Ads

Sabtu, 23 Januari 2016

Suling Naga Jilid 096

Pemuda yang memasuki rumah makan dengan langkah yang tegap dan tenang itu usianya paling banyak duapuluh tahun. Tubuhnya tinggi besar, kulit mukanya agak kehitaman seperti muka yang sering kali tertimpa panas matahari. Namun wajah itu gagah dan bentuknya tampan, sepasang matanya memandang lurus dan tajam, penuh keberanian dan kejujuran, akan tetapi juga mengandung bayangan hati keras. Pemuda ini membawa sebuah buntalan pakaian dan jubahnya yang lebar panjang menutupi apa yang tersembunyi di ikat pinggangnya. Dia segera menghampiri sebuah meja yang masih kosong di sudut dan dari situ dia dapat memandang ke seluruh ruangan rumah makan itu yang telah diisi oleh belasan orang tamu yang makan siang di tempat itu.

Pemuda itu adalah Cu Kun Tek, pendekar muda dari Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya itu. Seperti kita ketahui, pemuda ini menderita kecewa karena cintanya ditolak oleh Bi Lan, bahkan dia dicemooh. Salahnya sendiri. Dia telah bersikap tolol sekali terhadap Bi Lan, sikap yang tentu menyakitkan hati gadis itu. Dan dia menyalahkan dirinya sendiri menghadapi penolakan Bi Lan. Hatinya terasa sakit dan kesepian setelah dia melakukan perjalanan seorang diri, tanpa gadis itu. Dia pergi meninggalkan lembah untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Siapa kira, di tempat itu dia malah jatuh cinta dan sekaligus patah hati karena cinta gagal!

Tiba-tiba dia melihat ada seorang pemuda masuk ke dalam restoran itu dan jantungnya berdebar keras ketika dia menpenal pemuda itu. Pemuda yang pernah menyerangnya mati-matian karena cemburu melihat hubungannya dengan Bi Lan! Pemuda yang gagah perkasa dan lihai bernama Gu Hong Beng, yang agaknya juga jatuh cinta kepada Bi Lan dan ditolak oleh gadis itu. Diam-diam Kun Tek tersenyum dalam hati. Senyum pahit.

Pemuda yang baru masuk ini mengalami nasib yang sama dengan dia. Sama-sama ditolak cintanya oleh Bi Lan, sama-sama patah hati.

Di lain pihak, Hong Beng juga melihat dan mengenal Kun Tek. Hatinya berdebar dan diapun merasa tidak enak sekali. Bukan hanya karena dia menganggap Kun Tek sebagai seorang saingan, akan tetapi karena dia pernah menyerang pemuda itu secara membabi buta karena cemburu. Peristiwa itulah yang membuat dia merasa malu sekali dan dia pura-pura tidak melihat Kun Tek, menghampiri meja di sudut lain yang menghadap ke luar sehingga meja Kun Tek berada di seberang kirinya. Dengan demikian, dia tidak usah berhadapan langsung dengan pemuda itu yang agaknya saling mencinta dengan Bi Lan!

Melihat sikap Hong Beng, Kun Tek juga diam saja. Diapun merasa tidak enak hati. Kini dia dapat membayangkan betapa sakit rasa hati Hong Beng ketika itu, ketika melihat gadis yang dicintanya itu diraba-raba kulit pinggangnya oleh seorang pemuda lain! Dia dapat mengerti akan kemarahan Hong Beng yang langsung menyerangnya seperti orang mabok itu.






Dan kini, dia sendiri dapat merasakan betapa sakitnya hati menderita cinta yang gagal, cinta yang hanya bertepuk tangan sebelah. Dan perasaan senasib sependeritaan membuat Kun Tek memandang ke arah Hong Ben dengan sinar mata akrab dan bersahahat, berbeda dengan sikap Hong Beng yang merasa tidak enak dan biarpun hanya bersisa sedikit, masih ada perasaan iri terhadap pemuda yang dianggapnya menjadi pilihan hati Bi Lan itu.

Kebetulan sekali, kedua orang pemuda itu, tanpa disengaja, memesan makanan yang sama, yaitu bakmi goreng, bebek panggang dan arak! Hong Beng sebagai orang yang berasal dari selatan, lebih biasa makan nasi dan memesan nasi, sedangkan Kun Tek tidak, cukup dengan bakmi.

Mereka berdua makan tanpa saling tegur atau lirik dan makanan mereka hampir habis ketika tiba-tiba restoran itu ramai dikunjungi banyak orang. Akan tetapi, dua orang pemuda itu melihat betapa para pengurus rumah makan itu menjadi pucat ketakutan dan mereka itu berkelompok di belakang meja pemilik restoran dengan tubuh gemetar. Juga para tamu lain memandang dengan ketakutan ke arah orang-orang yang baru saja tiba itu.

Ketika Kun Tek dan Hong Beng memandang ke luar, mereka berduapun terkejut. Mereka mengenal siapa adanya wanita cantik dan pemuda tampan yang memimpin rombongan orang itu. Hong Beng sudah mengenal Bhok Gun dan Bi-kwi, pernah bentrok dengan mereka ketika dia menolong Bi Lan. Juga Kun Tek pernah menolong Bi Lan dari tangan Bhok Gun, maka kedua orang pemuda itu diam-diam bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Bhok Gun dan Bi-kwi menyapu ruangan rumah makan itu dengan pandang mata mereka penuh selidik. Akhirnya mereka melihat Hong Beng dan Kun Tek.

Tentu saja mereka terkejut dan sekali melihat Kun Tek yang pernah menolong Bi Lan dari tangannya, Bhok Gun sudah marah. Sambil menunjuk ke arah pemuda itu, dia memerintahkan anak buahnya yang berjumlah duapuluh empat orang.

“Tangkap bocah itu. Dan kalau dia melawan, keroyok dan bunuh saja!”

Bagaikan anjing-anjing pemburu yang sudah terlatih baik, duapuluh orang lebih itu menyerbu ke dalam ruangan itu. Meja kursi yang menghalang di tengah jalan mereka tendang dan singkirkan sehingga sebentar saja tempat itu menjadi porak poranda. Para tamu lain sudah bangkit berdiri dan dengan wajah ketakutan menyingkir ke pinggir, berkelompok bersama dengan pemilik dan para pelayan restoran. Yang masih tetap duduk hanya Hong Beng dan Kun Tek. Kun Tek kelihatan tenang saja ketika banyak orang itu menghampiri dan mengepungnya.

“Orang muda, menyerahlah untuk kami tawan, dari pada kami harus mempergunakan kekerasan!” bentak seorang pengawal yang bermuka kasar penuh bopeng (cacar).

Kun Tek menghirup arak yang masih tertinggal di dalam cawannya, lalu bangkit berdiri dan melempar cawan kosong ke atas meja.

“Aku tidak bersalah, maka aku tidak sudi menyerah kepada anjing-anjing serigala!” bentaknya sambil menyambar buntalan pakaiannya dan dengan sikap tenang dia mengikatkan buntalan pakaian itu di punggung, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah-olah dia tidak sedang diancam dan dikepung oleh banyak lawan.

Mendengar ucapan itu dan melihat sikap pemuda yang amat memandang rendah mereka, para perajurit keamanan itu menjadi marah sekali. Mereka ini menjadi semakin tinggi hati saja setelah menjadi anak buah yang dipimpin oleh Bi-kwi dan Bhok Gun, karena mereka maklum betapa saktinya dua orang pimpinan mereka dan betapa mereka tidak pernah gagal menangkap orang.

Dalam setiap pembersihan, selalu mereka berhasil baik dan mereka pulang dengan semua kantung di baju mereka penuh barang berharga. Si muka bopeng yang memandang rendah pemuda di depannya itu, memberi isyarat dan bersama tiga orang kawan lain, mereka menubruk maju hendak menangkep Kun Tek.

Akan tetapi, pemuda ini menggeser kakinya, kedua tangannya menyambar mangkok dan cawan, kakinya menendang meja. Meja itu terlempar dan menghantam dua orang di antara empat pengeroyok itu, sedangkan yang dua orang lagi, termasuk si muka bopeng, kena dihantam mangkok dan cawan muka mereka.

Empat orang itu mengaduh-aduh dan terjengkang, si muka bopeng yang disambar mangkok mukanya itu berdarah dan membuat mukanya semakin buruk lagi. Kalau sudah sembuh luka karena tertusuk pecahan mangkok itu, tentu cacat mukanya yang bopeng itu bertambah!

Melihat ini, kawan-kawan empat orang itu menjadi marah dan merekapun menerjang maju mengeroyok Kun Tek. Tiba-tiba berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Hong Beng sudah menerjang masuk ke dalam arena perkelahian itu.

“Maafkan, aku terpaksa mencampuri, sobat. Mari kita basmi anjing-anjing busuk ini!”

Mendengar ucapan Hong Beng, Kun Tek merasa girang sekali. Dia tidak membutuhkan bantuan, akan tetapi bantuan dari Hong Beng ini menunjukkan bahwa Hong Beng sudah melupakan semua hal yang pernah terjadi dan tidak lagi marah kepadanya.

“Terima kasih, bantuanmu kuhargai sekali!” katanya dan dengan gembira diapun mengamuk dengan kedua tangan telanjang saja.

Tentu saja duapuluh lebih orang-orang ini bukan lawan tangguh dan mereka segera kocar-kacir oleh pengamukan kedua orang pemuda perkasa. Bhok Gun dan Bi-kwi segera memasuki gelanggang perkelahian dan keduanya sudah menggunakan pedang mereka, menerjang Kun Tek dan Hong Beng.

Kun Tek dan Hong Beng melayani mereka dengan kelincahan gerakan mereka. Hanya dengan tangan kosong, kadang-kadang menyambar pecahan meja atau kaki kursi, mereka berdua bukan hanya mampu menangkis semua serangan lawan, bahkan mampu membalas dengan tidak kalah berbahayanya. Kun Tek yang menghadapi Bhok Gun bahkan tidak merasa perlu mengeluarkan pedangnya, pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang oleh ayahnya sudah dipesan agar tidak sembarangan dikeluarkan kalau tidak terpaksa sekali.

Hong Beng yang sudah melakukan penyelidikan di kota raja dan maklum bahwa dia dan pemuda tinggi besar itu menghadapi pasukan yang melakukan pembersihan, pasukan pemerintah yang entah bagaimana kini bisa dikuasai oleh orang-orang macam Bi-kwi dan Bhok Gun lalu cepat berkata kepada Kun Tek,

“Sobat, mari kita pergi!”

“Kenapa harus pergi? Aku tidak takut akan pengeroyokan mereka!” Kun Tek membantah, merasa penasaran karena mereka berdua sama sekali tidak terdesak.

“Orang-orang ini adalah pasukan pemerintah, tidak baik melawan mereka. Nanti kuceritakan. Percayalah, mari kita pergi!” kata pula Hong Beng dan diapun meloncat keluar dari arena pertempuran. Kun Tek meloncat ke kiri, merobohkan seorang perajurit dan diapun lari mengikuti Hong Beng. Dengan cepat kedua orang pemuda itu melarikan diri, dikejar oleh pasukan itu.

Karena anak buah pasukan mengejar dengan kacau balau, maka gerakan Bi-kwi dan Bhok Gun yang hendak melakukan pengejaran malah terhalang oleh anak buah mereka sendiri. Bi-kwi dau Bhok Gun merasa mendongkol dan marah sekali, juga kecewa. Mereka segera melapor kepada Kim Hwa Nio-nio dan itulah sebabnya mengapa kini mereka bergerak lebih hati-hati. Mereka tahu bahwa banyak orang pandai memasuki kota raja dan mereka tidak berani bertindak secara sembrono.

Dan itulah pula sebabnya ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki kota raja beberapa hari kemudian, mereka tidak tergesa-gesa turun tangan dan menarik bantuan Kim Hwa Nio-nio sendiri untuk turun tangan, dan lebih menggunakan akal licik dari pada kepandaian mereka.

Hong Beng terus melarikan diri diikuti oleh Kun Tek sampai mereka merasa aman, berbaur dengan orang-orang yang memenuhi jalan raya dan berlalu lalang. Hong Beng lalu mengajak Kun Tek menuju ke sebuah kuil tua. Semenjak kembali dari Pao-teng mengunjungi Kao Cin Liong, oleh bekas panglima itu dia diberi tahu agar kalau berada di kota raja, dia bermalam atau bersembunyi di kuil itu.

Ketua kuil itu, seorang hwesio yang usianya sudah enampuluh tahun lebih dan kini tinggal di situ bersama dua orang hwesio tua lainnya, adalah seorang, sahabat dari pendekar Kao Cin Liong. Dan kini Hong Beng bermalam di situ, diterima baik oleh tiga orang hwesio itu ketika dia menyebutkan nama Kao Cin Liong sebagai paman gurunya. Dengan aman kini kedua orang muda itu memasuki kuil dan Hong Beng langsung membawa kawannya itu ke dalam ruangan yang kecil di belakang kuil.

“Nah, di sini kita boleh bicara dengan aman,” kata Hong Beng-sambil memandang wajah Kun Tek.

Kun Tek sejak tadi memperhatikan tempat itu dan mengangguk.
“Engkau pandai memilih tempat sembunyi, kawan,”

“Sebelum kita bicara, ingin aku lebih dulu mengeluarkan perasaan tidak enak di dalam hatiku. Aku ingin.... minta maaf kepadamu atas peristiwa yang terjadi dalam pertemuan kita yang lalu. Maafkan atas kebodohanku, karena cemburu merupakan suatu kebodohan besar, bukan? Maafkan aku.”

Kun Tek tersenyum.
“Sudah lama aku memaafkanmu, sobat. Dan kalau dulu aku masih merasa penasaran, karena belum tahu, kini aku memaklumi perbuatanmu itu. Aku tahu apa artinya patah hati, betapa pahitnya cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan.”

Hong Beng memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik ke arah wajah Kun Tek.

“Kau maksudkan.... kau.... dan Bi Lan....?”

Kun Tek mengangguk.
“Kita senasib, kawan. Agar kauketahui saja dan agar engkau tidak menyimpan iri atau cemburu kepadaku. Seperti juga engkau, cintaku ditolak. Nah, kita berdua ini sama-sama dua ekor keledai jantan yang tolol, bukan?”

Hong Beng melebarkan matanya, kemudian dia memegang lengan Kun Tek.
“Ah, maafkan aku! Engkau seorang laki-laki sejati. Nah, aku Gu Hong Beng sudah lama kagum kepadamu, sobat.”

“Dan akupun kagum kepadamu. Namaku Cu Kun Tek.”

“Ketika kita bertempur, engkau menggunakan sebatang pedang yang hebat. Kenapa tadi tidak kau pergunakan?”

Kun Tek menepuk pinggangnya di mana pedang itu tergantung, terlindung oleh jubahnya yang panjang.

“Ayahku berpesan agar kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak boleh mempergunakan pusaka keluarga kami ini. Dulu ketika melawanmu, aku terpaksa. Engkau lihai bukan main dan agaknya engkau memiliki ilmu-ilmu dari Pulau Es.”

Hong Beng mengangguk, tanpa merasa bangga.
“Aku hanya menguasai sedikit saja dari ilmu-ilmu keluarga Pulau Es walaupun suhuku adalah seorang anggauta keluarga para pendekar Pulau Es. Akan tetapi ilmu pedangmu hebat bukan main.”

“Ah, ilmu keluarga kami belum apa-apa kalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu dari Pulau Es. Nah, setelah kita menjadi sahahat, ceritakanlah mengapa engkau mengajak aku melarikan diri tadi, padahal kita belum tentu kalah kalau pertempuran itu dilanjutkan.”

“Ketahuilah, Kun Tek, bahwa wanita tadi adalah Bi-kwi murid dari Sam Kwi....”

“Aku pernah mendengar nama Sam Kwi....“

“Ia masih suci dari.... eh, Bi Lan. Kau tahu, Bi Lan adalah murid Sam Kwi, akan tetapi ia mengambil jalan lain dari pada jalan sesat guru-gurunya, bahkan Bi Lan telah diambil murid oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir....“

“Hemmm.... kenapa kau membawa-bawa nama nona Can dalam percakapan ini?”

Kun Tek mencela, nampak tak senang karena nama itu mengingatkan dia akan pengalamannya yang amat pahit.

Hong Beng tersenyum pahit pula.
“Tidak apa-apa, hanya karena memang ada hubungannya. Bi-kwi itu, bernama pria tadi yang bernama Bhok Gun, kini telah berhasil menjadi dua orang di antara kaki tangan pembesar yang bernama Hou Seng, pembesar yang merajalela di dalam istana. Banyak pembunuhan dilakukannya, membunuhi pembesar-pembesar yang menjadi saingannya dan agaknya dia berhasil pula menggandeng panglima pasukan keamanan. Buktinya, kini pasukan-pasukan itu berkeliaran di kota dan melakukan pembersihan di mana-mana, dipimpin oleh Bhok Gun dan Bi-kwi yang jahat itu. Kita tidak seharusnya menentang pasukan keamanan, karena hal itu dapat membuat kita dicap pemberontak. Yang kita tentang hanyalah kaum sesat yang kini menjadi kaki tangan pejabat-pejabat tinggi. Di antara datuk sesat itu, aku sedang mencari seorang yang bernama Sai-cu Lama....“

“Hemm, akupun pernah mendengar nama Sai-cu Lama itu, dari ayahku. Menurut ayah, Sai-cu Lama adalah seorang tokoh di antara para pendeta Lama yang sakti di Tibet, dan kabarnya Sai-cu Lama adalah seorang pendekar Lama yang menyeleweng dari pada ajaran agamanya.”

“Memang benar keterangan ayahmu itu. Dia amat jahat dan aku tadinya menerima tugas dari suhuku untuk melakukan penyelidikan atas diri pembesar bernama Hou Seng itu. Akan tetapi di dalam perjalanan, aku bertemu dengan Sai-cu Lama, melihat sepak terjangnya yang jahat. Dia telah merampas pedang milik Bi Lan, bahkan kemudian aku melihat dia menculik anak perempuan, puteri dari bibi guruku. Karena itu, aku kini sedang menyelidiki di mana adanya Sai-cu Lama itu, dan siapa-siapa pula yang menjadi kaki tangan pembesar bernama Hou Seng itu.”

Dengan panjang lebar Hong Beng bercerita tentang keadaan di kota raja seperti yang sudah diselidikinya sehingya akhirnya Kun Tek mengerti dan pemuda inipun tertarik sekali.

“Kalau begitu. pembesar she Hou itu jahat sekali, dan perlu dibasmi!”

Hong Beng menggeleng kepala.
“Tidak semudah itu, sobat. Dia sedang berkuasa di istana, dipercaya oleh kaisar. Sedangkan peringatan para pembesar yang tua dan setia saja diabaikan oleh kaisar. Dan usaha mereka untuk menyingkirkan pembesar bernama Hou Seng ini ditebus dengan kehancuran mereka, dengan pembunuhan-pembunuhan gelap yang menimpa diri mereka yang menentangpembesar itu. Apa yang mampu kita lakukan? Dia dikelilingi oleh pasukan pengawal, keamanan yang amat kuat, bahkan dilindungi pula oleh datuk-datuk sesat. Yang dapat kita lakukan hanyalah menggempur datuk-datuk sesat itu, dan itulah kewajiban para pendekar.”

“Kalau begitu, mengapa tidak kita bayangi saja orang-orang itu? Pasukan berpakaian preman yang melakukan pembersihan di mana-mana itu? Kalau kita bayangi mereka dan kita mengetahui di mana sarang mereka, laiu kita menyelundup ke dalam, tentu kita dapat melakukan penyelidikan.”

“Ah, benar juga pendapatmu itu!”

Hong Beng berseru girang dan kedua orang pemuda ini lalu mengadakan perundingan untuk berusaha melakukan penyelidikan dengan cara membayangi pasukan yang melakukan pembersihan hampir setiap hari itu. Pada suatu hari, dengan membayangi pasukan yang dipimpin oleh Bhok Gun dari jauh, secara sembunyi, mereka diam-diam mengikuti pasukan dan akhirnya mereka dapat menemukan markas Kim Hwa Nio-nio.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati dua orang itu ketika mereka membayangi pasukan itu, mereka melihat bahwa pasukan itu, dipimpin oleh Bi-kwi, Bhok Gun dan seorang nenek yang membawa kebutan, memasuki markas itu sambil membawa dua orang tawanan yang mereka kenal dengan baik. Tawanan itu, seorang di antaranya, adalah Bi Lan! Dan Kun Tek juga terkejut melihat tawanan ke dua, karena orang itu bukan lain adalah Sim Houw!

Hampir saja Kun Tek turun tangan pada saat pasukan itu masih menggiring dua orang tawanan itu di tengah jalan. Akan tetapi Hong Beng mencegahnya, berbisik bahwa pasukan itu berjumlah besar, dan di situ terdapat nenek itu yang agaknya lihai sekali.

Akhirnya Kun Tek dapat menerima pendapat ini.
“Kau benar. Kalau Sim Houw sampai dapat tertawan oleh mereka, hal itu membuktikan bahwa nenek itu amat lihai, bukan lawan kita. Kalau Sim Houw kalah, apa lagi aku!”

“Siapakah laki-laki yang kusebut Sim Houw itu?”

“Dia? Ah, dia itu masih keponakanku sendiri....“

“Mana mungkin? Nampaknya dia jauh lebih tua darimu.”

“Memang, akan tetapi sesungguhnya dia masih keponakanku. Ibunya adalah keponakan dari ayahku. Akan tetapi ilmu kepandaiannya hebat bukan main. Bahkan dia telah mengalahkan kakek Pek-bin Lo-sian yang gila itu dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam dari kakek itu.”

“Ahh....?” Hong Beng terbelalak, teringat akan cerita Bi Lan. “Jadi dia itu yang berjuluk Pendekar Suling Naga?”

Kun Tek mengangguk.
“Agaknya begitu, karena setelah pusaka itu jatuh ke tangannya lalu muncul julukan itu. Tentu dia, siapa lagi?”

“Sungguh aneh! Dan Bi Lan mencari orang itu untuk merampas kembali Pedang Suling Naga, seperti yang ditugaskan oleh Sam Kwi kepadanya. Berarti bahwa orang bernama Sim Houw itu musuhnya, akan tetapi bagaimana mereka berdua kini bisa berbareng menjadi tawanan pasukan itu?”

“Sudahlah, yang penting kini bagaimana kita dapat menolong mereka. Kita harus dapat menolong dan membebaskan mereka. Nona.... Can Bi Lan adalah.... eh, kenalan-kenalan kita, dan Sim Houw adalah keponakanku. Kita harus tolong mereka.”

“Benar, Kun Tek. Kita harus dapat menyusup ke dalam gedung itu dan melakukan penyelidikan. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali. Nenek itu kelihatan lihai dan di dalam gedung itu tentu berkumpul orang-orang pandai yang katanya menjadi para pembantu dari Hou Seng.”

Mereka lalu berunding lagi sambil menanti saat baik, yaitu datangnya malam yang akan memudahkan mereka menyusup ke dalam gedung besar itu,

**** 096 ****
Suling Naga