Ads

Sabtu, 23 Januari 2016

Suling Naga Jilid 099

“Cepat, kita bersembunyi ke dalam kuil ini,” kata Hong Beng kepada Sim Houw dan Bi Lan yang mengikuti dia dan Kun Tek melarikan diri dari gedung yang menjadi markas besar para pembantu Hou Taijin.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di ruangan dalam kuil itu, aman dan mereka segera duduk menghadapi meja, minum air teh panas yang disediakan oleh para hwesio kuil.

Bi Lan lalu memperkenalkan Hong Beng kepada Sim Houw.
“Sim-toako, saudara Gu Hong Beng ini adalah seorang murid dari keluarga para pendekar Pulau Es, ilmu kepandaiannya hebat. Dan Hong Beng, Sim-toako ini adalah Pendekar Suling Naga. Kiranya aku tidak perlu memperkenalkan Sim-toako dengan Kun Tek karena agaknya malah ada hubungan keluarga antara kalian.”

Sim Houw dan Hong Beng saling memberi hormat dan Kun Tek berkata,
“Sim Houw adalah keponakanku sendiri, biarpun usianya lebih tua dariku. Dan dia telah berjasa besar untuk keluarga kami, bahkan dialah yang mengembalikan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang kubawa ini kepada kami.”

Mendengar disebutnya pedang pusaka, Bi Lan memandang dengan muka sedih.
“Sungguh celaka, pedang pusaka milik subo, Ban-tok-kiam masih belum bisa kudapatkan kembali, kini malah pedang pusaka milik Sim-toako terjatuh ke tangan nenek iblis itu!”

“Hemm, mereka itu sudah bersatu semua. Sai-cu Lama yang merampas pedangmu itu sudah berada di sana pula, nona Bi Lan. Juga kami tadi ada melihat tiga orang kakek yang menyeramkan, agaknya mereka baru saja tiba di gedung itu. Melihat keadaan tubuh dan wajah mereka yang amat menyeramkan, aku dapat menduga bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.”

“Melihat mereka, kurasa merekalah yang berjuluk Sam Kwi....” kata Kun Tek.

Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut mendengar disebutnya nama itu.
“Benarkah?” tanyanya.

“Aku sendiri belum pernah berjumpa dengan Sam Kwi sebelumnya, akan tetapi pernah mendengar gambaran tentang diri mereka. Yang seorang tinggi besar, berpakaian hitam, tingginya satu setengah orang. Yang ke dua amat pendek, gendut, tingginya tiga perempat orang biasa. Sedangkan yang ke tiga adalah seorang yang seperti tengkorak hidup saja, kurus hanya kulit membungkus tulang, mengerikan!”






“Ah, benar, mereka adalah Sam Kwi, tiga orang guruku,” kata Bi Lan dan gadis inipun termenung.

Bagaimanapun juga jahatnya, tiga orang kakek itu adalah orang-orang pertama di dalam hidupnya yang pernah menyelamatkan dan yang bersikap baik terhadap dirinya.

“Dan mereka memang lihai sekali,” sambungnya ketika melihat betapa tiga orang pria itu semua memandang kepadanya.

“Yang tinggi sekali itu adalah suhu Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang tangguh. Lengannya dapat mulur sampai dua setengah kali lebih panjang. Yang amat pendek itu adalah Iblis Akhirat, biarpun pendek akan tetapi tubuhnya kebal dan tendangan Pat-hong-twi yang dikuasainya amat berbahaya, di samping sin-kangnya yang kuat dan senjata Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa) juga tak boleh dipandang ringan. Yang ke tiga, seperti tengkorak itu adalah Iblis Mayat Hidup. Ilmunya Hun-kin Tok-ciang amat berbahaya, juga di antara mereka bertiga, Iblis Mayat Hidup inilah yang memiliki Kiam-ciang paling kuat. Harus diingat bahwa dalam usia mereka yang sudah tujuhpuluh tahun lebih itu, mereka bertiga telah menciptakan ilmu baru, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun yang amat lihai.”

“Dan engkau telah menguasai semua ilmu itu, nona Bi Lan? Sungguh hebat!” kata Kun Tek.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hong Beng dan Kun Tek kini tiba-tiba saja menyebut “nona” kepadanya. Mengapa ada perubahan sikap mereka itu setelah ia menolak cinta mereka? Nampak kaku, berkurang keakraban mereka, bahkan begitu canggung.

“Memang aku telah mempelajari itu semua, akan tetapi ilmu yang kupelajari masih mentah, saudara Kun Tek, sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan mereka.”

Iapun menambahkan sebutan “saudara”, mengubah kebiasaannya yang dulu menyebut dua orang pemuda itu begitu saja memanggil nama mereka. Diam-diam gadis ini merasa heran mengapa penolakan cinta itu seolah-olah menciptakan suatu jurang pemisah di antara ia dan dua orang pemuda itu!

“Aihh, untung kedua orang muda gagah ini datang menolong kita, Lan-moi,” kata Sim Houw. “Kalau kita berusaha meloloskan diri sendiri dan harus menghadapi mereka semua itu tentu akan repot juga!” Sim Houw lalu memandang kepada dua orang pemuda itu. “Terima kasih kuhaturkan kepada paman Cu Kun Tek dan juga saudara Hong Beng yang telah menolong kami tadi.”

“Bagaimana kalian berdua dapat mengetahui bahwa kami berdua menjadi tawanan di sana?” tanya Bi Lan.

Hong Beng lalu bercerita, betapa dia dan Kun Tek berjumpa di sebuah restoran dan mereka berdua sama-sama menghadapi pengeroyokan Bhok Gun dan Bi-kwi bersama anak buah mereka. Mereka melarikan diri dan mulailah mereka melakukan penyelidikan tentang Hou Taijin, dan dengan jalan melakukan pengintaian, mereka melihat betapa Sim Houw dan Bi Lan digiring sebagai tawanan.

“Karena kami dapat menduga betapa bahayanya menjadi tawanan para iblis itu, maka kami segera mengambil keputusan untuk pada malam ini menyelundup ke gedung itu dan berusaha membebaskan kalian.”

“Untung kalian datang tepat pada saatnya,” kata Sim Houw. Mendengar betapa Pendekar Suling Naga itu memuji-muji dua orang pemuda itu, Bi Lan merasa tidak senang.

“Hendaknya kalian ketahui bahwa sebelum kalian datang, Sim-toako sudah berhasil membebaskan kami berdua dari pengaruh totokan dan belenggu kaki tangan. Kami memang sudah siap untuk melarikan diri dan tepat ketika terjadi keributan, kalian muncul.”

“Dan memudahkan kami meloloskan diri”, kata Sim Houw pula yang ingin menyembunyikan jasa sendiri akan tetapi hendak mengangkat jasa dua orang muda itu.

“Akan tetapi, kami masih belum selesai dengan mereka. Aku harus merampas kembali Liong-siauw-kiam, sedangkan Lan-moi harus merampas kembali Ban-tok-kiam.”

“Akan tetapi itu berbahaya sekali,” kata Hong Beng sambil memandang wajah gadis yang pernah menolak cintanya itu. “Ban-tok-kiam dikuasai oleh Sai-cu Lama yang lihai sedangkan Liong-siauw-kiam telah dirampas Kim Hwa Nio-nio, apalagi di sana kini terdapat Sam Kwi, kedudukan mereka menjadi semakin kuat.”

“Betapapun besar bahayanya, aku harus mendapatkan kembali Ban-tok-kiam dan aku akan pergi bersama Sim-toako.” kata Bi Lan

“Biar aku membantu kalian!” kata Hong Beng

”Aku juga!” kata Kun Tek.

“Paman Kun Tek dan saudara Hong Beng terimakasih atas kebaikan kalian. Akan tetapi, menyusup ke tempat seperti ini lebih baik berpencar,” kata Sim Houw.

Tiba-tiba dia berhenti bicara dan memberi isyarat kepada tiga orang temannya untuk diam. Mereka semua tak bergerak mencurahkan ketajaman pendengaran mereka. Lapat-lapat terdengar suara lirih di luar kuil itu.

“Omitohud...., harap sam-wi tidak mencurigai pinceng. Katakan saja pada nona yang kehilangan Ban-tok-kiam bahwa pinceng datang untuk membicarakan tentang pedang itu.”

Mendengar suara itu, Bi Lan bangkit berdiri.
”Ssttt, kalau tak salah....itu sura hwesio yang dulu mengejar Sai-cu Lama....”

“Benar.... dia seperti suara Tiong Khi Hwesio....” kata Hong Beng, teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan bersama Bi Lan dan pedang itu terampas oleh Sai-cu Lama kemudian muncul hwesio tua renta itu.

“Kalian masih mengenal suara pinceng? Bagus!” terdengar suara dari luar itu dan Sim Houw sendiri terkejut.

Hwesio diluar itu sungguh memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya! Maka mereka berempat lalu menyambut keluar. Dan memang benar dugaan Bi Lan dan Hong Beng, diluar berdiri seorang hwesio tua yang berjubah kuning. Itulah Tiong Khi Hwesio, nama baru dari Wan Tek Hoat.

“Locianpwe hendak bicara dengan saya?” tanya Bi Lan sambil memandang tajam penuh perhatian. Bagaimanapun juga, ia belum mengenal orang ini dan tidak tahu hwesio ini seorang kawan ataukah seorang lawan.

“Locianpwe, silahkan masuk dan kita bicara didalam,” kata Sim Houw yang tidak ragu-ragu lagi bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti.

Mereka lalu masuk ke ruangan belakang itu setelah tiga orang hwesio penjaga kuil dapat diyakinkan bahwa hwesio tua yang baru tiba ini memang mengenal para pendekar muda itu. Setelah mengambil tempat duduk, hwesio tua itu berkata mendahului mereka.

“Pinceng sudah mendengar semua akan peristiwa yang terjadi di gedung markas Kim Hwa Nio-nio itu. Kalian adalah orang-orang muda yang berani dan pinceng merasa kagum sekali. Pinceng sudah mengenal dua orang di antara kalian.” Dia menunjuk kepada Bi Lan. “Engkau adalah murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng, para majikan Istana Gurun Pasir, dan engkau telah kehilangan Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama. Dan engkau,” dia menunjuk kepada Hong Beng, “engkau murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi pinceng belum mengenal kalian dua orang muda yang lain. Murid-murid siapakah kalian?”

“Locianpwe, saya bernama Sim Houw dan guru-guru saya adalah mendiang ayah saya sendiri yang bernama Sim Hong Bu dan suhu yang bernama Kam Hong,” kata Sim Houw dengan sikap merendah.

“Wah, apakah Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas itu? Kalau begitu bukan orang lain, masih segolongan sendiri.”

“Dan saya bernama Cu Kun Tek, guru saya adalah ayah saya sendiri yang bernama Cu Kang Bu. Sim Houw ini masih terhitung keponakan saya, dan kami tinggal di Lembah Naga Siluman.”

Kakek itu mengangguk-angguk.
“Keluarga Cu memiliki nama besar. Sungguh pinceng girang sekali bahwa pinceng berkesempatan bertemu dengan orang-orang muda perkasa, yang mengingatkan pinceng akan masa muda pinceng dahulu. Orang-orang muda, pinceng sudah mendengar bahwa selain Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, juga pedang pusaka milik seorang diantara kalian telah dirampas Kim Hwa Nio-nio.”

“Pedang Sim-toako ini yang dirampas, pedang itu adalah Liong-siauw-kiam dan oleh Sim-toako diserahkan begitu saja karena mereka mengancam akan membunuh saya yang sudah ditangkap lebih dahulu,” kata Bi Lan

Hwesio itu mengangguk-angguk.
“Tadi pinceng mendengar bahwa kalian hendak memasuki sarang itu untuk merampas pedang. Hal itu sama sekali tidak boleh dilakukan. Untuk menangkap harimau, orang harus memancing harimau-harimau itu keluar dari sarangnya, bukan memasuki sarang. Itu berbahaya sekali”.

“Saya mengerti maksud locianpwe. Lalu bagaimana baiknya? Saya harus merampas kembali Ban-tok-kiam,” kata Bi Lan.

“Ha-ha, andaikata engkau tidak ingin merampas kembali, aku tentu akan berusaha untuk mengambil kembali dari tangan pendeta palsu itu untuk dikembalikan kepada Wan Ceng,” kata Tiong Ki Hwesio. “Pihak lawan amat kuat. Kalian tentu sudah tahu betapa lihainya Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio. Dan ditambah lagi dengan Sam Kwi, maka kekuatan di pihak mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Itu semua masih ditambah lagi dengan pasukan pemerintah. Kalau sampai pasukan pemerintah dikerahkan, mana mungkin kita melawan pemerintah? Kita bisa dicap sebagai pemberontak dan akan berhadapan dengan balatentara pemerintah. Kita harus memakai akal dan membagi-bagi tugas. Aku akan memancing keluar mereka dari dalam sarang sehingga kita tidak mudah terkepung.”

Empat orang muda itu serentak tunduk terhadap kakek ini yang kelihatan demikian tegas dan mantap dalam semua rencananya. Akan tetapi di tengah-tengah percakapan mereka, Bi Lan yang selalu ingin tahu dengan jelas memotong percakapan itu dan bertanya,

“Maafkan dulu, locianpwe. Kini di antara kita telah terdapat suatu persekutuan untuk melawan musuh dan terus terang saja, kami orang-orang muda tunduk dan dapat menerima semua akal dan rencana locianpwe. Locianpwe telah mengenal kami semua, akan tetapi kami sebaliknya belum tahu benar siapa sesungguhnya locianpwe ini. Bukankah sudah waktunya bagi kami untuk mengenal siapa sebenarnya diri locianpwe?”

Mendengar ucapan gadis itu, tiga orang muda itu mengangguk-angguk membenarkan.
Memang mereka semua juga sudah menduga-duga siapa sesungguhnya kakek ini, akan tetapi mereka tidak seberani Bi Lan untuk menanyakannya. Mendengar ucapan gadis itu, Tiong Khi Hwesio tertawa.

“Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, kaum wanita lebih teliti dan lebih ingin tahu. Akan tetapi memang sebaiknya demikianlah, karena kerja sama harus didasari saling percaya yang sepenuhnya. Bi Lan, kalau engkau ini murid dari nenek Wan Ceng, engkau harus menyebut aku susiok (paman guru) karena antara kami ada pertalian persaudaraan. Namun, sudah puluhan tahun aku memisahkan diri ke barat sehingga antara kami tidak ada hubungan lagi.”

“Ah, kalau begitu, mungkin saya dapat menebak siapa adanya locianpwe ini!”

Hong Beng berseru dengan sepasang mata bersinar gembira. Murid ini di waktu senggang banyak mendengar cerita dari gurunya tentang keluarga para pendekar Pulau Es, maka mendengar bahwa antara nenek Wan Ceng dan hwesio itu terdapat pertalian persaudaraan, diapun dapat menduga siapa orangnya.

“Benarkah kau dapat menebaknya siapa, Hong Beng?” Kun Tek bertanya, ikut gembira.

“Omitohud, agaknya murid keluarga Pulau Es banyak mendengar tentang diri pinceng. Cobalah, barangkali tebakanmu tepat, orang muda.” Hwesio itupun membujuknya.

“Sebelumnya harap locianpwe sudi memaafkan saya, akan tetapi bukankah locianpwe, seperti juga nenek Wan Ceng, masih terhitung keluarga Pulau Fs pula?”

Hwesio itu mengangguk sambil tersenyum.
“Boleh dibilang begitulah, walaupun sebagai keluarga luar.”

“Kalau begitu, agaknya tidak keliru lagi bahwa locianpwe dahulu di waktu muda adalah pendekar yang berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat. yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari Bhutan dan....“

“Cukuplah, anak baik. Tak pinceng sangkal, memang dahulu pinceng bernama Wan Tek Hoat, akan tetapi kini pinceng adalah Tiong Khi Hwesio, tidak punya apa-apa lagi, sudah habis semua yang pernah pinceng miliki. Nah, tentu sekarang engkau lebih percaya kepadaku, bukan?” tanyanya kepada Bi Lan. Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan.

“Sejak tadipun aku sudah percaya kepada locianpwe, hanya ingin tahu saja. Kiranya locianpwe.... eh, susiok malah masih saudara dari subo.”

“Nah, sekarang kalian semua perhatikan dengan baik-baik. Kita harus mengatur siasat yang sudah dircanakan baik-baik. Ketahuilah bahwa sebelum menghubungi kalian, pinceng sudah bertemu dengan keluarga Pulau Es yang kini telah berada di kota raja, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya, juga Suma Ceng Liong dan isterinya.”

Mendengar ini, empat orang muda itu menjadi girang dan mereka mendengarkan siasat yang direncanakan oleh kakek sakti itu dengan penuh perhatian. Dan mereka menganggap siasat itu baik sekali, untuk mempertemukan golongan sesat itu dengan para pendekar dan mengadakan pertandingan perkelahian tanpa campur tangan pemerintah.

**** 099 ****
Suling Naga