Ads

Rabu, 13 Januari 2016

Suling Naga Jilid 073

Sim Houw tersenyum lagi. Sikap dan cara bicara anak ini sungguh lucu dan lincah jenaka.

“Tanyalah, adik yang baik, bukan hanya sebuah pertanyaan, biar selosinpun akan kujawab.”

“Tak usah banyak-banyak, satu saja karena aku datang bukan untuk mengajak orang mengobrol. Begini paman yang baik. Aku mendengar bahwa orang yang sedang kucari itu berada di sekitar Pegunungan Tai-hang-san ini, dan ketika aku bertanya-tanya kepada para penghuni dusun di bawah sana, mereka memberi tahu bahwa untuk mencari orang itu aku harus bertanya kepada seorang penyuling yang mungkin berada di puncak ini. Nah, akupun datang di sini dan karena engkau pandai bermain suling, agaknya engkaulah penyuling itu. Tentu saja kecuali kalau ada penyuling lain lagi.”

Hati Sim Houw mulai merasa tidak enak, akan tetapi dengan sikap tenang dia menyimpan Liong-siauw-kiam di sarungnya yang terselip di pinggang di balik bajunya yang panjang, dan dia bertanya.

“Nona, siapakah yang kau cari itu?”

Dara itu bukan lain adalah Can Bi Lan. Setelah ia mendengar dari Kun Tek bahwa kalau ia hendak mencari Pendekar Suling Naga, ia harus pergi ke Tai-hang-san karena pendekar itu suka berkeliaran di daerah itu, maka iapun langsung saja pergi ke Tai-hang-san. Di sekitar kaki dan lereng pegunungan itu, ditanyainya penghuni dusun barang kali ada yang mengenal orang yang bernama Sim Houw berjuluk Pendekar Suling Naga.

“Yang kucari adalah Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw.” Sepasang mata yang jernih tajam itu memandang penuh selidik. “Tahukah engkau, paman?”

Sim Houw mengangguk dan menekan hatinya yang agak menegang. Heran dia mengapa dicari oleh dara muda ini hatinya merasa tegang, padahal andaikata yang mencarinya itu beberapa orang yang kelihatan jahat dan mengambil sikap bermusuh sekalipun, belum tentu dia akan kehilangan ketenangan.

“Nona,” dia tidak menyebut lagi adik setelah mendengar betapa gadis itu menyebutnya “paman” dan memang, melihat keadaan gadis itu yang masih muda, sudah sepatutnyalah kalau dia disebut paman. “Kalau engkau hendak mencarinya, yang bernama Sim Houw adalah aku sendiri. Tidak tahu ada keperluan apakah?”

Bi Lan melongo dan kini sepasang matanya memandang pria itu dari kepala ke kaki dengan penuh selidik.

“Luar biasa! Engkau pendekar yang namanya terkenal sekali itu? Ah, siapa kira....“






“Ternyata hanya begini saja, ya?”

Sim Houw tersenyum pahit, tidak menyesal hanya merasa lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi terkenal. Lebih enak menjadi orang yang tidak dikenal, sehingga tidak ada yang kecewa atau heran melihat keadaannya.

“Ah, bukan begitu. Tapi hemm, bentuk badan dan wajah memang agak cocok dengan keterangan suci. Tubuhmu sedang dan wajahmu cukup tampan. Akan tetapi tidak setua ini! Kata suci, engkau seorang pemuda yang hebat, tampan dan lihai. Tapi biarpun engkau tampan, engkau tidak muda lagi dan pakaianmu begini sederhana, sama sekali bukan seperti pendekar.”

“Kalau pendekar itu harus seperti bagaimana?” Sim Houw yang ketularan kejenakaan gadis itu, bertanya sambil berkelakar.

“Seperti.... seperti....apa ya? Aku sendiripun tidak tahu.”

Ia teringat akan Gu Hong Beng dari Cu Kun Tek. Keduanya adalah pendekar-pendekar muda, akan tetapi merekapun seperti orang biasa. Hampir lupa ia bahwa pendekarpun orang, maka tentu tidak ada bedanya dengan orang lain.

“Nona, siapakah sucimu itu? Dan apa keperluanmu mencari aku?”

“Beberapa tahun yang lalu suci pernah kalah olehmu.... ah, pantas, sudah lewat beberapa tahun, tentu saja engkau menjadi lebih tua. Mungkin karena terlalu sederhana kau jadi kelihatan lebih tua. Berapa sih usiamu sekarang?”

Melihat betapa percakapan itu menjadi tidak karuan, malah bertanya umur segala, Sim Houw tak dapat menahan ketawanya. Dia tertawa dan kini nampak bahwa dia sesungguhnya belum tua karena begitu dia tertawa wajahnya nampak masih muda.

“Eh, kenapa kau malah tertawa? Apakah engkau mentertawakan aku?”

Pandang mata Bi Lan penuh kemarahan dan alisnya berkerut. Tiba-tiba saja Sim Houw menghentikan suara ketawanya. Dia seperti melihat bahwa kalau dia tertawa terus, tentu gadis itu akan langsung menyerangnya. Sekarangpun sudah menyerangnya dengan pandang mata yang lebih runcing dari pada mata pedang!

“Aku tidak mentertawakanmu, nona, melainkan ketawa karena kata-katamu yang lucu. Kalau mau tahu usiaku, aku berusia tigapuluh tiga tahun sekarang. Nah, memang sudah tua, bukan?”

“Engkau tidak tua tidak muda, engkau.... yah, cukupan. Belum tua tapi sudah masak, begitulah andaikata engkau ini buah.”

“Siapa bilang belum tua? Sudah seratus tahun kurang....“

“Eh? Jadi kau tadi membohong ketika mengaku berumur tigapuluh tiga....“

“Seratus tahun kurang enampuluh tujuh kan berarti seratus tahun kurang.” Sim Houw yang biasanya pendiam itu mendadak saja pandai berkelakar.

“Huh, kalau begitu akupun seratus tahun kurang! Kau kira aku ini anak kecil, mudah saja dibohongi?”

“Kau bukan anak kecil, akan tetapi dibandingkan dengan aku, engkau ini yah, katakanlah remaja yang sudah matang. Usiamu paling banyak enambelas tahun.”

Sengaja Sim Houw mengurangi taksirannya untuk menggoda. Dia sama sekali tidak tahu bahwa wanita paling suka kalau dikatakan masih muda, dan ucapannya tadi bukan merayu, melainkan hanya untuk menggoda.

Akan tetapi Bi Lan girang sekali.
“Masih kelihatan begitu muda? Padahal, aku sudah hampir delapanbelas tahun! Eh, paman.... bagaimana ya baiknya kupanggil paman atau kakak?”

“Terserah kepada yang panggil, itu adalah urusan orang yang akan memanggil, boleh kau sebut paman, kakak, kakek, asal jangan menyebut bibi saja.”

“Aha, kau pandai berkelakar, ya? Lucu ya? Tidak lucu, ah!”

Kembali Sim Houw tertawa. Bukan main gembira hatinya. Selama hidupnya baru satu kali ini dia benar-benar merasa gembira bercakap-cakap dengan seseorang gadis remaja yang satu ini memang bukan main. Lucunya tidak dibuat-buat, memang sikapnya, kata-katanya dan pandang matanya, mulutnya, semua serba lucu dan menarik.

“Eh, ketawa lagi! Aku jadi ragu-ragu apakah benar engkau yang dipanggil Pendekar Suling Naga! Masa ada pendekar kok begini sederhana dan suka berkelakar? Tidak berwibawa seujung rambutpun. Pantasnya kau ini....”

Gadis itu memandang seperti orang menimbang-nimbang, menggeleng sana-sini seperti seorang gadis remaja menaksir sepotong baju baru yang akan dipilihnya.

“Pantasnya jadi apa?” tanya Sim Houw yang sudah siap untuk tertawa lagi karena baru sikap gadis itu sudah begitu menyenangkan dan menggelikan. Dia tak mungkin bisa marah dikatakan apa saja oleh gadis seperti ini!

“Hemm.... jadi petani dusun, terlalu tampan dan kulitmu terlalu halus. Jadi seorang kutu buku! Yah, seorang kutu buku, yang kerjanya setiap hari hanya baca buku, melamun, baca buku sambil menangis sendiri, tertawa sendiri....”

“Wah, seperti orang gila? Menangis sendiri tertawa sendiri?”

“Bukan gila. Aku melihat semua kutu buku begitulah. Kalau cerita yang dibacanya menyedihkan dan mengharukan, dia menangis sendiri, kalau ada yang lucu, ketawa-ketawa sendiri, memang seperti orang gila, tapi bukan. Eh, benarkah kau ini bernama Sim Houw dan yang dijuluki Pendekar Suling Naga?”

“Namaku memang Sim Houw dan tentang julukan itu adalah orang-orang lain yang menyebutnya, aku sendiri tidak pernah merasa menjadi pendekar.”

“Tapi kata suciku, Pendekar Suling Naga mempunyai sebuah pusaka, yaitu Liong-siauw-kiam!“

Sim Houw dapat menduga bahwa kedatangan gadis ini tentu ada hubungannya dengan pedang itu, maka diapun mencabut Liong-siauw-kiam dari sarungnya.

“Inilah Liong-siauw-kiam, suling yang kutiup tadi.”

Sepasang mata yang indah itu terbelalak. Ia melihat sebatang kayu semacam tongkat berbentuh naga, berlubang-lubang seperti suling, dan tajam juga runcing seperti pedang, akan tetapi benda itu hanya dari kayu, buruk kehitaman pula.

“Itu? Yang kau tiup tadi? Itukah yang disebut Liong-siauw-kiam dan diperebutkan oleh begitu banyuk orang? Aihhh, apakah mereka semua itu sudah gila?”

Sim Houw menyarungkan lagi pedangnya,
“Gila? Mereka siapa yang gila?”

“Tentu saja yang memperebutkannya dengan taruhan nyawa. Bukankah itu pedang yang tadinya berada di tangan kakek Pek-bin Lo-sian dan diperebutkan? Engkau juga termasuk yang mungkin gila, memperebutkan pedang kayu seperti itu dengan taruhan nyawa. Dijual tidak akan laku sepuluh tael perak! Engkau, suciku yang berjuluk Bi-kwi, juga Sam Kwi guru-guruku, mereka itu juga sudah gila. Akupun termasuk yang sudah gila karena aku mau saja mewakili suciku untuk merampas pedang macam itu darimu. Kalau bukan karena mewakili suci, huh, diberi juga aku sendiri tidak sudi! Apa lagi harus merampas segala macam!”

Sim-Honw terkejut, alisnya berkerut dan rasa kecewa yang amat besar menyelinap di dalam hatinya. Gadis ini murid Sam Kwi? Dan datang diutus oleh Bi-kwi, wanita iblis jahat itu untuk merampas pedang pusaka ini? Sungguh sukar untuk dipercaya. Dan pandangannyapun berubah! Dia kini menganggap bahwa semua kelucuan gadis ini tadi dibuat-buat saja, sengaja untuk menjatuhkan hatinya, untuk merayunya! Dan memang gadis ini telah berhasil menarik hatinya, membuat dia merasa suka sekali kepada gadis ini. Akan tetapi begitu dia mendengar bahwa gadis ini murid Sam-Kwi, segera dia usir semua rasa suka itu, walaupun dengan hati penuh penyesalan dan kekecewaan.

Tidaklah aneh sikap Sim Houw ini. Bukankah kita semua juga mendasari rasa suka dan tidak suka melalui penilaian dan semua penilaian ini dipengaruhi perhitungan untung atau rugi? Baik untung rugi batin maupun untung rugi lahir. Kalau menguntungkan kita, maka kita menilai orang itu sebagai orang baik, sebaliknya kalau merugikan kita, kita menilai orang itu sebagai orang tidak baik. Kita suka atau tidak suka kepada seseorang berdasarkan penilaian itu! Tidak mengherankan apa bila seseorang itu bisa hari ini baik dan besok tidak baik, hari ini disuka, besok dibenci, karena perbuatan-perbuatannya tentu saja bisa merugikan atau menguntungkan, hari ini menguntungkan, besok merugikan dan sebaliknya dan selanjutnya. Kalau saja kita dapat menghadapi apa dan siapa saja TANPA PENILAIAN INI, tentu kita akan terbebas dari pada rasa suka atau tidak suka kepada sesuatu atau seseorang. Dengan kebebasan seperti ini, barulah sinar cinta kasih dapat menyinari batin.

“Hemm, jadi engkau ini murid Sam Kwi? Dan ke sini mencari aku untuk mewakili sucimu, mencoba untuk merampas Liong-siauw-kiam?” tanya Sim Houw, terheran-heran mengapa Sam Kwi dan Bi-kwi mengutus seorang gadis yang tingkatnya masih seperti kanak-kanak ini.

Bi Lan mengangguk.
“Akan tetapi menurut suci, ia pernah kalah olehmu dan menurut ceritanya, engkau lihai bukan main. Agaknya akupun bukan tandinganmu dan aku akan gagal mengalahkan engkau untuk merampas pusaka itu.”

“Kalau begitu, kenapa engkau datang juga, seorang diri tanpa pembantu pula? Apa yang memaksamu untuk nekat mencariku kalau engkau sudah merasa bahwa engkau takkan berhasil merampas Liong-siauw-kiam dari tanganku?” tanya pula Sim Houw, suaranya tidak lagi ramah karena dia menganggap gadis ini nekat atau jahat atau menggunakan siasat pula dengan modal kecantikan, kemanisan dan kepandaiannya bicara.

“Yang memaksaku adalah janji dan sumpahku kepada suci. Aku telah bersumpah kepada suci untuk merampaskan pusaka itu dari tanganmu, maka aku memaksa diri untuk datang juga mencarimu. Kalau aku gagal dan tewas di tanganmu, bagaimanapun juga aku sudah memenuhi janji dan sumpahku. Sebaliknya kalau aku tidak berani melakukannya, biarpun aku tetap hidup, aku akan menjadi orang yang mengingkari sumpahnya sendiri, dan berarti hidup tanpa isi. Bagiku, lebih baik mati melaksanakan sesuatu yang gagah dari pada hidup sebagai orang tanpa guna.”

Kembali Sim Houw tertegun. Kata-kata itu semua keluar dari hati anak itu sendiri ataukah memang sudah dihafalkan sebelumnya, merupakan siasat untuk menjatuhkan hatinya? Saking terpengaruh benar oleh ucapan Bi Lan, dia bengong terlongong saja.

“Heiiii! Kau mendengar atau tidak? Aku mau merampas Liong-siauw-kiam! Berikan kepadaku atau terpaksa aku menggunakan kekerasan merampasnya darimu!”

Suling Naga