Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 083

Sementara itu, Suma Lian yang tadi mengikuti keributan yang terjadi di rumah itu karena penyerbuan enam orang musuh Hou Taijin yang menyamar sebagai seniman-seniman, mempergunakan kesempatan selagi terjadi keributan dan tak seorang pun memperhatikan dirinya, untuk menyelinap keluar dari rumah.

Para pengawal dan penjaga yang mengerahkan seluruh perhatiannya terhadap enam orang yang sedang digempur oleh Sai-cu Lama, tentu saja tidak menaruh perhatian terhadap Suma Lian, apa lagi tidak ada perintah apapun dari Kim Hwa Nio-nio.

Suma Lian lari ke dalam kegelapan malam, berlindung dari bagian-bagian gelap, menyelinap di antara rumah-rumah orang dan ia merasa agak lega bahwa tidak terdengar ada orang mengejarnya. Akan tetapi setelah berjalan berputar-putar di kota raja yang besar itu, tidak tahu ke mana harus melarikan diri, tahu-tahu malam mulai berganti pagi dan kegelapan mulai terusir oleh sinar matahari. Hatinyapun mulai gelisah.

Kegelisahannya berubah kekhawatiran dan ketakutan ketika tiba-tiba, dari balik sebuah rumah, ia melihat Kim Hwa Nio-nio dan lima orang pengawal di depan dan berhenti di simpang empat. Ia cepat menyelinap dan bersembunyi di balik rumah itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Kalau mereka itu berpencar mencarinya, tentu ia akan terpegang! Ia menoleh ke belakang. Ada sebuah jembatan besar di jalan itu. Kalau saja ia dapat melewati jembatan itu tanpa terlihat, tentu ia akan dapat lari menjauh, dan mencari tempat sembunyi yang aman! Di seberang jembatan nampak banyak pohon-pohon dan semak-semak, ia dapat bersembunyi di balik pohon-pohon atau di balik semak-semak itu!

Dengan nekat Suma Lian lalu lari, agak membongkok-bongkok, melalui bagian gelap dari jembatan itu. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya seperti diangkat ke atas dan tahu-tahu tubuh itu sudah terlempar keluar dari jembatan! Kalau saja bukan Suma Lian, gadis cilik yang memiliki ketabahan luar biasa, tentu sudah menjerit. Akan tetapi Suma Lian menahan rasa ngerinya dan tidak menjerit, bahkan tidak sempat menjerit karena tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas dan tidak lagi mampu mengeluarkan suara karena ia sudah tertotok!

Suma Lian mengejap-ngejapkan matanya untuk membiasakan mata itu dalam cuaca yang agak gelap itu. Ternyata ia sudah berada di bawah jembatan dan ketika ia dapat melihat lebih jelas, ia telah terduduk dan tak mampu bergerak, sedangkan di dekatnya duduk seorang kakek tua yang berpakaian jembel butut!

Wajah kakek itu penuh rambut yang sudah putih semua, rambutnya awut-awutan menutupi muka, bercampur dengan jenggot dan kumisnya yang juga sudah putih semua. Seorang kakek tua renta yang berpakaian jembel, seorang pengemis yang kotor! Dan apa yang selanjutnya dilakukan oleh kakek itu membuat Suma Lian demikian kaget dan takutnya sehingga ia merasa jantungnya hampir copot.






Kakek itu merenggut semua pakaiannya, merobek-robek pakaian itu dan melemparnya ke bawah, setelah membuntal sepotong batu dengan pakaian itu. Tentu saja pakaian itu tenggelam ke dalam air sungai! Dan kini, kakek itu tanpa banyak cakap lagi, memercik-mercikkan air kotor berlumpur ke seluruh tubuh Suma Lian. Air berlumpur itu dicampur dengan bungkusan obat yang dikeluarkan dari saku jubahnya yang butut.

Seluruh tubuh anak itu berlumur campuran ini yang membuat seluruh kulitnya, dari tumit sampai ke kulit kepala bawah rambut, menjadi kecoklatan. Dan rambut anak itu diawut-awut secara kasar! Kemudian, dia mengeluarkan sehelai kain yang butut dan penuh tambalan, dan memaksa Suma Lian mengenakan pakaian ini dan berubahlah Suma Lian menjadi seorang anak pengemis yang amat buruk, kotor dan berbau busuk pula!

“Hemmm, sudah agak patut, akan tetapi rambutmu terlalu bersih, tidak ada kutunya seekorpun. Ini tidak mungkin bukan?”

Entah kepada siapa dia bicara, kepada diri sendiri atau kepada Suma Lian atau kepada seseorang yang tidak nampak. Kemudian, dengan hati-hati, di dalam cuaca yang masih agak gelap di bawah jembatan itu, dia mulai mencari kutu-kutu dari rambutnya yang putih awut-awutan dan setiap kali mendapatkan seekor, lalu kutu rambut itu dia letakkan ke dalam rambut Suma Lian.

Tentu saja anak ini merasa jijik, takut dan ngeri sehingga kalau saja ia mampu mengeluarkan suara, tentu ia akan menjerit-jerit! Diam-diam ia memperhatikan kakek itu dan memandang dengan sepasang mata terbelalak penuh kemarahan dan kebencian.

Celaka, pikir Suma Lian. Ini namanya dari sumur terjerumus ke dalam lubang! Terlepas dari tangan orang-orang macam Sai-cu Lama, kini terjatuh ke tangan seorang kakek yang selain lebih sadis, lebih jahat, juga masih ditambah kenyataan yang mengerikan, yaitu gila!

Sepuluh kali lebih baik menjadi tawanan Sai-cu Lama atau nenek yang bernama Kim Hwa Nio-nio itu dari pada ditawan oleh kakek gila ini. Ia tidak mampu bergerak dan tidak mampu bersuara karena ditotok, juga tidak tahu nasib apa yang akan dihadapinya. Akan tetapi jelas amat mengerikan karena kakek ini memang orang gila. Baru mencium bau pakaian kakek itu dari pakaian yang dipaksakan menutupi tubuhnya saja, ia sudah muak dan hampir muntah.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan lembut, suara lembut akan tetapi nyaring menusuk telinga, suara Kim Hwa Nio-nio!

“Anak baik, keluarlah dari tempat sembunyimu! Jangan membikin marahku, nanti kujewer telingamu!”

Beberapa kali suara itu terdengar dan Suma Lian mengerahkan tenaga untuk membebaskan totokan yang membuat suaranya tak dapat dikeluarkan. Agaknya kakek tadi menotok sembarangan sehingga dengan pengerahan tenaga sin-kangnya, akhirnya ia mampu mengeluarkan suara,

”.... aku....!”

Akan tetapi baru mengeluarkan kata itu yang dimaksudkan untuk memberi tahu Kim Hwa Nio-nio bahwa ia berada di bawah jembatan, kakek jembel itu nampak terkejut dan sudah menotoknya lagi!

“Sialan kau anak gila!” bisik kakek itu.

Huh, kakek jembel, engkau yang gila, malah memaki aku gila, balas Suma Lian memaki dalam hatinya.

“Kalau mereka mendengar dan minta kita keluar, engkau harus keluar dengan kaki terpincang-pincang. Mengerti?”

Suma Lian nenentang pandang mata kakek itu dengan penuh kemarahan dan sengaja menggeleng kepala tanda bahwa ia tidak mau menurut!

“Kau harus terpincang-pincang!” kakek itu berbisik lagi, nada suaranya memaksa.

Akan tetapi tetap saja Suma Lian menggeleng kepala dan tersenyum mengejek. Ada rasa girang di hatinya bahwa ia mampu melawan dan membuat kakek itu kecewa, walaupun hanya dengan tidak mentaati perintah gila dan aneh itu!

Pada saat itu, terdengar derap kaki banyak orang di atas jembatan! Lalu terdengar bentakan suara Kim Hwa Nio-nio dengan nyaring,

“Siapa berada di bawah jembatan? Hayo keluar!”

Kakek itu tidak menjawab. Tiba-tiba nampak kepala Kim Hwa Nio-nio menjenguk ke bawah jembatan.

“Heiii, kalian! Hayo keluar, cepat!” bentaknya.

Kakek itu kini membebaskan totokan pada kaki tangan Suma Lian, akan tetapi tetap tidak membebaskan totokan yang membuatnya tak mampu bersuara, lalu dia menggerakkan jari telunjuknya mengetuk tulang kering kaki kiri Suma Lian.

“Tukk....!”

Bukan main nyeri rasa kaki yang diketuk itu. Suma Lian tentu menjerit kesakitan kalau saja ia tidak tertotok dan ia hanya mampu memegangi dan mengurut-urut kaki itu yang rasanya seperti patah-patah tulang keringnya. Akan tetapi kakek itu menariknya keluar dari jembatan itu.

Tanpa diperintah lagi, Suma Lian yang ditarik itu terpicang-pincang. Tangannya tak pernah terlepas dari pegangan si kakek, begitu kerasnya pegangan itu, seolah-olah merupakan ancaman bahwa kalau ia memberi tanda-tanda, tentu tangannya itu akan dicengkeram sampai hancur!

Kim Hwa Nio-nio dan lima orang temannya menghampiri kakek jembel itu.
“Siapa anak ini?” bentak Kim Hwa Nio-nio.

“Heh-heh, anak sialan ini? Ia cucuku, akan tetapi ia timpang dan gagu. Huh, tidak ada harapan untuk menampung hari tuaku. Eh, kalian mau membelinya? Akan kujual murah, asal kalian mempunyai seguci arak saja dan beberapa keping uang untukku, kuberikan anak ini, heh-heh-heh!”

Bukan main marahnya Suma Lian! Ia dikatakan timpang dan gagu, dan mau dijual, bukan malah hanya ditukar dengan seguci arak! Kakek gila ini benar-benar jahat sekali, lebih jahat dari pada Sai-cu Lama! Akan tetapi karena genggaman pada tangannya itu keras sekali dan ia tidak mau tangannya remuk, apa lagi ia tahu bahwa kakek ini amat lihai dan belum tentu kalah oleh Kim Hwa Nio-nio, iapun diam saja hanya menundukkan mukanya.

Kim Hwa Nio-nio sudah putus harapan melihat anak perempuan jembel itu. Sama sekali bukan Suma Lian, bumi dan langit jauh bedanya. Anak ini hitam, kotor, berbau, timpang dan gagu lagi. Tiba-tiba ia menggunakan kebutannya untuk menyingkap pakaian yang membungkus tubuh anak itu. Nampak kulit tubuhnya yang kotor kecoklatan, maka ditutupnya lagi dengan menarik kembali kebutannya. Nenek ini memang cerdik. Kalau tadi nampak tubuh itu putih mulus, tentu akan timbul kecurigaannya. Akan tetapi anak perempuan itu memang kotor luar dalam!

“Maukah kalian beli? Mau? Murah saja....“

“Huh, mampuslah kau tua bangka pemabuk gila. Mari kita pergi!”

Kim Hwa Nio-nio mendengus dan mengajak anak buahnya pergi dari situ. Kakek itu menggerutu panjang pendek.

“Sialan! Terkutuk! Dijual murahpun tidak laku.... hayaaaa....!”

Dan diapun menyeret tubuh Suma Lian dan gadis cilik ini terpaksa mengikutinya dengan kaki terpincang-pincang karena rasa nyeri di kakinya belum juga sembuh.

Kakek itu terus menyeret tubuh Suma Lian sampai ke pintu gerbang. Pintu gerbang itu sudah dibuka dan orang-orang mulai keluar masuk. Para penjaga pintu gerbang tentu saja tidak mencurigai kakek jembel itu, walaupun pada pagi hari itu terjadi geger dan penjagaan di situ amat ketat dan pengawasan terhadap orang-orang yang keluar masuk lebih teliti.

Berita tentang peristiwa pembunuhan yang hebat di rumah pelesir Pintu Merah itu sudah tersiar dan terdengar oleh mereka pula. Dikabarkan orang betapa Pangeran Cui Muda telah tewas di tempat itu dan kepalanya hilang entah ke mana.

Semua pengawal dan penghuni rumah itupun tewas, dan ada pula sebuah kepala yang dikenal sebagai kepala orang yang bernama Ban Leng, seorang jagoan di kota raja. Tentu saja hal ini mengejutkan dan menggegerkan, karena tak seorangpun dapat menduga siapa pembunuh semua orang itu.

Baru setelah tiba di luar kota, jauh dari tembok kota raja, di tempat yang sunyi, kakek tua renta itu mengajak Suma Lian berhenti, lalu sekali saja dia mengurut kaki yang diketuk tadi, rasa nyeripun lenyap. Setelah itu, dia membebaskan totokan yang membuat Suma Lian tadi gagu. Begitu bisa bicara dan dilepaskan pegangan tangannya, Suma Lian memaki-maki.

“Kau kakek gila, kakek jembel busuk yang bau! Hemm, kalau aku ada kemampuan, tentu akan kubunuh kau! Aku benci padamu! Kau telah menghinaku, menyakiti aku, ahhh....betapa jahat engkau kakek gila!“

Kakek itu memandang kepadanya dan tersenyum, agaknya dia senang menyaksikan keberanian anak perempuan itu.

“Ha-ha-ha, engkau memang pemberani dan tabah, akan tetapi kurang panjang akal. Tidak tahukah bahwa semua yang kulakukan itu hanya sandiwara saja? Kau kuajak bermain untuk menipu nenek galak itu dan ternyata aku berhasil. Ha-ha, nenek galak itu berhasil kutipu. Kita menjadi pemain-pemain sandiwara yang baik sekali.”

“Bohong!” Suma Lian berteriak marah, suaranya nyaring dan keras karena sejak tadi ia menahan-nahan kemarahannya dan baru sekarang ada kesempatan untuk mengeluarkan semua kemarahan itu. “Engkau sengaja menipuku! Engkau jahat, tentu engkau mempunyai niat buruk dan terkutuk! Engkau gila dan jahat, kakek jembel bau busuk! Kau buang pakaianku, kau....“

“Sssttt apa kau hendak menghancurkan segala keberhasilan kita dengan teriak-teriak begitu dan mengundang datangnya musuh? Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari pengejaran mereka tadi. Sekarang engkau telah terbebas, engkau boleh pergi ke mana engkau suka.”

Suling Naga