Ads

Senin, 11 Januari 2016

Suling Naga Jilid 070

Kalau saja tidak memutar pedang Ban-tok-kiam, tentu dengan mudah dia terkena serangan ranting yang di tangan nenek itu berubah lihai sekali. Kemudian, dengan pengerahan tenaga batinnya, dia mampu mempertebal diri, atau setidaknya tidak begitu hebat terpengaruh oleh bentakan-bentakan nenek itu.

“Ha-ha-ha, nenek siluman, sebentar lagi engkau akan mampus. Sekali saja tubuhmu tergores Ban-tok-kiam, selaksa racun akan mengalir dalam darahmu dan engkau akan mampus dengan muka hitam, mata melotot dan mulut ternganga. Ha-ha, engkau akan benar-benar menjadi setan karena tubuhmu akan hangus semua!”

“Jahanam busuk lepaskan cucuku!” dengan nekat nenek Teng Siang In maju lagi dan menyerang dengan ilmu tendangannya yang sakti.

Dengan Soan-hong-twi, tubuhnya seperti berpusing dan kakinya seperti berubah menjadi puluhan banyaknya, menendang dari sana-sini mengarah bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Tentu saja ia membahayakan diri sendiri karena yang diserangnya adalah seorang yang sakti seperti Sai-cu Lama yang memang sudah tinggi tingkat kepandaiannya. Bahkan ketika kakek itu tiba-tiba menghadapi tendangan dari samping, secara mendadak dia memutar tubuh dan memberikan punggungnya untuk menangkis tendangan!

“Ayaaaa! Nenek Teng Siang In menjerit karena terkejut. Tendangannya itu kini menuju ke arah kepala cucunya sendiri! Tentu saja hal itu tidak dikehendaki oleh nenek itu dan dalam keadaan yang demikian berbahaya bagi keselamatan cucunya, ia masih mampu melempar diri ke kanan, menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan.

Akan tetapi sebelum ia melompat berdiri, tiba-tiba ia merasa pahanya perih dan panas dan ketika kembali ia meloncat ke belakang dan melihat, ia terkejut sekali karena celananya robek sedikit dan berdarah. Sementara itu, lawannya berdiri sambil mengacungkan pedangnnya dan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, racun sudah mulai memasuki tubuhmu, nenek cantik! Engkau akan mampus!”

Nenek Teng Siang In terkejut, cepat ia melihat pahanya dan memang benar, pahanya telah terluka. Ia maklum bahwa sukar menyelamatkan nyawanya lagi. Akan tetapi yang penting bukanlah nyawanya, melainkan keselamatan cucunya, maka dengan nekat, tanpa memperdulikan kenyataan bahwa dirinya telah terluka oleh Ban tok-kiam, nenek Teng Siang In menubruk lagi dan menyerang dengan tendangan-tendangan, pukulan-pukulan dan cakaran-cakaran maut.






Melihat kenekatan ini, Sai-cu Lama kagum juga. Kalau saja nenek ini masih muda, tentu dia sendiri akan sayang membunuhnya, lebih baik diambil isteri atau murid atau pembantu! Akan tetapi, dia harus cepat menghabisi nenek ini agar dapat cepat pergi karena kalau sampai keluarga pendekar Suma mengetahui dan dapat menyusul ke sini, dia akan celaka. Ngeri juga dia membayangkan kelihaian mereka. Baru nenek ini saja begitu tangguh, apa lagi para pendekarnya yang masih muda.

Akan tetapi, baru saja dia memutar pedang hendak memperhebat desakannya, tiba-tiba saja berkelebat bayangan biru dan sebuah tendangan yang mengeluarkan angin pukulan berat telah menyambar ke arah punggung Sai-cu Lama. Akan tetapi kakek ini dapat menghindarkan dirinya dan membabat dengan Ban-tok-kiam sehingga si baju biru yang bermaksud merampas anak perempuan di punggung kakek itu terpaksa menarik kembali tangannya. Ternyata pemuda itu adalah Gu Hong Beng!

Seperti telah kita ketahui ketika kakek Sai-Cu Lama merampas Ban-tok-kiam dari tangan Bi Lan, Hong Beng juga melihatnya bahkan sempat mengeroyok kakek yang tangguh itu.

Kemudian setelah cintanya ditolak oleh Bi Lan, apa lagi sesudah dia menerima teguran keras dari Bi Lan karena cemburunya terhadap Kun Tek, dengan hati sedih dia lalu melanjutkan perjalanannya, untuk memenuhi perintah gurunya, yaitu melakukan penyelidikan ke kota raja tentang pembesar bernama Hou Seng yang kabarnya merajalela di istana dan membuat kaisar yang semakin tua itu menjadi seperti boneka.

Sesuai dengan petunjuk suhunya, dia lalu pergi mencari keluarga Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun dan kebetulan sekali di tengah perjalanan, dia melihat perkelahian itu.
Hong Beng tidak mengenal siapa nenek itu, tidak mengenal pula anak perempuan yang nampak lemas terikat di punggung si kakek iblis Sai-cu Lama yang sudah dikenalnya.

Melihat keadaan nenek itu yang sudah terluka pahanya akan tetapi masih dengan mati-matian berusaha merampas anak perempuan itu, tanpa tanya lagi Hong Beng tentu saja segera berpihak kepada si nenek yang tak dikenalnya. Dia tahu bahwa Sai-cu Lama amat jahat, maka tentu lawannya bukan orang jahat. Apa lagi nenek itu terdesak hebat dan berada dalam keadaan berbahaya, maka dia pun sekali turun tangan sudah bermaksud merampas anak perempuan itu. Sayang usahanya gagal karena memang Sai-cu Lama hebat sekali kepandaiannya.

Teng Sian In, sejak mudanya, berwatak angkuh. Apa lagi ia tahu bahwa Lama yang menjadi lawannya itu hebat bukan main kepandaiannya. Ia tidak ingin ada orang membantunya untuk kemudian mati konyol. Ia tidak mau orang mati karena membantunya.

“Orang muda, aku tidak butuh bantuanmu. Pergilah sebelum mati konyol oleh jahanam busuk ini!” teriaknya dan ia masih menyerang lagi dengan tendangan-tendangan ampuhnya.

“Sai-cu Lama ini masih ada urusan dengan aku juga, nek!” kata Hong Beng dan diapun sudah menyerang lagi dan kini bersilat dengan Ilmu Hong-in Bun-hoat!

Biarpun dia bertangan kosong, namun kedua tangannya itu bergerak-gerak aneh, seperti orang menulis di udara, akan tetapi setiap “coretan” merupakan serangan yang amat ampuh dan mendatangkan hawa dingin seperti es!

Bukan hanya Sai-cu Lama yang terkejut melihat hebatnya serangan pemuda ini, akan tetapi nenek Teng Siang In terkejut dan girang, juga heran

“Hong-in Bun-hoat! Kau murid siapa?” tanyanya sambil membentak dan menyerang lagi.

“Guru saya bernama Suma Ciang Bun....“

“Aihh! Dia keponakanku! Mari kita hancurkan pendeta palsu ini dan rampas kembali cucuku!”

Mendengar seruan nenek ini, bukan main girang rasa hati Hong Beng, akan tetapi selain girang juga dia marah kepada kakek pendeta Lama itu. Nenek ini masih bibi dari gurunya! Kalau begitu tentu nenek ini ibu dari Suma Ceng Liong!

“Baik....!”

Dan diapun kini cepat mengerahkan tenaga sin-kang yang dilatihnya dari gurunya, tenaga sin-kang yang bersumber dari Soat-im Sin-kang dan Hui-yang Sin-kang, dua tenaga yang mengandung hawa dingin seperti salju dan panas seperti api. Akan tetapi, dia belum dapat menyatukan dua unsur tenaga sinkang ini, bahkan gurunya sendiri belum mencapai tingkat itu.

Dia hanya dapat mempergunakan salah satu saja, yang panas atau yang dingin. Namun, itupun sudah hebat karena dia sudah menguasai hampir setengah bagian dari kedua ilmu pengerahan tenaga sakti itu! Apa lagi dia sudah menguasai beberapa ilmu aseli dari Pulau Es dan kini dia mengubah gerakannya dan bersilat dengan Ilmu Silat Siang-mo Kun-hoat. Ilmu ini sehenarnya adalah ilmu pedang dari Pulau Es yang bernama Siang-mo Kiam-sut dan mempergunakan sepasang pedang.

Akan tetapi oleh Suma Ciang Bun, berdasarkan gerakan-gerakan ilmu pedang ini, dia mengajarkan ilmu silat tangan kosong kepada muridnya itu yang diberi nama Siang-mo Kun-hoat (Ilmu Silat Sepasang Iblis). Bukan sepasang pedang yang dipergunakan, melainkan sepasang kaki dan tangan.

Dia mempergunakan ilmu silat ini yang sifatnya lebih keras dan agresip dibandingkan Hong-in Bun-hoat yang halus dan benar saja, setelah memainkan ilmu silat ini, dibantu oleh nenek Teng Siang In yang masih menyerang dengan tendangan-tendangan mautnya, Sai-cu Lama terdesak mundur!

Hong Beng seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu bahwa selama pedang yang ampuh dan mengandung racun berbahaya itu masih berada di tangan Sai-cu Lama, maka akan sukarlah bagi dia dan nenek itu untuk dapat merampas kembali cucu perempuan nenek itu. Dan kini nampak betapa nenek itu sudah berkurang kecepatannya, agaknya racun dari luka itu sudah mulai menyerangnya. Hong Beng pernah mempelajari penggunaan jarum-jarum halus sebagai senjata rahasia. Memang jarum halus berbau harum merupakan senjata rahasia gurunya yang amat lihai.

Akan tetapi Hong Beng tidak suka menyimpan senjata rahasia seperti itu. Selain sifatnya tidak cocok dengan kejantanannya, karena merupakan jarum yang biasa dipakai wanita, juga dia berjiwa pendekar, tidak enak rasa hatinya kalau mempergunakan senjata gelap dalam perkelahian.

Kini dia merasa bahwa penggunaan senjata rahasia amat penting, bukan untuk merobohkan lawan yang terlalu tangguh untuk diserang dengan senjata rahasia itu, melainkan untuk membebaskan cucu perempuan nenek itu dari pengaruh totokan. Dia percaya bahwa biarpun usianya baru kurang lebih duabelas tahun, sebagai anak keturunan pendekar Pulau Es, anak itu tentu juga pandai silat. Dan kalau ia dapat dibebaskan, dengan kedua tangan bebas dan berada di punggung kakek itu, siapa tahu anak perempuan itu dapat membantu banyak!

Pikiran inilah yang membuat Hong Beng melakukan serangan dengan tendangan kedua kaki sambil bergulingan. Namanya saja Ilmu Sepasang Iblis, tentu saja kadang-kadang kasar sekali dan bergulingan. Ketika bergulingan inilah Hong Beng sudah mencengkeram kerikil-kerikil tanpa diketahui lawan.

Mereka berdua masih berusaha mendesak terus dan tiba-tiba, setelah melihat kesempatan baik, kedua tangan Hong Beng bergerak-gerak ke depan menyambitkan batu kerikil-kerikil kecil ke arah Suma Lian di punggung kakek itu.

Sai-cu Lama melihat ini dan hampir dia tertawa melihat sambitan-sambitan batu kerikil.
Selain batu-batu itu tidak akan melukai tubuhnya yang kebal, juga sambitan-sambitan itu menyeleweng dari sasaran, menuju ke belakang tubuhnya. Dia tidak tahu bahwa dua di antara batu-batu kecil itu dengan tepat mengenai jalan darah di tengkuk dan pundak Suma Lian dan gadis cilik ini sudah mampu bergerak lagi.

Suma Lian juga seorang anak yang cerdik bukan main. Biarpun seketika ia dapat bergerak dan mengeluarkan suara, namun ia diam-diam saja, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara. Akan tetapi jari-jari tangannya merayap ke arah rambutnya dan dari situ, jari-jari tangan itu mengambil sebuah jepit penusuk ramhut terbuat dari emas yang berujung runcing! Ia lalu berpikir-pikir. Pernah ia mempelajari anatomi dari ayahnya, letak-letak otot dan jalan darah, akan tetapi ia belum mempelajari bagian-bagian mana dari tubuh belakang yang paling lemah. Karena itu, ia hanya berpikir bahwa tengkuk yang gemuk itu tentu merupakan pusat dan akan melumpuhkan kakek iblis ini kalau ia dapat menusukkan benda itu dengan tepat. Ia lalu memandang tengkuk yang terbuka itu. Penuh daging dan gajih, seperti punuk babi!

Ihh, hampir saja bergidik karena jijik. Akan tetapi sasaran itu amat mudah, tinggal mengangkat dan menusukkan benda runcing itu saja. Ia mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang benda itu. Hal ini tidak diketahui oleh Sai-cu Lama. Dalam keadaan biasa, tentu dia akan mengetahuinya, akan tetapi pada saat itu, pemuda berpakaian serba biru itu mendesak dan menyerangnya seperti orang kesetanan, sedangkan nenek itu, yang sudah mulai lemah, tiba-tiba berteriak,

“Sai-cu Lama, kau lihat baik-baik jimatku!”

Dan nenek ini menggerak-gerakkan tangannya. Usaha kedua orang ini tentu saja untuk membantu Suma Lian. Keduanya sudah melihat betapa gadis cilik itu mengangkat tangan. Dengan sepasang mata tak pernah terlepas dari tengkuk yang gemuk itu, Suma Lian tiba-tiba menusukkan benda runcing itu pada tengkuk yang gendut.

“Crottt....!”

“Aduhhhh....!”

Kedua tangan Suma Lian tiba-tiba menjadi lemas dan ia tidak mampu lagi menusuk terus, karena ketika benda itu, menembus kulit gajih dan daging, darah muncrat-muncrat dan anak perempuan itu merasa jijik akan tetapi juga timbul rasa kasihan dan tidak tega!

Bagaimana mungkin ia terus menusukkan benda runcing ke dalam tengkuk gendut itu, yang mirip perut orok? Hampir ia pingsan ketika darah itu muncrat dan sebagian mengenai pipinya, sehingga ia terkulai kembali tanpa dapat menghindar ketika tangan kanan kakek itu menggunakan gagang pedang mengetuk kepalanya. Cukup keras untuk membuat gadis cilik itu roboh pingsan!

Sai-cu Lama telah terluka. Biarpun tidak terlalu dalam, akan tetapi dia semakin khawatir. Gadis cilik ini saja demikian lihai. Kalau datang seorang lagi saja, dia akan celaka! Maka, dia memutar Ban-tok-kiam sedemikian rupa sehingga kedua orang lawannya terpaksa berloncatan ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk meloncat jauh ke belakang lalu melarikan diri secepatnya!

Hong Beng berseru marah,
“Kakek jahat, hendak lari ke mana?” Dia meloncat dan hendak mengejar, akan tetapi terdengar suara lemah, “....jangan.... kejar....“

Dia menoleh dan melihat nenek itu terguling roboh! Teringatlah Hong Beng bahwa nenek itu sudah terluka parah. Maka diapun cepat meloncat menghampiri dan berlutut di dekat tubuh nenek itu.

“Bagaimana baiknya, locianpwe....?” tanyanya, bingung.

Suling Naga