Ads

Senin, 11 Januari 2016

Suling Naga Jilid 065

Bi Lan menggeliat, seperti seekor kucing betina baru bangun dari tidurnya. Dan iapun menyeringai karena ketika ia menggeliat, terasa pinggangnya masih nyeri. Keparat Bhok Gun, ia memaki dalam hatinya, dilipatnya kain selimut itu dan diletakkannya di atas buntalan pakaian Kun Tek, lalu ia duduk melamun.

Pemuda macam itu yang demikian sombong, perlu apa didekati, pikirnya. Menurut hatinya yang panas, ia ingin pergi sekarang juga tanpa pamit. Akan tetapi, pikirannya mengatakan lain. Terlalu enak bagi Kun Tek kalau dibiarkan mengembang kempiskan hidungnya dengan sombong, melanjutkan pendapatnya yang memandang rendah kaum wanita. Pemuda seperti itu harus diberi pelajaran, harus dibuktikan bahwa pendapatnya itu hanya timbul sebagai suatu kepongahan, kesombongan, dan gertakan atau bualan belaka. Ia harus dapat membuat dia bertekuk lutut untuk membuktikan kepalsuan pendapatnya yang sombong itu.

“Bi Lan, kau sudah bangun? Nih, lihat apa yang kudapatkan!”

Tiba-tiba terdengar suara Kun Tek dari jauh dan nampak pemuda itu berlari-lari datang sambil memanggul seekor kijang muda yang sudah mati. Binatang itu dia turunkan di depan kaki Bi Lan dan dia berkata,

“Bi Lan, ketika aku mandi, nampak binatang ini turun minum air di hulu sungai maka aku berhasil merobohkannya dengan lemparan batu. Apakah kau dapat memasak dagingnya?”

Tadinya Bi Lan hendak menolak, akan tetapi ia teringat akan niat hatinya, maka ia tersenyum manis dan menjawab,

“Tentu saja bisa. Tapi bumbu-bumbunya....“

“Jangan khawatir. Buntalan pakaianku itu merupakan sebuah almari yang cukup lengkap. Lihat ini, ada garam, ada bawang ada kecap, bahkan aku membawa sebuah panci,” katanya gembira dan ketika dia mengangkat muka menatap wajah gadis itu, hampir saja Kun Tek terpesona.

Wajah itu, wajah yang baru bangun tidur dan belum mencuci muka, namun begitu manis luar biasa. Rambutnya yang kemarin riap-riapan itu kini sudah kering dan awut-awutan, akan tetapi menambah kemanisannya. Apa lagi gadis itu tersenyum dan nampak lesung pipit di kanan kiri mulutnya, dengan bibir yang merah basah dan kedua pipi yang kemerahan, sepasang mata yang begitu bening dan bersinar tajam. Bukan main!

“Kau kenapa, Kun Tek?”

“Tidak apa-apa....“ pemuda itu agak panik. “Hanya.... sayang sekali aku tidak mempunyai beras atau gandum....”






“Kijang muda ini cukup gemuk dan kurasa dagingnya cukup untuk mengenyangkan kita, malah takkan termakan habis.”

“Biar sebagian kubikin dendeng agar dapat dibawa sebagai bekal.”

“Aku mau mandi dulu,” kata Bi Lan.

“Pergilah, aku akan mengulitinya. Mandinya di tempat kau membersihkan tubuh dan pakaianmu semalam, Bi Lan. Airnya jernih dan sejuk.”

“Baik, akan tetapi kau jangan ke sana selagi aku mandi,” kata Bi Lan sambil mengerling dan menahan senyum, sikap yang manja dan menarik sekali. Kembali Kun Tek melongo, kagum melihat segala keindahan wanita yang berada di depannya itu.

“Mau apa ke sana? Aku.... aku tidak sekurang ajar itu, Bi Lan.”

“Siapa tahu? Laki-laki biasanya suka mengintai, biasanya memang kurang ajar,” kata Bi Lan dan tanpa menanti jawaban Kun Tek, sambil terkekeh ia lalu lari menuju ke anak sungai yang berada tak jauh dari tempat itu, namun tidak nampak terhalang oleh sekelompok pohon.

Sambil mandi, Bi Lan mengepal tinju.
“Akan kujatuhkan kau, manusia sombong!” katanya.

Ia teringat betapa sucinya, Bi-kwi pernah bercakap-cakap tentang pria dengannya, pada saat hati sucinya itu sedang puas dan senang. Mula-mula ia yang menegur sucinya mengapa sucinya suka bermain-main dengan pria, berganti-ganti pria.

“Aku suka mempermainkan pria, siapa saja yang menarik hatiku.”

“Ah, bagaimana kalau ada yang menolakmu, suci? Bukankah engkau akan malu sebagai wanita ditolak pria?“

“Hemm, laki-laki mana yang mampu menolak? Kalau diusahakan, kita kaum wanita, asalkan tidak cacat atau buruk sekali rupanya, akan mampu menundukkan laki-laki yang manapun juga. Betapapun gagah dan kuatnya pria, akan mudah bertekuk lutut kalau kita hadapi dengan senyum, dengan kerling mata memikat, dengan gerak-gerik yang luwes dan menggairahkan.”

Mengingat akan ucapan sucinya itulah Bi Lan kini mengambil keputusan untuk menjatuhkan Kun Tek, hanya untuk membuktikan bahwa pendapat Kun Tek tentang wanita tidak benar, bahwa Kun Tek dapat jatuh cinta kepada seorang wanita, bukan seorang perempuan khayal. Ia merasa penasaran dan ingin memberi pelajaran kepada pemuda yang dianggapnya membual dan sombong itu.

Setelah selesai mandi, Bi Lan membereskan pakaiannya, mematut-matut diri dan menyisir rambutnya. Ia nampak semakin segar dan cantik jelita walaupun pakaiannya sederhana ketika dengan langkah perlahan ia kembali ke tempat di mana Kun Tek sibuk menguliti kijang tadi.

“Sudah selesaikah engkau menguliti kijang itu?” tanya Bi Lan dengan suara halus dan manis.

Kun Tek yang sedang berjongkok dan sibuk itu menoleh dan mengangkat mukanya. Dengan girang dan diam-diam mentertawakan pemuda itu, Bi Lan melihat betapa sepasang mata pemuda itu kini kehilangan sinar yang dingin dan acuh itu. Sinar mata itu kini penuh semangat memandang kepadanya, penuh kekaguman.

Dan memang Kun Tek terpesona. Karena Bi Lan datang dari arah timur, maka sinar matahari pagi nampak di belakang gadis itu, seperti cahaya keemasan mengantar dara manis itu, membuat ia nampak gilang-gemilang seperti seorang dewi pagi turun dari kahyangan menyeberang ke bumi melalui cahaya matahari!

“Kau.... kenapa, Kun Tek?”

Bi Lan menegur, menahan tawanya dan hanya tersenyum manis melihat betapa pemuda itu berjongkok seperti patung memandang kepadanya, tangan kanan memegang pisau berlumur darah, tangan kiri memegang sepotong tulang.

“Mau diapakan tulang itu?”

“Apa....? Tu.... tulang....?” Kun Tek tergagap dan baru dia melihat bahwa dia masih memegang tulang dan baru ia sadar bahwa dia melongo seperti orang bodoh, terlongong seperti orang bengong. “Eh, ini.... aku sudah selesai menguliti kijang dan sedang menyayati dagingnya.Kau.... kau nampak....“

“ Ya....?” Senyum itu semakin manis. “Nampak bagaimana....?”

“Anu.... nampak....segar sekali!”

Bi Lan tertawa renyah dan menghampiri pemuda itu. Pesona itu membuyar dan Kun Tek menyerahkan potongan-potongan daging kepada Bi Lan.

“Cukupkah sebegini? Kalau cukup, lainnya akan kubuat dendeng.”

“Cukup, kita berdua menghabiskan daging sebeginipun sudah akan kenyang sekali,” jawab Bi Lan.

Kun Tek sudah menyalakan lagi api unggun dan sudah menyiapkan semua keperluan masak seperti panci, bumbu-bumbunya dan dia lalu membawa kulit, tulang-tulang dan sebagian daging yang akan dibuatnya dendeng, lalu pergi agak menjauh.

Tak lama kemudian, setelah keduanya bekerja tanpa bicara, merekapun menghadapi masakan daging kijang yang dibuat oleh Bi Lan. Sejak kecil, Bi Lan yang melayani gurunya memang sudah biasa memasak, bahkan biasa masak bahan-bahan yang sederhana menjadi masakan yang cukup enak. Dengan bumbu seadanya, ia telah membuat dua macam masakan saja, yaitu daging panggang dan masakan yang ada kuahnya. Dan karena mereka berdua merasa lapar sekali, ditambah suasana yang amat menyenangkan hati, keduanya makan dengan lahap. Apalagi Kun Tek. Dia makan dengan lahap dan kelihatan nikmat sekali.

“Lunak sekali masakanmu, Bi Lan. Daging kuah ini gurih dan sedap, dan panggang dagingnya juga enak. Kau memang pandai memasak!” puji Kun Tek sambil meggerogoti daging panggang.

Bi Lan tersenyum.
“Terima kasih atas pujianmu, Kun Tek. Bagaimana dengan wanita khayalmu itu, Kun Tek?”

“Wanita khayal....? Apa.... apa makudmu, Bi Lan?” Kun Tek benar terkejut mendengar pertanyaan yang tak diduga-duganya itu.

“Wanita khayalmu yang tanpa cacat itu, Apakah diapun pandai masak?”

Bi Lan menatap tajam wajah Kun Tek yang kulitnya menjadi semakin gelap ketika dia teringat akan makna pertanyaan itu.

“Tentu saja.... tentu saja seorang wanita harus pandai masak, kalau tidak, ia tidak lengkap menjadi seorang wanita, bukankah begitu?”

Kun Tek dibesarkan di daerah barat di mana kaum wanita bertugas di dapur, tidak seperti suku bangsa di selatan yang kedudukannya terbalik, yaitu kaum prianya yang biasa memasak di dapur sedangkan para wanitanya biasa pula memikul air dan bekerja di sawah.

Mereka selesai makan dan ketika Bi Lan hendak mencuci tangannya, ia mengeluh. Ketika bangkit dari duduk di atas tanah itu, gerakan ini mendatangkan rasa nyeri yang menusuk pada pinggangnya.

“Aduhhh....“

Kun Tek terkejut dan cepat menghampiri.
“Kau kenapa, Bi Lan?” Melihat gadis itu menekan-nekan pinggangnya yang kiri, dia bertanya, “Apakah pinggang yang kena tendang lawan itu masih terasa nyeri”

Bi Lan mengangguk dan menyeringai kesakitan.
“Nyeri sekali kalau aku memutar pinggang, seperti tertusuk rasanya.”

“Wah, jangan-jangan ada yang terkilir di situ. Kalau terkilir harus cepat-cepat dibetulkan letak otot-ototnya, Bi Lan, kalau tidak bisa membengkak dan semakin berbahaya.”

Bi Lan menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata tajam.
“Kau mau mengobati pinggangku? Malam tadi engkau mengobati kakiku yang terkilir, engkau tentu ahli membetulkan otot yang terkilir.”

Kun Tek tersenyum dan mengangguk.
“Aku pernah mempelajarinya dari ayah. Kalau engkau mau, tentu saja aku suka sekali mencoba untuk memeriksa dan membetulkan letak otot yang terkilir”.

“Tentu saja aku mau, kenapa kau bertanya lagi. Siapa orangnya diobati sampai sembuh tidak mau?”

“Tapi.... untuk memeriksa dan membetulkan bagian yang terkilir, aku harus melihatnya, menyentuhnya dan membetulkannya dengan pijatan-pijatan dan urutan-urutan, aku harus.... menangani bagian pinggangmu yang terkilir itu.”

Diam-diam Bi Lan tertawa dalam hatinya.
“Kalau begitu mengapa? Nah, kau lakukanlah cepat agar nyerinya segera hilang.”

Tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan lalu agak menurunkan celananya di bagian kanan dan menarik ke atas bajunya bagian itu juga sehingga nampaklah kulit pinggangnya yang putih mulus, ke bawah sampai di lekuk pinggul dan ke atas sampai pada permulaan bukit dada.

Biarpun jantung berdebar seperti diguncang-guncang keras, Kun Tek menekan perasaannya dan dengan sikap biasa seolah-olah dia hanya akan mengobati lengan atau kaki saja, dia mulai memeriksa bagian pinggang itu dengan jari-jari tangannya yang terlatih. Setelah memijit sana mengelus sini, tak lama kemudian dia dapat meraba dan menentukan bahwa memang ada otot yang terkilir, akan tetapi tidak berapa parah dan mungkin rasa nyeri itu hanya karena memar saking keras dan kuatnya tendangan.

Akan tetapi, cukup lama baginya meraba-raba itu sehingga mukanya penuh keringat, dan terasa jelas oleh Bi Lan betapa jari-jari tangan itu gemetar dan panas dingin! Bi Lan menahan senyumnya, senyum kemenangan melihat betapa pemuda itu kini mulai mengobati pinggangnya dengan tekanan dan pijatan jari-jari tangannya yang gemetar dan ketika ia menoleh, ia melihat betapa pemuda itu telah memejamkan kedua matanya!

“Aduhh.... jangan kuat-kuat.... di situ nyeri....!” Bi Lan sengaja merintih, lalu bertanya dengan nada suara heran, “Kun Tek, kenapa engkau memejamkan kedua matamu?”

Suling Naga