Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 085

“Ha-ha, Bu-beng Lo-kai? Bagus, bagus.... engkau memang anak pandai.”

“Bu-beng Lo-kai, sekarang jelaskan siapa dirimu dan bagaimana engkau pandai memainkan Hong-in Bun-hoat! Dan agaknya engkau mengenal pula nama ayahku.”

“Kenapa tidak? Ayahmu bernama Suma Ceng Liong itu adalah putera tunggal dari Suma Kian Bu dan Teng Siang In, bukan?”

“Benar sekali! Ah, bagaimana engkau dapat mengenal keluarga kami?”

“Karena Suma Kian Bu, kakekmu itu, adalah adik kandung dari mendiang isteriku yang tercinta....”

“Ah....!” Sepasang mata yang jernih itu terbelalak. “Jadi engkau.... engkau adalah suami nenek Milana? Engkau adalah kakek Gak Bun Beng....?“

Kakek itu merangkul Suma Lian dan anak inipun merasa terharu, akan tetapi ia harus menahan kemuakan karena hidungnya mencium bau apak, tanda bahwa kakek itu agaknya memang benar-benar telah terlantar dan tak pernah mandi, entah sejak berapa lamanya!

“Sudah lama aku mengubur nama sial itu, biarlah mulai sekarang sampai mati, aku adalah Bu-beng Lo-kai saja,” kata kakek itu dan Suma Lian semakin terharu mendengar betapa ada isak tertahan di dalam suara yang seperti keluhan itu.

Kakek ini menderita batin dan kelihatan berduka sekali, pikirnya. Iapun merangkul dan memandang wajah yang tertutup rambut, kumis dan jenggot putih lebat itu, memandang sepasang mata yang masih bersinar tajam akan tetapi seperti tertutup awan gelap itu.

Para pembaca yang mengikuti kisah-kisah terdahulu dari seri PENDEKAR SUPER SAKTI ATAU SULING EMAS , tentu tidak asing dengan nama ini. Gak Bun Beng! Di dalam cerita SEPASANG PEDANG IBLIS diceritakan dengan jelas dan menarik tentang kehidupan pendekar ini, seorang pendekar besar yang setelah mengalami jatuh bangun akhirnya berjodoh dengan wanita yang dicinta dan mencintanya, yaitu Puteri Milana, puteri dari Pendekar Super Sakti Suma Han dan Puteri Nirahai.

Seperti kita ketahui, mereka hidup menjauhkan diri dari istana di mana Puteri Milana pernah membantu kaisar untuk menghadapi para pemberontak. Mereka mempunyai sepasang anak kembar, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong yang kemudian menjadi Beng-san Siang eng (Sepa-sang Garuda dari Beng-san).






Ketika nenek Milana masih hidup, Gak Bun Beng bersama isterinya, Milana, berkali-kali membujuk sepasang anak kembar itu untuk segera menikah karena mereka berdua sudah ingin sekali memondong cucu. Akan tetapi, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong tidak pernah mau menuruti permintaan orang tua mereka ini. Keduanya tak pernah dapat saling berpisah, jadi sukar sekali bagi mereka untuk mendapatkan isteri-isteri yang cocok.

Akhirnya, puteri atau nenek Milana marah sekali dan setiap hari memarahi kedua orang putera kembarnya yang usianya sudah semakin banyak itu. Hal ini membuat Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong lalu pergi minggat meninggalkan Beng-san. Mereka merantau dan akhirnya, seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, mereka mempunyai seorang murid wanita bernama Souw Hui Lan dan ternyata wanita inilah satu-satunya wanita yang mereka cinta berdua, dan ternyata kemudian Souw Hui Lan juga mencinta mereka!

Sementara itu, kakek Gak Bun Beng dan nenek Milana, untuk menghibur hati mereka yang merasa kecewa atas sikap kedua orang anak mereka itu, mengasingkan diri di puncak Beng-san dan mereka hanya bertapa.

Kemudian, pada suatu hari, muncullah dua orang putera mereka itu bernama seorang gadis manis dan mereka menyatakan bahwa kini mereka ingin menikah dengan gadis itu, yang juga menjadi murid mereka! Mereka itu, kedua orang anak kembar mereka itu, hendak menikah dengan seorang gadis saja! Milana menentang keras dan hampir saja turun tangan membunuh anak-anaknya sendiri kalau saja tidak dicegah suaminya yang minta kepada kedua orang anak kembarnya itu untuk pergi dan mengurus sendiri saja pernikahan yang dianggapnya memalukan itu.

Sepeninggal tiga orang itu yang terpaksa meninggalkan Beng-san dengan hati tertekan, nenek Milana meninggal karena sakit. Pukulan batin yang hebat ini tak tertahankan oleh kakek Gak Bun Beng. Urusan kedua orang puteranya sudah membuat dia berduka dan kecewa sekali, dan kini dia ditinggal mati isterinya yang tercinta dalam keadaan batinnya masih menderita oleh pukulan pertama.

Dengan hati penuh duka, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong mengajak murid dan calon isteri mereka runtuk berkunjung lagi ke Beng-san dan menyembahyangi jenazah ibu mereka. Mereka minta ampun kepada jenazah ibu mereka, dan ketika mereka minta ampun kepada Gak Bun Beng, pendekar ini hanya menggeleng kepala dengan penuh duka.

“Aku tidak mencampuri lagi urusan kalian. Lakukanlah apa yang kalian suka, aku.... aku.... sudah tidak bisa berpikir lagi....tinggalkanlah aku sendiri bersama kuburan isteriku,” demikian katanya setelah jenazah Milana dikubur dan sampai berbulan-bulan Gak Bun Beng hidup di dekat kuburan isterinya, tak pernah mau merawat dirinya.

Duka, kecewa dan kesengsaraan batin selalu menjadi akibat dari pada ikatan. Ikatan batin selalu mendatangkan duka nestapa. Isteriku, anakku, hartaku, kedudukanku, MILIKKU.

Kalau batin sudah ikut memiliki apa yang dipunyai oleh badan, maka sekali waktu yang dimiliki itu menentangnya, tidak menurut, atau meninggalkannya, maka batin itu akan menderita, kecewa, berduka. Badan memang membutuhkan banyak hal untuk dipunyai, karena badan harus bertumbuh terus, mempertahankan hidupnya. Badan membutuhkan sandang, pangan, papan, bahkan badan berhak menikmati kesenangan melalui panca indriya dan alat-alat tubuhnya. Akan tetapi, semua yang dibutuhkan badan itu, biarlah dipunyai oleh badan saja. Kalau sampai batin ikut memiliki, maka akan timbul ikatan.

Segala yang dimiliki itu akan berakar di dalam batin, sehingga kalau sewaktu-waktu yang dimiliki itu dicabut dan dipisahkan, batin akan berdarah dan merasa nyeri, kehilangan, kecewa, berduka dan akhirnya mendatangkan sengsara. Batin harus bebas dari ikatan, tidak memiliki apa-apa !

Mempunyai akan tetapi tidak memiliki, itulah seninya! Yang mempunyai adalah badan, akan tetapi mengapa batin ikut-ikut memilikinya? Cinta kasih bukan berarti memiliki dan menguasai! Dan cinta kasih ini urusan batin, bukan urusan badan. Urusan badan adalah cinta asmara, nafsu berahi dan kesenangan badaniah. Badan mengalami sesuatu yang mendatangkan nikmat dan kesenangan, dan ini adalah urusan badan. Kalau sudah habis sampai di situ saja, memang semestinya demikianlah.

Akan tetapi kalau sang aku, yaitu pikiran atau ingatan, mencatatnya dan sang aku ingin mengulanginya, ingin menikmatnya lagi, maka ini berarti batin ingin memiliki dan timbullah ikatan terhadap yang menimbulkan kenikmatan atau kesenangan itu. Dan kalau sekali waktu, kita harus berpisah dari yang telah mengikat kita, maka timbullah duka dan sengsara.

Seperti juga Gak Bun Beng dan Milana, kita selalu mengatakan dengan mulut bahwa kita mencinta anak-anak kita. Akan tetapi cinta kita itu membuat kita ingin selalu ditaati oleh anak-anak kita! Kita merasa berkuasa atas diri mereka! Kita merasa bahwa kita memiliki mereka dan berhak mengatur kehidupan mereka! Dan yang beginilah yang kita anggap cinta! Kalau sekali waktu anak-anak kita membantah dan tidak mentaati kehendak kita, maka kita lalu kecewa, marah-marah, berduka dan mungkin saja cinta kita berubah menjadi kebencian dan sakit hati inikah yang dinamakan cinta?

Bukankah cinta kita kepada anak-anak kita ini kita samakan dengan cinta kita terhadap binatang peliharaan atau benda-benda lain yang mendatangkan kesenangan bagi kita? Di dalam cinta kasih, tidak ada lagi “aku yang ingin disenangkan”! Di dalam nafsu dan kesenangan, selalu “aku” yang menonjol. Cinta kasih tidak menuntut apa-apa untuk “aku”. Cinta kasih mementingkan orang yang dicinta, sama sekali tidak berpamrih untuk diri pribadi. Cinta kasih beginilah yang tidak akan menimbulkan duka dan sengsara, karena tidak mengejar kesenangan untuk diri sendiri saja, yang sudah mengikat batin, yang akan mendatangkan duka dan sengsara sebagai kebalikannya.

Kurang lebih setahun kemudian, barulah Gak Bun Beng meninggalkan kuburan isterinya. Akan tetapi dia telah berubah. Kakek yang tadinya merupakan seorang pertapa yang gagah perkasa itu, yang arif bijaksana itu, kini menjadi seorang kakek jembel yang kotor sekali tubuhnya. Tak pernah mau mengurus tubuhnya, dan hidup berkeliaran seperti pengemis yang gila. Tak seorangpun memperdulikannya dan diapun tidak memperdulikan apa-apa lagi.

Kasihan sekali Gak Bun Beng, walaupun semua itu adalah akibat dari pada keadaan batinnya sendiri. Dia merasa kesepian. Dia merasa amat iba kepada dirinya sendiri dan dia merasa nelangsa karena merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Selama ini, yang dimilikinya sampai mengikat batinnya adalah isterinya dan dua orang puteranya. Akan tetapi, dua orang puteranya tidak mentaatinya, kemudian isterinya, satu-satunya orang yang masih tinggal, yang masih menjadi miliknya lahir batin, meninggalkan dirinya! Dalam perantauan yang tidak ada tujuan ini, akhirnya dia berkeliaran di kota raja!

Biarpun keadaannya sudah menjadi seorang kakek jembel yang seperti tidak waras otaknya, namun Gak Bun Beng bekas pendekar yang sudah sering menjelajah di kota raja. Dia mengenal keadaan kota raja dan masih peka oleh berita-berita yang bersimpang siur. Dia mendengar pula tentang keadaan yang kacau balau di istana, tentang pembesar Hou Seng yang menguasai istana dan membuat kaisar menjadi seperti boneka. Semua percakapan di jalan didengarnya dengan peka. Namun, dia hanya tertawa dan sama sekali tidak memperdulikannya.

Sampai pada saat dia beristirahat di bawah jembatan dan melihat seorang anak perempuan berlari-lari itu. Sebelumnya, sudah ada beberapa orang yang lewat di atas jembatan itu dan mencari-cari seorang anak perempuan. Timbul perasaan iba di hatinya yang memang berwatak pendekar dan suka menolong mereka yang tertindas.

Kasihan dia melihat seorang anak perempuan dikejar-kejar, apa lagi karena dia melihat bahwa seorang di antara pengejarnya adalah Kim Hwa Nio-nio! Dia mendengar nama ini dari orang-orang di tepi jalan, bahwa Kim Hwa Nio-nio adalah pengawal pribadi utama dari pembesar Hou Seng! Hatinya tertarik, terutama sekali melihat betapa gerak-gerik nenek itu jelas memperlihatkan kelihaiannya sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian!

Kalau biasanya dia acuh saja terhadap segala peristiwa di sekelilingnya, dan andaikata ada suatu peristiwa yang membuat dia terpaksa turun tangan, maka semua itu dia lakukan dengan sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang.

Akan tetapi, dia merasa kasihan kepada anak perempuan itu dan cepat dia menariknya ke kolong jembatan dan tanpa banyak cakap lagi karena waktunya hanya sempit, dia lalu menukar pakaian dan melumuri tubuh Suma Lian agar pantas menyamar sebagai seorang anak perempuan pengemis. Dan usahanya campur tangan secara diam-diam itu berhasil.

Akan tetapi pada saat dia hendak membebaskan anak itu, muncul Kim Hwa Nio-nio sehingga terpaksa dia mempergunakan kepandaian yang selama ini disembunyikannya saja untuk melindungi anak itu dan dirinya sendiri. Dan sungguh sama sekali tidak disangkanya bahwa anak itu ternyata adalah cucu keponakannya sendiri, puteri dari keponakannya, Suma Ceng Liong!

Bu-beng Lo-kai (Pengemis Tua Tanpa Nama), nama baru yang dipergunakan Gak Bun Beng, memegang tangan anak itu dan tersenyum ramah.

“Suma Lian, sekarang ceritakan kepadaku bagaimana engkau bisa sampai ke kota raja dan jatuh ke tangan orang seperti Kim Hwa Nio-nio itu.”

“Yang menculik aku bukan nenek itu, kek, melainkan seorang pendeta Lama berjuluk Sai-cu Lama.”

Anak itu lalu bercerita tentang kemunculan Sai-cu Lama di kebun rumah orang tuanya di dusun Hong-cun, menculiknya ketika ia sedang berlatih silat di bawah pimpinan neneknya. Bu-beng Lo-kai mendengarkan penuh perhatian.

“Nenekmu Teng Siang In tidak mampu melindungimu dan merampasmu kembali dari tangan Sai-cu Lama itu? Wah, kalau begitu pendeta Lama itu tentu lihai bukan main!” kata kakek itu.

“Memang dia lihai sekali dan sekarang dia membantu Kim Hwa Nio-nio menjadi kaki tangan pembesar yang disebut Hou Taijin itu.”

Kakek itu mengangguk-angguk, lalu memandang wajah anak itu.
“Dan bagaimana sekarang, cucuku? Engkau sudah berada di kota raja dan sudah bebas, apakah engkau ingin pulang ke Hong-cun? Aku akan mengantarmu sampai ke luar dusunmu, lalu kutinggalkan di sana kalau kau ingin pulang.”

“Dan engkau sendiri hendak pergi ke mana, kek?” tanya anak itu, memandang kepada orang tua itu dengan sinar mata mengandung rasa kasihan. Kakek ini demikian menderita, pikirnya.

“Aku? Ha, aku sendiri tidak tahu akan ke mana? Aku tidak punya apa-apa lagi.... di manapun menjadi tempat tinggalku. Aku tidak butuh apa-apa lagi....”

Akan tetapi di dalam suaranya ini terkandung kedukaan dan keputus asaan yang mendalam.

Merantau! Ah, betapa keinginan ini sejak lama sudah memenuhi hati Suma Lian. Sudah beberapa kali ia mengajak ayah ibunya, juga neneknya, agar ia dibawa merantau, terutama ke kota raja. Akan tetapi mereka mengatakan bahwa keadaan sekarang tidak aman dan ia masih terlampau kecil untuk melakukan perjalanan jauh. Sekarang, ia sudah berada di kota raja. Sayang kalau ia harus pulang kembali begitu saja. Jiwa petualang bergelora di dalam hatinya.

Suling Naga