Ads

Sabtu, 23 Januari 2016

Suling Naga Jilid 094

Ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki pintu gerbang kota raja, nampaknya semua berjalan biasa saja dan keadaan di kota raja juga tetap ramai dan tenang. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka sudah diintai dau dibayangi sejak mereka tiba di pintu gerbang! Bhok Gun dan Bi-kwi, dua orang yang kini bertugas memimpin pasukan berpakaian preman yang melakukan pembersihan sampai di mana-mana, bagaikan dua orang yang hendak menjala ikan, melihat dari jauh betapa Sim Houw dan Bi Lan memasuki kota raja seperti ikan-ikan kakap memasuki jaring yang mereka pasang!

Mereka tidak mau turun tangan ketika melihat dua orang muda ini, khawatir kalau sampai dua orang itu dapat meloloskan diri. Maka, mereka hanya menyuruh anak buah membayangi dari jauh segala gerak-gerik dua orang itu, sedangkan mereka sendiri membuat laporan kepada Kim Hwa Nio-nio dan membuat persiapan. Kim Hwa Nio-nio menjadi girang sekali mendengar bahwa orang yang kini menguasai Liong-siauw-kiam telah datang ke kota raja. Ia harus merampas kembali pusaka yang dulu menjadi milik gurunya itu. Ialah yang berhak memiliki pusaka itu, bukan orang lain.

Sim Houw dan Bi Lan melihat bahwa keadaan di kota raja nampak tenang saja, masih ramai dan biarpun hari telah senja, masih banyak toko yang buka dan banyak pula orang yang berlalu lalang memenuhi jalan-jalan raya. Demikian banyaknya orang di kota raja sehingga diam-diam Bi Lan yang selamanya baru sekali itu berkunjung ke kota besar yang ramai itu, menjadi bingung ke mana ia harus mencari Sai-cu Lama yang merampas Ban-tok-kiam itu.

“Wah, ke mana kita harus mencari dia di tempat sebesar dan seramai ini?” katanya lirih ketika mereka berjalan-jalan di sepanjang toko-toko itu.

“Hari telah hampir malam. Kita perlu beristirahat dulu. Besok kita melakukan penyelidikan, ke kuil-kuil karena barang kali ada hwesio yang mengenal pendeta Lama itu. Atau ke pasar-pasar, ke tempat-tempat umum. Mari kita mencari rumah penginapan.”

Bi Lan yang belum berpengalaman dalam hal ini, hanya menurut saja dan mengikuti kawannya. Mereka memasuki sebuah rumah penginapan dan Sim Houw minta disediakan dua buah kamar. Setelah mereka diantar ke kamar masing-masing, Bi Lan segera menyatakan keheranannya.

“Sim-toako, selama dalam perjalanan kita bersama, kita bermalam di dalam kuil-kuil tua, di dalam hutan bawah pohon-pohon, selalu kita berada dalam satu ruangan, tidur dalam satu ruangan. Akan tetapi sekarang, di tempat ini, kenapa mendadak engkau minta disediakan dua kamar dan kita tiduk terpisah? Mengapa?”






Sim Houw tersenyum, terharu melihat kepolosan hati gadis ini. Dia tahu bahwa sejak kecil Bi Lan hidup seperti liar, jauh dari masyarakat umum, jauh dari apa yang oleh masyarakat disebut sebagai kesopanan atau tata-susila. Karena itu maka Bi Lan dapat mengajukan pertanyaan dan demikian terbuka dan polos.

“Lan-moi, agaknya masih banyak yang tidak kau ketahui tentang kehidupan bermasyarakat, kehidupan yang sudah penuh dengan peraturan-peraturan umum, dengan kesopanan dan tata-susila, dengan kebudayaan dan peradaban. Ada garis pemisah antara pria dan wanita di semua bidang, terutama kamar tidur. Hanya suami isteri saja yang tidur di satu ruangan, Lan-moi. Di dalam kehidupan ramai ini, segalanya ada aturannya.

Berpakaiaupun harus diatur, bahkan cara makan, cara kita bicara, apa lagi bagi wanita, ditentukan oleh peraturan-peraturan. Contohnya, kalau makan kita tidak boleh nongkrong seenaknya, harus duduk dengan sopan dan bahkan ketika kita mengunyah makananpun ada aturannya. Tidak boleh tergesa-gesa memperlihatkan kelahapan, dan tidak boleh sampai mengeluarkan bunyi, sedikit demi sedikit, terutama wanita. Tertawapun bagi wanita ada aturannya, mulut harus ditutup tangan, dan sedapat mungkin jangan sampai terdengar gelak tawa.”

“Hayaaa.... repot benar kalau begitu!”

“Memang merepotkan sekali. Akan tetapi umum sudah menentukun demikian dan siapa melanggar ketentuan umum ini dianggap tidak sopan, tidak tahu aturan, bahkan bisa saja dianggap gila!”

“Wah, merekalah yang gila kalau begitu“

“Memang. Akan tetapi betapa gilapun, kalau umum, menjadi baik, Lan-moi. Kehidupan di masyarakat ramai memang sudah menjadi tidak wajar lagi, penuh dengan kepalsuan. Dan kita, kalau sudah hidup di dalam masyarakat ramai, mau tidak mau harus ikut-ikutan karena kalau tidak kita dicap sebagai orang yang tidak tahu aturan, tidak sopan, atau bahkan gila!”

Apa yang dikatakan oleh Sim Houw itu, betapapun pahitnya, adalah suatu kenyataan yang tak dapat kita bantah lagi kalau kita mau membuka mata. Akan tetapi kita harus waspada dan membuka mata penuh perhatian, karena kalau tidak, kita tidak akan dapat melihat itu semua, karena sejak kecil kita sudah hanyut di dalamnnya. Kita sudah menjadi bagian dari tata-cara yang palsu itu, kitalah yang membentuk kepalsuan-kepalsuan itu, yang menjadikan kita ini orang-orang munafik. Betapapun janggalnya, kalau sudah menjadi kebiasaan, nampaknya wajar dan normal saja karena kebiasaan ini membentuk watak kita.

Peraturan-peraturan dan pandangan-pandangan umum, termasuk kita sendiri, sudah menjadi sifat kehidupan kita. Kita hidup tidak menurutkan kata hati lagi, tidak menurutkan kebutuhan badan lagi, melainkan kita harus menyesuaikan hidup kita dengan peraturan-peraturan dan pandangan-pandangan umum. Bahkan agar dianggap “umum” kalau perlu kita menyiksa hati dan badan. Kita berlumba untuk memperoleh penghormatan dan penghargaan umum, kalau perlu dengan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan hati dan badan kita sendiri, bahkan kalau perlu menyiksa diri sendiri.

Banyak sekali nampak kenyataan-kenyataan ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Cara kita berpakaian, yang didahulukan adalah kesopanan menurut pendapat dan peraturan umum. Kalau umum menghendaki bahwa yang dianggap sopan adalah berjas dan dasi, maka kita akan memakainya, walaupun badan merasa tersiksa karena panas dan gerahnya. Akan tetapi peraturan umum ini berubah-ubah, dan selalu kita mengikutinya dengan membuta.

Biarpun hati kita sedang menangis, mulut kita senyum-senyum, hanya untuk menuruti kesopanan umum itulah. Cara kita menghormat dan menghargai orang sudah ditentukan oleh keadaan lahir belaka. Penghormatan dan penghargaan bukan lagi menjadi urusan hati, melainkan urusan lahir, untuk pameran belaka. Kita sudah tak mungkin hidup wajar lagi di masyarakat ramai ini, karena kewajaran seperti yang diperlihatkan Bi Lan, berarti pelanggaran norma-norma susila yang sudah kita tentukan, kita yang dalam hal ini berarti umum.

Setelah mendapat penjelasan dari Sim Houw Bi Lan dapat mengerti terpaksa iapun tidur dalam kamar sendiri. Setelah makan malam di restoran sebelah, mereka berdua lalu beristirahat di kamar masing-masing. Justeru karena tidur terpisah inilah maka malapetaka terjadi! Biasanya, kalau mereka tidur di kuil-kuil kosong atau di dalam hutan, mereka berjaga dengan bergilir. Kini, setelah tidur dalam kamar masing-masing, dengan jendela dan pintu terkunci, mereka merasa aman dan keduanya melepaskan lelah dan tidur.

Hujan yang turun rintik-rintik malam itu membuat Bi Lan tidur nyenyak. Tubuhnya yang lelah membuat ia tidur enak sekali sehingga ia tidak tahu bahwa ada beberapa orang mendekati kamarnya ke arah jendela. Ketika itu menjelang tengah malam, semua tamu sudah tidur nyenyak dan suasana sunyi sekali. Hanya rintik hujan di atas genteng yang terdengar seperti musik yang aneh namun mengasyikkan.

Ketika daun jendela kamar dijebol orang dan beberapa bayangan berloncatan masuk, barulah Bi Lan terkejut. Sebagai seorang gadis yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, begitu terbangun, semua urat syaraf dan otot di dalam tubuhnya sudah siap siaga dan begitu ada orang menubruk ke arah dirinya di atas tempat tidur, disambutnya tubrukan orang itu dengan sebuah tendangan kilat.

“Brukkk....!”

Orang yang menubruknya itu, seorang laki-laki tinggi tegap, terkena tendangan pada dadanya sehingga terlempar dan terbanting jatuh di atas lantai. Bi Lan cepat meloncat bangun dan terkejutlah ia ketika melihat bahwa selain beberapa orang yang tidak dikenalnya, di dalam kamar itu telah dikenalnya dengan baik, yaitu Bi-kwi dan Bhok Gun! Marahlah Bi Lan karena ia maklum bahwa dua orang itu muncul tentu dengan niat hati yang buruk dan kotor.

“Manusia-manusia jahat, pergilah!” Ia membentak dan ia sudah menerjang ke depan, menyerang Bhok Gun. Orang ini meloncat ke samping sambil menangkis dan mengejek,

“Nona manis, lebih baik menyerah sajalah!”

Akan tetapi, dengan marah Bi Lan menyerang terus, dan sekali ini serangannya ditujukan kepada Bi-kwi yang sudah menghadang di depannya. Bi-kwi menangkis dan Bhok Gun sudah menubruk dari samping, bermaksud untuk menotok pundak Bi Lan. Namun gadis ini dapat miringkan tubuh mengelak sambil mencuatkan kakinya menendang ke arah pusar laki-laki itu. Cepat dan kuat tendangannya itu, dan hampir saja mengenai sasaran.

Akan tetapi Bhok Gun melempar tubuh ke belakang sehingga lolos dari tendangan yang berbahava itu. Pada saat itu, muncul Kim Hwa Nio-nio. Ketika tangannya bergerak, bulu-bulu kebutan di tangannya itu menyambar-nyambar. Pada saat itu, Bi Lan sedang sibuk menghadapi serangan Bi-kwi dan Bhok Gun yang mengeroyoknya. Maka ketika nenek itu menerjang dengan kebutannya, ia tidak mampu menghindarkan diri lagi. Jalan darah di punggung dan pundaknya tertotok dan iapun roboh dengan tubuh lemas. Semua ini berjalan dengan amat cepatnya sehingga kedatangan Sim Houw sudah terlambat.

“Brakkkk....!” Daun pintu kamar Bi Lan itu jebol ketika diterjang Sim Houw dari luar.

Pemuda ini tadi mendengar ribut-ribut di kamar sebelah, kamar Bi Lan! Diapun cepat mengenakan sepatu, berlari dan menerjang daun pintu kamar temannya itu. Dan Sim Houw berdiri tertegun ketika melihat dan mengenal Bi-kwi dan Bhok Gun, apa lagi melihat betapa Bi Lan telah diringkus dan seorang nenek yang memegang sebatang kebutan memegang lengan gadis itu dan mengancam kepala gadis itu dengan gagang kebutannya.

“Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian mengganggu kami?”

Sim Houw berkata dengan sikap tenang, matanya berganti-ganti memandang kepada Bi-kwi, Bhok Gun, dan nenek itu.

“Artinya, orang she Sim, bahwa engkau harus mengembalikan Liong-siauw-kiam kepadaku, karena akulah yang berhak atas pusaka itu,” kata si nenek.

“Hemm, siapakah engkau?”

Sim Houw bertanya, alisnya berkerut dan dia membuat perhitungan dengan pandang matanya. Nenek ini tentu lihai sekali dan ancamannya terhadap Bi Lan membuat dia tidak berdaya. Kalau saja Bi Lan tidak diancam seperti itu, tentu dia dapat menerjang dan mengajak gadis itu meloloskan diri dari kepungan. Akan tetapi gadis itu telah ditodong, kalau dia bergerak, tentu nenek itu lebih cepat untuk lebih dulu membunuh Bi Lan.

“Aku adalah Kim Hwa Nio-nio, murid tunggal dari mendiang Pek-bin Lo-sian....“

“Hemmm....!”

Pernyataan ini sungguh mengejutkan hati Sim Houw karena tak pernah disangkanya bahwa dia akan berhadapan dengan murid kakek itu yang dulu memperingatkan dia agar berhati-hati terhadap Sam Kwi, tiga orang murid keponakan kakek itu.

“Hi-hik, kau nampak terkejut, orang muda? Aku adalah muridnya, murid tunggal. Maka engkau tentu mengerti bahwa pedang suling pusaka itu adalah hakku untuk mewarisinya dari suhu, bukan engkau seorang luar. Nah, serahkan pedang pusaka itu kepadaku atau....kebutanku akan menghabiskan nyawa anak perempuan ini!“

“Sim-toako, jangan layani ia! Jangan serahkan pedang pusakamu kepadanya. Biar ia membunuhku, huh, ia takkan berani!”

“Orang she Sim, majulah dan gadis ini akan mampus!” Kim Hwa Nio-nio menempelkan gagang kebutannya pada ubun-ubun kepala Bi Lan. Sekali tekan saja cukup baginya untuk membunuh gadis itu dan hal ini dimaklumi oleh Sim Houw.

“Baiklah, Kim Hwa Nio-nio. Bebaskan gadis itu dan aku akan memberikan Liong-siauw-kiam kepadamu.”

“Jangan, sukouw (bibi guru)! Aku pernah ditipunya. Kalau Siauw-kwi dibebaskan, dia akan menyerahkan pedang akan tetapi segera akan merampasnya kembali! Jangan bebaskan dulu bocah setan itu!” teriak Bi-kwi dan iapun kini mendekati Bi Lan dan mengancam dengan menempelkan pedangnya di punggung Bi Lan.

“Bi-kwi, engkau memang orang yang jahat sekali!” Bi Lan membentak marah.

“Dan engkau seorang murid yang murtad!” Bi-kwi balas memaki.

“Serahkan dulu pedang itu dan kami akan membebaskan gadis ini,” kata pula Kim Hwa Nio-nio dengan penuh gairah karena ia membayangkan bahwa pusaka itu akhirnya akan jatuh ke tangannya. “Cepat, atau aku akan kehabisan sabar dan membunuh anak ini!”

Sim Houw maklum bahwa dengan tertawannya Bi Lan, berarti dia telah kalah.
“Baiklah,” katanya sambil melepaskan tali pengikat sarung pedang itu di pinggangnya.

“Jangan, Sim-toako, engkau akan ditipunya Mereka ini adalah orang-orang yang jahat sekali, yang tidak pantang melakukan segala macam kecurangan. Jangan perdulikan aku, lawan saja dan jangan serahkan pedang!” teriak Bi Lan.

Suling Naga