Ads

Sabtu, 26 Oktober 2019

Istana Pulau Es Jilid 071

Kalau hati Han Ki merana karena ditinggal pergi dua orang yang dikasihinya sehingga dunia terasa kosong olehnya, hati Maya pun merana penuh kekecewaan dan penuh cemburu terhadap sumoinya. Dia mencintai suhengnya, dan melihat sikap suhengnya selama lima tahun dia tinggal di Pulau Es, dia pun merasa yakin bahwa suhengnya mencintainya.

Bukan hanya mencinta seperti seorang suheng terhadap sumoinya, melainkan cinta seorang pemuda terhadap seorang dara! Hal ini diketahuinya benar atau diduganya penuh keyakinan, menyaksikan sikap dan pandang mata Han Ki, juga ketika suhengnya mengukir arcanya, jari-jari tangan suhengnya itu penuh perasaan dan amat mesra, sehingga ketika ia menonton suhengnya bekerja menyelesaikan arcanya, dia merasa seolah-olah jari tangan suhengnya itu bukan meraba-raba arca, melainkan meraba dan membelai tubuhnya sendiri, membuat ia merasa mesra dan nikmat. Akan tetapi, mengapa suhengnya tidak mau mengaku cinta? Apakah karena di sampingnya ada Siauw Bwee?

Hatinya kecewa, penasaran, dan mengkal dan larilah dara ini kepada cita-citanya. Dia harus memenuhi cita-citanya. Dia harus membalas dendam keluarganya. Membalas kematian ayah bundanya, membalas kehancuran kerajaan ayahnya. Dia akan membalas dendam kepada Kerajaan Mongol dan Kerajaan Sung, terutama sekali Kerajaan Sung karena selain kerajaan ini ikut bertanggung jawab atas kehancuran Kerajaan Khitan dan tewasnya ayah bundanya, juga Kerajaan Sung telah menewaskan pek-hunya, Menteri Kam Liong, dan telah membikin sengsara pula kepada suhengnya, Kam Han Ki.

Dia harus membalas Kerajaan Sung, inilah tugasnya yang paling penting. Biarpun dia tidak tahu bagaimana caranya membalas dendam kepada sebuah kerajaan, namun dia akan mencari cara itu, dan tidak akan berhenti sebelum cita-citanya tercapai. Dia percaya bahwa ilmu kepandaiannya sudah cukup tinggi dan dia tidak takut menghadapi siapapun juga di Kerajaan Sung!

Perahunya berlayar terus ke barat. Sampai keesokan harinya dia belum melihat daratan besar, hanya bertemu dengan pulau-pulau kecil yang kosong. Akan tetapi pada keesokan harinya, menjelang tengah hari, ia terkejut melihat sebuah mayat manusia terbawa ombak lalu didekat perahunya.

Mayat seorang laki-laki yang berpakaian tentara! Maya cepat lari ke pinggir perahu dan kini tampaklah olehnya bahwa bukan hanya sebuah itu saja mayat yang terapung di laut karena segera tampak banyak sekali mayat manusia di samping bagian-bagian perahu yang pecah dan peralatan perang yang terbawa hanyut oleh ombak. Siapakah mereka? Tentara mana dan mengapa perahu mereka pecah dan mereka semua tewas?

Pada tubuh mayat-mayat itu tampak luka-luka bekas senjata tajam. Agaknya terjadi pertempuran yang mengakibatkan semua ini, pikirnya. Tiba-tiba ia makin terkejut melihat asap membubung tinggi di sebelah kiri perahu, agak jauh dari situ.

Maya cepat mengatur kemudi dan membelokkan perahunya menuju ke arah asap yang membubung tinggi. Perahunya melawan ombak dan tak lama kemudian tampaklah olehnya penyebab asap itu. Kiranya ada beberapa buah perahu terbakar dan di atas lautan yang bergelombang itu tampak olehnya pertempuran yang dahsyat antara dua pasukan di atas perahu-perahu besar dan kecil yang berkgerak-gerak naik turun oleh ombak.

Udara yang digelapkan oleh asap itu penuh dengan anak panah yang beterbangan ke sana-sini mengeluarkan bunyi bersuitan dan amat banyak bagaikan hujan saling menyerang musuh kedua pihak. Tampak pula panah-panah yang dipasangi kain berminyak yang bernyala-nyala menyambar perahu-perahu dan terbakarlah perahu-perahu yang terkena panah berapi ini.

Dahsyat dan mengerikan, bising oleh suara anak panah, suara perahu memakan perahu, dan suara teriakan-teriakan manusia sedang berjuang melawan maut. Mayat-mayat bergelimpangan di atas perahu-perahu, ada yang terapung-apung, ada pula yang terluka dan belum mati terlempar ke laut, teriakan mereka melolong-lolong karena ngeri menghadapi maut di laut, sungguh menyayat hati.

Banyak sekali di antara perajurit yang tadinya dengan gagah berani menghadapi maut melawan musuh, setelah kini berada dalam cengkeraman maut yang berada gelombang lautan, menjerit-jerit dan minta tolong seperti seorang pengecut yang penakut. Memang adakalanya orang yang berani mati menghadapi ancaman maut di tangan senjata tajam musuh menjadi ketakutan menghadapi ancaman maut ditelan air.

Maya memandang semua itu dengan hati tertarik. Aneh sekali, dia tidak merasa ngeri atau takut! Pengalaman-pengalamannya setelah Kerajaan Khitan hancur, ketika dia dibawa pasukan Khitan yang berkhianat di bawah pimpinan bekas pengawal Bhutan, amatlah hebatnya sehingga perang bukan merupakan hal yang baru baginya. Dia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri, bahkan tertarik hatinya untuk ikut pula berperang!






Dia tidak tahu siapa yang berperang, akan tetapi dia ingin membantu pihak yang terdesak! Karena itu, Maya mempercepat perahunya menghampiri daerah perang yang mengerikan itu, dan matanya memandang penuh perhatian. Ketika ia melihat sebuah perahu besar seperti perahu perang dikepung oleh banyak perahu-perahu kecil, ia mendekatkan perahunya ke tempat itu.

Kagum hatinya menyaksikan beberapa orang berpakaian perwira dan anak buahnya mempertahankan perahu besar itu. Setiap kali ada perajurit dari perahu-perahu kecil itu berhasil meloncat ke atas perahu besar, tentu orang ini roboh lagi dengan tubuh terluka.

Gerakan para perwira di atas perahu besar menunjukkan bahwa mereka memiliki kegagahan dan kepandaian lumayan. Akan tetapi, serangan anak panah yang seperti hujan lebatnya, telah merobohkan banyak anak buah perahu besar sehingga di atas dek perahu besar itu telah bertumpukan mayat-mayat perajurit.

Hanya beberapa orang perwira yang masih sempat mempertahankan diri, menggunakan golok besar atau pedang untuk menangkis semua anak panah yang menyambar ke arah diri mereka. Di antara beberapa orang perwira itu, ada dua orang yang amat mengagumkan hati Maya karena mereka itu amat gagah perkasa, dan bukan hanya melindungi diri sendiri namun juga orang ini membagi-bagi perintah dan berusaha melindungi anak buah mereka dengan pedang mereka yang panjang. Seorang di antara mereka yang berpakaian amat indah dan gagahnya dapat ia kenal dari pakaiannya sebagai seorang panglima besar, berjenggot panjang dan sudah putih.

Adapun orang kedua adalah seorang berpakaian panglima muda yang brewok dan gagah perkasa, yang berjuang bahu-membahu dengan Si Panglima Besar. Namun keadaan mereka itu amat terdesak, tidak hanya karena pihak musuh yang amat banyak jumlahnya, yang meloncat dari perahu-perahu kecil yang mengepung perahu besar-besar, akan tetapi juga karena para anak buah mereka itu sibuk memadamkan perahu besar yang sudah terbakar sebagian!

“Gak-goanswe (Jenderal Gak), engkau sudah memberontak terhadap Kerajaan Sung, sekarang telah terkepung menyerahlah!”

Terdengar teriakan dari perahu-perahu kecil, dan mendengar ini, segera timbul rasa suka di hati Maya terhadap jenderal yang agaknya memberontak terhadap pemerintah Sung ini. Inilah kesempatannya untuk membalas, pikirnya. Yang berperahu besar itu adalah seorang jenderal dengan anak buahnya yang memberontak dan lawan mereka adalah tentara Kerajaan Sung yang harus dibasminya!

Dengan dayungnya, Maya lalu mendayung perahunya menuju ke tengah medan pertempuran. Ada anak panah yang menyeleweng dan menyambar ke arahnya, akan tetapi hanya dengan kebutan tangan ia berhasil meruntuhkan semua anak panah dan akhirnya ia dapat mendekatkan perahunya ke perahu besar setelah melalui kobaran api yang memakan perahu. Dengan gerakan bagaikan seekor burung walet, tubuhnya mencelat ke atas perahu besar.

“Basmi tentara Sung yang lalim!”

Teriaknya dan sekali menggerakkan kaki tangan, tiga orang tentara Sung yang mengeroyok panglima besar pemberontak itu roboh.

Dengan cekatan sekali Maya merampas sebatang golok dan sebatang pedang, kemudian mengamuklah sang dara perkasa ini yang membuat Si Jenderal melongo. Baru sekarang ini ia menyaksikan seorang dara jelita yang masih remaja, bersilat secara aneh, tangan kiri mainkan golok dengan ilmu golok sedangkan tangan kanan mainkan pedang dengan ilmu pedang. Dalam waktu beberapa menit saja, lima orang pengeroyok roboh dan tubuh mereka mencelat keluar dari perahu besar terjatuh ke laut karena ditendang kaki-kaki yang kecil mungil itu!

Setelah kepungan terhadap diri Sang Jenderal itu berkurang sehingga Sang Jenderal dengan leluasa dapat bergerak melindungi dirinya, Maya lalu meninggalkannya untuk mengamuk dan membabati tentara musuh yang mulai membakar layar perahu besar.

Amukannya hebat sekali dan setelah golok dan pedang rampasannya yang buruk itu rusak-rusak, ia menangkap tengkuk leher seorang perwira Sung yang berhasil naik ke perahu besar, kemudian merampas pedang dan sarung pedangnya yang indah, dan sekali menggerakkan tangan ia melempar tubuh sang perwira Sung dari perahu besar pula. Dan kini dara perkasa itu mengamuk dengan pedang di tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri.

Akan tetapi di sebelah belakang perahu besar terjadi keributan hebat. Maya cepat menengok dan alangkah kagetnya ketika ia menyaksikan pemandangan aneh. Dua orang laki-laki yang tubuhnya menempel satu sama lain, dua orang dampit, mengamuk dan membantu tentara kerajaan Sung! Gerakan mereka tangkas dan aneh sekali, dan Maya segera teringat akan cerita suhengnya akan sepasang manusia dampit yang amat lihai, bersembunyi di tempat keramat Pulau Nelayan.

Pada saat itu, perwira pemberontak yang brewok, yang gagah perkasa menerjang marah kepada sepasang orang dampit yang merobohkan banyak anak buahnya. Perwira muda itu menerjang dengan pedang panjangnya, menyerang dua orang yang tubuhnya menjadi satu dan bersambung di bagian punggung.

Akan tetapi, Si Dampit itu lihai bukan main karena empat buah tangan mereka bergerak secara berbareng dan tahu-tahu pedang di tangan panglima muda itu telah dirampas, pundak Si Panglima Muda dicengkeram dan di lain saat Sang Panglima Muda pemberontak sudah ditawan dan dikempit dalam keadaan lumpuh tertotok!

“Tawan dan bawa dia kesini!” Terdengar perintah dari sebuah di antara perahu kecil.

Maya menjadi marah sekali. Begitu melihat sepasang manusia dampit, sudah timbul kebenciannya. Apalagi melihat mereka telah menawan panglima muda pemberontak yang sedang dibelanya, maka ia pun merobohkan para pengeroyok dengan pedangnya yang digerakkan secara luar biasa cepatnya, kemudian tubuhnya meloncat ke arah sepasang orang dampit, pedangnya menyambar, sekaligus membabat dua buah kepala orang dampit itu.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar