Ads

Sabtu, 23 Januari 2016

Suling Naga Jilid 095

“Diam kau!” bentak Bi-kwi. “Apa kau ingin mampus?”

“Bi-kwi, kau tahu bahwa aku tidak takut mampus!” Bi Lan balas membentak, matanya melotot, sedikitpun ia tidak merasa takut walaupun ia sudah tidak berdaya.

“Kim Hwa Nio-nio, berjanjilah bahwa engkau akan membebaskan nona Can Bi Lan setelah aku menyerahkan Liong-siauw-kiam kepadamu.”

Bagi seorang datuk sesat seperti Kim Hwa Nio-nio, berjanji merupakan suatu silat lidah atau tipu muslihat saja, maka tanpa ragu-ragu ia pun berjanji,

“Baik, aku berjanji akan membebaskan gadis ini setelah Liong-siauw-kiam kauserahkan kepadaku.”

Biarpun dia belum percaya benar kepada nenek itu, akan tetapi karena keadaan memaksa untuk menyelamatkan Bi Lan, terpaksa Sim Houw melolos pedang dan sarungnya dan menyerahkannya kepada si nenek.

Melihat nenek itu hendak menyambut, cepat Bi-kwi berseru,
“Jangan, sukouw. Suruh seorang anak buah menerimanya.”

Dan iapun cepat menyuruh seorang pengawal menerima pedang itu dari tangan Sim Houw. Memang cerdik sekali Bi-kwi ini. Karena yang menerimanya hanya seorang pengawal biasa, Sim Houw tidak dapat berbuat sesuatu dan terpaksa menyerahkan pedang itu. Pengawal itupun membawanya kepada Kim Hwa Nio-nio yang menerimanya, lalu mencabut pedang itu, tertawa-tawa dan mencium pedang suling naga itu.

“Liong-siauw-kiam...., akhirnya engkau kembali ke pangkuan majikan lama....“ dan nenek itu tertawa-tawa, akan tetapi kedua matanya basah. Ternyata nenek itu sampai mengeluarkan air mata saking girangnya.

“Kim Hwa Nio-nio, sekarang bebaskan nona itu,” kata Sim Houw, sikapnya masih tenang walaupun pedang pusakanya telah dirampas orang.

“Bukan aku yang menangkapnya, mintalah kepada mereka yang menangkapnya untuk membebaskannya,” kata nenek itu dengan sikap acuh.






Hal ini memang sudah dikhawatirkan oleh Sim Houw. Dia memandang dengan muka merah dan membentak,

“Nenek iblis, sungguh bermuka tebal dan tak tahu malu melanggar janji sendiri!”

“Srattt....“

Pedang suling naga itu sudah tercabut oleh Kim Hwa Nio-nio. “Tutup mulutmu yang lancang, orang muda! Yang menawan nona ini bukan aku. Kalau aku yang menawannya sekarang, tentu kubebaskan. Lihat, siapa yang menawannya sekarang?”
Bi-kwi tersenyum mengejek.

“Akulah yang menawannya dan aku tidak berjanji apa-apa kepada orang she Sim ini!”

“Subo, orang ini merupakan bahaya bagi kita. Sebaiknya diapun dibasmi atau ditawan saja!” kata Bhok Gun.

“Sinngg....!”

Tiba-tiba pedang kayu yang berbentuk naga itu menyambar ke arah Bi Lan. Dan berhamburanlah rambut kepada Bi Lan. Tidak kurang dari satu dim panjangnya ujung rambut itu sudah putus oleh sinar Liong-siauw-kiam yang tadi menyambar, diiringi suara ketawa nenek itu, dan dipandang dengan penuh kagum oleh Bi-kwi dan Bhok Gun.

Mereka tak pernah mengira bahwa pedang kayu itu sedemikian hebatnya, dan juga Sim Houw diam-diam terkejut. Dia tahu bahwa nenek itu sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya, dan cara nenek itu mempergunakan pedang suling naga memang luar biasa. Jelas bahwa nenek itu, seperti Pek-bin Lo-sian gurunya, telah mempelajari semacam ilmu tersendiri untuk mempergunakan pedang itu.

“Kalau aku menghendaki, bukan rambutnya melainkan lehernya yang putus, heh-heh!” nenek itu tertawa girang.

Sim Houw maklum bahwa dia telah tertipu. Dia menjadi marah bukan main.
“Keparat, kalian memang orang-orang jahat dan curang!”

Dan diapun menerjang maju dengan tangan kosong saja, menyerang ke arah nenek Kim Hwa Nio-nio! Biarpun hanya bertangan kosong, namun dari kedua tangan pemuda itu menyambar hawa pukulan yang amat hebat, mendatangkan angin yang menyambar dahsyat.

Kim Hwa Nio-nio terkejut, cepat ia menggerakkan kebutannya untuk menangkis kedua serangan dengan dua tangan itu. Bulu-bulu kebutannya yang menjadi kaku karena disaluri tenaga sinkang itu terpental ketika bertemu dengan kedua tangan Sim Houw, akan tetapi pada saat itu, nenek yang lihai ini juga membalas dengan tusukan pedang Liong siauw-kiam yang sudah berada di tangannya, menusuk ke arah leher lawan.

Tusukan ini berbahaya sekali, namun Sim Houw yang memang memancing agar nenek itu menggunakan Liong-siauw-kiam, sudah miringkan tubuh dan tangannya diputar untuk menangkap dan merampas pedangnya!

Pada saat itu, Bhok Gun sudah memyerangnya dari belakang dengan tusukan pedang.
Serangan ini mengganggu pencurahan tenaga dan kecepatan Sim Houw untuk merampas pedang karena dia harus mengelak dari tusukan yang dilakukan Bhok Gun, maka nenek itu dapat menarik kembali Liong-siauw-kiam. Wajah nenek itu agak pucat karena ia tahu bahwa ia telah terpancing mempergunakan pedang itu dan sekiranya muridnya tidak membantu, besar sekali kemungkinannya pusaka itu akan dapat dirampas kembali oleh Pendekar Suling Naga yang memang lihai bukan main ini!

Cepat nenek itu melangkah mundur, menyimpan pedang pusaka di balik jubahnya dan kini iapun maju lagi menyerang dengan menggunakan kebutannya, membantu Bhok Gun yang sudah terdesak hebat oleh Sim Houw. Ketika kebutan itu meledak dan menyerang ke arah kepala, Sim Houw mengakhiri desakannya dengan sebuah tendangan yang mengenai lambung Bhok Gun. Bhok Gun sudah mengerahkan sin-kang melindungi lambungnya, akan tetapi saking kerasnya tendangan, tubuhnya terlempar dan terbanting keras ke atas meja kamar itu, membuatnya nanar!

Kim Hwa Nio-nio berkelahi dengan hebatnya melawan Sim Houw. Pendekar ini merasa betapa kamar itu terlalu sempit, maka diapun meloncat keluar melalui pintu yang tadi diterjangnya. Setelah tiba di ruangan luar kamar, dia telah dikepung oleh para perajurit dan kini Kim Hwa Nio-nio maju lagi bersama Bhak Gun yang sudah dapat memulihkan keadaannya. Dia tidak terluka, hanya terkejut dan agak nanar saja oleh tendangan tadi.

Dan terjadilah pengeroyokan yang amat seru. Biarpun Pendekar Suling Naga sudah kehilangan senjata pusakanya, namun sepak terjangnya masih amat hebat sehingga biarpun dikeroyok dua oleh Kim Hwa Nio-nio dan Bhok Gun, masih dikepung oleh duapuluh lebih perajurit, dia sama sekali tidak nampak terdesak. Bahkan setiap kali ada perajurit berani mencoba-coba untuk membantu nenek itu, perajurit ini tentu roboh oleh tamparan atau tendangan kakinya.

Bhok Gun sendiri agak jerih dan hanya menyerang dari jarak jauh mengambil keuntungan dari pedangnya menghadapi lawan bertangan kosong itu. Hanya Kim Hwa Nio-nio yang berani menyerang pemuda itu dari jarak dekat dan secara bertubi-tubi, dan nenek itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaianrya, karena kalau tidak, keselamatannyapun terancam.

Sim Houw memang menujukan serangan-serangannya kepada nenek ini, untuk merobohkannya dan untuk merampas senjata pusakanya.

Hebat memang sepak terjang Sim Houw, Si Pendekar Suling Naga itu. Lawannya, nenek Kim Nwa Nio-nio adalah seorang yang sakti, mewarisi hampir seluruh kepandaian mendiang Pek-bin Lo-sian, dan dibantu pula oleh muridnya, Bhok Gun yang juga lihai sekali. Guru dan murid itu memegang senjata, akan tetapi Sim Houw yang bertangan kosong dan dikeroyok dua itu sama sekali tidak menjadi terdesak.

Pemuda ini mengamuk seperti seekor naga bermain-main di antara awan hitam di angkasa. Gerakan-gerakannya mantap dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga beberapa kali Bhok Gun terpaksa harus agak menjauh karena angin pukulan lawan teramat kuat.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dari Bikwi.
“Ha-ha, Sim Houw, lihat. Apakah engkau belum juga mau menyerah? Aku akan membunuh Can Bi Lan, menggorok lehernya kalau kau tidak mau menyerah.”

Dengan sudut matanya Sim Houw memandang sambil melayani serangan dua orang pengeroyoknya dan jantunguya hampir berhenti ketika dia melihat betapa Bi-kwi benar-benar telah menempelkan pedangnya yang tajam itu di leher Bi Lan! Pedang yang tajam itu sudah ditekankan dan nampak betapa kulit leher yang putih mulus dan halus itu tertekan mata pedang.

Dia tahu bahwa Bi Lan tertotok, tak mampu mengerahkan tenaga dan sedikit saja pedang itu ditekan, maka kulit dan daging leher itu akan koyak dan tersayat, urat-urat leher akan putus dan nyawa Bi Lan takkan dapat tertolong lagi. Dan diapun tidak berdaya dalam keadaan seperti itu untuk membebaskan Bi Lan dari ancaman pedang Bi-kwi. Tanpa berpikir panjang lagi diapun meloncat jauh ke belakang.

“Tahan dulu!” bentaknya.

Kim Hwa Nio-nio cepat mendekati Bi-kwi. Nenek yang cerdik ini maklum bahwa tentu perhatian lawan kini ditujuknn kepada Bi-kwi yang menodong gadis itu, maka Bi-kwi yang harus dijaganya dan diperkuat kedudukannya.

“Nah, begitu lebih baik, Sim Houw. Menyerahlah, karena engkau telah melawan pasukan pemerintah, berarti bahwa engkau telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah! Kalau engkau menyerah dengan baik-baik, mungkin kami masih akan mempertimbangkan agar hukuman kalian ringan saja,” kata pula Bi-kwi dengan sikap seperti seorang pembesar yang baik hati.

Dalam keadaan negara kalut, memang amat mudah bagi seseorang untuk menjatuhkan fitnah. Apa lagi mereka yang berada dalam kedudukan menang dan berkuasa, dengan mudahnya menjatuhkan fitnah “memberontak” kepada orang-orang yang menjadi musuhnya atau yang tidak disukainya.

“Sim Houw, jangan perdulikan mereka! Serang terus atau kau loloskan diri! Jangan kauperdulikan diriku. Mereka boleh siksa, boleh bunuh, aku tidak takut mati!“ teriak Bi Lan dengan marah sekali.

Akan tetapi, mana mungkin Sim Houw meninggalkan gadis itu begitu saja menjadi tawanan orang-orang yang jahat ini?

“Baiklah, aku menyerah dan jangan ganggu nona Can Bi Lan.” Diapun berdiri dengan lemas.

Bi-kwi lalu menyuruh anak buahnya untuk mengikat kaki tangan Sim Houw dengan rantai baja yang kuat, lalu beramai-ramai mereka membawa Sim Houw dan Bi Lan menuju ke gedung yang menjadi markas Kim Hwa Nio-nio dan para pembantunya.

Para tamu, bahkan pengurus penginapan yang tadi mendengar ribut-ribut dan keluar dari dalam kamar, segera bersembunyi lagi ke kamar masing-masing dengan tubuh gemetar ketika mereka tahu bahwa keributan itu terjadi karena pasukan keamanan kota raja sedang mengadakan “pembersihan” di rumah penginapan itu. Mereka hanya berdoa bahwa pasukan itu tidak akan memasuki kamar mereka untuk melakukan penggeledahan.

Karena kalau hal itu terjadi, andaikata mereka tidak ditangkappun, setidaknya mereka akan kehilangan barang berharga dan uang yang berada di dalam kamar mereka! Hal ini sudah diketahui oleh semua orang. Setiap kali anak buah pasukan keamanan itu melakukan penggeledahan, tentu kesempatan itu mereka pergunakan untuk mengambil barang-barang berharga dan uang orang yang sedang digeledah tanpa orang itu mampu memprotes.

Tidak ditahanpun sudah untung, maka orang-orang yang diambil barang-barangnya itu merasa lebih aman tutup mulut saja. Bukan hanya barang berharga yang diganggu, juga kalau ada wanita muda dan bersih, tentu tidak akan terbebas dari gangguan tangan-tangan jail para anak buah pasukan itu. Karena itu, setiap kali ada pembersihan, rakyat sudah gemetar ketakutan.

Akan tetapi sekali ini, agaknya para pimpinan itu sudah puas ketika dapat menangkap Sim Houw dan Bi Lan. Terutama sekali Kim Hwa Nio-nio sudah puas dan girang karena berhasil mendapatkan kembali pusaka yang pernah oleh gurunya diberikan kepada orang lain. Pergilah pasukan itu membawa dua orang lawanannya ke gedung besar itu dan kedua orang tawanan ini dijebloskan ke dalam kamar tahanan yang kuat dan terjaga ketat, dan kaki tangan mereka masih dibelenggu, tubuh mereka ditotok pula!

**** 095 ****
Suling Naga