itu seperti air bah yang tadinya terbendung oleh bendungan yang amat kuat.

Akan tetapi kini bendungan itu jebol dan air bah menerjang keluar tak dapat ditahannya lagi. Wan Tek Hoat, pendekar yang pernah dijuluki Si Jari Maut itu kini menangis seperti seorang anak kecil, menutupi muka dengan kedua tangan, terisak-isak, kedua pundaknya terguncang-guncang dan air mata menitik turun melalui celah-celah jari tangannya.






Pendeta berkepala gundul itu membiarkan Wan Tek Hoat menangis seperti anak kecil, memandang sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. Kakek yang arif bijaksana ini seolah-olah melihat getaran kekuatan duka ikut terseret keluar melalui banjir air mata itu dan maklumlah dia bahwa tangis yang mendalam ini sedikit banyak akan membebaskan dada si penderita ini dari pada tekanan duka. Tangis akan membebaskan orang dari tekanan duka yang dapat mendatangkan penyakit berat pada tubuh.

Setelah diserang oleh dorongan tangis yang hebat itu, Wan Tek Hoat akhirnya sadar akan keadaan dirinya. Hal ini membuat dia merasa terkejut dan malu, dan cepat dia mengangkat mukanya memandang, karena kemarahan sudah timbul kembali ke dalam hatinya yang keras. Ketika dia mengangkat muka, pandang matanya yang agak kabur oleh air mata, bertemu dengan wajah yang demikian lembut dan mengandung kasih demikian mendalam, pancaran sinar mata yang demikian halus dan penuh pengertian, dan seketika luluh rasa hati Wan Tek Hoat. Semua kemarahannya lenyap bagaikan api disiram air. Dan pendekar tua yang selamanya tak pernah mau tunduk kepada orang lain itupun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki yang bersandal rumput itu.

“Suhu yang budiman, saya mohon petunjuk dan berkah....“

Melihat ini, kakek yang usianya tentu sudah delapanpuluh tahun lebih itu tersenyum, senyum yang tidak bersuara akan tetapi seolah-olah keadaan sekeliling tempat itu ikut terseret dalam senyum bahagia itu.

“Omitohud...., saudaraku yang baik, marilah kita duduk dan bicara dengan baik-baik.”

Diapun lalu duduk di atas rumput, di depan Wan Tek Hoat yang juga sudah duduk bersila. Dengan tenang dan sabar kakek itu meletakkan tongkat dan keranjangnya di kanan kiri tubuhnya, membereskan jubahnya dan duduk bersila dengan rubuh tegak lurus dengan enak sekali, tanda bahwa duduk bersila dengan baik merupakan pekerjaan yang sudah dikuasainya dengan sempurna.

Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan. Bagi orang-orang yang sudah waspada atau setengah waspada, terdapat suatu hubungan antar manusia tanpa kata. Pandang mata yang didasari sari perasaan yang tercurah sudah cukup mengadakan komunikasi yang mendalam, dan di sini memang kata-kata tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, kakek itu melihat betapa batin Wan Tek Hoat masih penuh dengan uap beracun yang dinamakan duka, maka dia menarik napas panjang lagi.

“Omitohud, saudaraku yang baik. Jangan minta petunjuk dari pinceng. Petunjuk sudah ada selengkapnya dan sebijaksana mungkin di sekitar dirimu, di luar dirimu, di dalam dirimu. Engkau hanya tinggal membuka mata, baik mata badan maupun mata batin, membuka dan memandang, mengamati, dan engkau sudah mendapatkan segala macam petunjuk yang kau butuhkan dalam kehidupan ini. Engkau tidak lagi perlu meminta berkah karena kalau engkau mau membuka mata batinmu, akan nampaklah bahwa berkah itu sudah mengalir berlimpahan sejak kita lahir sampai kita mati, tiada putus-putusnya berkah mengalir kepada kita. Kita tinggal mengulur tangan dan meraih saja.

Sayang, betapa banyaknya mata manusia seolah-olah buta, tidak melihat akan limpahan berkah, merengek dan meminta-minta selalu tanpa melihat yang sudah ada. Lihat! Napasku adalah berkah, denyut darahku adalah berkah, kehidupanku adalah berkah, alam semesta adalah berkah. Lalu apa lagi yang harus kita minta? Kita tidak mau melihat itu semua, melainkan merendam diri ke dalam duka, kehilangan, kekecewaan, kesengsaraan. Betapapun bodohnya kita ini!”

Wan Tek Hoat bukanlah seorang anak bodoh, melainkan seorang kakek yang sudah banyak belajar, dan banyak pula mempelajari filsafat dan kitab-kitab suci kuno. Akan tetapi, baru kini dia mendengar ucapan yang begitu sederhana namun menembus batinnya, dan hatinyapun tunduk. Dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang arif bijaksana, seorang yang patut dijadikan tempat bertanya, seorang yang tidak lagi diperhambakan oleh nafsu-nafsunya dan perasaan-perasaan hatinya.

“Akan tetapi, suhu yang mulia. Saya menderita duka karena kematian isteri saya tercinta. Bukankah hal itupun wajar saja? Saya seorang manusia yang berperasaan, tidak lepas dari pada suka duka, dan saya amat mencinta isteri saya, yang lebih saya cintai dari pada apapun juga di dunia ini. Dan sekarang ia.... ia.... telah meninggal dunia....“

Duka menyesak dadanya sehingga kalimat terakhir itu tersendat-sendat. Kakek itu masih tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu mengangkat muka memandang ke arah awan berarak dan kembali dia bernyanyi.

“Anak isteri ini milik saya,
harta benda itu milik saya,
dengan pikiran ini si dungu selalu tersiksa,
dirinya sendiripun bukan miliknya,
apa lagi anak isteri dan harta benda?”

Wan Tek Hoat membantah,
”Suhu yang mulia, duka ini datang tanpa saya sengaja, bagaimana akan dapat menghilangkan duka selagi hidup di dunia?”

“Omitohud, perlukah hal ini saudara tanyakan lagi?” kata kakek itu dengan ramah. ”Mempunyai akan tetapi tidak memiliki, itulah orang bijaksana yang tidak akan tersentuh duka.”

“Mempunyai akan tetapi tidak memiliki, bagaimana pula ini, suhu? Bukankah mempunyai sama dengan memiliki?”

“Mempunyai lahiriah, hal itu terikat oleh hukum-hukum lahiriah buatan manusia. Mempunyai badaniah tidak perlu menjadi memiliki batiniah. Keluargaku dengan segala hak dan kewajibannya, hal itu adalah urusan lahiriah yang diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, batin tidak perlu memiliki karena sekali batin memiliki, maka akan terjadi ikatan batin dan inilah sumber segala kesengsaraan, sumber segala duka! Harta bendaku hanya kepunyaan badan karena harta benda hanya diperlukan oleh badan. Namun, sekali batin memiliki pula harta benda itu, akan terjadilah kehilangan yang akan mengakibatkan duka dan kesengsaraan. Ingat, hanya dia yang memiliki sajalah yang akan kehilangan.

Batin yang tidak memiliki apa-apa, batin yang bebas dan tidak terikat oleh apapun juga, tidak terikat oleh isteri, oleh anak, keluarga, harta benda dan sebagainya, batin seperti itu bebas dan murni dan takkan tersentuh duka. Lihat, saudaraku yang baik. Badan ini memang punya saya, dan adalah kewajiban saya untuk menjaganya, memeliharanya, membersihkannya, melindunginya. Akan tetapi badan, ini punya saya lahiriah saja. Batin tidak harus memiliki dan terikat karena kewaspadaan bahwa segalanya itu akan berakhir dan ikatan itu hanya menimbulkan duka karena kehilangan dan iba diri. Ikatan batin menumbuhkan akar dan jika tiba saatnya perpisahan, maka akar itu akan tercabut dengan kekerasan sehingga menimbulkan luka berdarah.”

“Akan tetapi, suhu yang mulia, bukankah kalau batin tidak memiliki lalu kita bersikap acuh dan tidak perduli akan segalanya itu? Bagaimana mungkin saya mengacuhkan isteri saya yang amat saya cinta?”

Diserang demikian, kakek itu tersenyum lebar penuh kesabaran seperti seorang guru yang baik hati menghadapi seorang murid yang masih bodoh. Dan memang sesungguhnyalah, menghadapi alam yang menjadi guru, kita manusia ini hanyalah murid-murid yang bodoh, anak-anak kecil yang tubuhnya besar.

“Saudaraku yang baik, justeru karena tidak adanya ikatan batin, maka batin menjadi bebas dan hanya batin yang bebas sajalah yang penuh dengan cinta kasih. Sinar cinta kasih itu akan hidup terus dan dengan adanya sinar cinta kasih, bagaimana mungkin orang menjadi acuh? Sebaliknya, cinta kasih membuat orang penuh perhatian dan waspada terhadap segala-galanya, baik yang terjadi di dalam maupun di luar dirinya.”

“Saya dapat melihat kebenaran dalam semua ucapan suhu. Akan tetapi, saya memang terikat lahir batin dengan isteri saya, dan karena itulah saya menderita dan kehilangan karena kematiannya. Kalau saya tidak mencinta isteri saya, mana mungkin tidak terikat lahir batin saya, suhu?”

“Siancai.... di siniiah letak persimpangan yang membingungkan semua orang. Tentang cinta dan ikatan! Saudaraku, cinta kasih itu hanya ada kalau di situ terdapat kebebasan. Cinta kasih itu kebebasan. Ikatan bahkan meniadakan cinta kasih. Ikatan itu hanya menciptakan duka, dan ikatan itu terjadi karena nafsu, saudaraku! Cinta tidak menimbulkan ikatan, akan tetapi nafsulah yang menimbulkan ikatan. Nafsu timbul karena adanya aku. Cinta kasih yang mengandung ikatan bukanlah cinta kasih, melainkan nafsu yang memakai nama cinta. Dan nafsu itu berarti mencinta diri sendiri. Saudaraku yang baik, apakah saudara mencinta mendiang isteri saudara?”

Mendengar pertanyaan ini, terkejutlah hati Wan Tek Hoat, matanya terbelalak dan sejenak hatinya terasa panas. Ah, betapa tangannya akan bergerak menyerang, mungkin membunuh orang yang berani meragukan cintanya terhadap isterinya! Akan tetapi pertanyaan dari mulut kakek itu dikeluarkan demikian halus dan wajar, sama sekali tidak mengandung ejekan, keraguan atau celaan, bahkan dia merasa seolah-olah batinnya sendiri yang tadi mengajukan pertanyaan.

“Apa.... apa maksud pertanyaan suhu ini?” dia tergagap.

“Maksudku agar engkau melihat sendiri, mengamati sendiri, menjenguk isi hatimu apakah engkau mencinta isterimu, ataukah hanya mencinta diri sendiri,”

“Suhu, tentu saja saya mencinta isteri saya! Ah, suhu tidak tahu betapa besar cinta kasih saya kepada mendiang isteri saya!”

Wan Tek Hoat mengemukakan semua pengalamannya bersama isterinya yang dicintanya.

Kakek itu mengangguk-angguk.
”Begitulah anggapan semua orang tentang cinta. Akan tetapi, saudaraku yang baik, marilah kita bersama menyelidiki tentang cinta ini. Kalau benar bahwa engkau mencinta mendiang isterimu, lalu mengapa sekarang engkau menangisi kematiannya, berduka karena kematiannya? Mengapa....?”

Pertanyaan ini mengejutkan hati Wan Tek Hoat dan membuatnya tercengang, sejenak tak mampu menjawab.

”Mengapa? Tentu saja saya menangisi kematiannya karena saya cinta kepadanya, karena saya kehilangan....“

“Nah, berhenti!” Kakek itu mengangkat tangannya menghentikan ucapan Wan Tek Hoat yang belum selasai. ”Itulah, lihat baik-baik dan engkau akan menemukannya. Karena kehilangan! Karena kehilangan isterimu maka engkau berduka, menangis, merasa iba kepada diri sendiri.”

Suling Naga