Ads

Rabu, 13 Januari 2016

Suling Naga Jilid 071

“Aku....keadaanku....payah....lekas bawa aku pulang.... kita laporkan hal ini.... kepada.... Ceng Liong....” Ia menuding ke barat dan terkulai, pingsan.

Hong Beng cepat memondong tubuh nenek itu dan berlari menuju ke barat seperti yang ditudingkan oleh nenek itu. Diapun tadi sudah mendapat keterangan bahwa jurusan itu menuju ke dusun Hong-cun.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Suma Ceng Liong dan isterinya ketika mereka melihat seorang pemuda berpakaian serba biru memondong tubuh nenek Teng Siang In yang pingsan. Tadinya mereka yang tidak melihat anak mereka dan nenek itu mengira bahwa nenek itu mengajak cucunya berjalan jalan seperti biasa, atau bermain ke suatu tempat. Mereka sedikitpun tidak pernah merasa khawatir kalau anak perempuan mereka pergi bersama neneknya. Akan tetapi sekarang, tahu-tahu nenek itu pulang dipondong seorang pemuda dalam keadaan pingsan dan tidak nampak Suma Lian bersama mereka!

“Apa yang terjadi dengan ibu?”

Suma Ceng Liong berseru dan terkejut melihat betapa wajah ibunya sudah biru menghitam.

“Di mana anakku, Suma Lian? Di mana ia....?”

Melihat kebingungan suami isteri itu, Hong Beng dapat memakluminya. Begitu tadi melihat munculnya suami isteri itu, dia sudah merasa kagum sekali. Suma Ceng Liong memang gagah perkasa, tepat seperti yang diceritakan suhunya kepadanya. Seorang pria berusia sekitar tigapuluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap dengan muka lonjong dan dagu meruncing, mulutnya seperti selalu tersenyum, wajahnya cerah dan sinar matanya begitu tajam seperti mencorong.

Menurut keterangan suhunya, susiok (paman guru) ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari suhunya. juga isteri susioknya itu menurut gurunya, memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali karena dia mewarisi ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas)! Dan dalam usia yang sebaya suaminya bibi guru itu nampak masih amat cantik menarik seperti seorang gadis saja! Selain cantik, juga sepasang matanya amat tajam dan sikapnya gesit dan gagah sekali. Akan tetapi, saat itu, suami isteri yang hebat ini sedang dalam keadaan gelisah dan Hong Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi.

“Saya melihat nenek ini bertanding dengan seorang pendeta Lama, kurang lebih lima li disebelah timur dusun ini dan seorang anak perempuan terikat di punggung pendeta itu. Nenek ini terluka dan saya berusaha membantunya, akan tetapi kami tidak berhasil dan kakek pendeta itu sudah melarikan diri membawa anak perempuan di punggungnya....”






“Cukup!” bentak Kam Bi Eng, “ke arah mana larinya kakek yang menculik anakku itu?”

“Dari sini ke timur, setelah lima li ada hutan kecil, dia lari ke arah utara,” jawab Hong Beng. Dan tiba-tiba saja wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ!

Suma Ceng Liong juga akan lari, akan tetapi teringat akan ibunya dan dia berdiri bingung. Dia cepat berjongkok dan memeriksa keadaan ibunya. Alisnya berkerut dan dua titik air mata membasahi matanya. Pendekar ini lalu bangkit berdiri.

“Siapa kau?”

Hong Beng menjatuhkan diri berlutut.
“Susiok, nama saya Gu Hong Beng dan teecu adalah murid dari suhu Suma Ciang Bun. Teecu diutus menyelidiki keadaan pembesar Hou Seng di kota raja akan tetapi oleh suhu disuruh singgah dulu di sini untuk minta keterangan dan nasihat dari Susiok.”

“Hemm, kau jaga dulu ibuku ini. Ia sudah.... tak mungkin dapat ditolong lagi. Tahukah engkau dengan apa pahanya itu dilukai?”

“Dengan Ban-tok-kiam.”

“Ban-tok-kiam? Bagaimana kau bisa tahu.... ah, sudahlah, nanti saja bercerita. Kau jaga ibuku dan aku akan mengejar kakek iblis itu!”

Dan tubuhnya berkelebat lenyap pula dari depan Hong Beng. Pemuda ini semakin kagum dan diapun memondong tubuh nenek itu, dibawanya ke dalam sebuah kamar menurut petunjuk seorang pelayan yang tadi mendengarkan percakapan mereka dan percaya kepada pemuda ini yang mengaku murid keponakan majikannya. Gu Hong Beng menunggui tubuh nenek itu.

“Wajah nenek itu biru kehitaman dan menakutkan sekali, matanya melotot dan mulutnya terbuka. Napasnya masih belum terhenti, terengah-engah dan tinggal satu-satu, tubuhnya panas seperti dibakar api. Dia mengingat-ingat pelajaran tentang pengobatan yang pernah dipelajari dari gurunya, dan dirabanya pergelangan tangan kiri nenek itu, kemudian yang kanan. Denyut jantungnya lemah sekali di bagian kiri, akan tetapi di lengan kanan itu tidak ada denyut sama sekali. Diapun tahu bahwa nenek ini sukar sekali ditolong, kecuali kalau ada obat dewa. Andaikata masih dapat ditolong, tidak mungkin pendekar Suma Ceng Liong akan meninggalkannya begitu saja untuk mengejar penculik anaknya. Tentu lebih dahulu akan menolong dan mengobati ibunya.

Tiba-tiba timbul pikiran Hong Beng untuk membantu nenek itu agar jalan darahnya lebih cepat dan biarpun hal itu bukan merupakan pertolongan terhadap nyawa nenek itu, namun mungkin saja dapat membuat nenek itu sadar, walaupun hanya untuk beberapa detik lamanya. Siapa tahu, nenek ini hendak meninggalkan pesan. Kasihan orang yang mau mati tidak sempat meninggalkan pesan apa-apa. Dengan hati-hati sekali, dengan tenaga yang dikendalikannya baik-baik, di lalu menotok beberapa jalan darah di pundak, tengkuk dan punggung, dan mengurut lengan kanan.

Harapannya terkabul. Tak lama kemudian, mata yang terbelalak itu bergerak dan memandang dengan wajar kepadanya tanpa menoleh. Hong Beng mendekatkan mukanya karena melihat bibir itu bergerak-gerak. Nenek itu berbisik-bisik.

“Kau.... berjanjilah untuk mentaati perintahku....”

Bukan main nenek ini, pikir Hong Beng. Sudah menghadapi maut, masih keras hati dan minta dia mentaati perintahnya! Dia mengangguk-angguk menghormati pesan seorang di ambang pintu kematian.

“Saya berjanji untuk mentaati, nek.”

“....ber.... bersumpah!”

Hong Beng terbelalak, akan tetapi tidak berani menolak. Kembali dia mengangguk dan berkata

“Saya bersumpah, nek!”

Wajah yang sudah menghitam itu nampak tenang, mulut yang sudah membiru bibirnya itu tersenyum menyeramkan jadinya!

“Bagus! Kelak kau.... kau harus menjadi suami Suma Lian....”

Hampir saja Hong Beng terlonjak kaget dan dia cepat membantah,
“Akan tetapi, nek! Nenek.... ah, nenek....ini tidak bisa.... nek....!” percuma saja dia berteriak-teriak karena nenek itu sudah tak bernapas lagi!

Pelayan yang berada di luar kamar mendengar teriakan-teriakan Hong Beng lalu masuk dan segera terdengar jerit tangis pelayan perempuan itu yang menarik perhatian para tetangga. Tak lama kemudian, terdengar tangis kaum wanita yang menjadi tetangga nenek itu. Sudah menjadi suatu kelajiman, bahwa pada setiap kematian, tentu terdengar tangis wanita. Agaknya kalau tidak terdengar tangis wanita akan menjadi aneh sekali tentu!

Tak seorangpun memperdulikan Hong Beng yang duduk di ruangan luar sambil bengong terlongong. Kadang-kadang dia menarik napas panjang, lalu menggeleng-geleng kepala seperti hendak membantah sesuatu, lalu nampak menyesal sekali seperti orang mau menangis. Dia memang merasa menyesal bukan main. Bagaimana nenek aneh itu meninggalkan pesan seperti itu kepadanya? Dan dia sudah berjanji, bersumpah malah! Bersumpah untuk mentaati perintahnya. Siapa tahu perintah terakhir itu begitu gila?

Bagaimana mungkin dia harus menjadi calon suami.... siapa lagi nama anak perempuan yang menjadi cucunya itu? Suma Lian, benar, Suma Lian. Mana mungkin ini? Suma Lian adalah puteri tunggal Suma Ceng Liong. Sedangkan dia? Hanya anak yatim piatu, hanya keturunan tukang kayu sederhana. Seorang pemuda yang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Ayah tidak, ibu tidak, uang sepeserpun tidak, rumah tidak dan keluargapun tidak!

Untuk menjadi bujang Suma Lian saja agaknya masih belum tentu diterima, apa lagi menjadi suami! Dan siapa berani memberitahukan pesan itu kepada keluarga susioknya? Biar sampai mati dia tidak akan berani! Dia tahu tentu akan ditolak, dan mungkin dia tidak dipercaya dan disangkanya dia bikin-bikin saja. Alangkah akan malunya, dan dia akan merasa terhina sekali. Tidak, dia tidak akan bercerita kepada siapapun juga! Akan tetapi, dia sudah bersumpah untuk mentaati pesan terakhir yang berupa perintah itu!

“Hayaaaaa.... nenek aneh, kenapa sih engkau meninggalkan pesan yang begitu aneh dan gila? Engkau menambahkan beban pada pundakku, membuat kehidupan ini menjadi semakin berat rasanya....“

Baru saja dia dilanda duka karena penolakan cinta dan sekarang dia dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih rumit lagi. Kalau persoalan mengenai diri Bi Lan, dianggapnya sudah selesai. Cintanya ditolak dan habis perkara! Dia akan menderita atau tidak adalah urusannya sendiri, tidak ada lagi hubungan dan sangkut pautnya dengan orang lain.

Akan tetapi urusan pesan nenek itu? Celaka! Begitu banyaknya orang akan tersangkut. Bukan hanya diri Suma Lian langsung yang terkena pesan itu, akan tetapi juga dia berhadapan dengan ayah ibu anak perempuan itu, dan gurunya sendiri tentu akan ikut terbawa buruknya, dan salah-salah seluruh keluarga Pendekar Pulau Es akan memusuhinya karena menganggap dia menghina keluarga itu!

Akan tetapi, kalau dia diam saja karena pesan terakhir itu hanya diketahui oleh dia dan nenek itu sendiri, selama hidupnya akan ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Selama hidupnya! Karena dia sudah berani bersumpah di depan seorang nenek yang hampir mati dan tidak menetapi janjinya tidak memenuhi sumpahnya. Dan untuk itu, selama hidupnya dia tentu akan tersiksa oleh batin sendiri,

“Celaka, mengapa nasibku begini aneh dan buruk?” dan hampir saja Hong Beng menangis kalau saja saat itu tidak datang suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.

Mereka pulang dengan tangan kosong dan dengan muka agak pucat mengandung kegelisahan hati. Mereka melihat Hong Beng duduk di ruangan depan, akan tetapi melihat banyaknya tetangga dan tangis para wanita, suami isteri itu tidak memperdulikan Hong Beng dan mereka segera lari ke dalam rumah.

Tangis di dalam rumah itu menjadi semakin riuh dengan kedatangan suami isteri itu. Para tamu wanita itu, para tetangga, harus memperlihatkan keprihatinan dan kesedihan mereka di depan tuan dan nyonya rumah. Itu namanya sopan santun. Dan seorang saja menangis, yang lainpun tanpa diperintah lagi, otomatis air matapun bercucuran! Perempuan namanya!

Makin berat rasa hati Hong Beng. Kedatangannya, seolah-olah membawa bencana pada keluarga pendekar Suma ini! Melihat betapa suami isteri itu pulang dengan tangan kosong, tahulah dia bahwa mereka kehilangan jejak Sai-cu Lama! Dan dialah pembawa berita buruk tentang diculiknya anak mereka dan bahkan membawa ibu pendekar itu dalam keadaan sekarat. Bagaimana mungkin dia, si pembawa berita buruk, si pendatang pembawa sial, akan pernah berani membuka rahasia pesan terakhir nenek itu?

Akan tetapi, ada berita baik yang dapat disampaikannya kepada mereka, yaitu ke mana larinya Sai-cu Lama. Dia tahu ini! Bukankah Tiong Ki Hwesio pernah mengatakan bahwa kalau hendak mencari Sai-cu Lama, harus dicari di istana kota raja? Wah, sedikitnya dia akan berjasa kalau memberitahukan hal itu.

Hong Beng sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya, hendak berlari masuk, akan tetapi pikirannya melarangnya. Mengapa harus memberitahukan mereka? Biarlah dia sendiri yang akan mengejar ke kota raja. Dia sendiri yang akan menolong anak perempuan itu! Ya, dia harus menolong Suma Lian, bukan memperisterinya seperti yang dipesankan oleh nenek aneh itu! Kalau dia dapat menyelamatkan Suma Lian, baru dia membuka rahasia itu hanya dengan maksud menyampaikan pesan terakhir, bukan bermaksud menuntut haknya! Tidak, dia tidak akan menuntut haknya, dia tidak akan memaksa Suma Lian menjadi jodohnya.

Sekali saja berhubungan hati dengan wanita sudah cukuplah. Dia sudah jera. Sakitnya bukan alang kepalang kalau cintanya ditolak! Dia tidak mau mengalaminya untuk ke dua kalinya. Biarlah, dia tidak akan membiarkan hatinya jatuh lagi, tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta kepada seorang wanita.

Pula, wanita mana sih yang sudi menjadi calon isteri seorang pemuda yang miskin, yatim piatu, tidak punya apa-apa, bahkan memiliki kepandaianpun tidak ada gunanya?
Buktinya, kepandaiannya itu tidak mampu menyelamatkan nenek itu, tidak mampu merampas Suma Lian. Dia hanya akan mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuannya, bahkan seluruh hidupnya, untuk melaksanakan perintah suhunya, dan sekarang ditambah lagi, untuk mencari dan menyelamatkan Suma Lian.

Untung bahwa dua tugas hidup yang sudah ditentukannya sendiri itu semua terletak di kota raja Dia akan pergi sekarang juga, untuk melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama. Dia tahu betapa tangguhnya pendeta Lama itu, dan belum tentu dia akan berhasil. Akan tetapi, kalau perlu dia akan berkorban nyawa untuk dua tugas itu! Didatanginya seorang pelayan yang berada di luar dan dia berkata lirih,

“Paman, tolong nanti beritahukan kepada tuan dan nyonya rumah kalau mereka menanyakan aku bahwa aku pergi untuk mencari nona Suma Lian.”

Tanpa menanti jawaban, dia lalu pergi meninggalkan rumah duka itu yang mulai dibanjiri tangis yang datang berlayat.

Mengapa kita selalu menyambut kelahiran dengan tawa dan mengantar kematian dengan tangis? Mengapa dalam urusan hidup dan mati kitapun masih mempergunakan perhitungan rugi untung? Merasa beruntung karena memperoleh warga baru dan merasa rugi atau kehilangan kalau ditinggal mati seorang anggauta keluarga? Kalau bukan karena merasa rugi atau kehilangan, lalu mengapa menangisi seorang yang mati?

Hanya ada dua jawaban yang akan kita dapat kalau kita bertanya kepada mereka yang menangisi kematian, yang berduka kalau ada seseorang anggauta keluarga meninggal dunia. Jawaban itu tentu, pertama : Karena mencinta yang mati dan merasa kehilangan maka mereka berduka. Jawaban ke dua adalah : Karena merasa iba kepada yang mati maka mereka menangis. Akan tetapi, benarkah jawaban itu? Benarkah kita menangis karena kita mencinta si mati? Dan benarkah kita merasa iba kepada si mati maka kita menangis?

Jawaban ke dua itu jelas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita dapat merasa kasihan, dapat merasa iba kepada si mati kalau kita tidak tahu apa dan bagaimana keadaan orang yang mati itu? Sakitkah? Jelas tidak merasa sakit lagi. Menderitakah dia yang mati? Jelas bahwa kita tidak tahu, akan tetapi mana bisa orang menderita kalau dia tidak merasakan apa-apa lagi? Jadi, merasa iba kepada si mati adalah suatu alasan yang palsu.

Yang jelas, bukan iba kepada dia yang mati, melainkan iba kepada diri sendiri karena ditinggalkan. Coba dengarkan kalau kita menangisi orang yang mati. Bagaimana keluh kesah dan ratap tangisnya? Kita mengatakan betapa teganya si mati itu meninggalkan kita! Kita mengatakan lalu bagaimana dengan kita ini setelah ditinggalkan untuk selamanya? Bukankah semua itu menunjukkan bahwa kita ini sebenarnya terlalu mementingkan diri sendiri, bukan iba kepada si mati melainkan iba kepada diri sendiri?
Kemudian jawaban pertama tadi. Kita mencinta si mati dan merasa kehilangan ditinggalkan, maka berduka. Benarkah kita mencinta si mati kalau kita menyedihi kematiannya? Bukankah kesedihan itu muncul karena adanya ikatan kita kepada si mati?

Ikatan inilah yang menimbulkan duka. Ikatan batin. Bukan hanya kepada orang lain, melainkan juga ikatan kepada benda, kepada milik. Sekali yang mengikat batin itu hilang, kita akan berduka dan merasa kehilangan. Dan cinta bukan berarti belenggu ikatan batin.

Cinta seperti itu hanya akan menimbulkan cemburu, iri hati, bahkan dapat mengubah cinta menjadi kebencian, karena cinta yang membelenggu batin hanyalah nafsu belaka.
Nafsu yang mendatangkan kesenangan pada diri kita, pada perasaan kita, itulah yang membelenggu, yang membuat kita tidak mau kehilangan dan ingin selamanya merangkul yang menyenangkan itu. Inilah cinta kita yang sesungguhnya hanyalah nafsu belaka.

Cinta membuat kita INGIN MELIHAT YANG DICINTA ITU BERBAHAGIA! Dan yakinkah kita bahwa dia akan lebih berbahagia kalau masih hidup? Ada yang ketika hidupnya sakit parah sampai bertahun-tahun, setelah mati ditangisi, katanya karena sayang dan cinta! Nah, banyak lika-likunya tentang kata “cinta” ini kalau kita mau menyelidiki dan membuka mata meneliti perasaan diri kita sendiri yang selalu ringan mulut mengaku “cinta”.

Keluarga Suma tidak dapat berlama-lama menahan peti jenazah nenek Teng Siang In, bahkan tidak sempat menanti kedatangan para keluarga yang tinggal jauh dari situ, karena mereka ingin cepat-cepat mengubur peti jenazah itu agar mereka dapat cepat pergi mencari puteri mereka yang lenyap dibawa lari.

Mereka berdua merasa terkejut dan menyesal sekali melihat bahwa Hong Beng telah pergi tanpa pamit kepada mereka, hanya meninggalkan pesan kepada seorang pelayan bahwa pemuda itu pergi untuk mencari Suma Lian. Mereka merasa menyesal mengapa tadi saking duka hati mereka tertimpa dua kemalangan secara berbareng, yaitu terculiknya Suma Lian dan matinya nenek Teng Siang In, mereka tidak memperhatikan lagi pemuda itu.

Mereka sangat memerlukan pemuda itu yang tidak sempat bercerita sejelasnya tentang kakek yang melarikan Suma Lian. Mereka berdua tidak tahu siapa kakek pendeta itu, siapa namanya dan dari mana datangnya. Walaupun pemuda itu sendiripun belum tentu tahu, namun setidaknya pemuda itu dapat menceritakan bagaimana bentuk dan rupa kakek itu dan tentang Ban-tok-kiam yang tiba-tiba saja berada di tangan kakek yang membunuh nenek Teng Siang In dan menculik Suma Lian.

Pedang Ban-tok-kiam adalah Pedang pusaka milik nenek Wan Ceng isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak mungkin kalau pendeta itu suruhan mereka. Sungguh tidak mungkin! Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa pedang Ban-tok-kiam itu dicuri dari tangan nenek Wan Ceng oleh kakek penculik Suma Lian itu, mengingat betapa lihainya kakek itu sehingga nenek Teng Siang In juga terluka dan tewas di tangannya.

Tidak ada lain jalan, ke sanalah mereka pergi. Ke Istana Gurun Pasir, tempat tinggal suami isteri sakti itu, di luar Tembok Besar, jauh di utara. Mereka harus menyelidiki dulu tentang Ban-tok-kiam dan mungkin dari sana mereka akan mendengar siapa adanya kakek yang tiba-tiba saja memusuhi keluarga mereka itu. Setelah penguburan selesai, dengan pakaian berkabung suami isteri inipun segera meninggalkan rumah, berangkat menuju ke utara.

**** 071 ****
Suling Naga