Ads

Rabu, 13 Januari 2016

Suling Naga Jilid 075

“Sam Kwi boleh melakukan apa saja, akan tetapi aku bukan Sam Kwi dan Sam Kwi bukan aku! Aku memang pernah menjadi murid mereka, akan tetapi aku menjadi murid untuk belajar silat, bukan belajar mencuri!”

“Kalau begitu, dari mana engkau bisa memainkan ilmu silat dari keluarga Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?”

“Huh! Itu masih belum, sobat!” kata Bi Lan mengejek. “Kalau saja Ban-tok-kiam masih berada di tanganku, pasti akan kubikin buntung pedang pusakamu dari kayu itu!”

“Ban-tok-kiam! Itu milik dari isteri pendekar majikan Istana Gurun Pasir!” teriak Sim Houw semakin heran. “Bagaimana pula bisa menjadi milikmu?”

Kembali Bi Lan tersenyum mengejek, bibirnya yang merah basah dan mungil itu berjebi.
“Kau ingin mendengar penjelasanku mengenai keluarga Istana Gurun Pasir dan aku?”

“Tentu saja.... tentu saja, apa hubunganmu dengan mereka?”

“Kau boleh minta maaf dulu, baru aku mau menceritakan!”

“Minta maaf?” Sim Houw memandang heran. Ada-ada saja permintaan gadis ini yang aneh-aneh dan di luar dugaan. “Untuk apa?”

“Karena kau tadi menuduh aku mencuri.”

Hampir Sim Houw tertawa bergelak, akan tetapi dia menahan rasa gelinya dan diapun tersenyum.

“Baiklah, aku minta maaf atas tuduhanku tadi. Akan tetapi, usap dulu keringatmu, lihat, dahi dan lehermu basah semua!”

Dia merasa risi dan kasihan melihat betapa peluh mengalir membasahi leher baju dan yang dari dahi juga mulai menetes ke bawah membasahi pipi.

Bi Lan tercengang. Baginya, lawannya ini juga aneh sekali dan iapun lalu menyeka keringatnya dengan saputangan biru yang dikeluarkannya dari saku bajunya.






“Dengarlah, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir atau majikan Istana Gurun Pasir yang bernama Kao Kok Cu, dengan isterinya yang bernama nenek Wan Ceng, adalah guru-guruku!”

“Wah, mana mungkin....!”

“Mungkin saja! Buktinya begitu kok tidak mungkin. Buktinya mereka telah mengajarkan ilmu silat kepadaku selama satu tahun, bahkan subo Wan Ceng meminjamkan Ban-tok-kiam kepadaku, akan tetapi pedang itu dirampas oleh orang lain.”

Sukar untuk tidak percaya kepada omongan seorang gadis seperti ini, akan tetapi agaknya tidak masuk di akal pula kalau murid Sam Kwi bisa menerima pelajaran silat dari pendekar sakti itu dan isterinya.

“Nona, ketahuilah bahwa aku menganggap keluarga Kao dari Istana Gurun Pasir itu sebagai para locianpwe yang kuhormati dan kukagumi di samping keluarga dari Pulau Es. Mereka adalah keluarga sakti yang gagah perkasa. Kalau engkau menjadi murid suami isteri pendekar Kao itu, maka tentu saja aku tidak berani mengangkat tangan melawanmu dan bagiku engkau bukan seorang musuh. Marilah kita duduk dan ceritakan kepadaku bagaimana di satu pihak engkau dapat menjadi murid Kao locianpwe, hal yang memang patut kulihat pada dirimu, akan tetapi di lain pihak engkaupun menjadi murid Sam Kwi dan bahkan menjadi utusan Bi-kwi untuk merampas Liong-siauw-kiam.”

Sim Houw sudah mengambil tempat duduk lagi di atas batu yang tadi dipakainya bersila ketika dia meniup suling dan mempersilahkan Bi Lan untuk duduk pula di atas batu-batu di depannya.

Akan tetapi Bi Lan menolak.
“Nanti dulu! Enak saja engkau mengajak aku mengobrol begitu saja. Aku datang untuk merampas pedang pusaka Suling Naga, bukan untuk kongkouw (ngobrol-ngobrol) denganmu!”

“Kita bukan hanya bicara tentang dirimu, akan tetapi juga tentang pedang pusaka ini. Percayalah, aku tentu akan membantumu agar engkau tidak sampai hidup sebagai orang yang tidak memenuhi janji dan sumpah sendiri.”

“Benar? Tidak bohong?”

Sim Houw menggeleng kepalanya.
“Aku tidak pernah berbohong.”

“Kalau perlu kau akan memberikan pusaka itu kepadaku?”

“Kalau perlu, boleh saja.” Sim Houw tersenyum.

“Sumpah dulu kau tidak bohong, baru aku mau duduk mengobrol!”

Sim Houw tersenyum lebar. Kini dia mengerti. Gadis ini pada dasarnya adalah seorang gadis yang berjiwa pendekar, yang baik budi, jauh dari watak kejam dan jahat dan mungkin karena melihat sifat-sifat baik inilah maka seorang sakti seperti majikan Istana Gurun Pasir mau mengajarkan ilmu-ilmu kepadanya. Akan tetapi karena menjadi murid Sam Kwi hidup dalam lingkungan para datuk sesat, tentu saja iapun ketularan watak-watak yang aneh dan mau enaknya sendiri saja. Watak-watak yang buruk dari Sam Kwi dan watak-watak pendekar dari suami isteri Istana Gurun Pasir itu agaknya bercampur dan menciptakan watak yang lucu dan aneh pada diri gadis ini.

“Baiklah, kalau perlu aku akan memberikan pusaka Suling Naga kepadamu dan aku akan membantumu, aku bersumpah bahwa aku tidak berbohong.”

Bi Lan tertawa dan Sim Houw merasa luar biasa sekali, seolah-olah sinar matahari di pagi hari itu tiba-tiba saja menjadi semakin cerah, suara burung-burung di dalam pohon menjadi semakin merdu dan bau-bau rumput dan daun pohon dan bunga di sekitar tempat itu menjadi semakin harum! Demikianlah keadaan hati yang tidak dibebani rasa duka!

Kalau segala macam rasa duka, kecewa, sesal dan sengsara hati lenyap dari batin kita, maka panca indera kita akan bekerja lebih peka lagi dan kita akan lebih dapat menikmati segala keindahan di dalam kehidupan ini!

Bi Lan yang tersenyum cerah karena hatinya merasa lega itu kini duduk di atas batu hitam, dekat dengan Sim Houw sehingga pria itu mampu menangkap bau badan gadis yang berkeringat itu. Bau yang aneh dan terasa sampai ke jantungnya, yang menggerakkan semua kejantanan dalam dirinya, yang tiba-tiba menimbulkan gairah, mendorong perasaan ingin sekali semakin dekat dengan gadis itu dan kalau mungkin, selamanya tidak akan terpisah darinya dan akan selalu dapat mencium bau yang khas itu!

“Nah, sebelum aku mulai bercerita, sebagai tuan rumah yang baik, engkau harus lebih dulu, menceritakan kepadaku, apakah benar namamu Sim Houw dan bagaimana engkau bisa memperoleh pedang pusaka itu dan sebagainya lagi mengenai dirimu.”

Kembali Sim Houw tersenyum. Dia sudah lupa lagi bahwa selama bertahun-tahun ini dia hampir tak pernah atau jarang sekali tersenyum dan di pagi hari sekali, seolah-olah sinar matahari dan di pagi hari ini, semenjak bertemu dengan gadis itu, entah sudah berapa kali dia tersenyum, bahkan tertawa. Senyum yang langsung keluar dari perasaan hatinya, bukan sekedar senyum pengantar sopan santun seperti yang nampak pada senyum kebanyakan orang.

“Namaku Sim Houw dan tentang pedang ini....“

“Nanti dulu! Namamu Sim Houw dan usiamu tadi kau katakan tigapuluh tahun? Siapa isterimu?”

Tiba-tiba saja muka pendekar itu menjadi merah sekali, kemudian agak pucat dan dia menundukkan mukanya, memejamkan sebentar kedua matanya lalu setelah dia mengangkat mukanya memandang gadis itu wajahnya sudah pulih kembali dan senyumnya sudah membayang lagi di bibirnya,

“Aku tidak punya isteri....“

“Ahh....! Sudah.... sudah matikah ia? Atau.... bercerai?”

Sim Houw menggeleng kepalanya perlahan-lahan.
“Aku belum pernah beristeri.”

“Aneh, seusia engkau ini belum beristeri? Tapi.... sucikupun usianya sudah sebaya denganmu dan belum bersuami pula. Cuma.... ia mempunyai banyak sekali pacar! Berganti-ganti, apakah.... apakah engkaupun begitu?”

“Begitu bagaimana maksudmu!” tanya Sim Houw hampir membentak.

“Seperti suciku itu? Berganti-ganti pacar?”

Kalau bukan gadis itu yang berkata demikian, ingin rasanya Sim Houw menampar mulut itu.

“Tidak! Dan jangan engkau samakan semua orang seenakmu saja. Bukankah engkau sendiri, yang menjadi sumoinya, tidak sama dengan sucimu itu, berganti-ganti pacar?”

“Aku sih tidak sudi! Aku benci laki-laki mata keranjang!”

“Nah, dengarkan saja, kalau begini terus ceritaku tidak akan ada habisnya! Aku bernama Sim Houw, belum punya isteri, dan kedua ayah ibuku sudah meninggal dunia. Guruku bernama Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas dan tinggal di Istana Khong-sim Kai-pang, di puncak Bukit Nelayan, tak sangat jauh dari sini. Cukup bukan tentang diriku?”

Bi Lan yang tadi dibentak, kini mengangguk-angguk.
“Sudah cukup jelas, terutama bahwa selain belum pernah beristeri, engkau tidak pernah berganti-ganti pacar....” Ia tersenyum memandang kepada Sim Houw yang juga tersenyum senang. “Dan bagaimana tentang Liong-siauw-kiam itu?”

“Seorang kakek pertapa di Himalaya yang bernama Pek-bin Lo-sian, aku yakin engkau tentu mengenal nama itu karena dia masih terhitung susiok (paman guru) dari Sam Kwi, telah merasa tua dan ingin mewariskan pedang pusaka Suling Naga kepada seseorang yang dianggapnya pantas untuk memilikinya. Dia tidak suka kepada tiga orang keponakannya, yaitu Sam Kwi dan dia mulai mencari orang yang akan mampu mengalahkan dirinya, karena dia hanya akan memberikan pusaka ini kepada orang yang dapat mengalahkannya. Entah berapa banyak sudah orang yang roboh di tangannya, luka atau mati, ketika dia mencari calon pemilik baru dari Liong-siauw-kiam ini. Akhirnya dia bertemu denganku dan kebetulan aku dapat mengalahkannya maka dia menyerahkan senjata pusaka ini kepadaku.”

Bi Lan mengangguk-angguk.
“Jadi engkau tidak merampasnya atau mencurinya dari kakek itu? Aku percaya ceritamu. Dan tidak aneh kalau engkau menang, karena ilmu kepandaianmu memang hebat. Aku sendiripun bukan lawanmu. Kalau kau mau membunuhku dengan senjata itu tentu mudah saja. Heiii....! Mengapa....?”

Tiba-tiba gadis itu meloncat dari tempat duduknya dan gerakannya yang tiba-tiba itu mengejutkan Sim Houw sehingga pemuda inipun terloncat bangun.

“Mengapa....apa....?” tanyanya bingung karena gadis itu kembali sudah memandang kepadanya dengan mata melotot marah.

“Mengapa engkau tidak membunuhku atau setidaknya merobohkan aku? Padahal jelas bahwa kedatanganku ini untuk merampas Liong-siauw-kiam? Ehh, engkau.... engkau.... bukan sebangsa jai-hoa-cat, ya?”

Kembali Sim Houw menjadi gemas dan ingin menampar mulut itu kalau saja yang bicara orang lain.

“Kenapa kau bertanya begitu?” balasnya, tentu saja mendongkol karena jai-hoa-cat (penjahat pemerkosa wanita) adalah kejahatan yang paling dibencinya.

“Karena sudah banyak sekali kulihat orang-orang yang ilmunya tinggi, bersikap baik kepada wanita hanya untuk maksud-maksud tertentu yang rendah dan hina. Tapi.... tapi.... ahh, engkau tentu bukan orang macam mereka itu. Aku percaya padamu, maafkan pertanyaanku tadi, ya?”

Ucapan yang disertai senyum ini sekaligus menghapus bersih kedongkolan hati Sim Houw.

“Sekarang ceritakan tentang dirimu dan tentang hubunganmu dengan keluarga Kao dari Istana Gurun Pasir.”

“Sam Kwi bukan saja guru-guruku, melainkan juga penolongku dan penyelamat nyawaku. Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku dan ayah ibuku meninggalkan kampung halaman kami di selatan untuk lari mengungsi karena adanya perang pemberontakan dan serbuan dari orang-orang Birma. Di tengah perjalanan, kami dihadang pasukan orang Birma. Ayah ibuku tewas dan aku hampir celaka. Kalau tidak ada Sam Kwi yang tiba-tiba muncul, tentu aku mengalami nasib seperti ibuku, diperkosa oleh mereka sampai mati.”

Gadis itu memejamkan kedua matanya untuk mengusir pemandangan tentang ibu dan ayahnya itu yang membayang dalam ingatannya. Diam-diam Sim Houw merasa terharu sekali dan juga kasihan. Pantas gadis ini memiliki watak aneh. Begitu kecil sudah mengalami musibah yang demikian hebat.

Suling Naga