Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 088

“Saya Pouw Tong Ki, pemilik rumah ini. Silahkan kalian duduk....“

“Nanti saja kami duduk setelah cucuku membuat pengakuannya,” kata Bu-beng Lo-kai dengan tegas dan diapun mencwel lengan cucunya.

Suma Lian berdiri dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Bukan main malunya apa lagi melihat betapa tuan rumah itu amat ramah memandang kepadanya.

“Nona kecil yang baik, apakah yang hendak nona katakan? Katakan saja dan jangan ragu-ragu,” katanya sambil tersenyum ramah.

Sikap ini banyak menolong dan setelah beberapa kali menelan ludah, akhirnya Suma Lian berkata, suaranya lirih akan tetapi cukup tegas dan jelas.

“Saya.... saya minta maaf karena tadi saya....” sukar sekali baginya untuk mengeluarkan kata-kata pengakuan itu.

Mengaku menjadi pencuri! Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi dirinya, bagi “aku” nya. Makin tinggi orang membentuk gambaran tentang dirinya, semakin sukar pula baginya untuk mengenal dan mengakui kesalahannya.

“Cucuku, apakah engkau ingin menjadi seorang pengecut?” tiba-tiba kakek itu bertanya dan ucapan ini seperti api yang membakar dada Suma Lian!

“Saya datang untuk minta maaf dan mengaku bahwa tadi saya telah mencuri makanan yang sudah kami makan berdua, dan pakaian beberapa stel yang sudah kami pakai dan kami jadikan cadangan-cadangan kami!” katanya dengan sikap gagah dan sepasang matanya yang jernih itu memandang kepada wajah tuan rumah tanpa mengenal takut sedikitpun!

Pouw Tong Ki nampak terkejut dan terheran-heran.
“Tapi.... tapi pakaian yang kalian pakai itu bukan milik kami. Kami tidak mungkin memiliki pakaian tambal-tambalan....“

“Memang sengaja saya tambal-tambal agar sesuai dengan keadaan kami sebagai pengemis,” jawab Suma Lian.

“Maaf,” sambung Bu-beng Lo-kai. “Kami sudah biasa memakai pakaian tambal-tambalan sehingga tidak enak rasanya memakai pakaian utuh tanpa tambalan.”






“Ah....! Ahh....! Bukan main ji-wi (kalian berdua) ini....! Anakku harus melihat ini, harus dapat mencontoh!” Pouw Taijin bertepuk tangan dan dua orang penjaga muncul di pintu luar.

“Cepat kalian cari siocia dan minta agar datang ke sini dengan cepat!”

“Saya sudah minta maaf, kenapa harus memanggil orang lain?”

Suma Lian memprotes karena bagaimanapun juga, ia merasa tidak suka kalau perbuatannya mencuri itu diberitahukan kepada orang-orang lain!

“Nona, harap jangan salah duga. Yang kupanggil adalah puteriku, puteri tunggal, dan karena pakaiannyalah yang kauambil dan kaupakai itu, bukankah sudah sepatutnya kalau ia datang sendiri menerima permintaan maaf darimu?”

Suma Lian tidak mampu membantah lagi, hanya mukanya berubah merah sekali. Ia harus menebalkan muka lagi, berhadapan dengan orang yang kini pakaiannya ia pakai! Tak lama kemudian, dari pintu dalam muncul seorang gadis cilik yang manis, sebaya dengan Suma Lian, pembawaannya tenang sekali akan tetapi sepasang matanya membayangkan kecerdikan. Sejenak gadis cilik itu memandang kepada Bu-beng Lo-kai dan Suma Lian, lalu bertanya kepada Pouw Tong Ki,

“Ayah, ada apakah ayah memanggil aku agar cepat datang ke sini dan siapa pula dua orang yang pakaiannya aneh-aneh ini?”

“Li Sian, dengar baik-baik. Ayahpun tidak mengenal kedua orang ini, akan tetapi mereka datang minta bertemu dengan kita berdua karena nona kecil ini ingin menyampaikan sesuatu kepada kita. Kepadaku sudah disampaikan maksud kedatangannya dan dengarlah apa yang akan ia katakan kepadamu.”

Nona cilik itu memandang kepada Suma Lian, memandang penuh perhatian dari rambut sampai ke sepatunya, lalu ia mengerutkan alisnya dan berkata kepada Suma Lian,

“Siapakah engkau yang berpakaian seaneh ini dan hendak menyampaikan apa?”

Suaranya halus teratur, tidak galak dan mengandung kelembutan, akan tetapi ia agaknya terkejut dan terheran-heran mendengar kata-kata ayahnya tadi.

Untuk kedua kalinya, Suma Lian mengangkat mukanya, meluruskan kepala dan membusungkan dadanya, lalu berkata,

“Aku datang ke sini untuk minta maaf dan untuk membuat pengakuan bahwa tadi aku telah menyelinap ke dalam rumah ini dan mencuri makanan, yaitu dua panci masakan, seguci arak dari dapur, dan dari dalam kamar-kamar aku mengambil.... eh, mencuri beberapa stel pakaian untuk kakekku ini dan untukku sendiri, juga sepatu ini. Pakaian-pakaian itu sudah kutambal-tambal, jadi tidak mungkin dikembalikan seperti yang dikehendaki kakekku, juga makanan itu terlanjur kami makan habis.”

Pouw Li Sian menjadi bengong, memandang ke arah pakaian Suma Lian. Ia mengenal bajunya sendiri yang sudah ditambal-tambal itu, juga ia mengenal sepatunya. Akan tetapi, yang membuat ia bengong, kenapa anak ini, yang sudah berhasil melakukan pencurian tanpa diketahui, kini malah datang membuat pengakuan dan minta maaf?

“Nah, Li Sian. Engkau sendiri menjadi terheran heran mendengar pengakuannya. Sikap seperti inilah yang harus kau tiru, anakku!”

“Maksud ayah.... berpakaian pengemis dan.... dan mencuri itu?”

“Bukan! Akan tetapi sikap berani mempertanggungjawabkan segala perbuatannya itulah! Aihh, betapa akan baiknya kalau semua pejabat dapat bertanggung jawab seperti anak ini! Li Sian, kalau ada orang-orang seperti ini kehabisan pakaian dan kelaparan, lalu mengambil makanan dan pakaian darimu, yang bagi kita tidak ada artinya, apakah engkau rela?”

Li Sian mengerutkan alisnya yang hitam indah itu. Lalu ia menggeleng kepalanya.
“Aku tidak rela, ayah. Kalau mereka datang dan minta kepadaku, mungkin aku akan memberi lebih baik dan lebih banyak dari pada yang telah diambilnya. Akan tetapi mencuri? Tidak, itu tidak benar dan aku tidak rela!”

“Akan tetapi, mereka sudah datang minta maaf. Lalu bagaimana pendapatmu? Kau maafkan mereka?”

“Aku tidak mau memaafkan orang yang mencuri karena ia tentu kelak akan mencuri lagi. Pencurian harus dihukum dan hukumannya terserah kepada ayah. Akan tetapi kalau mengenai barang-barangku, itu kurelakan dan sekarang juga kusumbangkan kepada mereka, ayah.”

“Bagus!” Tiba-tiba Bu-beng Lo-kai berkata dengan pandang mata kagum kepada puteri tuan rumah. “Itupun merupakan suatu pendirian yang gagah dan harus dihormati. Lihat, cucuku, puteri tuan rumah ini pantas kaujadikan teladan. Tegas dan adil!”

Pouw Tong Ki yang kini merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, lalu pura-pura bertanya,

“Orang tua, apakah hanya itu maksud kedatangan ji-wi ke sini? Hanya untuk membuat pengakuan dan minta maaf begitu saja?”

Kakek tua renta itu kini menujukan pandang matanya kepada tuan rumah dan diam-diam Pouw Tong Ki merasa terkejut dan kagum, juga jerih sekali. Sepasang mata itu dapat mengeluarkan sinar mencorong seperti api!

“Benar, akan tetapi aku setuju sekali dengan pendapat puterimu. Yang bersalah harus dihukum. Kami telah bersalah dan kami juga bukan orang yang suka menghindarkan diri dari hukuman. Nah, kami telah mengaku salah, kami telah datang, kalau mau menjatuhkan hukuman, silahkan!”

“Baik, kami akan menghukum ji-wi dan ji-wi sudah berjanji untuk menerima hukuman itu.”

“Tapi hukuman itu harus adil, kalau tidak, aku akan menentangnya! Sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang keadilan, bukankah begitu, kek?” tiba-tiba Suma Lian berkata kepada tuan rumah dan iapun tegak berdiri menanti hukuman dengan sikap gagah!

“Hukuman untuk ji-wi adalah satu bulan lamanya harus mau menjadi tamu kehormatan kami di rumah ini! Locianpwe ini akan menjadi temanku bercakap-cakap, sedangkan nona cilik ini menjadi teman bermain dari Pouw Li Sian, anak kami ini. Locianpwe, saya bernama Pouw Tong Ki, menjabat Menteri Pendapatan Istana yang sedang beristirahat di sini, harap locianpwe tidak menolak undangan kami untuk menjadi tamu kehormatan kami!”

Kakek dan cucunya itu menjadi bengong! Mana di dunia ini ada hukuman berupa menjadi tamu kehormatan dan menjadi sahabat? Dan tuan rumah ini ternyata seorang menteri! Seorang “tiong-sin” menteri setia dan bijaksana seperti nampak pada sikapnya, dan dapat mengenal dirinya maka bersikap demikian hormat.

“Bagaimana ini, kakek? Hukumannya aneh sekali!” kata Suma Lian, bingung.

“Ha-ha-ha, kita sudah berjanji dan sanggup untuk menerima, sekali-kali tidak baik kalau menolaknya, cucuku.”

Pouw Li Sian menjadi girang sekali dengan keputusan ayahnya dan iapun maju dan memegang tangan Suma Lian.

“Engkau anak yang aneh sekali dan aku suka kepadamu. Namaku Pouw Li Sian. Siapakah namamu?”

“Namaku Suma Lian. Dan akupun merasa heran ada puteri seorang menteri suka bersahabat dengan seorang anak pengemis. Tidak malukah engkau bersahabat dengan aku?”

Pouw Li Sian merangkul pundaknya.
“Engkau dahulu lahir telanjang seperti aku, hanya pakaian saja yang memberi sebutan-sebutan itu. Mari kita lihat kebun buah kami, kini sedang musim apel, banyak dan besar-besar. Mari kita petik!”

Ia lalu menggandeng tangan Suma Lian yang mengikutinya dengan girang tanpa menoleh lagi kepada kakeknya.

“Locianpwe, mari kita bicara di ruangan dalam. Silahkan!”

Pembesar itu bangkit dan mengajak kakek itu masuk ke dalam, diikuti oleh Bu-beng Lo-kai yang merasa semakin suka saja kepada laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi akan tetapi berjiwa sederhana itu. Setelah mereka duduk di ruangan dalam, Pouw Tong Ki memperkenalkan isterinya kepada kakek itu, juga empat orang puteranya yang berusia dari sembilanbelas tahun sampai enambelas tahun, kakak-kakak dari Pouw Li Sian.

Bu-beng Lo-kai semakin hormat kepada keluarga ini, contoh keluarga pembesar yang baik dan ramah. Sebaliknya, keluarga itu menganggap kakek yang berpakaian tambal-tambalan dan diaku sebagai tamu kehormatan oleh pembesar itu sebagai seorang kakek yang tentu berilmu tinggi.

Setelah mereka mundur dan para pelayan menghidangkan minuman arak dan makanan kering, pembesar itu lalu bertanya, suaranya bersungguh-sungguh.

“Kalau saya tidak salah duga, locianpwe tentulah seorang pendekar dari keluarga Pulau Es, bukan?”

Bu-beng Lo-kai terkejut, sama sekali tidak mengira akan ditanya demikian.
“Bagaimana Taijin dapat menduga demikian?”

Dia balas bertanya sambil memandang tajam. Kalau penghormatan ini didasarkan dugaan tuan rumah bahwa dia dan cucunya keluarga para pendekar Pulau Es, berarti bahwa penerimaan dan penghormatan keluarga ini mengandung suatu pamrih tertentu dan dia harus berhati-hati.

“Tadinya saya tidak menduga apa-apa, akan tetapi setelah cucumu berkenalan dengan puteriku dan mengaku bernama Suma Lian, maka timbul dugaan itu di hati saya. Bukankah nama marga Suma itu jarang sekali dan dimiliki oleh keluarga Pulau Es?”

Kakek itu menarik napas lega. Dia percaya dan memang benar ucapan pembesar ini. Nama marga Suma yang bukan merupakan keluarga Pulau Es memang ada, akan tetapi tidak banyak dan karena keluarga Pulau Es terkenal di antara para pembesar di kota raja, maka tidak mengherankan kalau pembesar ini segera dapat menduganya demikian.

“Dugaanmu memang tidak keliru, Pouw Taijin. Cucuku Suma Lian itu adalah keturunan langsung dari keluarga Pulau Es.”

“Dan bolehkah saya mengetahui siapa nama locianpwe yang mulia?”

“Aihh.... saya sendiri sudah lupa akan nama saya. Saya hanya orang luar dan saya hanya mempunyai sebutan Bu-beng Lo-kai.”

Suling Naga