Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 084

Suma Lian tercengang. Kakek ini tidak berbohong! Dan ia telah memaki-makinya, memaki-maki kakek yang sudah menolongnya bebas dari tangan Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio. Ah, benar, ia yang bodoh. Kalau saja ia tidak penuh kecurigaan tadi, sehingga kakek itu tidak terpaksa mengetuk kakinya sampai terpaksa ia terpincang-pincang tentu ia mengikuti permainan sandiwara itu dan kini dapat tertawa-tawa bersama kakek itu!

“Hemm, kiranya benar engkau!” Tiba-tiba terdengar suara halus dan tahu-tahu Kim Hwa Nio-nio telah muncul di situ! “Kau tua bangka telah berhasil menipuku di sana, akan tetapi tetap saja aku dapat menemukanmu dan kau harus menebus dosamu dengan nyawa!“

Suma Lian merasa menyesal bukan main. Kakek itu menolongnya, malah kini terancam nyawanya karena kesalahannya! Kalau ia tidak marah-marah dan memaki-maki, belum tentu Kim Hwa Nio-nio dapat menemukan mereka! Maka, iapun lalu melangkah maju menghadapi Kim Hwa Nio-nio dan berkata lantang.

“Nenek, aku Suma Lian tidak mau menimpakan kesalahan kepada orang lain. Bawalah aku kembali akan tetapi jangan ganggu kakek jembel tua itu. Kalau engkau mengganggunya, aku akan mengadu kepada Hou Taijin dan minta agar dia menghukummu. Hayo bawa aku kembali kepada Hou Taijin!”

Tentu saja Suma Lian tidak tahu betapa ketika ia menyebutkan nama marganya, kakek jembel itu nampak terkejut bukan main. Kakek itu kini malah memegang lengan Suma Lian dan memutar tubuh anak itu menahadapinya sambil bertanya,

“Anak baik, apakah benar kau she (nama marga) Suma? Hayo katakan, siapa ayahmu?”

Suma Lian merasa heran, akan tetapi lalu menjawab,
“Ayahku bernama Suma Ceng Liong. Jangan khawatir, kek. Aku akan menanggung bahwa kau takkan diganggu oleh nenek itu.”

Akan tetapi kakek itu sudah tertawa bergelak,
“Ha-ha-ha-ha, engkau bernama Suma Lian, puteri dari Suma Ceng Liong? Ha-ha-ha-ha-ha, heiii, Kim Hwa Nio-nio. Berani benar engkau menculik puteri keturunan keluarga para pendekar Pulau Es? Apakah engkau sudah bosan hidup? Hayo, mari kita yang sudah sama tuanya ini mengadu kepandaian, dan jangan ganggu seorang anak kecil!”

Berkata demikian, kakek jembel itu lalu melangkah lebar menghadapi Kim Hwa Nio-nio dengan sikap memandang rendah sekali.






Kim Hwa Nio-nio mengerutkan alisnya, bulu-bulu kebutan di tangannya tergetar. Akan tetapi nenek ini tidak mau ceroboh. Ia tahu bahwa biarpun orang ini nampaknya tua renta dan jembel berbau busuk yang seperti orang gila, namun mungkin saja dia menyembunyikan kesaktian di balik kegilaan dan kemiskinannya itu. Hampir semua tokoh dunia persilatan pernah didengarnya walaupun belum semua dijumpainya, maka ia segera bertanya, suaranya berwibawa,

“Tua bangka bosan hidup, siapakah namamu?”

“Ha-ha-ha, namaku? Aku seorang pengemis tua tanpa nama. Hayo majulah, kecuali kalau takut atau kasihan melawan aku, pergilah dan jangan ganggu lagi anak perempuan ini!“

“Wirrrrr.... singgg....!”

Kebutan itu menyambar dan demikian kuatnya tenaga yang mendorongnya sehingga tidak hanya mengeluarkan angin berdesir keras, akan tetapi juga menimbulkan suara berdesing seperti kalau senjata tajam digerakkan dengan amat kuatnya! Kebutan itu menyambar kedepan, bulu-bulunya saja terpecah menjadi beberapa gumpalan dan masing-masing gumpalan itu seperti ular-ular hidup mematuk ke arah jalan-jalan darah di sekitar pundak dan leher kakek jembel itu.

“Hayaaaa....! Kiranya engkau lihai sekali....!”

Kakek itu berseru dan biarpun nampaknya terkejut dan mengagumi kehebatan nenek itu, namun tanpa banyak kesukaran dia sudah dapat menghindarkan diri dari sambaran kebutan dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik tiga kali.

Kembali kebutan sudah menyambar, akan tetapi kedua tangan kakek itu membuat dorongan-dorongan aneh, kemudian setelah dari kedua tangannya itu keluar angin yang menolak bulu-bulu kebutan dan membuyarkan gumpalan-gumpalan bulu itu menjadi mawut seperti rambut kepala wanita tertiup angin, dia membuat coretan-coretan di udara dan tahu-tahu kedua jari telunjuknya telah melakukan totokan-totokan bertubi-tubi sampai sembilan kali ke arah jalan-jalan darah terpenting di tubuh nenek Kim Hwa Nio-nio!

“Ahhh....!”

Nenek itu terpaksa mengeluarkan teriakan kaget dan cepat ia memutar kebutannya melindungi diri. Akan tetapi masih saja jari-jari tangan itu sempat menerobos gulungan sinar kebutan sehingga terpaksa nenek itu yang kini melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik untuk menyelamatkan dirinya.

Suma Lian yang tadinya hanya memandang bengong, tiba-tiba berteriak,
“Hong-in Bun-hoat!“

“Ha-ha-ha, anak baik, ternyata engkau cukup cerdas!“ kakek jembel itu berseru sambil menoleh dan tersenyum kepada Suma Lian.

Akan tetapi nenek Kim Hwa Nio-nio yang merasa penasaran sudah menerjangnya lagi, membuat kakek itu tidak sempat lagi untuk senyum-senyum. Nenek itu terlampau berbahaya untuk tidak dihadapi dengan sungguh-sungguh dan kini terjadilah perkelahian yang hebat yang membuat pandang mata Suma Lian menjadi kabur saking cepatnya gerakan kedua orang tua itu.

Memang perkelahian itu hebat sekali, terjadi antara dua orang tua yang masing-masing memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Kim Hwa Nio-nio diam-diam terkejut bukan main. Ia adalah seorang ahli yang memiliki kesaktian, karena ia adalah murid dari Pek-bin Lo-sian yang sudah mewarisi ilmu dari kakek itu.

Pek-bin Lo-sian selain gurunya, juga menjadi kekasihnya dan hanya karena pada akhir-akhir itu ia melakukan penyelewengan, suka bermain gila dengan laki-laki lain yang jauh lebih muda dari gurunya itu, maka di antara mereka terdapat suatu jurang pemisah. Dan itulah sebabnya mengapa Pek bin Lo-sian tidak memberikan Pedang Suling Naga kepadanya!

Akan tetapi, ilmu kepandaian Pek-bin Lo-sian telah diwarisinya semua dan kalau dibandingkan dengan Sam Kwi yang menjadi saudara-saudara misan seperguruan, tingkat ilmu kepandaian Kim Hwa Nio-nio ini tidak kalah tinggi, bahkan mungkin lebih matang dan lebih tangguh setelah ia memiliki ilmu memainkan kebutannya yang amat lihai itu.

Akan tetapi sekarang, dan baru sekarang, ia menemui tandingan yang demikian tangguhnya dalam diri kakek jembel tua ini! Ia merasa penasaran sekali dan nenek itu segera mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu simpanannya untuk mengalahkan lawan.

Namun, ia selalu kecelik. Semua ilmunya dapat disambut dengan amat baiknya oleh kakek itu dan suatu kali, bahkan tangan kiri Kim Hwa Nio-nio beradu dengan tangan kanan si kakek jembel dengan kuat sekali.

“Dukkk....!”

Kim Hwa Nio-nio mengerahkan tenaganya yang sudah diperkuat dengan latihan ilmu hitam ketika ia bertapa di Pegunungan Himalaya, maka ketika kedua tangan bertemu, tenaga yang keluar dari tangan kirinya itu dahsyat bukan main.

Akan tetapi, pertemuan tenaga itu hanya membuat kakek itu mundur dua langkah sedangkan ia sendiri terhuyung ke belakang, tanda bahwa ia masih kalah kuat dalam tenaga sin-kang melawan kakek tua renta itu. Akan tetapi hal itu tidaklah begitu mengejutkan hatinya. Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia merasa betapa tangan kirinya itu ketika bertemu dengan tangan kanan kakek itu, dijalari oleh hawa panas seperti bara api yang terus menyusup ke seluruh lengannya! Ia terkejut dan cepat ia mengerahkan tenaga dari dalam untuk menolak hawa panas itu, karena kalau dibiarkan terus menyusup ke dalam dadanya dapat membuat ia terluka dalam!

Setelah ia berhasil menolak keluar hawa panas itu, Kim Hwa Nio-nio yang menjadi semakin penasaran dan marah itu kembali menubruk dan melancarkan serangan bertubi, suatu kombinasi antara serangan kebutan yang sudah lihai itu dengan tamparan-tamparan tangan kiri yang mengeluarkan bunyi berkerotokan, masih diselingi oleh tendangan-tendangan kedua kakinya.

“Lihat.... ha-ha, selama ini tak pernah bertemu lawan, sekali bertanding menghadapi siluman perempuan yang lihai. Haiiiiitt....!”

Tiba-tiba saja kakek tua renta itu nampak gembira sekali dan diapun menyambut semua serangan lawan itu dengan tangkisan, elakan, dan juga membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah ampuhnya.

Biarpun dia hanya bertangan kosong, akan tetapi setiap kali kaki atau tangannya bergerak, maka angin pukulan dahsyat sekali menyambar dan pakaian nenek itu berkibar-kibar keras!

Sekali waktu, dengan tiba-tiba nenek itu menyatukan bulu kebutannya yang berubah kaku oleh tenaga sin-kangnya dan seperti sebatang pedang saja, kebutan yang bulunya bersatu dan kaku itu menusuk ke arah tenggorokan kakek itu!

“Wahhhh....!”

Kakek itu terbelalak kagum dan kini tangan kirinya dengan jari tangan terbuka lalu menangkis ke arah pedang aneh itu.

“Takkkk....!”

Ujung kebutan yang menjadi kaku itu bertemu dengan telapak tangan, seperti pedang bertemu perisai yang kuat, akan tetapi nenek itu terbelalak dan meloncat kaget bukan main. Ketika kebutannya tadi bertemu dengan tangan itu, ada hawa dingin seperti es. menjalar ke dalam lengan kanannya dan hal inilah yang amat mengejutkan hatinya.

“Kiranya engkau seorang dari Pulau Es! Siapa engkau?” bentaknya dengan muka agak pucat karena diam-diam ia merasa bahwa isi dadanya terguncang dan ia menderita luka walaupun tidak parah.

Hal ini adalah karena tadi ia bersiap siaga untuk serangan dengan hawa panas. Siapa tahu tiba-tiba saja sin-kang kakek itu berubah dingin seperti es. Dan tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli dari Pulau Es!

“Ha-ha-ha, orang seperti engkau ini mana ada harganya untuk mengenal orang-orang bersih dari keluarga para pendekar Pulau Es? Hayo, masih hendak kau lanjutkan lagi?” tantang kakek itu.

Kim Hwa Nio-nio tahu diri. Kalau di situ ada Sai-cu Lama, tentu ia akan minta kepada kawannya itu untuk melakukan pengeroyokan. Akan tetapi, ia hanya seorang diri saja dan ia tahu bahwa kakek jembel tua renta itu masih terlampau kuat untuknya.. Maka ia lalu menjura.

“Baiklah, sekali ini aku mengalah, akan tetapi lain kali aku tidak akan mengampuni nyawamu, jembel tua bangka!”

Setelah berkata demikian, ia lalu meloncat dan lari kembali ke kota raja, diiringi suara ketawa dari kakek jembel itu.

Sejak tadi Suma Lian nonton dengan penuh perhatian akan tetapi juga penuh kekaguman. Ketika ia mendengar ucapan Kim Hwa Nio-nio bahwa kakek itu adalah orang dari Pulau Es, ia terkejut, akan tetapi juga terheran-heran di samping kegirangannya. Ia girang bahwa kalau memang benar kakek ini dari Pulau Es, berarti masih kerabat. Akan tetapi ia terheran-heran karena kalau benar dia seorang keluarga Pulau Es, kenapa begitu jorok dan tingkah lakunya seperti oranq yang miring otaknya?

“Ha-ha-ha!“ kini kakek itu tertawa-tawa memandang kepada Suma Lian. “Iblis betina seperti itu saja berani mengganggu kita, keluarga dari para pendekar Pulau Es, sungguh tak tahu diri, ya?”

Suma Lian ikut tersenyum pula. Biarpun kakek ini tertawa tanpa disertai matanya yang nampak sayu seperti orang menderita duka, namun kata-katanya lucu.

“Kek, engkau sungguh hebat sekali!”

“Kelak engkau harus lebih hebat daripada aku, anak yang baik. Namamu Suma Lian dan kau puteri Suma Ceng Liong? Ha, sungguh hebat, engkau memang pantas menjadi keturunan keluarga Suma!”

“Bu-beng Lo-kai, jelaskan padaku....“

“Nanti dulu! Siapa yang kauajak bicara itu? Siapa itu Bu-beng Lo-kai?”

Suma Lian tersenyum.
“Siapa lagi kalau bukan engkau. Bukankah tadi nenek Kim Hwa Nio-nio bertanya namamu dan kau menjawab bahwa engkau adalah seorang Pengemis Tua Tanpa Nama (Bu-beng Lo-kai). Nah, engkau adalah Bu-beng Lo-kai.”

Kakek itu nampak girang dengan julukan baru ini. Selama ini dia tidak pernah memperkenalkan nama kepada siapapun juga sehingga dia sendiri seperti sudah lupa kepada nama sendiri, akan tetapi sekarang dia seperti mendapatkan sebuah sebutan nama baru yang cocok dengan keadaan dirinya. Bu-beng Lo-kai (Pengemis Tua Tanpa Nama)!

Suling Naga