Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 082

Setelah berkata demikian, dengan tergesa-gesa Hou Seng meninggalkan rumah itu, pulang ke rumah sendiri dengan keretanya, dikawal dengan ketat oleh anak buah Kim Hwa Nio-nio.

“Celaka, di mana anak setan itu?”

Tiba-tiba Kim Hwa Nio-nio berteriak. Ia telah kehilangan Suma Lian! Tadi, ketika ia melindungi Hou Taijin, ia lupa kepada anak perempuan itu. Kini, setelah Hou Seng pergi, baru ia teringat akan Suma Lian dan setelah mengatur anak buahnya untuk mengawal Hou Seng dengan ketat, ia lalu mencari dan memaki-maki karena kehilangan anak perempuan itu.

“Ia, takkan mampu lari jauh, Nio-nio. Sebaiknya engkau membantuku, apa yang harus kulakukan dengan perempuan ini dan bagaimana aku dapat memenuhi permintaan Hou Taijin tadi!” kata Sai-cu Lama sambil memandang kepada wanita yang masih terlentang di atas lantai itu. “Kubunuh saja ia ini?” Dia menuding ke arah tubuh wanita itu.

“Enam orang anak buahku terluka oleh mereka. Lemparkan ia untuk enam orang anak buahku yang terluka. Kemudian kita rundingkan tentang perintah tadi. Biar kubawa sendiri perempuan ini!”

Kim Hwa Nio-nio lalu menjambak rambut yang terlepas dari sanggulnya itu, sekali renggut saja tubuh yang lemas itu bangkit berdiri dan Kim Hwa Nio-nio membentak penuh ancaman,

“Hayo katakan siapa nama pemimpin rombongan kalian dan yang mana dia?

Perempuan yang sudah ketakutan itu hanya dapat memandang dengan sepasang matanya yang terbelalak ketakutan ke arah seorang di antara mereka yang berjenggot panjang dan bertubuh tinggi kurus dan yang sudah menggeletak dengan nyawa putus.

“Dia.... dialah pemimpin dan toako kami, bernama....Ban Leng....”

“Nah, Sai-cu Lama, kau ambil kepalanya dan bawa dalam bungkusan. Aku akan mengantar dulu perempuan ini!”

Kim Hwa Nio-nio pergi menyeret perempuan itu dan menengok enam orang anak buahnya yang tadi terluka oleh pedang dan ia melemparkan perempuan itu di antara mereka yang masih rebah.






“Nih, untuk obat jerih payah kalian!”

Kemudian ia meninggalkan perempuan itu di dalam kamar. Telinganya masih menangkap jerit rintih perempuan itu di antara suara ketawa orang-orangnya dan ia pun tersenyum sadis.

Ketika ia kembali ke ruangan tamu, Sai-cu Lama telah membungkus kepala si jenggot panjang dengan kain, setelah memenggal leher mayat itu dengan pedang rampasan. Kim Hwa Nio-nio memerintahkan orang-orangnya untuk membawa pergi mayat-mayat itu dan membersihkan ruangan tamu, sedangkan ia sendiri mengajak Sai-cu Lama berunding di kamarnya.

Dan malam itu juga, keduanya pergi meninggalkan rumah besar itu. Sai-cu Lama pergi membawa buntalan tebal, sedangkan Kim Hwa Nio-nio pergi mencari Suma Lian bersama lima orang pembantu pilihan. Ia percaya bahwa tak mungkin Suma Lian dapat meninggalkan kota raja pada malam hari itu. Anak itu tentu masih berada di kota raja, bersembunyi di suatu tempat.

Malam sudah menjelang pagi ketika sesosok tubuh yang tinggi besar berperut gendut memasuki halaman sebuah rumah mungil bercat merah. Dua orang penjaga segera keluar dari pintu gerbang dan menghadang pendeta yang berperut gendut dan membawa buntalan besar itu. Rumah itu adalah rumah pelesir, tidak mungkin seorang pendeta datang ke situ untuk mencari perempuan! Apa lagi pada saat seperti itu!

“Heiii, tahan dulu. Siapa kau dan mau mencari siapa? Kami rasa engkau telah keliru masuk rumah orang!”

Pendeta itu menggeleng kepala.
“Salah masuk? Bukankah ini rumah pelesir Pintu Merah? Dan bukankah Pangeran Cui Muda berada di sini?”

Dua orang itu adalah pengawal-pengawal pangeran itu yang bertugas jaga di luar, sedangkan kawan-kawan mereka bertugas jaga di dalam. Mereka sedang kesepian, mengantuk dan kedinginan. Kini mereka merasa beruntung ada suatu yang penting dapat mereka sampaikan paling dulu kepada sang pangeran.

“Eh? Bagaimana kau menyangka seorang pangeran berada di tempat ini? Jangan bicara sembarangan, lo-suhu!” kata seorang di antara mereka ketika kini Sai-cu Lama berdiri di bawah sinar lampu sehingga mereka berdua dapat melihat jelas bahwa dia adalah seorang pendeta.

“Dari siapa engkau bisa mengatakan bahwa Pangeran Cui Muda berada di sini?” tanya seorang ke dua.

“Jangan mencurigai pinceng, kawan-kawan. Pinceng adalah sahabat baik dari Ban Leng, dan pinceng datang ke sini karena diutus oleh Ban Leng. Dia sendiri bersama kawan-kawannya tak mungkin datang karena harus bersembunyi dan mereka tidak ingin diketahui orang lain datang menghadap sang pangeran, oleh karena itu mengutus pinceng agar tidak menimbulkan kecurigaan. Siapa akan mencurigai seorang pendeta? Ha-ha-ha! Tolong laporkan kepada Pangeran Cui Muda bahwa pinceng Tiong Hwesio utusan Ban Leng, datang mohon menghadap untuk menyampaikan berita tentang enam orang seniman yang menyerbu musuh!”

Tentu saja dua orang pengawal itu mengenal baik siapa Ban Leng itu. Kepala dari enam jagoan yang dipercaya oleh pangeran. Oleh karena itu, seorang di antara mereka lalu cepat melapor ke dalam dan para kepala pengawal yang mengerti akan pentingnya urusan, lalu memberanikan diri menggugah sang pangeran dari tidurnya.

Pangeran Cui Muda, seperti para bangsawan pada waktu itu, juga merupakan seorang bangsawan muda yang suka pelesir. Isteri dan selir-selirnya yang berjumlah lebih dari duabelas orang di rumah itu agaknya mulai membosankannya dan kadang-kadang dia pergi mengunjungi rumah-rumah pelesir untuk menikmati pengalaman-pengalaman baru dengan pelacur-pelacur yang tentu saja lebih pandai dalam hal melayani kaum pria dibandingkan dengan selir-selirnya.

Dan malam itu memang dia sengaja memilih Pintu Merah, rumah pelesir kaum bangsawan, untuk menjadi tempat dia menantikan Ban Leng dan kawan-kawannya yang diutusnya untuk membunuh Hou Seng! Begitu para penyelidiknya memberi kabar bahwa malam itu Hou Seng memanggil serombongan seniman untuk menghihur tamu, dia lalu cepat menyuruh Ban Leng dan saudara-saudaranya untuk bertindak.

Ban Leng dan lima orang saudara seperguruannya memang terkenal sebagai jagoan-jagoan dan pembunuh-pembunuh bayaran kelas tinggi yang sudah dipercaya dan diperalat oleh Pangeran Cui Muda. Mereka lalu mencegat rombangan seniman itu, membunuh dan menyamar menggantikan kedudukan mereka sampai mereka berhasil berhadapan dengan Hou Seng! Akan tetapi mereka salah perhitungan, sama sekali tidak tahu bahwa di rumah itu terdapat orang-orang sakti seperti Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama!

Karena sudah berjanji untuk menanti Ban Leng dan kawan-kawannya di tempat itu, ketika dia digugah dan diberi tahu bahwa seorang yang diutus oleh Ban Leng mohon menghadap, sang pangeran menjadi girang dan cepat menyuruh para pengawalnya yang berjumlah tujuh orang itu untuk membawa utusan Ban Leng itu segera menghadap kepadanya.

Ketika pendeta Lama yang tinggi besar berperut gendut itu menghadap Pangeran Cui Muda, mereka saling pandang penuh selidik dan sang pangeran merasa agak heran, sama sekali tidak mengira bahwa utusan Ban Leng itu adalah seorang pendeta hwesio Lama yang belum pernah dilihatnya.

“Siapakah lo-suhu ini? Benarkah engkau disuruh oleh Ban Leng?” tanya pangeran itu dengan alis berkerut dan memandang ke arah buntalan yang berada di atas pundak pendeta itu.

“Pinceng adalah hwesio Tiong yang diutus Ban Leng menyerahkan kepala.... eh, sebelum pinceng melanjutkan, benarkah pinceng berhadapan dengan Pangeran Cui Muda?”

“Akulah Pangeran Cui Muda! Ban Leng mengutusmu menyerahkan sebuah kepala? Apakah mereka telah berhasil?” tanya pangeran itu dengan wajah gembira bercampur tegang.

Juga para pengawal yang mendengar percakapan itu merasa tegang dan mereka semua mendekat, mengepung hwesio itu untuk melihat kepala siapa yang akan di haturkan itu.

Sai-cu Lama tertawa.
“Mereka selamat.... ha-ha, inilah kiriman dari Ban Leng untuk paduka, Pangeran Cui!”

Dan diapun membuka buntalan itu perlahan-lahan di depan sang pangeran dan anak buah pengawal. Perlahan-lahan, sebuah kepala nampak dan ketika buntalan itu sudah terbuka semua, nampak sebuah kepala yang tengadah dan terdengar pangeran itu berteriak kaget karena dia segera mengenal bahwa kepala itu adalah kepala dari Ban Leng sendiri!

Juga para pengawal berteriak kaget.
“Pegang orang ini!”

Sang pangeran berseru keras dan para pengawal sudah mengepung Sai-cu Lama yang kini tertawa bergelak. Ketika tujuh orang itu dibarengi oleh jerit ketakutan beberapa orang wanita pelacur yang mencoba untuk mengintai dan mereka melihat kepala yang berlumuran darah, menyerang ganas, Sai-cu Lama lalu menggerakkan kaki tangannya dan tujuh orang pengawal itu seperti daun-daun kering tertiup angin saja, berpelantingan ke sana-sini!

“Heh-heh, perlahan dulu, pangeran!”

Sai-cu Lama menggerak-gerakkan tangan kirinya ke depan, ke arah pangeran itu seperti orang melambai dan memanggil dan..... tubuh pangeran yang sudah sampai ke pintu itu terjengkang dan bergulingan sampai ke depan kaki Sai-cu Lama!

Pada saat itu, seorang pengawal yang dapat bangkit kembali dan melihat majikannya terancam, sudah menggerakkan goloknya menyerang dengan bacokan ke arah leher pendeta Lama itu. Akan tetapi, gerakan golok itu terhenti di tengah udara ketika tiba-tiba kaki Sai-cu Lama meluncur ke depan, mengenai lambungnya.

Orang itu memekik, goloknya terlempar ke atas dan ketika meluncur turun, sudah disambut oleh tangan kiri Sai-cu Lama.

“Ampun.... ampunkan aku....” ratap sang Pangeran Cui, akan tetapi ketika nampak sinar golok itu berkelebat, leher pengeran itu sudah putus dan kepalanya sudah terangkat ke atas dengan dijambak rambutnya oleh Sai-cu Lama.

Dan pendeta Lama itupun tidak mau bekerja kepalang tanggung. Dia membawa kepala yang masih bertetesan darah itu sambil mengamuk dan tanpa ampun lagi dibunuhnya tujuh orang pengawal itu, suami isteri tua pemilik rumah pelacuran itu dan tidak ketinggalan pula lima orang pelacur yang berada di situ dan dua orang pelayan!

Habislah seluruh penghuni Pintu Merah itu, dibantai oleh Sai-cu Lama menggunakan golok rampasannya. Kemudian, sekali berkelebat diapun sudah meninggalkan rumah itu sambil membawa sebuah kepala, kepala yang dibuntalnya pula dengan kain bekas pembungkus kepala Ban Leng tadi! Dan pada pagi hari itu juga, tanpa diketahui seorangpun, diam-diam Sai-cu Lama mengirim kepala itu ke rumah Hou Taijin!

Ketika Hou Taijin terbangun dari tidurnya, tahu-tahu di meja kamarnya telah terdapat buntalan itu yang ketika dibuka ternyata berisi kepala Pangeran Ciu Muda! Tentu saja Hou Seng menjadi girang akan tetapi juga ngeri, cepat dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengubur kepala itu secara rahasia. Kini dia baru percaya benar akan kelihaian dan kesetiaan Sai-cu Lama dan hatinya merasa girang bukan main. Di samping Kim Hwa Nio-nio, dia memperoleh tenaga bantuan seorang yang boleh diandalkan, yang tentu saja akan memperkuat kedudukannya dalam persaingan dengan para pembesar yang tidak suka kepadanya.

**** 082 ****
Suling Naga