Ads

Sabtu, 23 Januari 2016

Suling Naga Jilid 100

Para penjaga gedung yang menjadi sarang Kim Hwa Nio-nio menjadi gempar ketika pada suatu pagi, mereka melihat sebatang pisau menancap di daun pintu gerbang dan pisau itu membawa sebuah sampul putih dengan tulisan berwarna merah, ditujukan ke pada Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio! Bergegas komandan jaga mengambil pisau dan sampul itu dan berlari-lari masuk menghadap Kim Hwa Nio-nio.

Nenek itu sudah duduk menghadapi hidangan makan pagi, lengkap dengan para temannya. Di sini hadir Sai-cu Lama, ketiga Sam Kwi, Bhok Gun, Bi-kwi dan mereka kelihatan gembira. Malam tadi, berkat kelihaian Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, mereka telah berhasil menyingkirkan dua orang selir yang juga menjadi dua orang pengawal pribadi Hou Seng.

Dua orang selir ini dianggap sebagai saingan oleh Kim Hwa Nio-nio, karena dua orang ini seringkali mempengaruhi Hou Taijin dengan bisikan-bisikan mereka. Ketika Suma Lian diserahkan sebagai hadiah oleh Sai-cu Lama kepada Hou Seng, dua orang selir ini yang membisikkan agar pembesar itu menerima saja, akan tetapi memperlakukan anak itu dengan baik-baik dan jangan diganggu, memperingatkan Hou Taijin bahwa Pendekar Pulau Es masih ada hubungan keluarga dengan kaisar. Dan masih banyak nasihat-nasihat yang diberikan oleh dua orang selir itu, yang selalu diturut oleh Hou Seng. Oleh karena itu, Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama merasa bahwa mereka berdua itu merupakan saingan yang mengkhawatirkan. Bagaimana kalau sekali waktu dua orang selir itu membisikkan agar Hou Taijin tidak mempercaya Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya lagi?

Dan kesempatan baik mereka peroleh ketika mereka memperkenalkan Sam Kwi kepada pembesar itu. Malam itu, Hou Taijin berkenan menerima mereka bersama Sam Kwi untuk datang menghadap dan seperti biasa, Hou Taijin menyambut pembantu-pembantu baru yang berilmu tinggi itu dengan perjamuan makan. Dan seperti biasa pula, dua orang selir yang pandai ilmu siiat itu tak pernah meninggalkan Hou Taijin, seolah-olah menjadi bayangannya.

Setelah Sam Kwi diperkenalkan, Hou-Taijin merasa gembira sekali. Tiga orang dengan bentuk tubuh dan muka seperti itu, demikian menyeramkan, bahkan mengerikan, tanpa diuji lagi dia sudah percaya bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka, Hou Taijin lalu berkata sambil tersenyum lebar,

“Kedatangan sam-wi amat menggembirakan hatiku dan kami ingin menyambut kedatangan sam-wi dengan secawan arak!”

Mendengar ucapan ini, seorang di antara dua selir merangkap pengawal pribadi itu lalu melayani majikan mereka dengan menuangkan secawan arak dari guci yang tersedia, ke dalam cawan pembesar itu yang sudah tersedia pula di atas meja. Juga Sam Kwi sambil tertawa mengisi cawan mereka dengan arak sampai penuh, kemudian mereka semua mengangkat cawan arak masing-masing. Akan tetapi, sebelum cawan itu menempel di bibir Hou Taijin, Kim Hwa Nio-nio berseru,






“Taijin, tahan!”

Secepat kilat, iapun menyambar cawan itu dari tangan Hou Seng, kemudian terdengar suara gaduh dan dua orang selir itu telah roboh dan tewas seketika karena mereka telah terkena pukulan maut dari Sai-cu Lama. Pukulan kedua tangan kakek itu tadi menyambar ganas dan tepat mengenai dada mereka, membuat mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, muka mereka menjadi agak kehitaman karena pukulan tadi adalah pukulan beracun!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hou Taijin, Dia terbelalak.
“Apa.... apa artinya ini....!”

Dia membentak, khawatir bahwa jangan-jangan para pembantunya ini mengadakan pengkhianatan dan pemberontakan.

Akan tetapi hatinya lega karena sikap mereka tidak demikian. Kim Hwa Nio-nio berkata halus,

“Harap paduka maafkan kelancangan kami, akan tetapi kami telah menyelamatkan nyawa paduka dari pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang pengawal pribadi paduka ini,” kata Kim Hwa Nio-nio dan cawan arak tadi masih berada di tangannya.

“Apa? Mereka ini hendak berkhianat? Ah, hal itu tidak mungkin! Kalian tentu keliru. Mereka adalah selir-selirku yang setia!”

“Kim Hwa Nio-nio berkata benar, Taijin. Kami berdua melihat betapa tadi mereka memasukkan bubukan putih ke dalam cawan paduka. Itu tentu racun yang amat jahat!” kata Sai-cu Lama. “Karena itu, selagi Kim Hwa Nio-nio mencegah paduka minum, saya mendahului mereka dan membunuhnya agar tidak sempat menyerang paduka,”

Hou Taijin masih ragu-ragu dan ketika dia memandang kepada tiga orang tamu baru, Sam Kwi yang sudah tahu akan rencana teman-temannya, mengangguk-angguk.

“Kamipun melihatnya,” kata mereka. “Begini saja, Taijin. Tuduhan kami itu perlu dibuktikan agar Taijin dapat percaya.”

Melihat pembesar yang masih memandang mayat dua orang selirnya dengan muka pucat, Kim Hwa Nio-nio lalu berteriak menyuruh dua orang pengawal cepat membawa dua ekor kucing ke situ. Sebelum kucing yang diminta itu datang, Kim Hwa Nio-nio berkata,

“Taijin, kalau taijin tidak percaya, boleh taijin periksa di saku atau ikat pinggang mereka, tentu mereka membawa sebotol kecil bubukan putih.”

Dengan jari-jari tangan gemetar, pembesar itu memeriksa dan benar saja, di tubuh dua orang selirnya, masing-masing terdapat sebuah botol kecil berisi bubukan putih, yang disembunyikan di dalam ikat pinggang mereka. Dia mengambil botol-botol itu dan meletakkannya di atas meja.

“Apakah ini?” tanyanya, suaranya masih agak gemetar karena hatinya masih diliputi ketegangan.

“Racun yang jahat sekali, taijin. Dan sebagian dari racun itu tadi ditaburkan ke dalam cawan taijin ini,” kata pula Kim Hwa Nio-nio.

Dua ekor kucing yang diminta itu datang. Kim Hwa Nio-nio membuka dengan paksa mulut kucing itu dan menuangkan arak dari cawan Hou Seng ke dalam mulut kucing. Biarpun kucing itu meronta, percuma saja, arak itu telah memasuki perutnya. Dan seketika kucing itu berkelojotan dan tewas, tubuhnya berubah menghitam!

“Nah, apa akan jadinya kalau saya tadi tidak mencegah paduka minum arak dari cawan itu?” kata Kim Hwa Nio-nio dan Hou Seng bergidik, kembali memandang kepada dua orang selirnya, kini pandang matanya mulai mengandung kemarahan dan kebencian.

“Mereka.. mereka nampaknya begitu baik, mencinta dan setia.... dan aku telah memberi segala-galanya, tapi.... tapi mengapa....“

“Tidak aneh, taijin. Musuh taijin banyak sekali dan agaknya mereka itu mampu merobah pendirian dua orang ini. Karena itu, taijin harus berhati-hati dan percayalah, selama ada kami, kami akan selalu melindungi taijin dari ancaman bahaya,” kata Sai-cu Lama dengan suaranya yang halus.

Kini dari dua botol itu dituangkan bubuk putih ke dalam arak, lalu dituangkan dengan paksa ke dalam mulut kucing ke dua dan akibatnya, kucing inipun kejang-kejang berkelojotan dan tewas seketika. Percayalah Hou Taijin dan dua mayat dan bangkai kucing itu lalu disingkirkan, dan perjamuan itu dilanjutkan, walaupun Hou Taijin sudah kehilangan seleranya.

Demikianlah, peristiwa semalam itu tentu saja sudah diatur oleh komplotan Kim Hwa Nio-nio yang cerdik. Melalui para pelayan, mereka berdua memperoleh keterangan bahwa dua orang selir itu selalu membawa sebotol kecil racun. Racun ini selalu mereka bawa karena mereka ingin membunuh diri dengan cepat kalau sekali waktu mereka itu terjatuh ke tangan musuh-musuh Hou Seng, sehingga mereka tidak usah menderita siksaan dan juga tidak ada bahayanya mereka akan membocorkan rahasia suami dan juga majikan mereka itu. Demikian besarnya kesetiaan mereka kepada Hou Seng. Akan tetapi justeru keterangan inilah yang memudahkan Kim Hwa Nio-nio mengatur siasat keji itu.

Ketika Hou Seng hendak minum araknya, tentu saja di dalam arak itu tidak ada apa-apanya. Ia sengaja merampasnya untuk membuat suasana menjadi kalut dan memberi kesempatan kepada Sai-cu Lama untuk membunuh dua orang selir itu. Walaupun memiliki kepandaian silat yang lumayan, tentu saja dua orang selir itu sama sekali bukan tandingan Sai-cu Lama dan sama sekali tidak mampu menghindar ketika pukulan maut datang menyambar.

Dan dalam kegaduhan ini, dengan mudah Kim Hwa Nio-nio memasukkan bubuk racun ke dalam cawan arak itu. Tentu saja ketika diminumkan kepada kucing, kucing itu tewas seketika. Dan botol bubuk racun itu benar saja ditemukan dan karena memang benda itu racun, ketika diminumkan kucing ke dua, binatang itupun mati!

Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya menganggap siasat itu berhasil dengan amat baiknya. Dua orang selir yang mereka anggap saingan yang berbahaya itu, telah dapat mereka singkirkan, dan yang terpenting, Hou Seng agaknya percaya akan pengkhianatan selir-selirnya sehingga dengan demikian, semua kepercayaan pembesar itu tentu akan terjatuh ke tangan mereka! Untuk kemenangan ini, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka sudah merayakan kemenangan itu dengan sarapan pagi yang mewah.

Akan tetapi, kegembiraan mereka itu terganggu oleh datangnya pengawal yang dengan muka pucat menyerahkan pisau dan sampul.

“Kami tidak tahu siapa yang menancapkan pisau itu di pintu gerbang, karena tahu-tahu ketika kami membuka pintu gerbang, pisau itu sudah menancap di daun pintu, membawa sampul itu.” Demikian laporan pengawal itu.

Karena surat itu ditujukan kepada Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, nenek yang dianggap sebagai pimpinan kelompok pembantu Hou Taijin itu, segera membuka sampulnya dan mengeluarkan suratnya yang bertuliskan dengan tinta merah. Ternyata surat itu adalah tantangan untuk pi-bu (mengadu ilmu silat), seperti yang biasa dilakukan di dunia persilatan. Yang menantang adalah Tiong Khi Hwesio yang menantang Sai-cu Lama, dan Sim Houw menantang Kim Hwa Nio-nio. Pada hari itu lewat tengah hari, dua orang penantang itu menunggu di tepi hutan di sebelah utara pintu gerbang kota raja!

“Heemmm.... keparat!”

Kim Hwa Nio-nio memaki dengan muka merah dan melemparkan surat itu kepada Sai-cu Lama. Pendeta ini membacanya dan diapun tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio sudah mengejarku sampai di sini? Ha-ha-ha, dia memang sudah bosan hidup. Dengan Ban-tok-kiam di tangan, dia pasti akan mampus di tanganku sekali ini!”

Sambil tertawa-tawa, Sai-cu Lama menyerahkan surat itu kepada Iblis Mayat Hidup yang duduk di sebelahnya. Sam Kwi membaca surat itu bergantian, kemudian Bhok Gun dan Bi-kwi juga membacanya. Ketika surat itu kembali ke tangan Kim Hwa Nio-nio, Iblis Akhirat, si cebol dari Sam Kwi, yang melihat betapa Kim Hwa Nio-nio tidak gembira, berkata, dan suaranya lantang membuyarkan ketegangan yang timbul oleh surat itu.

“Suci, tak usah takut menghadapi Sim Houw itu. Bukankah Liong-siauw-kiam sudah berada di tanganmu? Dan kamipun akan membantumu.”

Kim Hwa Nio-nio mengerutkan alisnya.
“Siapa bilang aku takut menghadapi orang muda itu? Akan tetapi, aku khawatir kalau-kalau surat tantangan ini hanya suatu perangkap belaka untuk memancing harimau keluar dari sarang!”

“Ha-ha-ha!” Sai-cu Lama tertawa gembira. “Harimau tetap harimau, di dalam maupun di luar sarang, kita tetap berani dan menang!”

“Apakah engkau akan mengabaikan saja tantangan pi-bu ini, suci?” tanya Iblis Akhirat dengan khawatir, karena mengabaikan tantangan pi-bu amat mencemarkan nama seorang datuk persilatan.

“Pinceng pasti datang memenuhi tantangan Tiong Khi Hwesio, ha-ha!”

Sai-cu Lama masih tertawa-tawa memandang rendah lawannya. Dan diapun memiliki alasannya untuk memandang rendah. Bukankah dia dahulu kalah oleh Tiong Khi Hwesio dalam perkelahian yang seimbang dan setelah berjalan lama baru akhirnya dia kalah? Kalau kini dia menggunakan pedang Ban-tok-kiam, dia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya itu.

“Mengabaikan tantangan pibu tidak mungkin, akan tetapi....” Kim Hwa Nio-nio masih kelihatan ragu-ragu.

“Kalau kita semua pergi bertujuh, walau andaikata mereka itu membawa teman-teman, kita tidak perlu takut,” kata pula Iblis Akhirat membesarkan hati sucinya.

“Aku mengerti akan kekhawatiran subo,” tiba-tiba Bhok Gun berkata. “Dan memang kekhawatiran itu beralasan. Penantang kita adalah musuh-musuh dan bisa saja mereka menggunakan pi-bu ini sebagai pancingan untuk menjebak kita. Akan tetapi, subo, justeru kita harus dapat memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari perangkap yang mereka pasang ini.”

“Eh? Maksudmu bagaimana?” tanya Kim Hwa Nio-nio kepada muridnya yang cerdik itu.

“Mereka menggunakan muslihat memancing harimau keluar sarang? Baik, kita keluar! Akan tetapi diam-diam aku akan menghubungi Coa-ciangkun agar dikerahkan pasukan sebanyak seratus orang untuk mengepung tempat itu dan begitu lawan berkumpul dan kita hendak dijebak, kita kerahkan pasukan untuk menangkap mereka semua. Dengan demikian berarti perangkap kita menghancurkan perangkap mereka.”

Suling Naga