Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 086

“Kek, aku tidak mau pulang!” Tiba-tiba ia berkata dengan suara lantang.

“Eh?” Bu-beng Lo-kai memandang heran. “Tidak mau pulang?”

“Aku tidak mau pulang dulu, aku ingin ikut denganmu!”

“Ikut denganku?” kakek itu termenung, akan tetapi Suma Lian melihat dengan jelas perubahan pada wajah yang ditutupi rambut itu. Sepasang mata yang masih tajam itu kini mengeluarkan sinar, walaupun masih redup. Ada gairah. “Ikut denganku? Hidup seperti ini? Tanpa rumah tanpa apa-apa, seperti jembel berkeliaran dan terlantar?”

“Mengapa tidak? Bagi seorang perantau, tak perlu tempat tinggal tetap. Aku dapat tidur di mana saja. Bukankah keluarga kita, keturunan para pendekar Pulau Es, berjiwa perantau dan tabah menghadapi segala hal? Aku dapat tidur di kuil, di hutan, di mana saja, kek.”

“Tanpa pakaian indah, tidak ada uang, tidak ada kekayaan apapun?”

“Aku tidak ingin pakaian yang indah-indah, asalkan bersih. Kebersihan perlu sekali, kek. Bukankah seperti kata nenekku, kebersihan itu pangkal kesehatan dan kesehatan itu pangkal kegembiraan? Bagaimana kita bisa gembira kalau kita tidak sehat, dan bagaimana kita bisa sehat kalau kita tidak bersih? Bagaimana, kakekku yang baik, bolehkah cucumu ini ikut merantau bersamamu dan setiap ada kesempatan kau mengajarkan ilmu silat keluarga kita kepadaku?”

Ada semacam cahaya memasuki hati kakek itu. Suma Lian, anak perempuan berusia duabelas tahun ini, mendatangkan gairah hidup di dalam batinnya, membuat dia merasa bahwa dia masih dibutuhkan orang! Dia masih berguna!

“Baiklah, cucuku. Baik, kita merantau bersama.”

Bukan main girangnya rasa hati Suma Lian. Ia setengah bersorak merangkul kakek itu, akan tetapi lalu menutupi hidungnya.

“Ihh, engkau berbau tak enak sekali, kek. Engkau harus mandi yang bersih, mencuci rambut itu, mengikatnya dan juga berganti pakaian. Aku juga. Hampir muntah aku kalau tercium bau bajuku sendiri ini!”






“Berganti pakaian? Aku tidak punya cadangan pakaian. Selimut bututku sudah menjadi pakaianmu.”

“Aku akan mencarikan ganti untukmu, kek. Mari kita ke dusun atau kota terdekat, dan aku akan mencari pakaian untuk kita berdua.”

Anak itu menarik tangan kakek itu dan merekapun melanjutkan perjalanan, tidak kembali ke kota raja karena mereka khawatir kalau bertemu dengan Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya. Kakek itu membawa Suma Lian ke sebuah dusun yang cukup ramai di sebelah barat kota raja dan mereka berdua berhenti di sebuah kuil tua yang kosong.

“Apakah perutmu tidak merasa lapar, kek?” tiba-tiba anak itu bertanya.

Kakek itu mengangguk.
“Sejak kemarin siang aku tidak makan apa-apa,” jawabnya jujur.

Harus diakuinya di dalam hati bahwa dia kadang-kadang sudah tidak perduli lagi apakah perutnya terisi atau tidak, bahkan dia sudah lupa bagaimana rasanya lapar atau kenyang itu. Selama ini dia seperti mayat hidup saja.

“Kalau begitu, kau tinggal saja dan tunggu aku di sini, kek. Aku akan mencari makanan dan pakaian untuk kita.”

Kakek itu memandang dengan alis berkerut.
“Kau akan membelinya?”

Suma Lian tersenyum lucu penuh rahasia.
“Kau tunggu sajalah, dan tanggung beres, kek.”

Anak itu lalu berlari-larian meninggalkan kuil, diikuti pandang mata yang penuh keharuan oleh kakek tua renta itu. Mulailah pohon yang hampir mati kering itu memperoleh air kehidupan lagi, mulai bersemi semangat untuk hidup dan gairah. Dia merasa seolah-olah Suma Lian itu cucunya sendiri, cucu yang amat diharapkan selama bertahun-tahun oleh dia dan mendiang isterinya, cucu yang tak kunjung ada dan kini tiba-tiba saja muncul seorang cucu dalam kehidupannya!

Dia tidak khawatir akan keselamatan Suma Lian. Anak itu pandai berjaga diri, dan diapun tidak perlu mengkhawatirkan munculnya Kim Hwa Nio-nio. Kuil itu berada di dekat pintu pagar dusun sebelah timur sehingga kalau ada orang muncul dari jurusan kota raja, dia akan dapat melihatnya lebih dulu sebelum orang itu dapat bertemu dengan Suma Lian yang berada di tengah dusun itu.

Kurang lebih sejam kemudian, sesosok bayangan kecil berloncatan dan Suma Lian masuk ke dalam kuil itu melalui tembok belakang yang diloncatinya. Ia membawa buntalan yang cukup besar dan wajahnya berseri-seri ketika ia menghadap Bu-beng Lo-kai di ruangan kuil tua yang lantainya sudah mereka bersihkan tadi.

“Makanan dan pakaian yang cukup untuk kita, kek!” kata anak itu sambil membuka buntalannya di depan kakek itu.

Bu-beng Lo-kai memandang dan mengerutkan alisnya ketika dia melihat dua buah panci yang terisi masakan-masakan dan daging, juga bakmi yang masih panas. Dan selain makanan itu, juga terdapat beberapa potong pakaian yang masih baru untuknya, juga untuk anak itu!

“Hai....! Dari mana kau memperoleh semua ini? Tak mungkin kalau engkau mengemis dan diberi orang!” tegur kakek itu.

“Aihh, kek. Nanti saja kita bicara tentang itu. Sekarang, paling perlu mengisi perut yang sudah lapar dengan makanan ini. Dan ini seguci arak untukmu!”

Seperti main sulap saja, Suma Lian mengeluarkan seguci arak yang ketika dibuka tutupnya, berbau harum sekali, membuat kakek itu menelan air ludah saking ingin segera mencicipinya.

Kakek itu mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga dari manapun asalnya makanan itu, kini sudah berada di situ dan memang sebaiknya dimakan saja dulu, baru nanti dia akan menuntut keterangan dan kalau perlu memberi teguran keras kepada anak ini kalau benar seperti dugaannya bahwa anak ini telah melakukan pencurian!

Dan, barang curian atau bukan, kalau perut sudah sedemikian laparnya, masakan itu luar biasa enaknya! Baru sekarang selama dia ditinggal mati isterinya, kakek itu makan sedemikian lahapnya dan enaknya. Suma Lian juga makan dengan lezat, melupakan bau tak sedap yang datang dari kakek itu dan dari pakaiannya sendiri. Tak lama kemudian, makanan itu sudah mereka sikat habis dan kakek itu dengan wajah puas lalu meneguk arak dari gucinya.

“Nah, sekarang kau....“

“Nanti dulu, kek. Ketika aku pergi tadi, ada kulihat sebatang sungai kecil di belakang kuil ini. Airnya jernih sekali. Mari kita membersihkan badan, mandi dan berganti pakaian dulu, baru bicara. Akan lebih enak begitu. Marilah, kek!”

Anak itu lalu menarik tangan Bu-beng Lo-kai yang terpaksa bangkit berdiri sambil membawa guci araknya. Suma Lian membawa buntalan pakaian dan mereka keluar dari kuil, lalu membelok ke arah belakang kuil di mana benar saja terdapat sebuah anak sungai yang jernih airnya.

“Nah, kau mandilah dan ganti pakaianmu itu dengan pakaian ini, kek. Lihat, kupilihkan yang polos kuning dan putih untukmu, dengan ikat pinggang biru. Tentu pantas sekali untukmu. Dan ini minyak pencuci rambutmu. Cucilah rambutmu dan badanmu yang bersih, kek. Aku menanti di sini,” katanya sambil duduk di bawah sebatang pohon besar, tak jauh dari anak sungai itu yang berada di bawah, tidak nampak dari situ.

“Kau dulu yang mandi dan bertukar pakaian. Aku nanti saja setelah engkau. Aku akan berjaga di sini sambil minum arak. Arak ini enak sekali!” kata kakek itu malas-malasan.

“Baiklah, akan tetapi setelah aku selesai, engkau harus mandi dan berganti pakaian, kek. Berjanjilah!”

Kakek itu hendak membantah, akan tetapi ketika melihat wajah anak perempuan itu, tak sampai hatinya membantah. Dia mengangguk-angguk.

“Baiklah.”

Dan menenggak arak lagi seteguk dari gucinya, mengecap-ngecap dan menjilat-jilat bibirnya.

Suma Lian membawa satu stel pakaian berwarna biru muda dan sambil tertawa-tawa ia berloncatan menuruni tebing menuju ke sungai itu. Tak lama kemudian terdengar suara ia berkecimpung di dalam air sambil bernyanyi-nyanyi kecil, suara yang amat asing dan baru baginya, namun indah sekali dan menyegarkan batinnya. Kini dia dapat tersenyum-senyum penuh kegembiraan seorang diri, bukan lagi senyum untuk menyembunyikan kedukaan hatinya.

Tak lama kemudian, Suma Lian sudah berada lagi di depannya. Segar sekali wajah yang kini bersih dan putih kembali itu, rambutnya yang hitam panjang itu masih basah kuyup dan diperasnya, lalu dibiarkan terurai agar cepat kering, kedua kakinya memakai sepatu baru dan pakaian yang dipakainya itu membuatnya nampak manis sekali.

“Nah, sekarang engkau mandi, mencuci rambutmu dan berganti pakaian, kek!” kata Suma Lian sambil menyerahkan pakaian untuk kakek itu. Bu-beng Lo-kai memandang pakaian yang berwarna putih dan kuning polos itu dengan alis berkerut, seperti seorang anak kecil memandang obat pahit yang harus ditelannya. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya.

“Wah, bagaimana aku dapat memakai pakaian sebersih itu? Tentu aku akan takut duduk di tempat sembarangan, selalu harus menjaga agar pakaianku tak menjadi kotor. Wah, repot sekali kalau begitu, tidak bebas lagi aku....”

“Janji, kek. Janji harus dipenuhi, bukankah itu satu di antara sifat kegagahan?”

“Ya-ya, akan tetapi....“

“Tidak ada tapi, kek. Dan aku yakin bahwa dulu, entah kapan, pernah engkau merupakan seorang yang suka akan kebersihan, tidak seperti sekarang ini! Engkau sudah berjanji akan mandi dan erganti pakaian, kek!”

Mendengar ucapan itu, Bu-beng Lo-kai termenung teringat akan isterinya. Isterinya, Puteri Milana, ketika masih muda, sebagai isterinya, juga suka sekali akan kebersihan.
Dia sering diomeli isterinya itu kalau menaruh barang di sembarangan tempat, juga isterinya itu menghendaki agar dia selalu bersih, baik badannya maupun pakaiannya. Dan diapun selalu menjaga dirinya agar bersih.

Akan tetapi bertahun-tahun sudah dia hidup tanpa perduli akan apa yang dinamakan kebersihan. Bahkan tidak ada yang kotor baginya. Bukankah daun-daun kering itu juga bersih? Tanah dan lumpur itupun bersih? Akan tetapi sekarang, kata-kata dan sikap Suma Lian mengingatkan dia kembali akan kehidupannya dahulu, sebelum isterinya meninggalkannya untuk selamanya.

“Akan tetapi.... pakaian seperti ini....? Ingat, cucuku, mulai tadi aku sudah memakai nama Bu-beng Lo-kai. Ingat, apa artinya lo-kai? Pengemis tua! Kalau aku memakai pakaian begini, mana mungkin namaku Lo-kai? Seorang pengemis tua harus mengenakan pakaian butut dan penuh tambalan, kalau tidak begitu, mana mungkin dia laku mengemis? Takkan ada orang mau memberi sedekah!”

Tiba-tiba Suma Lian tertawa menutupi mulutnya.
“Hi-hik, sudah kuduga engkau akan mengajukan alasan itu, karena itu akupun sudah siap, kek. Nah, lihat ini!” ia mengeluarkan jarum dan benang, lalu ia merobek pakaian kakek itu di sana-sini, merobek kain kuning paha celana dan memindahkan atau menembelkan robekan itu di pundak baju putih dan sebaliknya.

Ia merobek sana-sini, tambal sana tambal sini dan akhirnya pakaian itu menjadi pakaian penuh tambalan yang hanya merupakan pemindahan saja dari bagian-bagian yang dirobek tadi. Kini bajunya yang putih penuh tambalan kuning, sedangkan celana kuning penuh tambalan putih.

“Nah, pakaianmu sudah penuh tambalan, syarat bagi seorang pengemis, bukan?. Akan tetapi, betapapun miskinnya, seorang pengemis tetap berhak untuk hidup bersih. Dan karena itu, di sini masih tersedia dua stel lagi untukmu dan lima stel pakaian untukku. Setiap hari kita berganti pakaian, yang kotor akan kucuci sampai bersih, dan setiap hari kita mandi!”

Kembali kakek itu termenung, teringat akan mendiang isterinya. Sama benar watak isterinya dengan anak ini, ketika isterinya masih muda. Keras, lincah, galak, pandai bicara dan juga amat suka akan kebersihan. Dia sudah kehabisan akal untuk membantah lagi dan terpaksa dia menerima satu stel pakaian yang sudah penuh tambalan itu dan menuruni tebing. Dan Suma Lian menahan ketawanya ketika ia mendengar kakek itu berkecimpung dan mendengar pula senandung yang digumamkan mulut itu.

“Yang bersih, kek! Rambutnya juga....!” ia berteriak ke arah bawah tebing.

Dari bawah terdengar suara ketawa.
“Wah, engkau cerewet benar seperti seorang nenek tua saja!” Dan Suma Lian kembali tertawa.

Suling Naga