Ads

Rabu, 13 Januari 2016

Suling Naga Jilid 080

Setelah pendeta Lama dan Kim Hwa Nio-nio itu tiba di dekat meja, Hou Taijin bangkit berdiri untuk menyambut dan pendeta yang bukan lain adalah Sai-cu Lama itu segera memberi hormat, merangkapkan kedua tangan depan dada sambil berkata dengan suara seperti berdoa,

“Omitohud semoga Hou Taijin mendapat berkah usia panjang dan rejeki yang berlimpah-limpah!”

Hou Seng tersenyum.
“Selamat datang, lo-suhu dan silahkan duduk. Silahkan, locianpwe.”

Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio mengambil tempat duduk setelah nenek itu dengan isarat tangannya menyuruh anak buahnya untuk keluar dari ruangan itu. Para pengawal segera pergi dan hanya berjaga di luar ruangan tamu itu dengan ketatnya. Yang berada diruang tamu kini hanyalah Hou Taijin bersama dua orang selir yang mengawalnya, Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama.

“Hou Taijin, pinceng (saya) adalah Sai-cu Lama dari Tibet dan saya memenuhi undangan Kim Hwa Nio-nio yang sudah pinceng kenal baik untuk menghadap taijin. Harap maafkan kelancangan pinceng.”

Hou Seng tertawa bergelak, hatinya senang sekali mendengar seorang kakek yang menurut Kim Hwa Nio-nio amat sakti ini merendahkan diri.

“Ah, tidak ada yang perlu dimaafkan karena memang saya yang minta kepada locianpwe Kim hiwa Nio-nio untuk mengundang losuhu. Losuhu telah melakukan perjalanan yang amat jauh dan melelahkan. Untuk menyambut kedatangan losuhu, saya akan mengadakan perjamuan kecil sebagai ucapan selamat datang.”

Hou Taijin mengangguk kepada Kim Hwa Nio-nio untuk memberi tanda bahwa perjamuan itu boleh dimulai.

“Kita dapat bercakap-cakap setelah makan minum.”

“Maafkan pinceng, taijin. Sebelum itu, pinceng juga ingin mempersembahkan sesuatu kepada taijin. Seorang gadis remaja berusia duabelas tahun yang cantik jelita sekali, yang kebetulan pinceng temukan di dalam perjalanan pinceng.”

Hou Seng mengerutkan alisnya. Betapapun juga pernyataan pendeta Lama itu agak menyinggung kehormatannya. Pendeta ini berani mengatakan akan mempersembahkan seorang gadis remaja yang ditemukannya begitu saja di tengah perjalanan? Persembahan seperti itu merendahkan martabatnya, betapa cantikpun gadis itu, dan tidak patut untuk di ketengahkan dalam pertemuan dan perkenalan pertama sebagai suatu persembahan kehormatan.






Agaknya Kim Hwa Nio-nio melihat ketidak senangan hati majikannya. Iapun cepat-cepat berkata,

“Hendaknya paduka maklumi bahwa gadis remaja yang dibawa oleh rekan saya Sai-cu Lama itu bukan gadis biasa, melainkan derajatnya jauh lebih tinggi dari pada seluruh wanita yang telah paduka miliki. Ia itu adalah keturunan keluarga para pendekar Pulau Es yang terkenal itu!”

“Ahh....!” Wajah pembesar itu berseri bangga dan matanya terbelalak. “Bukan main kalau begitu! Lekas bawa ke sini, saya ingin melihatnya!”

Kim Hwa Nio-nio memberi isyarat dengan tepuk tangan lima kali. Tak lama kemudian pintu sebelah kanan ruangan tamu itu terbuka dan masuklah dua orang pengawal bertubuh tinggi besar. Di antara mereka terdapat Suma Lian, yang mereka pegang pada pangkal lengannya dari kanan kiri dan mereka jinjing. Kaki dan tangan gadis cilik itu terbelenggu!

Jelaslah bahwa Suma Lian tak mampu menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi sepasang matanya hidup, bersinar penuh keangkuhan dan kemarahan, berdiri tegak ia ketika dilepas oleh kedua orang yang segera memberi hormat lalu meninggalkan lagi ruangan itu dan menutupkan pintunya dari luar. Pandang mata gadis cilik itu ditujukan kepada Sai-cu Lama dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian.

Seperti kita ketahui, ketika Sai-cu Lama kewalahan juga karena sambil menggendong gadis cilik itu dia menghadapi pengeroyokan nenek Teng Siang In yang masih nekat walaupun sudah terluka dan Hong Beng, pemuda ini berhasil membebaskan totokan dari tubuh Suma Lian dengan sambitan kerikil. Dan setelah terbebas dari totokan, diam-diam Suma Lian mengambil tusuk konde atau hiasan rambutnya yang runcing dan menancapkan benda kecil itu di tengkuk Sai-cu Lama. Kalau saja ia tidak merasa ngeri melihat muncratnya darah dari tengkuk itu sehingga mengakibatkan tangannya lemas, tentu tusukannya itu akan lebih dalam lagi dan andaikata tidak sampai menewaskan kakek itupun tentu akan mengakibatkan luka yang cukup berat.

Sai-cu Lama terkejut, kesakitan dan berhasil menampar gadis itu pingsan, lalu melarikan diri sambil tetap membawa tubuh Suma Lian dan tengkuk yang bercucuran darah! Dia tahu bahwa kalau sampai keluarga Suma mengetahui tentu dia akan dikejar dan beratlah rasanya menghadapi mereka tanpa bantuan. Dia berlari terus dengan cepatnya, akan tetapi dia cerdik. Setelah keluar dari pintu gerbang utama, dia lalu mengitari tembok dusun menuju ke selatan, kemudian-membelok ke timur memasuki hutan lebat.

Jejaknya hilang dan suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng melakukan pengejaran ke utara terus karena ada yang melihat pendeta itu lari keluar dari pintu gerbang utara.

Luka di tengkuknya hanya mengeluarkan darah, namun tidak berbahaya. Ketika dia memeriksa benda yang menancap di tengkuknya, dia terkejut. Benda itu tentu akan dapat menancap lebih dalam lagi, pikirnya. Akan tetapi kenapa tidak? Padahal, seorang gadis biarpun baru berusia duabelas tahun seperti anak ini, tentu mampu menusuk lebih kuat. Mengapa gadis cilik ini tidak menusuknya lebih kuat? Pikiran ini membuat kemarahannya berkurang terhadap Suma Lian.

Dia menurunkan tubuh Suma Lian, lalu demi keamanan, membelenggu kaki tangan gadis itu dengan tali pengikat yang kuat. Baru dia menotoknya beberapa kali dan membuatnya sadar kembali. Begitu sadar, Suma Lian meronta, akan tetapi tak mampu melepaskan ikatan kaki tangannya dan ia hanya memandang dengan mata melotot.

“Kau manusia busuk, manusia jahat!” bentaknya.

Sai-cu Lama tertawa.
“Ha-ha-ha, anak baik. Kalau aku manusia busuk dan jahat, kenapa engkau tidak jadi membunuhku? Kenapa tusukanmu kepada tengkukku itu hanya setengah tenaga saja, tidak sungguh-sungguh?” katanya sambil mengeluarkan obat bubuk dan menempelkan obat itu kepada luka kecil di tengkuknya yang segera mengering. “Padahal, benda ini runcing dan keras, dengan sedikit tenaga saja tengkukku dapat ditembus!” katanya dan sekali menggerakkan tangan, perlahan-lahan dia menusukkan tusuk sanggul itu ke dalam sebatang pohon. Benda kecil itu amblas sampai tidak nampak lagi!

“Huh, sayang aku menjadi tidak sampai hati melihat darah muncrat, dan aku merasa malu harus berbuat curang. Kalau tidak, engkau tentu sudah mati dan aku terbebas!” kata Suma Lian, kini baru merasa menyesal mengapa ia tadi tidak menggunakan seluruh tenaganya dan mengeraskan hatinya saja.

“Ha-ha, sudah kuduga! Engkau seorang gadis manis yang baik hati. Ha-ha-ha, dan karena itulah engkau sampai sekarang masih hidup. Kalau engkau menusuk lebih keras, sebelum mati tentu tamparanku akan meremukkan kepalamu tadi. Dan sekarangpun, karena kebaikan hatimu itu, aku tidak akan membunuhmu, tidak, aku malah membuat engkau hidup mulia. Mari....!”

Dengan tangan kirinya dia menyambar tubuh gadis cilik itu dan dipanggulnya lalu dibawa lari.

“Lepaskan aku! Lepaskan....!”

Suma Lian meronta dan menjerit, akan tetapi pendeta Lama itu menggunakan jari tangan menekan tengkuknya dan iapun tidak mampu mengeluarkan suara lagi.

Demikianlah, Sai-cu Lama membawa Suma Lian ke kota raja. Di dalam perjalanan itu, dia menyembunyikan tubuh yang sudah dibelenggu dan ditotoknya itu ke dalam sebuah kantung kain yang diberi lubang-lubang untuk pernapasan gadis itu, dan sekali-sekali, dia harus memaksa gadis itu untuk makan, dengan membuka mulut gadis itu dan menuangkan bubur ke dalam perutnya. Tanpa paksaan, Suma Lian yang keras hati itu tidak mau makan atau minum!

Setelah tiba di gedung tempat tinggal Hou Taijin yang menjadi sarang Kim Hwa Nio-nio yang menghubunginya, Sai-cu Lama disambut dengan girang oleh Kim Hwa Nio-nio, apa lagi ketika temannya itu memberitahukan bahwa gadis cilik yang ditawannya adalah keturunan para pendekar Pulau Es.

Para datuk sesat memang selalu memusuhi para pendekar, terutama sekali keturunan keluarga Pulau Es sejak dahulu, sejak nenek moyang mereka, telah menjadi musuh besar yang harus selalu ditentang.

“Bagus, tentu Hou Taijin akan suka sekali!” serunya. “Atau kalau tidak, hemmm.... anak ini bertulang baik, bagaimana kalau ia menjadi muridku saja?”

“Ha-ha-ha, sungguh serupa benar jalan pikiran kita,” kata Sai-cu Lama. “Akupun mempunyai pikiran demikian. Amat bangga kalau kita dapat mempunyai murid keturunan para pendekar Pulau Es, kita didik sedemikian rupa sehingga kelak ia menjadi tokoh dari golongan kita yang memusuhi para pendekar. Ha-ha-ha!”

“Bagus! Akupun ingin terbawa namaku dalam jasa itu. Bagaimana kalau kita didik anak itu bersama-sama?”

“Omitohud, usia tuamu tidak menghilangkan kecerdikanmu, seperti tidak pula melenyapkan kecantikanmu, Kim Hwa Nio-nio!”

Sai-cu Lama memuji dan keduanya lalu membuat persiapan untuk memberi laporan kepada Hou Taijin bahwa tamu dari Tibet yang diundang telah tiba. Dan seperti kita ketahui, Hou Taijin demikian girang mendengar ini sehingga dia datang sendiri untuk menemui tamu itu dan mengenalnya sendiri karena oleh Kim Hwa Nio-nio sudah diceritakan bahwa tamu yang berjuluk Sai-cu Lama dari Tibet ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan tidak kalah oleh Kim Hwa Nio-nio sendiri, demikian kata nenek itu.

“Omitohud...., anak baik, engkau menghadap Hou Taijin, harus berlutut memberi hormat!” kata Sai-cu Lama.

Akan tetapi Suma Lian tetap berdiri dengan mata melotot, sedikitpun tidak takut dan ketika ia memandang kepada orang berpakaian mewah yang duduk di depan pendeta Lama itu, matanya memandang penuh selidik. Mata anak ini demikian tajam sehingga hati pembesar itu merasa kecut juga. Akan tetapi pada saat itu, seorang di antara dua orang selir yang menjadi pengawalnya itu berbisik dekat telinganya.

“Taijin harus bersikap baik kepadanya, dan suruh membebaskan ikatan kaki tanganya, agar mudah ia dijinakkan.”

Hou Taijin mengangguk-angguk, lalu sambil memandang kepada gadis cilik itu, dia berkata,

“Losuhu, kasihan sekali puteri kecil ini dibelenggu. Harap lepaskan belenggu kaki tangannya!”

“Taijin, biarpun masih kecil, ia sudah lihai dan berbahaya, juga liar seperti seekor kuda binal!”

“Sai-cu Lama, perintah Taijin harus kita laksanakan tanpa membantah.”

Tiba-tiba Kim Hwa Nio-nio memperingatkan temannya yang belum tahu akan watak Hou Taijin yang tidak mau dibantah.

Mendengar ini, Sai-cu Lama mengangguk dan cepat dia menghampiri Suma Lian yang berdiri tegak. Untuk mendemonstrasikan kelihaiannya, dengan jari-jari tangan ringan sekali gerakannya, dia membikin putus semua tali, seolah-olah tali-tali itu hanya sehelai benang saja!

“Adik yang baik, ke sinilah dan jangan takut. Kami tidak akan menyusahkanmu lagi,” berkata Hou Seng.

Memang orang ini pandai sekali bersandiwara dan mendengar suaranya yang lemah lembut, melihat wajahnya yang kini memperlihatkan kesungguhan dan keramahan, Suma Lian mulai percaya bahwa orang itu tentu memiliki niat yang baik terhadap dirinya. Ia memang tidak mendengarkan apa yang dipercakapkan oleh Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio bahwa dirinya akan diberikan kepada pembesar Hou Seng untuk dijadikan selir! Maka, mengingat bahwa ia berhadapan dengan seorang pembesar di kota raja, seperti yang didengarnya tadi dari para pengawal bahwa ia akan dihadapkan kepada seorang pembesar istana kota raja, ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

Memang selain ilmu silat tinggi, Suma Lian diajar tentang ilmu baca tulis, juga tentang kesopanan sehingga ia mampu bersikap semestinya ketika berhadapan dengan seorang pembesar, apa lagi kalau mengingat bahwa pembesar ini bersikap baik, bahkan telah menolongnya dari belenggu.

“Taijin, harap paduka suka mengirim saya kembali ke rumah orang tua saya, atau membiarkan saya pergi dari sini. Untuk budi ini saya Suma Lian tidak akan melupakanmu.”

Kembali terdengar bisik-bisik dari seorang selir di belakangnya itu. Hou Seng mengangguk-angguk lagi.

Suling Naga