Ads

Rabu, 09 Oktober 2019

Istana Pulau Es Jilid 012

Akhirnya ia tidak dapat menahan kekhawatiran hatinya lagi melihat betapa nyaris kepala pemuda itu dihantam bola berduri, begitu dekat bola itu menyambar lewat di atas telinga kiri Suma Hoat. Aneh sekali, dara itu sudah lupa akan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, sebaliknya khawatir kalau-kalau pemuda itu kena pukul dan pecah kepalanya.

Mendengar suara itu, Suma Hoat tersenyum gembira. Aku harus memperlihatkan kelihaianku, pikirnya gembira seperti lazimnya seorang pemuda ingin berlagak memamerkan kepandaiannya di depan seorang dara yang menarik hatinya.

Cepat ia merubah gerakannya, sekarang tubuhnya berkelebat cepat sekali sehinga Si Kepala Rampok berkali-kali berteriak kaget karena tubuh lawan seperti lenyap. Tiba-tiba Suma Hoat mendapat kesempatan baik, ketika bola berduri menyambar ia menggunakan tangannya dari samping menangkap bola itu dan sekuat tenaga ia melontarkan bola ke arah muka penyerangnya.

"Prokkk! Adduuuuhhh....!"

Tubuh kepala perampok itu terjengkang dan roboh telentang dengan muka berubah menjadi onggokan daging yang remuk dan nyawanya melayang tak lama kemudian.

Dara jelita itu memejamkan mata penuh kengerian, kemudian ia menangis terisak-isak. Suma Hoat cepat berlutut dan sekali totok ia membebaskan tubuh dara itu dari pengaruh totokan Si Kepala Rampok.

"Tenanglah, Nona. Bahaya telah lewat. Si Keparat laknat tewas."

Dara itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Hoat,
"In-kong telah menyelamatkan nyawa saya, akan tetapi.... hu-hu-huuukkkk.... ayah bundaku telah terbunuh.... di dalam kereta....!"

Suma Hoat terkejut dan marah sekali.
"Mari kita lihat, temanku sedang membasmi kawanan perampok, perlu bantuanku!"

Ia lalu menyambar pinggang dara itu, dibawa meloncat ke atas punggung kudanya yang tidak lari karena kuda itu sudah terlatih baik, kemudian membalapkan kudanya ke arah pertempuran yang masih berlangsung dekat kereta.

Ternyata bahwa Siangkoan Lee dengan mudah telah merobohkan tiga orang pengeroyok dengan goloknya dan kini yang lima orang masih mengeroyoknya mati-matian.

Melihat ini Suma Hoat sambil memeluk pinggang dara itu dengan lengan kiri, mencabut pedang dengan tangan kanan, kudanya menyerbu, pedangnya berkelebat dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan dan empat orang perampok roboh dan tewas.

Siangkoan Lee berhasil merobohkan perampok terakhir dan Suma Hoat setelah menyimpan pedangnya lalu menurunkan tubuh dara itu. Sambil terisak-isak dara itu berlari ke arah kereta yang rebah miring, membuka pintunya dan menjerit-jerit memanggil ayah bundanya.

Suma Hoat meloncat dekat kereta. Cepat ia mengeluarkan tubuh seorang setengah tua yang terluka dadanya. Orang itu masih hidup dan cepat pemuda ini mengeluarkan obat luka yang merah warnanya, mengobati luka itu dan membalutnya. Ayah dara itu masih hidup biarpun terluka parah, akan tetapi ibunya telah tewas karena tusukan pedang yang menembus jantungnya!

"Terima kasih.... Kongcu.... saya Ciok Khun menghaturkan terima kasih kepadamu...."

"Paman hendak pergi ke manakah?"

Suma Hoat bertanya, hatinya seperti ditusuk-tusuk karena kasihan melihat dara itu menjerit-jerit memeluki mayat ibunya.

Dengan suara tersendat-sendat laki-laki itu bercerita. Dia tinggal di dusun Kwi-bun-an, tak jauh dari kota raja. Mereka, suami isteri itu, hendak mengantarkan anak dara mereka yang bernama Ciok Kim Hwa, yang hendak dljodohkan dengan putera bangsawan Thio di kota raja. Karena itulah maka mereka berkereta membawa barang-barang berharga, dikawal oleh pasukan bangsawan Thio yang menjemput mereka dan yang terbunuh semua oleh para perampok.






"Siangkoan Lee, kau cepat antarkan Paman Ciok dan barang-barang serta jenazah ini ke kota raja. Biar aku yang mengawal Ciok-siocia”, kata Suma Hoat.

Siangkoan Lee mengangguk, maklum bahwa keadaan orang yang terluka perlu perawatan dengan cepat dan bahwa kalau Si Nona ikut dalam kereta, tentu nona itu akan berduka sekali menyaksikan jenazah ibunya. Maka ia lalu mengumpulkan barang-barang yang berceceran, di masukkan barang-barang itu ke dalam kereta, kemudian ia mengikat kudanya di depan dua ekor kuda penarik kereta dan membalapkan kereta ke kota raja.

"Mari, Nona. Kau akan kukawal ke kota raja dan jangan khawatir, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku."

Ucapan ini membuat wajah Si Dara Jelita menjadi merah, akan tetapi kedukaannya terlalu besar sehingga mengurangi rasa kegembiraan aneh yang menyelinap di rongga dadanya ketika ia duduk diatas punggung kuda, di depan pemuda tampan yang telah menolongnya itu.

Selama hidupnya, baru pertama kali itu Suma Hoat mengalami hal yang aneh dalam hatinya. Jantungnya berdebar luar biasa sekali, rasa girang yang amat besar menyelimuti hatinya dan di balik rasa girang ini terselip rasa sakit di hatinya, karena dara ini hendak dikawinkan dengan orang lain!

Kekecewaan yang amat keras dan aneh. Mengapa dia menjadi begini? Tak dapat disangkal bahwa dia selalu tertarik oleh wajah cantik jelita, akan tetapi selamanya dia tidak pernah menginginkan wanita yang menjadi milik orang lain!

"Eh, Suma Hoat, kau ini mengapakah?"

Berulang-ulang ia bertanya kepada dirinya sendiri, tak terasa lagi menjalankan kudanya perlahan karena dia tidak ingin cepat tiba di kota raja, tidak ingin dirampas kenikmatan dan kebahagiaan hatinya duduk berdua di atas kuda bersama dara yang bernama Ciok Kim Hwa ini!

Kereta yang dibalapkan Siangkoan Lee sudah jauh sekali dan sudah tidak tampak, juga tidak terdengar derap kaki kuda dan roda kereta.... Suma Hoat tak dapat menahan getaran hatinya dan ia bertanya halus,

"Nona...." Ia meragu dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Dara itu menanti sebentar, karena lama pemuda itu tidak melanjutkan, dia menoleh dan berkata,

"Ada apakah, Inkong?"

Suma Hoat memejamkan mata karena tidak kuat menyaksikan wajah yang begitu dekat dengannya, mencium bau harum yang keluar dari rambut dan muka dara itu.

"Kenapa, In-kong?" tanya Kim Hwa yang terheran-heran melihat pemuda itu memejamkan mata.

"Jadi.... Nona akan.... menikah dengan pemuda keluarga Thio....?"

Wajah itu tiba-tiba menjadi merah sekali dan cepat dipalingkan tidak berani menentang pandang mata Suma Hoat. Sampai lama nona itu tidak menjawab dan Suma Hoat merasa betapa tubuh didepannya itu gemetar. Akhirnya terdengar nona itu menjawab lirih.

"Bu.... bukan pemuda, melainkan seorang duda tua, adik dari Thio-taijin....!"

Suma Hoat mengangkat alisnya dan membelalakkan matanya.
"Seorang duda tua?"

Dara itu mengangguk dan menarik napas panjang.

"Kenapa engkau mau, Nona?"

Kim Hwa mengangkat muka memandang.
"Bagaimana saya dapat menolak kehendak orang tua, In-kong? Yang melamar adalah Thio-taijin untuk adiknya yang sudah mempunyai belasan orang anak, dan yang telah mempunyai banyak selir pula. Bagaimana saya dapat menolak....?"

Kalimat terakhir itu mengandung isak dan Kim Hwa menundukkan muka, kelihatan berduka sekali.

"Ah, kasihan engkau, Nona. Seorang dara semuda Nona, cantik jelita, dipaksa menikah dengan seorang bandot tua!"

Suma Hoat merasa penasaran sekali dan mendengar ucapan Suma Hoat, Kim Hwa terisak-isak menangis sesenggukan. Suma Hoat merasa makin kasihan. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak yang bergoyang-goyang itu dan berkata,

"Jangan menangis, Nona, dan jangan berputus asa. Seperti telah kukatakan tadi, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku. Kalau engkau tidak suka menikah dengan duda tua keluarga Thio itu, kau tolak saja dan aku yang akan melindungimu!”

Ucapan penuh semangat ini membuat Kim Hwa menjadi terharu dan berterima kasih sekali sehingga tangisnya makin mengguguk. Ketika Suma Hoat menghiburnya dengan mengelus rambut kepalanya yang hitam panjang dan halus, Kim Hwa tersedu dan merebahkan kepalanya di atas dada Suma Hoat!

Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, tanpa kata-kata namun keduanya yakin apa yang terjadi dengan perasaan hati masing-masing. Kuda yang mereka tunggangi berjalan perlahan seenaknya, agaknya tidak mau mengganggu majikannya yang sedang dilanda asmara. Jari-jari tangan Suma Hoat yang mengelus-elus rambut itu seolah-olah mengeluarkan getaran yang membuat Kim Hwa memejamkan mata dengan sepasang pipinya, yang menjadi kemerahan.

Tiba-tiba kuda putih yang tadinya melangkah perlahan dan tenang, menghentikan langkahnya hidungnya kembang-kempis, kemudian mengeluarkan suara meringkik keras dan keempat kakinya menggaruk-garuk tanah.

"Eh, Pek-ma (Kuda Putih), ada apakah?"

Suma Hoat yang sedang diterbangkan ke angkasa kemesraan itu terkejut, melepaskan belaian tangannya pada rambut Kim Hwa dan cepat menyambar kendali untuk menguasai kudanya. Sebagai jawaban, tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan hutan itu, gerengan seekor harimau yang berada di dalam gerumbulan dan yang kini keluar sambil memandang ke arah kuda.

"Celaka, In-kong....!"

Kim Hwa menjerit penuh kengerian dan kedua lengannya otomatis merangkul pinggang pemuda itu, tubuhnya gemetar.

"Tenanglah, Nona. Aku memang sedang mencari-cari harimau itu. Mari kita turun dan kau tunggu saja disini sampai aku selesai membunuh pengganggu dusun-dusun ini."

Tanpa menanti jawaban, Suma Hoat sudah memondong tubuh Kim Hwa turun dari atas punggung kuda putih yang juga berdiri menggigil ketakutan. Ia menurunkan Kim Hwa yang berdiri dengan muka pucat di dekat kuda, matanya terbelalak memandang ke arah harimau yang besarnya luar biasa dan kepada penolongnya yang kini melangkah maju menghampiri harimau dengan senyum tenang di wajahnya yang tampan!

Suma Hoat memandang harimau yang dihampirinya itu penuh kagum. Pantas saja penduduk dusun tidak berdaya menghadapi pengganggu ini. Kiranya seekor harimau yang luar biasa besarnya, sebesar anak lembu, dengan matanya yang liar tajam dan sikapnya yang angkuh dan memandang rendah seperti sikap seorang raja besar!

"In-kong...., pedangmu.... gunakan pedangmu....!"

Terdengar suara Kim Hwa gemetar penuh kekhawatiran. Dara ini melihat betapa penolongnya itu sudah dekat sekali dengan harimau akan tetapi masih saja bertangan kosong. Hanya orang gila saja yang melawan harimau sebesar itu dengan tangan kosong, pikirnya, maka karena kekhawatirannya, ia memaksa diri memperingatkan. Mendengar ini Suma Hoat menoleh dan tersenyum!

"Kim Hwa-moi, jangan khawatir. Dia ini bagiku hanyalah seekor kucing...."

"Awas.... ah, In-kong....!"

Kim Hwa menjerit. Akan tetapi tanpa diperingatkan juga, telinga Suma Hoat yang terlatih sudah mendengar gerakan harimau itu dan dengan mudah saja ia menggerakkan tubuh ke kiri mengelak, dari tubrukan dahsyat itu.

Akan tetapi harimau itu benar-benar berbeda dengan harimau-harimau biasa yang pernah ditangkap dan dibunuh Suma Hoat dengan tangan kosong. Begitu tubrukannya luput dan kakinya menyentuh tanah, tubuh harimau itu sudah membalik dengan cepat sekali, kedua kaki depan mencakar dari kanan kiri dan kaki belakangnya mengenjot tanah sehingga tubuhnya kembali sudah menerkam ke arah Suma Hoat!

"In-kong....!" Suara jerit Kim Hwa mengandung isak.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar