Ads

Senin, 11 Januari 2016

Suling Naga Jilid 063

Tak lama kemudian, Bi Lan datang mendekat dan duduk di dekat api unggun. Rambutnya masih basah, akan tetapi pakaiannya sudah berganti dengan pakaian bersih, sedangkan yang kotor sudah dicucinya, kini dibentangkannya di atas cabang pohon. Mukanya nampak segar kemerahan tertimpa cahaya api unggun dan diam-diam Kun Tek merasa kagum bukan main. Gadis ini memang manis dan gagah perkasa, juga amat sederhana, wajar dan lugu dalam gerak-geriknya.

“Dingin....?” tanya Kun Tek, melihat betapa kini gadis itu berusaha mengeringkan rambutnya yang masih basah. Hawa udara malam itu memang agak dingin.

Bi Lan mengangguk.
“Tadi memang airnya dingin sekali. Akan tetapi sekarang tidak lagi, hangat dan nyaman dekat api unggun ini.”

Mereka berdiam diri agak lama, kadang-kadang saling pandang saja sekilas. Sikap Kun Tek yang canggung dan malu-malu, yang tidak berani menentang pandang mata gadis itu terlalu lama, menularkan perasaan canggung pada hati gadis itu.

Biasanya Bi Lan tidak pernah merasa canggung berhadapan dengan siapapun. Ia polos dan wajar. Akan tetapi melihat betapa pemuda tinggi besar yang gagah perkasa ini agaknya malu-malu kepadanya, hal itu membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dan diapun menjadi malu-malu pula. Ia sendiri merasa heran mengapa ada perasaan ini terhadap pemuda yang baru dikenalnya ini, seolah-olah pemuda ini merupakan suatu keistimewaan. Padahal, apakah bedanya pemuda ini dengan orang-orang lain? Mungkin karena sikap Kun Tek itulah! Dan iapun tidak mengerti mengapa seorang pemuda gagah perkasa seperti ini bersikap demikian pemalu dan canggung terhadapnya.

Tiba-tiba pendengaran Bi Lan yang amat tajam terlatih itu mendengar sesuatu yang membuatnya menahan senyum. Heran, mengapa iapun menjadi suka merahasiakan hal yang demikian lucunya? Ia telah mendengar bunyi keruyuk dari perut pemuda itu!

Biasanya, menghadapi peristiwa lucu seperti ini, ia tentu akan tertawa sejadi-jadinya dan tidak merahasiakan kegelian hatinya. Dan suara keruyuk perut pemuda itu mengingatkannya bahwa iapun sebenarnya sudah lapar sekali, apa lagi karena tadi berkelahi sehingga ia kehabisan tenaga, juga bekas tendangan Bhok Gun pada pinggangnya masih terasa nyeri. Ketika ia membersihkan tuhuhnya tadi, ia meraba pinggangnya dan ternyata kulit di bagian itu matang biru dan memar.

“Aih, perutku lapar sekali,” katanya sambil menekan senyum di hatinya. “Kau....?”

Pemuda itu mengangguk.
“Aku juga lapar.”






“Dan pinggangku terasa nyeri, tadi kena tendang si jahanam Bhok Gun.”

“Bhok Gun? Laki-laki yang lihai itu? Orang apakah dia dan mengapa kau tadi dikeroyok? Siapa pula engkau, adik Bi Lan? Dari perguruan mana dan dari mana hendak ke mana?”

Kini Bi Lan memperoleh kesempatan untuk tetawa, melepas semua kegelian hati tanpa khawatir menyinggung seperti kalau ia mentertawakan keruyuk perut pemuda itu.

“Hi-hi-hik, kau menghujankan pertanyaan seperti itu. Kalau kujawab semua, tentu membuat perutku semakin lapar saja.”

“Ohh, aku mempunyai dua buah bakpao yang kubeli siang tadi.”

Pemuda itu melepaskan buntalan pakaiannya dan memang dia mempunyai dua buah bakpao yang cukup besar, yang dibungkus dalam kertas putih,

“Sayang bakpao ini sudah dingin, akan tetapi masih baik.” Dia menyerahkan bakpao itu kepada Bi Lan.

Tanpa malu-malu lagi Bi Lan mengambil sebuah dan makan dengan lahap. Bakpao itu memang enak, lunak, dan dagingnya gurih. Kun Tek memandang dengan girang melihat betapa gadis itu makan demikian enaknya sehingga dia tidak tega untuk makan bakpao yang ke dua. Setelah bakpao itu habis dimakan Bi Lan, Kun Tek menyerahkan lagi yang ke dua.

“Nih, makanlah ini, nona. Engkau lapar sekali.”

Bi Lan memandang bakpao itu dengan mata masih ingin, karena selain bakpao itu enak, juga ia lapar sekali, belum cukup hanya oleh sebuah bakpao tadi. Akan tetapi ia teringat akan berkeruyuknya perut Kun Tek, maka ia menggeleng kepala.

“Tidak, engkau sendiri juga lapar. Makanlah yang itu.”

“Aku dapat bertahan sampai besok, adik Bi Lan....” Bi Lan tertawa dan pemuda itu memandang khawatir. Apa lagi yang ditertawakan, pikirnya.

“Hi-hik, Cu Kun Tek, engkau ini memang orang aneh. Perut lapar berpura-pura lagi, dan bagaimana pula itu caramu memanggil aku. Sebentar adik, sebentar nona. Mengapa susah-susah amat sih? Namaku Bi Lan, panggil saja namaku seperti aku memanggil namamu Kun Tek. Kan lebih santai?”

Kun Tek tersenyum dan baru sekali ini Bi Lan melihat senyumnya. Wajah yang gagah itu tidak berapa menyeramkan kalau tersenyum. Memang tampan walaupun kulit muka itu agak gelap kehitaman.

“Maaf, aku memang canggung menghadapi wanita. Belum pernah punya teman wanita sih. Baiklah, aku memanggilmu Bi Lan saja. Nih, kau makan saja ini, Bi Lan. Aku sudah sering kali menahan lapar, kalau sampai besok saja masih kuat.”

“Tidak, sedikitnya engkau harus makan sebagian, baru aku mau. Aku malu kalau harus menjadi orang yang pelahap dan tamak. Aku tadi mendengar perutmu berkeruyuk, tak perlu berpura-pura lagi.”

Terpaksa Kun Tek mengalah dan membagi bakpao itu menjadi dua. Mereka lalu makan bakpao dan agaknya bukit es yang menghalang di antara mereka kini sudah mencair sehingga mereka dapat bercakap-cakap dengan santai tanpa merasa sungkan-sungkan lagi seperti tadi.

“Bi Lan, sekarang ceritakanlah tentang dirimu, tentang peristiwa pengeroyokan tadi.”

“Nanti dulu,” bantah Bi Lan, kini merasa nyaman setelah perutnya kemasukan bakpao satu setengah potong dan kehangatan api unggun sungguh nikmat rasanya. “Aku ingin mendengar lebih dulu tentang kau, terutama sekali tentang ibumu yang menasihatkan bahwa engkau tidak boleh bermuka-muka kepada wanita. Siapakah ayah ibumu dan siapa gurumu?”

Kun Tek menarik napas panjang. Biasanya, dia tidak suka memperkenalkan namanya karena menurut ayahnya, nama besar di dunia kang-ouw itu hanya memancing datangnya banyak musuh dan lawan saja. Karena itulah dalam peristiwa di dusun itupun dia tidak mau memperkenalkan nama. Dan sebagai putera tunggal majikan Lembah Naga Siluman, tentu saja ada sedikit perasaan manja dalam hati Kun Tek, akibat kemanjaan yang diberikan ibunya, dan ada pula sifat sedikit tinggi hati. Akan tetapi dia sendiri merasa heran mengapa kini berhadapan dengan Bi Lan, dia menjadi lembut dan mau saja mengalah.

“Guruku adalah ayah ibuku sendiri,” dia mulai bercerita. “Ayahku bernama Cu Kang Bu dan tinggal di Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya. Aku dalam perjalanan merantau dan kebetulan sekali aku melihat peristiwa di dusun itu dan turun tangan membantumu melihat kau dikeroyok demikian banyak orang lihai. Nah, sekarang giliranmu bercerita.”

“Wah, sedikit amat kau cerita tentang dirimu!”

“Habis, tidak ada apa-apa lagi yang patut diceritakan, Bi Lan.”

Orang ini sungguh tidak ingin menonjolkan diri, pikir Bi Lan yang merasa semakin suka kepada Kun Tek.

“Dan perbuatanmu di dusun ketika menolong sepasang pengantin dusun itu kau anggap tidak patut diceritakan?”

Kun Tek membelalakkan matanya memandang gadis itu.
“Eh? Kau tahu tentang peristiwa itu?”

“Tentu saja, dari awal sampai akhir. Sejak kau memasuki ruangan itu, menghajar Phoa Wan-gwe dan para tukang pukulnya, sampai engkau meninggalkan ruangan tanpa memperkenalkan diri.” Bi Lan tersenyum. “Engkau sungguh gagah, Kun Tek.”

Kun Tek menundukkan mukanya, agak tersipu.
“Ah, perbuatan seperti itu kan sudah seharusnya kita lakukan? Kalau tidak kita lakukan, lalu untuk apa kita bersusah payah mempelajari ilmu dan memiliki kepandaian silat? Nah, aku siap mendengarkan ceritamu, Bi Lan.”

“Pertama-tama, aku sudah tidak punya ayah ibu lagi.”

“Aduh kasihan! Apa yang terjadi dengan mereka?”

“Mereka telah meninggal dunia, tewas terbunuh orang-orang jahat ketika aku masih kecil.”

“Ah! Siapakah orang-orang jahat itu, Bi Lan Aku akan membantumu menghukum mereka itu!”

Bi Lan tersenyum.
“Eh, bagaimana engkau begitu sembrono, Kun Tek? Bagaimana kalau keluargaku yang jahat, lalu mereka yang membunuh ayah ibuku itu yang benar dan baik?”

“Mana mungkin. Bukankah engkau tadi yang mengatakan sendiri bahwa ayah ibumu dibunuh orang jahat?”

“Itu kan aku yang mengatakan karena mereka membunuh orang tuaku. Siapa tahu mereka itu juga mengatakan bahwa kami orang jahat. Bagaimana engkau berani mempercayai aku begitu saja?”

Kun Tek tersenyum.
“Memang benar kata-katamu, Bi Lan. Semua orang, baik atau buruk, tentu akan mengatakan jahat kepada musuhnya. Akan tetapi aku kan sudah berhadapan denganmu dan aku yakin bahwa orang seperti engkau ini tidak mungkin jahat.”

“Kenapa engkau begitu yakin?”

Kun Tek menatap wajah gadis itu.
“Karena sikapmu, karena wajahmu, matamu dan mulutmu.... ah, sudahlah, Bi Lan, kau lanjutkan ceritamu. Kenapa orang tuamu dibunuh orang jahat?”

“Ketika aku masih kecil, berusia sepuluh tahun, bersama ayah ibu aku pergi meninggalkan kampung halaman kami di Yunan Selatan karena di sana dilanda perang. Di tengah jalan, kami dihadang sepasukan orang Birma. Ayah ibu terbunuh oleh mereka dan aku sendiri ditolong oleh tiga orang sakti yang kemudian mengambil aku sebagai murid dan mereka bertiga telah membasmi semua orang yang telah membunuh orang tuaku itu.”

“Ah, syukurlah kalau musuh-musuhmu sudah terbasmi. Siapakah tiga orang sakti yang menjadi gurumu itu?”

“Mereka berjuluk Sam Kwi.”

Kun Tek tidak menyembunyikan kekagetannya mendengar nama itu. Dia pernah mendengar dari ayahnya tentang tokoh-tokoh kaum sesat dan di antaranya yang menonjol adalah nama Sam Kwi.

“Kau maksudkan.... Sam Kwi.... para datuk kaum sesat itu?” tanyanya ragu sambil memandang wajah Bi Lan.

Bi Lan tersenyum mengangguk.
“Benar sekali. Nah, engkau tentu mulai meragukan pendapatmu bahwa aku orang-orang baik sekarang.”

Kun Tek menggeleng kepala.
“Aku tidak percaya! Sungguh tidak mungkin seorang gadis seperti engkau ini menjadi murid tiga orang datuk sesat yang jahat.” Dia berhenti sebentar tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah gadis itu, lalu melanjutkan, “Seorang gadis yang berwatak gagah dan memiliki sifat baik seperti engkau tentu tidak akan mau menjadi murid datuk-datuk sesat yang kabarnya amat jahat seperti iblis itu. Aku tidak percaya.”

Bi Lan tersenyum.
“Kun Tek, coba bayangkan ini. Andaikata engkau sendiri menjadi aku, dalam usia sepuluh tahun, melihat ayah ibu dibunuh orang-orang jahat, kemudian engkau sendiri diselamatkan oleh tiga orang datuk itu, yang juga membalaskan sakit hatimu dengan membasmi semua penjahat itu, dan kemudian tiga orang itu memeliharamu, mendidikmu dengan ilmu silat, apakah engkau akan menolaknya?” Dia memandang tajam. “Boleh jadi Sam Kwi amat jahat terhadap orang-orang lain, akan tetapi terhadap diriku mereka itu baik sekali.”

Bi Lan masih merasa berhutang budi kepada tiga orang kakek itu, maka kepada siapapun juga ia tidak sudi menceritakan usaha mereka untuk memperkosanya.

Kun Tek mengangguk-angguk, dapat membayangkan keadaan gadis itu dan diapun tidak dapat menyalahkannya, bahkan kini dapat mengerti mengapa seorang gadis seperti Bi Lan ini menjadi murid Sam Kwi yang terkenal jahat. Makin heranlah hatinya. Kalau Bi Lan menjadi murid tiga orang datuk sesat, kenapa gadis ini tidak mengikuti jejak guru-gurunya dan bahkan menjadi seorang gadis yang berwatak gagah dan begini baik budi?

Suling Naga