Ads

Kamis, 21 Januari 2016

Suling Naga Jilid 090

Dalam percakapan-percakapannya dengan kakek Bu-beng Lo-kai, semangat Pouw Tong Ki semakin berkobar dan diapun melanjutkan rencananya yang sudah menjadi keputusan hatinya untuk menentang tindakan Hou Seng yang sewenang-wenang. Dalam suatu persidangan dengan kaisar, selain melaporkan hal-hal yang mengenai keuangan, dia menggunakan kesempatan ini untuk melaporkan hal lain.

“Hamba mohon paduka suka mengambil perhatian akan keadaan rakyat yang mengeluh karena berulang kali terjadi pemungutan pajak liar dari para tuan tanah yang sudah memperoleh ijin langsung dari istana. Pemungutan pajak harus didasari keadilan, bukan hanya sekedar untuk mendatangkan keuntungan bagi pemerintah. Kalau hal itu merupakan penindasan, maka rakyat akan mengeluh dan tidak merasa tenteram hidupnya.”

Kaisar memandang kepadanya dengan alis berkerut. Dari Hou Seng dia sudah seringkali mendengar bisikan-bisikan tentang “buruknya” menteri Pouw ini yang sering melontarkan protes ke atasan.

“Apa yang kau maksudkan dengan keadilan dalam pemungutan pajak itu?” tanya kaisar.

“Begini, Sribaginda. Dalam memungut pajak, harus diperhitungkan besar kecilnya penghasilan para petani itu secara seksama. Kalau sekali waktu hasil panen mereka amat kecil karena datangnya musim kemarau panjang atau terserang hama sehingga hasil keringat mereka itu untuk dimakan keluarga sendiri saja masih belum mencukupi, hendaknya diadakan peraturan agar para tuan tanah tidak memaksakan pemungutan pajak. Dan pemerintahpun memberi kelonggaran kepada para tuan tanah dalam hal membayar pajak. Memang tentu saja pemasukan di istana menjadi berkurang, akan tetapi hal itu disebabkan oleh bencana alam. Biarpun pemasukan berkurang, akan tetapi semua pihak tidak mengeluh dan kalau hasil panen besar dan baik, tentu mereka suka membayar pajak penuh dengan hati rela.”

Kaisar Kian Liong yang tidak begitu beminat lagi untuk memperhatikan keadaan yang dianggap tidak penting itu, hanya mengangguk-angguk.

“Pendapat dan usul itu baik sekali untuk diperhatikan.”

“Ampun, Sribaginda yang mulia, hamba kira bahwa peraturan pajak yang diadakan pemerintah sudah cukup baik dan adil. Kalau pemerintah terlampau longgar, maka mereka yang berkewajiban membayar pajak itu selalu akan mempergunakan kelemahan atau kelonggaran pemerintah untuk menghindarkan diri dari pembayaran pajak. Tanpa tekanan, mereka itu tidak akan mau membayar!”






Ucapan yang dikeluarkan Hou Seng ini membuat Kaisar kembali mengangguk-angguk dan dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan ini. Hatinya menjadi bimbang dan diapun memandang kepada Pouw Taijin, sinar matanya bertanya bagaimana pendapat menterinya yang terkenal pandai itu.

“Ampunkan hamba, Sribaginda yang mulia. Hambapun mengerti bahwa semua peraturan yang dikeluarkan pemerintah adalah bijaksana dan adil! Akan tetapi, biasanya, yang tidak bijaksana dan tidak adil adalah pelaksanaannya. Para petugas yang melaksanakan peraturan, seringkali menyalahgunakan kebijaksanaan pemerintah dan mempergunakan peraturan-peraturan itu sebagai modal untuk melakukan penindasan dan pemerasan demi kegendutan perut sendiri. Karena itu, betapa pentingnya untuk melakukan pengamatan terhadap para pelaksana atau petugas itu, Sribaginda.

Betapapun baiknya pemerintah dan semua peraturannya, tanpa didukung pelaksanaan yang baik oleh petugas-petugas yang setia dan jujur, maka pemerintahan takkan berhasil. Dan menurut pengamatan hamba, pada saat ini pemerintahan paduka sedang dirong-rong oleh penguasa-penguasa yang berambisi buruk dan saling bertentangan. Pembunuhan-pembunuhan terjadi di kalangan para pejabat tingkat atas. Ada penguasa yang memelihara tukang-tukang pukul untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap saingan-saingannya. Kalau paduka tidak segera mencegahnya, keadaan yang buruk ini dapat berlarut-larut dan semakin memburuk, Sribaginda.”

Kaisar mengerutkan alisnya dan melempar pandang ke arah para menteri yang duduk di dalam ruangan sidang itu.

“Benarkah sampai demikian parah sehingga ada yang saling bunuh di antara para pembantuku?”

“Apa yang dilaporkan oleh Menteri Pouw itu benar, Sribaginda. Baru-baru ini malah Pangeran Cui Muda menjadi korban pembunuhan yang amat kejam, juga semua saksi mata, pengawal, dibunuh oleh pembunuh rahasia.”

“Kami sudah mendengar bahwa pangeran itu tewas oleh perampok di dalam rumah pelesir,” kata kaisar itu.

“Bukan perampok, Sribaginda, karena tidak ada barang yang hilang, melainkan pembunuh bayaran yang diutus oleh seorang saingannya,” kata pula Pouw Teng Ki.

Kaisar menggeleng-geleng kepala dengan alis berkerut dan pada saat itu, Hou Seng segera berkata,

“Urusan itu adalah urusan yang menyangkut keamanan dari menjadi bagian dan tugas Coa Tai-ciangkun yang menjadi kepala bagian keamanan untuk menyelidiki dan mengurusnya, Sribaginda. Dan Coa Tai-ciangkun juga hadir, kenapa paduka tidak menyerahkan saja kepadanya?”

Kaisar lalu menoleh ke kiri dan memandang kepada seorang panglima tinggi besar bermuka hitam

“Bagaimana pendapatmu dalam urusan ini, Coa-ciangkun?”

Panglima tinggi besar itu memberi hormat dan terdengar suaranya yang berat dan dalam, sesuai dengan bentuk tubuhnya.

“Tadinya memang hamba mengira bahwa pembunuhan atas diri Pangeran Muda itu merupakan perampokan, akan tetapi kemudian menurut penyelidikan, pembunuhan itu dilakukan orang karena dendam sakit hati urusan perempuan, Sribaginda. Pembunuhnya berkepandaian tinggi dan tidak meninggalkan jejak, namun hamba masih terus mengutus pembantu-pembantu yang pandai untuk mencari jejaknya.”

Kaisar mengangguk-angguk lega.
“Bagus kalau begitu, Coa-ciangkun dan selanjutnya atur dan jagalah agar keadaan tetap aman.”

“Selama ini keamanan dalam kota raja sudah terjaga dengan baik, Sribaginda. Keadaan para penghuni dan kehidupan mereka sehari-hari berjalan seperti biasa, tidak pernah ada gangguan, kecuali pencuri kecil-kecilan yang tidak berarti. Kalau ada orang merasa tidak aman di kota raja, berarti bahwa dia menyimpan kesalahan sehingga merasa tidak sedap makan tidak nyenyak tidur.”

Nampak beberapa orang pembesar tinggi menahan tawa dan tersenyum-senyum, sedangkan Hou Seng sendiri tidak menyembunyikan senyumnya yang lebar dan dengan pandang mata penuh ejekan dia memandang ke arah Pouw Tong Ki. Pouw Tong Ki dan mereka yang menentang Hou Seng tak mampu berkata apa-apa lagi dan merasa ditertawakan. Mereka tahu bahwa panglima she Coa itu sudah dirangkul oleh Hou Seng dan tentu saja membelanya!

Ketika persidangan itu bubaran, Pouw Tong Ki menyusul Hou Seng yang melangkah menuju ke keretanya.

“Hou Taijin, saya mau bicara sebentar!” katanya dengan muka merah karena mendongkol.

Hou Seng menoleh dan melihat betapa Pouw Tong Ki melangkah lebar menghampirinya, dia tersenyum mengejek. Dua orang pengawalnya siap di belakangnya dan dia tidak takut terhadap lawan ini.

“Ah, kiranya Pouw Taijin. Ada apakah?”

“Hou Taijin, di depan Sribaginda saya telah gagal. Akan tetapi, demi perikemanusiaan, hentikanlah pembunuhan-pembunuhan itu! Kalau engkau hendak bersaing, lakukanlah dengan patut dan bersih, bukan dengan menggunakan tangan pembunuh-pembunuh bayaran! Engkaulah yang menyuruh bunuh Pangeran Cui Muda!”

Hou Seng mamandang dengan mata melotot.
“Tutup mulutmu yang lancang itu, orang she Pouw! Engkau melakukan fitnah keji dan aku tidak sudi bicara lagi denganmu!”

Dengan marah Hou Seng melangkah lebar memasuki keretanya yang segera pergi meninggalkan halaman istana.

“Aihh, engkau telah menanamkan bibit racun yang akan tumbuh mekar dan berbahaya bagimu sendiri, kawan,” kata seorang menteri tua yang kebetulan melihat peristiwa itu.

Akan tetapi Pouw Tong Ki menggerakkan pundaknya dan pergi, sedikitpun tidak merasa takut akan bayangan itu. Diapun bukan tidak tahu bahwa sikapnya terhadap Hou Seng dan pelaporannya terhadap peristiwa pembunuhan-pembunuhan itu di depan kaisar merupakan suatu tantangan terbuka kepada Hou Seng, dan bahwa akibatnya dia akan dimusuhi oleh pembesar yang sedang mabok kekuasaan itu.

Mungkin dia akan terancam bahaya, akan tetapi betapapun juga, dia sudah mengeluarkan segala rasa penasaran dalam hatinya. Dia telah memberi contoh kepada para pembesar lainnya untuk secara berterang menentang Hou Seng, dan hatinya merasa lega walaupun dia tahu bahwa semua usahanya tadi tidak berhasil. Dengan cerdiknya Hou Seng telah bersembunvi di belakang Coa-ciangkun yan memang sebagai kepala bagian keamanan paling berkuasa untuk menentukan urusan keamanan, dan Hou Seng telah lebih dahulu merebut Coa-ciangkun untuk berpihak kepadanya!

Sayang sekali bahwa Pouw Tong Ki termasuk orang yang memiliki keangkuhan. Biarpun dia tahu bahwa nyawanya terancam, namun dia tidak takut dan sama sekali tidak mau membicarakan urusan itu dengan Bu-beng Lo-kai karena dia tidak mau memperoleh kesan seolah-olah dia minta perlindungan kakek sakti itu! Tidak, dia tidak akan menyeret orang lain ke dalam urusannya itu. Akan dihadapinya sendiri dan dia tidak takut! Pouw Tong Ki memang bukan orang lemah karena dia juga pernah belajar silat sampai tingkat yang lumayan sehingga dia pernah menjadi seorang perwira tinggi.

Dan peringatan menteri tua ketika dia menyerang Hou Seng dengan kata-kata itupun bukan hanya omong kosong belaka. Bibit racun itu memang tumbuh, dan betapa cepatnya! Memang Hou Seng membawa pulang perasaan marahnya terhadap Pouw Tong Ki. Di sepanjang perjalanan ke rumahnya, dia mengepal tinju dan berkali-kali memukul telapak tangan kirinya sendiri, seolah-olah Pouw Tong Ki yang dianggapnya musuh besar itu berada di atas telapak tangan itu. Dan begitu tiba di rumah, dia menjadi gelisah, menimbang-nimbang dan merencanakan apa yang akan dilakukannya terhadap Pouw Tong Ki. Orang she Pouw itu jelas merupakan musuhnya, orang yang membencinya dan berusaha memburukkan namanya di depan kaisar.

Malam itu, Pouw Tong Ki tidur agak malam dari biasanya. Sore tadi sampai jauh malam, ia bercakap-cakap dengan Bu-beng Lo-kai dan dengan susah payah dia membujuk kakek itu untuk tinggal lebih lama lagi di dalam gedungnya.

“Terima kasih atas segala kebaikan Taijin,” kakek itu membantah. “Akan tetapi, kami sudah biasa hidup bebas merantau di dunia ini, dan kami tidak ingin membikin repot taijin lebih lama dari pada waktu yang dijanjikan....”

“Ah, locianpwe tentu maklum bahwa tentang janji dan hukuman itu hanya main-main saja dari kami. Biarpun sudah sebulan locianpwe dan nona Suma berada di sini, akan tetapi kami sekeluarga sudah menganggap ji-wi seperti keluarga sendiri. Terutama sekali Li Sian, bagaimana mungkin ia ditinggalkan nona Suma? Locianpwe melihat betapa akrab hubungan antara dua orang anak itu. Betapa Li Sian akan berduka dan merana kalau ditinggalkan.”

“Kalau begitu, biarkan ia ikut merantau dengan kami!” Bu-beng Lo-kai berkata. “Suma Lian sudah berkali-kali membujukku, juga nona Pouw sudah berulang kali minta agar ia kami bawa serta kalau kami terpaksa meninggalkan rumah ini.”

“Membiarkan ia merantau....?”

Mata pembesar itu terbelalak dan dia membayangkan betapa anak perempuannya yang satu-satunya itu melakukan perjalanan jauh bersama kedua orang ini, memakai pakaian seperti pengemis! Makan dari sumbangan orang, dan siapa tahu mungkin harus mencuri makanan!

Sukar baginya dapat menerima bayangan ini. Dia seorang bangsawan! Seorang menteri! Dan dia membayangkan isterinya. Betapa akan berat hati ibu itu kalau ditinggalkan oleh puteri satu-satunya, apa lagi ditinggal merantau tak tentu tempat tujuannya. Isterinya pasti berkeberatan dan menentangnya.

Bu-beng Lo-kai tersenyum.
“Tentu berat bagi taijin, akan tetapi demikianlah keinginan puteri taijin, juga menjadi keinginan Suma Lian dan saya sendiri. Puteri taijin berbakat baik sekali dalam ilmu silat.”

“Wah, saya menjadi bingung, locianpwe.... berilah saya waktu untuk memikirkan hal ini sampai besok. Harus saya rundingkan dulu dengan isteri saya”.

Kembali kakek itu tersenyum.
“Segala keputusan harus dilakukan tanpa ragu-ragu, taijin. Oleh karena itu, besok pagi-pagi sekali kami akan pergi, dan keputusannya hanyalah, puteri taijin ikut bersama kami atau tidak. Saya harap besok sebelum kami pergi, taijin sudah mengambil keputusan yang pasti.”

Demikianlah, dengan hati berat Pouw Tong Ki membicarakan urusan anak perempuan mereka itu dengan isterinya.

Suling Naga