Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 089

Pouw Tong Ki tidak merasa kecil hati mendengar ini. Dia berpengalaman luas dan tahu apa artinya itu. Berarti bahwa kakek ini tidak mau dikenal oleh siapapun juga, dan memang banyak sekali orang-orang sakti yang ingin menyembunyikan diri dari kepandaiannya. Maka dia semakin kagum dan menduga bahwa tentu kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Dan diam-diam diapun mempunyai harapan.

Di antara lima orang anak-anaknya, justeru Li Sian seoranglah, satu-satunya anak perempuannya yang menaruh minat akan latihan silat, juga berbakat sekali. Alangkah akan girang hatinya kalau Li Sian dapat menjadi murid kakek ini, menjadi saudara seperguruan atau saudara angkat dari anak perempuan bernama Suma Lian yang mengagumkan hatinya itu!

Mereka lalu bercakap-cakap dan ternyata oleh tuan rumah bahwa kakek yang kelihatannya saja seperti seorang pengemis tua, ternyata memiliki daya tangkap yang tajam dan pengetahuan yang luas sekali. Kakek tua renta itu bahkan pandai menanggapi ketika percakapan menyinggung keadaan kaisar. Kakek itu menyayangkan sekali bahwa seorang kaisar secakap Kaisar Kian Liong itu akhirnya dapat begitu mudah diperdaya oleh seorang menteri durna seperti Hou Seng, hanya karena kaisar itu tergila-gila kepadanya dan menganggapnya penjelmaan dari seorang wanita yang pernah dicintanya.

“Kaisar merupakan mercu-suar dari pemerintahan,” demikian antara lain kata kakek tua renta ini. “kalau kaisarnya lemah, maka pemerintahanpun lemah dan hal ini menurunkan kewibawaan pemerintah terhadap rakyat, juga memberi angin kepada para pembesar durna untuk merajalela. Akibatnya, rakyat yang tertindas dan kalau sampai rakyat merasa tidak puas dengan suatu pemerintah, itu tandanya bahwa pemerintah itu sudah mulai rapuh dan akan mudah jatuh kalau sampai terjadi pemberontakan, karena rakyat tentu akan lebih condong membantu pemberontak dari pada pemerintah yang tidak disukanya. Dan kalau kaisar lemah, sudah menjadi kewajiban para menteri dan pembesar tinggi untuk mengingatkannya.”

“Pendapat locianpwe memang tepat sekali. Akan tetapi celakanya, Hou Seng itu agaknya memang sudah membuat persiapan. Selain sukar untuk membuktikan korupsinya yang hanya beberapa orang yang bersangkutan dengan kekayaan negara saja yang mengetahuinya, juga dia kelihatan amat setia kepada kaisar dan bahkan kini mengumpulkan kekuatan rahasia untuk memperkuat kedudukannya. Menteri-menteri yang kuat disingkirkannya, baik melalui kekuasaan kaisar ataupun melalui kaki tangannya, menteri-menteri yang tidak kuat mentalnya dirangkul dengan sogokan-sogokan besar. Siapa berani menentangnya, tahu-tahu mati dalam keadaan amat menyedihkan dan aneh.

Seperti baru saja terjadi pada diri Pangeran Cui Muda yang kedapatan mati bersama seluruh pengawalnya di sebuah rumah pelesir, tanpa ada tanda-tanda siapa yang melakukan pembunuhan itu. Saya sendiri sudah tahu bahwa itu tentulah perbuatan orang sakti yang menjadi kaki tangan Hou Seng itu. Aihhh.... sungguh sedih sekali hatiku melihat keadaan istana. Karena itulah maka saya lebih sering berada di dusun sunyi ini dari pada di kota raja. Kalau saja orang-orang seperti Panglima Kao Cin Liong itu masih menjadi pembesar di kota raja. Ah, hanya orang-orang dengan kepandaian tinggi seperti dialah yang akan mampu membendung kekuasaan Hou Seng yang merajalela. Saya kira locianpwe tahu siapa adanya Panglima Kao Cin Liong itu, bukan?”






Bu-beng Lo-kai mengangguk-angguk. Tentu saja dia sudah mendengar tentang putera dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu!

“Panglima Kao Cin Liong adalah seorang di antara para sahabat baik saya, locianpwe. Ketika dia masih menjabat panglima, setiap ada keruwetan di istana saya dapat mengajaknya bertukar pikiran. Akan tetapi sekarang, ah, dia sudah lama sekali mengundurkan diri dan kini hanya menjadi seorang pedagang rempa-rempa di Pao-teng. Betapa saya amat merindukan nasihat-nasihatnya dalam keadaan seperti ini.” Pembesar itu menarik napas panjang.

Bu-beng Lo-kai makin suka kepada pembesar she Pouw ini. Kalau menteri ini sahabat baik bekas Panglima Kao Cin Liong yang terkenal itu, jelaslah bahwa dia memang seorang menteri yang baik dan bijaksana, dan dia merasa gembira dapat menjadi tamunya.

“Bagaimana Taijin dapat memastikan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan atas diri para pembesar itu adalah perbuatan kaki tangan Hou Seng?” tanyanya, ingin tahu sekali karena apa yang diceritakan oleh pembesar ini amat penting dan agaknya masih ada hubungannya dengan pengalaman Suma Lian.

“Mereka yang, menjadi korban pembunuhan rahasia itu, semua terbunuh oleh orang-orang pandai yang tidak dilihat sepak terjangnya, hanya nampak bayangannya saja. Dan menurut penyelidikan, mereka yang tewas itu semua adalah orang-orang yang menentang kekuasaan Hou Seng, Bahkan mendiang Pangeran Cui Muda juga menentangnya karena merasa kalah bersaing dalam istana dan pangeran itu pernah menghinanya di suatu pesta.”

“Lalu apa yang akan Taijin lakukan?”

“Pembunuhan-pembunuhan gelap seperti ini tidak boleh didiamkan begitu saja!” kata menteri itu penuh semangat. “Seolah-olah pemerintah kita terdiri dari algojo-algojo yang boleh saja saling bermusuhan dan saling mengirim pembunuh. Bagaimana kalau nanti semua pembesar memelihara jagoan-jagoan untuk saling bunuh. Sudah terlalu banyak jatuh korban. Saya akan memberanikan diri menghadap kaisar dan menceritakan semua ini, dan kalau perlu saya akan temui Hou Seng dan akan saya tegur atas perbuatannya yang sewenang-wenang dan kotor itu!”

Bu-beng Lo-kai menarik napas panjang dan percakapan mereka terhenti dengan munculnya Suma Lian dan Li Sian. Mereka masuk sambil bergandeng tangan dan Suma Lian memberi dua buah apel merah kepada kakeknya.

“Kek, Li Sian ini baik sekali kepadaku dan kebun apelnya penuh dengan buah apel yang manis. Ini dua buah untukmu, kek. Aku sudah kekenyangan makan apel!“

“Hushh, bagaimana engkau menyebut namanya begitu saja? Ia puteri seorang menteri, setidaknya engkau harus menyebutnya siocia (nona)!” kata Bu-beng Lo-kai.

“Ia tidak mau, kek. Dan usia kami memang sebaya, akan tetapi aku lebih tua beberapa bulan maka ia malah menyebut enci kepadaku.”

Sementara itu, Li Sian berkata kepada ayahnya.
“Ayah, enci Lian ini pandai sekali! Menurut kakak-kakakku, enci Lian pandai silat dan ketika dicoba, semua kakakku kalah olehnya. Aku sendiripun dalam lima jurus saja sudah keok! Wah, ia lihai dan juga ia pandai menulis sajak. Sungguh seorang anak pengemis yang luar biasa, ayah. Aku menganggapnya sebagai saudaraku sendiri!”

Menteri Pouw mengangguk-angguk senang dan memandang kagum kepada Suma Lian.

“Bagus sekali kalau engkau dapat menghargai orang pandai, anakku. Ketahuilah bahwa ia adalah keturunan langsung dari keluarga Pendekar Pulau Es, tentu saja ia lihai sekali.”

“Ehh? Kakek memperkenalkan keluarga kita?”

Suma Lian memandang kepada kakeknya dengan mata terbelalak, seperti menegur. Kakeknya menggeleng kepala sambil tersenyum.

“Anak baik, nama keluargamu sudah amat terkenal di sini. Begitu engkau menyebutkan she (nama marga) Suma tadi, Pouw Taijin juga sudah dapat menduga bahwa engkau tentu keturunan dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.”

“Dan engkau....” hampir saja Suma Lian memperkenalkan keadaan diri kakek itu sebagai mantu Pendekar Super Sakti, suami dari mendiang Puteri Milana yang terkenal sekali.

Kakek itu memotong,
“aku adalah Bu-beng Lokai dan tidak ada keterangan lain sebagai tambahan.”

Sunia Lian mengangguk. Saat itulah dipergunakan oleh Pouw Tong Ki untuk menyatakan hasrat hatinya.

“Locianpwe, kami mohon dengan hormat dan sangat kepada locianpwe, sudilah kiranya locianpwe memberi bimbingan kepada Li Sian, anak kami ini yang suka sekali akan ilmu silat, berbeda dengan kakak-kakaknya yang suka akan ilmu sastera”.

“Benar, kek, Li Sian ini lebih berbakat dari pada kakak-kakaknya dan ia juga minta belajar silat kepadaku. Akan tetapi aku sendiri masih belajar, bagaimana mungkin memberi pelajaran? Kalau kakek mau membimbingnya, bersamaku, betapa akan senangnya kami berdua untuk berlatih bersama dan aku yang memberi petunjuk kepadanya.”

Kakek itu tersenyum lebar akan tetapi tidak menjawab, melainkan memandang ke arah Pouw Li Sian dan dia melihat bahwa memang anak perempuan itu memiliki bakat yang baik, dapat dilihat dari gerak-geriknya.

“Ha-ha, setua aku ini mana bisa menerima murid? Kalau hanya sekedar petunjuk dan bimbingan saja, tentu dengan senang hati....“

“Li Sian, cepat berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada locianpwe Bu-beng Lo-kai!” kata Pouw Tong Ki yang cerdik.

Li Sian juga seorang anak yang patuh dan cerdik. Ia sudah dapat mengerti bahwa kalau Suma Lian saja, sedemikian lihainya sehingga anak perempuan berusia duabelas tahun itu dapat mengalahkan kakaknya yang paling tua berusia sembilanbelas tahun secara mudah saja, maka apa lagi kepandaian kakek dari Suma Lian! Tentu kakek ini seorang sakti!

Dan iapun pernah mendengar dongeng tentang para pendekar Pulau Es, tentang Puteri Nirahai, Puteri Milana yang pernah menjadi panglima-panglima perang kerajaan. Maka, mendengar perintah ayahnya, ia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata,

“Locianpwe, saya Pouw Li Sian menghaturkan terima kasih atas bimbingan locianpwe.”
Kakek itu tertawa senang.

“Ha-ha-ha, keluarga Pouw sungguh pandai merendah, dan kerendahan hati selalu menguntungkan seseorang, lahir maupun batin. Bangkitlah, anak baik. Suma Lian, ajak ia duduk, aku hanya akan memberi bimbingan, bukan mengangkat murid. Biarlah engkau belajar bersama-sama Suma Lian.”

Suma Lian merangkul sahabatnya itu dan diajaknya duduk. Dalam percakapan berikutnya, sambil tetap menggandeng tangan Suma Lian, Li Sian berkata kepada ayahnya,

“Ayah, aku sudah mengambil keputusan untuk belajar bersama enci Lian, baik belajar ilmu silat maupun ilmu baca tulis. Aku minta agar ia dan locianpwe ini suka tinggal selamanya di sini. Kalau mereka tidak mau dan akan pergi dari sini, aku akan ikut bersama mereka! Enci Lian sudah kuanggap enciku sendiri, ayah.”

Ayahnya hanya tersenyum dan memandang kepada Bu-beng Lo-kai yang juga hanya tersenyum melihat betapa dua orang gadis cilik itu begitu bertemu terus cocok sedemikian rupa. Padahal, keduanya memiliki watak dan sifat yang berbeda, bahkan mungkin berlawanan.

Suma Lian mempunyai watak yang periang, lincah jenaka dan suka bicara, bahkan agak nakal dan ugal-ugalan. Sebaliknya, Pouw Li Sian berwatak pendiam, tidak banyak bicara, sabar namun tegas. Keduanya memang sama-sama suka kagagahan, menentang hal-hal yang jahat, dan suka membantu orang-orang lemah. Keduanya memiliki jiwa pendekar!

Demikianlah, mulai hari itu, Bu-beng Lo-kai dan Suma Lian menjadi tamu kehormatan, bahkan dianggap warga dari keluarga Pouw yang ramah tamah itu. Kakek itu mendapatkan sebuah kamar dekat tuan rumah, sedangkan Suma Lian tidur sekamar di kamar Li Sian.

**** 089 ****
Suling Naga