Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 081

“Nona Suma Lian, membiarkan engkau pergi seorang diri sungguh amat berbahaya. bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa atas dirimu? Berarti aku ikut bertanggung jawab. Sai-cu Lama telah menyerahkan engkau kepadaku, berarti akulah yang kini melindungimu. Jangan khawatir, sekali waktu pasti aku akan mengantar engkau kembali ke tempat tinggalmu, akan tetapi sementara ini, selagi aku masih sibuk, biarlah engkau tinggal di sini bersama Kim Hwa Nio-nio. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan memberontak atau mencoba untuk melarikan diri.”

Suma Lian adalah seorang anak yang cerdik. Kalau tadi ia memperlihatkan sikap marah, itu adalah karena Sai-cu Lama selalu bersikap keras kepadanya dan ia membenci pendeta yang menculiknya itu. Kini ia melihat bahwa tidak ada pilihan lain baginya kecuali mentaati perintah pembesar ini, kalau ia tidak ingin diperlakukan kasar lagi. Ia mengerti bahwa ia menjadi semacam tahanan, akan tetapi jauh lebih baik tertahan dalam keadaan bebas dari pada dibelenggu terus atau disekap terus dalam kamar tahanan. Dalam keadaan bebas, tentu banyak kesempatan terbuka baginya untuk melarikan diri!

“Baiklah Taijin, saya berjanji takkan memberontak dan terima kasih atas kebaikan Taijin”

“Locianpwe,” kata Hou Taijin dengan suara halus kepada Kim Hwa Nio-nio, “harap locianpwe atur dan serahkan adik ini kepada para pengasuh lebih dulu, sediakan kamar yang baik, pakaian yang cukup dan makan yang enak, setelah itu kami masih menanti locianpwe di sini untuk mengadakan perundingan lebih lanjut.”

“Baik, Taijin.” Kim Hwa Nio-nio lalu menggandeng tangan Suma Lian. “Nah, kalau sejak kemarin engkau tidak memberontak, tentu kami sudah memperlakukan engkau dengan baik. Marilah, anak manis.”

Kalau saja Sai-cu Lama yang menggandengnya, biarpun kini ia tidak memberontak lagi, Suma Lian tentu tidak akan mau. Akan tetapi ia tidak membenci nenek ini walaupun ia juga tidak menyukainya, dan iapun menurut saja ketika digandeng dan hendak diajak keluar dari ruangan itu.

Setelah menyerahkan Suma Lian kepada para pembantunya agar anak itu memperoleh rawatan yang baik dan sekali-kali tidak boleh diperlakukan kasar, akan tetapi diam-diam Kim Hwa Nio-nio memerintahkan anak buahnya untuk mengamati anak itu baik-baik dan menjaganya agar ia tidak sampai melarikan diri dari situ, nenek itu lalu kembali ke ruangan tamu.

“Locianpwe berdua, kami menerima dengan gembira anak keluarga Suma itu, akan tetapi untuk sementara saya titipkan dulu ia di sini. Terutama locianpwe Kim Hwa Nio-nio harap menjaganya baik-baik karena sekali waktu tentu ia akan kubawa ke istana. Jangan sampai ia kekurangan sesuatu dan jangan sampai melarikan diri. Akan tetapi, harap rahasiakan tempat persembunyiannya dari orang luar. Mengertikah, locianpwe?”






Kim Hwa Nio-nio mengangguk-angguk.
“Baik Taijin. Saya sendiri yang akan menjaganya.”

Wajah pembesar itu nampak lega dan diapun berkata gembira.
“Sekarang, harap keluarkan hidangan dan hiburan untuk menjamu Lo-suhu dari Tibet sebagai sambutan selamat datang dari kami.”

Kim Hwa Nio-nio bertepuk tangan beberapa kali sebagai perintah dan pintupun terbuka.
Beberapa orang pelayan, laki-laki dan wanita, kesemuanya muda-muda dan berpakaian bersih, yang pria tampan dan wanita cantik masuk dengan sikap gesit dan terlatih baik.
Mereka lalu mengatur masakan-masakan di atas meja dan bagaikan sekumpulan burung dara delapan orang pelayan ini pulang pergi mengambil masakan-masakan dari dapur dan ruangan itupun menjadi sedap baunya oleh uap masakan-masakan yang masih panas itu.

Rombongan ini disusul oleh rombongan tari dan nyanyi yang terdiri dari dua orang wanita dan empat orang laki-laki. Mereka mengenakan pakaian seniman yang beraneka warna sambil membawa alat-alat musik mereka. Muka mereka, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dirias dengan bedak tebal dan gincu sehingga hampir menyerupai kedok-kedok.

“Taijin, rombongan ini sengaja saya undang dari kota raja,” kata Kim Hwa Nio-nio memperkenalkan enam orang itu.

Hou Sen mengangguk-angguk.
“Bagus, bagus, kalau permainan kalian malam ini memuaskan, tentu kami akan memberi hadiah yang besar.”

Enam orang itu berlutut menghadap pembesar itu, akan tetapi sebelum mereka menjawab, dari pintu yang terbuka itu menerobos masuk sepuluh orang pengawal anak buah Kim Hwa Nio-nio dan muka mereka memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang hebat telah terjadi. Melihat mereka masuk begitu saja tanpa dipanggil, berkerut sepasang alis Kim Hwa Nio -nio.

“Kalian ada laporan apa!“ bentaknya marah.

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan menjadi komandan regu itu, melangkah maju dan dengan sikap gugup dia menuding ke arah enam orang seniman yang masih berlutut di situ.

“Mereka.... mereka ini.... palsu! Mereka membunuh enam orang rombongan seniman dari kota raja dan mereka menyamar....”

“Apa....?” Hou Taijin membentak dengan wajah berubah pucat memandang kepada enam orang seniman palsu itu. “Siapa kalian dan mau apa datang ke sini?”

“Mau membunuh kau laki-laki cabul!”

Tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak dan serentak dua orang wanita dan empat orang laki-laki itu sudah mencabut keluar pedang masing-masing yang tadi disembunyikan bersama alat-alat musik dan pakaian!

Akan tetapi, belasan orang pengawal sudah mengepung mereka itu sehingga mereka tidak dapat menyerang Hou Seng yang oleh Kim Hwa Nio-nio lalu dibawa ke pinggir dan dilindunginya.

Sedangkan Sai-cu Lama hanya memandang dengan sikap tenang saja, malah dia menyambar seguci arak dan mulai minum-minum melihat betapa belasan orang pengawal itu mulai mengeroyok enam orang musuh untuk menangkap mereka, hidup atau mati.

Akan tetapi, ternyata enam orang itu lihai sekali ilmu pedang mereka sehingga dalam beberapa gebrakan saja, enam orang pengawal sudah roboh tertusuk atau terbacok pedang! Hal ini membuat Hou Taijin menjadi ketakutan, akan tetapi Kim Hwa Nio-nio menenangkannya.

“Jangan khawatir, Taijin, ada saya di sini,” kemudian ia berkata kepada Sai-cu Lama. “Lama, apakah engkau masih mau enak-enak minum arak saja sekarang? Taijin sudah tak sabar lagi untuk melihat kemampuanmu!”

Sai-cu Lama bangkit dan menghampiri arena perkelahian, lalu dari mulutnya menyemburkan arak yang menderas bagaikan hujan, akan tetapi yang membuat semua orang yang sedang bertempur itu, baik para pengawal maupun para penyerbu, terpaksa mundur karena mereka tidak dapat membuka mata terhadap serangan percikan arak yang begitu kuat dan seperti dapat menusuk kulit muka!

“Para pengawal, mundurlah dan bawa pergi teman-temanmu yang terluka keluar dari sini, agar gerakan pinceng tidak terhalang!” kata kakek gendut itu tenang-tenang saja.

Para pengawal lalu menolong enam orang kawan mereka yang terluka, membawa mereka keluar dari ruangan tamu yang amat luas itu. Kini kakek itu menghampiri enam orang seniman yang ternyata adalah orang-orang yang datang untuk membunuh Hou Taijin.

“Kalian sudah bosan hidup dan datang untuk mengantar nyawa. Hayo berlutut agar pinceng dapat membunuh kalian tanpa menyiksa lagi.”

Tentu saja enam orang itu menjadi marah. Dengan semburan arak tadipun mereka sudah tahu bahwa pendeta gendut ini lihai sekali, akan tetapi karena mereka berenam dan mereka juga berada di dalam sarang musuh, mereka menjadi nekat dan serentak mereka maju menyerang Sai-cu Lama yang berdiri menantang. Enam batang pedang dengan gerakan cepat sekali meluncur atau melayang ke arah tubuh gendut itu dari segala jurusan. Enam orang itu jelas bukan orang sembarangan karena sekali bentrok saja mereka masing-masing telah merobohkan seorang pengeroyok dengan pedang mereka.

Permainan pedang mereka cukup cepat dan kuat. Akan tetapi, yang mereka serang saat itu adaiah Sai-cu Lama, orang yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi dari mereka. Dari gerakan mereka saja Sai-cu Lama sudah tahu bahwa dia, enam orang itu bukan merupakan lawan yang terlalu kuat. Kalau dia menghendaki, dalam beberapa gebrakan saja dia mampu untuk merobohkan enam orang lawannya. Akan tetapi, di situ terdapat Hou Seng, pembesar yang berkuasa di istana itu dan dia ingin memperlihatkan kepandaiannya.

Maka, begitu melihat datangnya tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan, dia sengaja memperlihatkan kekebalannya. Dengan kedua lengan tangan telanjang, dia menangkisi semua serangan itu, bahkan tusukan sebatang pedang dari belakang dan bacokan pedang dari kiri yang mengenai punggung dan lehernya, dia sengaja diamkan saja tanpa ditangkis.

Terdengar suara bak-bik-buk dan semua senjata itu terpental begitu terkena tangkisan lengannya maupun yang mengenai punggung dan lehernya, tanpa sedikitpun melukai kulitnya, kecuali merobek bajunya di bagian punggung!

Tentu saja Hou Seng kagum bukan main, sebaliknya enam orang penyerang itu terkejut setengah mati. Tak mereka sangka bahwa di situ hadir seorang pendeta Lama yang demikian lihainya. Akan tetapi, untuk melarikan diri sama sekali tidak mungkin karena tempat itu dijaga oleh banyak sekali pengawal. Mereka menjadi nekat dan kini menyerang kembali dengan pedang mereka, hanya kini menujukan serangan mereka ke arah bagian-bagian tubuh yang kiranya tidak dapat dilindungi kekebalan, terutama di bagian mata.

Menghadapi serangan ini, Sai-cu Lama tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, kalian ini tikus-tikus kecil berani bermain gila di depan seekor harimau!”

Kaki tangannya bergerak dengan aneh dibarengi bentakan-bentakannya yang melumpuhkan dan dalam waktu singkat saja lima dari enam orang penyerbu itu telah roboh tewas dan yang ke enam, yang wanita dan usianya sekitar tigapuluh tahun, berwajah cantik, sudah ditangkapnya! Wanita itu terpaksa melepaskan pedangnya dan kini tertotok roboh tak mampu bergerak lagi karena kaki tangannya lumpuh.

“Ha-ha-ha, apakah Hou Taijin ingin melihat bagaimana macamnya orang ini di balik pakaiannya?”

Dan sekali tangannya bergerak, terdengar kain robek dan pakaian bagian depan dari wanita itu telah dirobek lepas! Nampak tubuhnya yang lumayan mulusnya, dan wanita itu hanya mampu merintih namun tidak mampu bergerak untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bagian depannya itu.

“Nanti dulu, jangan bunuh orang ini. Kita harus tahu siapa yaag menyuruh mereka!”

Tiba-tiba Hou Taijin berseru keras. Dalam keadaan seperti itu, mana dia tertarik melihat tubuh wanita telanjang? Pula, wanita itu sudah terlalu tua untuknya. Bagi pembesar istana ini, usia wanita lewat limabelas tahun sudah terlalu tua!

Mendengar ini, Sai-cu Lama mengangguk-angguk dan tertawa, maklum apa yang dikehendaki oleh Hou Taijin.

“Heh-heh, tikus betina, kau sudah mendengar sendiri ucapan Hou Taijin. Hayo katakan, siapa yang mengutus kalian berusaha membunuh Hou Taijin? Hayo katakan, kalau tidak aku akan mengerat tubuhmu sepotong demi sepotong, tidak sampai kau mati, akan tetapi akan membuat engkau hidup sebagai seorang yang tanpa batang hidung, tanpa daun telinga, tanpa jari tangan dan kaki!”

Wanita itu memang maklum bahwa ia sudah tidak berdaya. Mendengar ancaman itu, ia bergidik. Tak dapat ia membayangkan betapa ngeri dan sengsaranya dibiarkan hidup dalam keadaan cacad seperti itu. Lebih baik dibunuh saja! Dan iapun tahu bahwa seorang sakti dan kejam seperti pendeta Lama ini tentu akan memenuhi gertakannya tadi. Maka, dengan lirih dan suara gemetar iapun membuat pengakuan.

“Yang mengutus kami adalah.... adalah.... Pangeran Cui....“

“Apa? Pangeran Cui yang mana? Yang tua atau yang muda?”

“Pangeran.... Cui muda....”

“Keparat!” bentak Hou Seng sambil memukulkan kepalan tangan kanan ke atas telapak tangan kirinya sendiri. Wajahnya berubah merah dan dia marah sekali.

Pangeran Cui muda itu adalah seorang pangeran yang menjadi keponakan kaisar, termasuk seorang di antara mereka yang tidak suka kepadanya. Biarpun di dalam sebuah pesta yang diadakan pernah pangeran muda Cui itu menghinanya dengan sindiran dengan bercerita tentang kehidupannya sebagai selir pria kaisar, namun dia menahan dirinya. Pangeran muda Cui itu bukan merupakan seorang lawan yang membahayakan kedudukannya, oleh karena itu memperbesar permusuhan dengannya tidak ada artinya, tidak menguntungkan. Akan tetapi sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa agaknya pangeran muda itu demikian benci kepadanya sehingga diam-diam mengutus enam orang jagoan untuk membunuhnya!

“Lo-suhu, kalau lo-suhu dapat membawa kepala pangeran Cui muda kepadaku, barulah aku percaya akan kesetiaan lo-suhu kepadaku!”

Suling Naga