Ads

Rabu, 13 Januari 2016

Suling Naga Jilid 072

Pegunungan Tai-hang-san terkenal sebagai pegunungan yang indah, memanjang dari selatan ke utara. Di pegunungan itu terdapat banyak puncak-puncaknya yang selain amat indah pemandangan alamnya, juga amat sukar didaki orang karena untuk mencapai puncak, orang harus menuruni jurang dan memanjat tebing-tebing yang amat curam.

Bahkan para pemburu pun jarang berani mendekati puncak-puncak yang berbahaya itu, melainkan mencari binatang buruan di sekitar lereng pegunungan di mana terdapat banyak hutan-hutan yang luas. Pegunungan ini terletak di tepi daerah pegunungan yang memenuhi sebagian besar daratan Cina, di tepi timur sehingga dari puncak-puncaknya, nampaklah bagian timur yang datar dan rendah, penuh dengan sungai-sungai besar yang mengalir dari barat dan utara yang penuh dengan pegunungan itu.

Akan tetapi kalau dari puncak Tai-hang-san orang memandang ke utara, selatan dan terutama barat, maka yang nampak hanya pegunungan belaka, dan daerah-daerah tandus yang tinggi.

Karena di bagian timurnya datar dan tidak terhalang gunung, amat indahlah pemandangan matahari terbit di puncak Tai-hang-san. Matahari terbit pagi sekali karena tidak terhalang apa-apa, nampak kalau pagi matahari seperti muncul dari tanah yang merupakan garis jauh sepanjang mata memandang, dan nampak bola merah itu menyembul perlahan-lahan, besar dan merah darah, makin lama makin tinggi sampai mata tidak kuat memandang lagi karena semakin tinggi bola merah itu naik, semakin kuat cahayanya. Warna merahpun berganti keemasan, lalu kalau sudah berubah seperti warna perak, matahari itu sudah naik tinggi.

Namun, ketika bola itu masih berwarna merah darah, pemandangan alam di atas puncak sukar dilukiskan dengan kata-kata. Pokoknya, indah yang mengandung sesuatu yang dapat mendatangkan perasaan damai penuh ketenangan di dalam hati, mendatangkan perasaan takjub dan hening, menggugah kesadaran betapa diri kita ini kecil dan sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebesaran alam.

Menyadarkan batin bahwa kita ini merupakan sebagian kecil saja dari alam, ikut berputar dalam arus kekuasaan alam yang sudah mengatur segala-galanya secara sempurna. Betapa kita ini merupakan mahluk yang hanya dapat hidup karena adanya semua yang nampak dan tidak nampak di alam ini.

Cahaya matahari, udara, bumi, air, pohon-pohonan. Semua sudah teratur, sedemikian sempurna, saling kait-mengait, saling mematikan, saling menghidupkan, tak boleh kurang satu pun juga, sesuai dengan hukum alam. Sayang bahwa kesadaran ini hanya kadang-kadang saja memasuki batin kita, dan sebagian besar dari waktu kita terisi oleh pikiran yang menciptakan sang aku, sehingga bayangan aku inilah yang paling besar, paling penting, dan harus dipaling dahulukan!

Padahal, tanpa pergi ke puncak gunung seperti puncak Tai-hang-san sekalipun, dengan meneliti tubuh kita sendiri, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban itu, akan menemukan kekuasaan alam yang bekerja dengan sempurna pada diri kita, karena keadaan diri kita tiada ubahnya dengan keadaan alam!






Lihatlah, rambut kita yang tak dapat kita hitung banyaknya itu, bulu-bulu di tubuh kita, satu demi satu hidup sendiri-sendiri tanpa kita kuasai, ada yang panjang ada yang pendek ada yang rontok ada yang tumbuh lagi. Garis-garis kulit kita, lekuk dan lengkung tubuh kita, badan kita seluruhnya, isi kepala dan perut, otak kita, semua tumbuh sendiri-sendiri tanpa dapat diatur oleh sang aku! Jantung kita berdenyut setiap saat, baik kita sedang sadar maupun tidak, seolah-olah hidup tersendiri.

Lalu apa sesungguhnya kemampuan sang aku yang begitu kita agung-agungkan? Bukankah sang aku itu hanya ciptaan pikiran kita saja yang selalu mengejar hal-hal yang menyenangkan yang pernah kita alami dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan? Di mana ada pengejaran kesenangan maka aku menjadi-jadi pentingnya.

Segala macam nafsu mengaku menjadi sang aku. Dan begitu ada pengejaran kepentingan diri untuk kesenangan, mulailah di antara kita saling bertumbukan, saling memperebutkan kesenangan yang kita beri nama kebenaran dan sebagainya yang muluk-muluk. Bahkan perangpun terjadi di antara bangsa karena cetusan keinginan untuk mengejar kesenangan masing-masing itulah, mengejar kepentingan diri pribadi.

Hampir setiap pagi, di atas satu di antara puncak--puncak pegunungan itu, seorang pria selalu menyambut munculnya matahari sambil meniup sulingnya. Keadaan di sekitarnya, pemandangan alam yang nampak oleh matanya, bunyi-bunyian antara binatang-binatang malam yang mulai mengendur diganti suara kokok ayam dan kicau burung yang memasuki telinganya, keharuman tanah yang dibasahi air embun, rumput dan daun-daun pohon yang memasuki hidungnya, perasaan hati yang tenang dan hening, semua itu seolah-olah memberi ilham kepadanya untuk mengalunkan suara sulingnya tanpa memainkan suatu lagu tertentu!

Semua yang didengarnya, dilihatnya dan diciumnya itu seolah-olah hendak dia masukkan ke dalam tiupan sulingnya, atau lebih tepat lagi, dia ingin mengiringi semua itu dengan alunan suara yang serasi, dan dia meniup dengan sepenuh perasaan, hanyut ke dalam suara buatan sulingnya sendiri.

Pria itu berusia tigapuluh tiga tahun, bertubuh sedang dan wajahnya bersih tampan, namun sepasang matanya yang tajam itu seperti diselimuti kesayuan, seperti mata orang yang pernah dilanda duka. Pakaiannya sederhana sekali, namun bersih. Dia duduk di atas sebuah batu hitam, menghadap ke timur dan suara sulingnya akhirnya berhenti setelah matahari naik semakin tinggi dan cahayanya mulai menyilaukan mata.

Begitu suara sulingnya berhenti, ramailah terdengar suara burung-burung berkicau dan pergantian suara ini bukan membikin suasana menjadi buruk, bahkan kini suasana menjadi gembira sekali, seolah-olah burung-burung itu bergembira menyambut hari yang cerah. Suara suling tadi mendatangkan kesyahduan dan agaknya banyak burung ikut mendengarkan dan baru sekarang mereka semua berkicau dan ada yang mulai terbang meninggalkan pohon untuk pergi mencari makan.

Melihat sulingnya yang mengeluarkan cahaya ketika tertimpa sinar matahari yang mulai naik tinggi tentu akan membuat orang terkejut karena suling itu, terbuat dari pada kayu menghitam yang diukir indah seperti bentuk naga akan tetapi tajam dan runcing seperti pedang. Dan memang benda itu adalah Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) dan pemegangnya adalah Pendekar Suling Naga Sim Houw!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sim Houw pernah pergi jauh ke daerah Himalaya untuk mengunjungi keluarga Cu Kang Bu yang masih merupakan keluarga mendiang ibunya. Ibunya, mendiang Cu Pek In, adalah keponakan dari pendekar Cu Kang Bu. Ketika berkunjung itulah dia berhasil mengalahkan mendiang Pek-bin Lo-sian dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam itu. Karena pedang ini amat cocok untuk dipakai sebagai suling dan pedang, maka diapun menyerahkan kembali suling emas yang diterima dari ibunya dahulu, juga mengembalikan Koai-liong Po-kiam yang memang asalnya dari lembah keluarga Cu.

Semenjak itu, diapun merantau selama tujuh tahun, dan pedangnya yang sudah mengalahkan entah berapa banyak tokoh-tokoh kaum sesat, membuat nama Pendekar Suling Naga semakin terkenal. Akan tetapi, semakin dia terkenal, Sim Houw menjadi semakin rendah hati.

Dia yang sejak muda sudah biasa hidup di alam bebas, menyatukan diri dengan kebesaran alam, dapat melihat bahwa dirinya itu sesungguhnya bukan apa-apa, hanya kebetulan menjadi pewaris ilmu silat yang tinggi dan pusaka yang ampuh begitu saja.

Seperti juga semua manusia lain, tentu dia memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dia kelihatan terkenal dan dikagumi orang, akan tetapi hidupnya selalu sebatangkara dan sampai hari itu, dia masih juga hidup menyendiri. Dia sudah tidak memiliki keluarga kecuali keluarga Cu yang tinggal jauh di Himalaya itu, dan kalau sampai berusia tigapuluh tiga tahun dia belum juga menikah, hal itu sama sekali bukan karena dia pantang menikah, melainkan karena dia belum pernah bertemu dengan seorang wanita yang cocok untuk menjadi jodohnya, seorang yang saling mencinta dengan dia!

Dia tidak mau patah hati untuk kedua kalinya. Kegagalan cinta dan pertalian perjodohannya dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri pendekar Suma Ceng Liong, membuat Sim Houw berhati-hati sekali dan tidak mau sembarangan jatuh hati kepada wanita sebelum dia yakin benar bahwa cintanya tidak akan bertepuk tangan sebelah.

Dan sampai sekarang, dia masih merasa belum bertemu dengan jodohnya. Kalau ada wanita yang menarik hatinya, ternyata wanita itu tidak cinta kepadanya, dan sebaliknya kalau ada gadis yang tertarik kepadanya, dia sendiri tidak mencinta gadis itu. Dia tidak mencari gadis yang cantik jelita, atau yang kepandaian silatnya setingkat dia. Dia tidak mempunyai syarat apapun, kecuali saling mencinta.

Dan bagi cinta, agaknya wajah dan kepandaian itu tidak dapat dipakai sebagai dasar atau ukuran. Cinta adalah urusan hati, sedangkan kepandaian dan kecantikan adalah urusan badan. Walaupun ada kaitannya, namun keindahan lahiriah itu tidak menjadi syarat yang menentukan bagi cinta.

Kadang-kadang timbul pula rasa kesepian di lubuk hati pria yang masih muda ini, dan rasa kesepian ini menakutkan sekali. Sebagai seorang pendekar sakti, belum pernah dia takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun, akan tetapi menghadapi kesepian ini kadang-kadang membuatnya merasa ngeri! Haruskah hidupnya selalu begini, seorang diri saja? Akan tetapi ada kalanya kesepian itu menjadi keheningan yang menyejukkan hati, yaitu di waktu pikirannya tenang dan tidak mengada-ada.

“Bagus sekali, mengapa berhenti?”

Tiba-tiba terdengar suara halus. Sejak tadi, pendekar ini tahu bahwa ada orang datang dari arah belakang dan orang itu berhenti sampai lama.

Biarpun dia tadi masih meniup sulingnya, akan tetapi andaikata orang di belakangnya itu menyerangnya secara tiba-tiba, dia tentu akan dapat melindungi dirinya. Karena sudah tahu bahwa di belakangnya ada orang, semestinya dia tidak kaget ketika mendengar teguran itu. Akan tetapi, kenyataannya Sim Houw terkejut dan terheran, cepat dia menoleh karena tak disangkanya bahwa orang yang datang adalah seorang wanita dan teguran tadipun sama sekali tidak menunjukkan nada permusuhan. Dan kekagetannya bertambah ketika dia menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang dara yang masih muda, paling banyak delapanbelas tahun usianya dan dara itu manis sekali.

Kini gadis itu berdiri, baru saja keluar dari balik batang pohon di mana ia tadi mengintai, dan tersenyum. Memang luar biasa manisnya gadis ini kalau tersenyum. Wajahnya memang selalu cerah, sikapnya selalu gembira dan jenaka, akan tetapi kalau ia tersenyum, mulut yang kecil itu dihias sepasang lesung pipit di kanan kiri sehingga Sim Houw terpesona dan sejenak timbul pikiran tahyul bahwa yang muncul ini bukan manusia melainkan seorang dewi!

Akhirnya dapat juga dia menenteramkan jantungnya yang berdebar tidak karuan itu dan diapun bertanya, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya tadi,

“Apa yang kau katakan tadi?”

“Aku berkata bahwa tiupan sulingmu itu bagus dan merdu bukan main, akan tetapi kenapa berhenti?”

Sim Houw tersenyum dan bangkit berdiri, menghadapi gadis itu.
“Tiupanku hanya asal bunyi saja, bagaimana bisa bagus? Dan aku berhenti meniup karena memang sudah habis.”

Sukar dia menguraikan mengapa dia meniup suling, digerakkan oleh suasana dan suasana pula yang menghentikan tiupan sulingnya.

“Eh, lagu apakah tadi? Indah sekali!” kembali gadis itu bertanya sambil mendekat.

“Lagu asal bunyi saja. Adik ini siapakah dan datang dari mana hendak ke mana? Sungguh aneh melihat seorang dara muda seperti engkau ini dapat datang ke puncak ini. Bagaimana kau bisa datang ke sini dan bersama siapa, ada keperluan apa?”

“Wah-wah-wah, pertanyaanmu datang bertubi seperti hujan deras saja. Kenapa kau bertanya-tanya? Apakah puncak ini milikmu?”

Ditanya demikian, Sim Houw membelalakkan matanya. Suasana menjadi demikian gembira setelah gadis ini bicara. Mungkin karena wajahnya yang cerah itu, atau senyumnya yang manis, atau juga karena kata-katanya yang jenaka.

“Puncak ini? Puncak ini memang milikku, juga milikmu, dan milik siapa saja yang mau mengakuinya.”

“Wah, jawabanmu aneh dan ngaco! Mana bisa semua orang boleh memilikinya asal mau mengakuinya?”

“Siapa pula yang mau memiliki gunung? Aku bertanya karena merasa heran bagaimana engkau bisa datang ke sini.”

“Aku datang seorang diri tanpa kawan, dan apa anehnya?

“Akan tetapi tidak mudah naik ke puncak ini, apa lagi bagi seorang....”

“Bagiku mudah saja!”

Mengertilah Sim Houw bahwa yang datang ini adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian silat cukup tinggi maka dapat dengan mudah mendaki puncak ini.

“Kalau boleh aku bertanya, apakah keperluanmu datang ke sini?”

“Mencari orang! Dan sekarang, untuk pertanyaanmu yang bertubi-tubi itu, aku mau membalas dengan satu pertanyaan saja. Setelah kau jawab, aku segera pergi dari sini tidak akan menganggumu lagi.”

Suling Naga