Ads

Minggu, 03 Januari 2016

Suling Naga Jilid 037

Hanya Bi-kwi dan Bi Lan yang tahu apa yang telah terjadi dan mereka berdua terkejut, juga Bi-kwi merasa terheran-heran dan Bi Lan merasa kagum sekali. Sama sekali bukan karena Tee Kok merasa tidak tega melukai pemuda itu, melainkan dia terpaksa menahan serangannya karena kalau dilanjutkan, bukan lawannya yang terbacok atau tertusuk golok, melainkan dia sendirilah yang akan celaka.

Kiranya, setiap kali dia menyerang, baik dengan golok kanan maupun kiri, sebelum senjatanya itu mengenai tubuh lawannya, tiba-tiba saja sebatang sumpit telah menghadang dan mengancam dekat sekali dengan jalan darah di pergelangan tangan, siku maupun bawah pangkal lengan sehingga kalau dia meneruskan serangannya itu, sebelum senjata menyentuh tubuh lawan yang menjadi sasaran, terlebih dulu ujung sumpit itu akan menotok jalan darahnya!

Ke manapun juga dia menyerang, selalu saja sumpit-sumpit itu membayanginya dan mendahului setiap serangannya. Tentu saja hal ini membuat Tee Kok terkejut, keheranan dan juga penasaran lalu menjadi marah bukan main sehingga setiap kali dia terpaksa menarik goloknya lalu dia menyerang lagi dengan lebih ganas! Namun sama saja, agaknya pemuda itu memiliki gerakan yang jauh lebih cepat lagi sehingga sumpit-sumpitnya selalu menodong ke arah jalan darah yang akan melumpuhkan lengan Tee Kok kalau serangannya dilanjutkan.

Bi-kwi sejak tadi juga nonton perkelahian itu dan diam-diam wanita inipun merasa heran dan penasaran sekali. Ia mengenal tingkat kepandaian Tee Kok. Biarpun tidak terlalu tinggi dan ia sendiri dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja akan mampu merobohkannya, akan tetapi melihat perkelahian itu, ia tahu bahwa kalau pemuda baju biru itu mau, dalam segebrakan saja sumpitnya tentu akan mampu melakukan totokan dan merobohkan Tee Kok.

Ia memperhatikan dan ingin mengenal ilmu silat yang dimainkan pemuda itu agar ia akan mengetahui dari perguruan mana pemuda itu. Namun, pemuda itu bergerak sembarangan saja dan agaknya malah tidak bersilat, hanya kedua lengannya yang selalu bergerak cepat melakukan penodongan dengan sumpit-sumpitnya itu melenggak-lenggok macam dua ekor ular saja. Tentu semacam Ilmu Silat Ular, pikirnya, akan tetapi dari cabang manakah?

Sebagai seorang tokoh sesat yang berpengalaman, dan sudah banyak bertanding, melawan orang-orang dari berbagai partai persilatan, Bi-kwi banyak mengenal ilmu-ilmu silat dari dunia persilatan. Akan tetapi kini ia mendongkol sekali karena ia sungguh harus mengaku bahwa ilmu silat yang dimainkan pemuda baju biru itu sama sekali tidak dikenalnya.

Sebetulnya, hal itu tidak mengherankan karena ilmu silat yang dimainkan pemuda itu bukanlah ilmu silat biasa, melainkan ilmu silat yang sumber atau asalnya dari keluarga para pendekar Pulau Es! Pemuda itu bukan lain adalah Gu Hong Beng, putera tunggal mendiang Gu Hok, tukang kayu di Siang-nam yang tewas oleh Bong-ciangkun komandan Siang-nam itu.






Seperti telah kita ketahui, Gu Hok dan isterinya tewas, akan tetapi putera tunggal mereka yang bernama Gu Hong Beng dan pada waktu itu baru berusia sebelas tahun, diselamatkan oleh pendekar Suma Ciang Bun, seorang pendekar dari keluarga Pulau Es. Anak itu kemudian menjadi murid Suma Ciang Bun. Selama hampir delapan tahun lamanya Hong Beng digembleng dengan keras dan tekun oleh Suma Ciang Bun.

Karena dia memang berbakat baik sekali, maka kini dia telah menjadi seorang murid yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es dengan baiknya. Menghadapi Tee Kok yang menyerangnya dengan sepasang golok, Hong Beng mainkan ilmu yang sebenarnya bersumber pada Ilmu Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang menjadi satu di antara ilmu-ilmu keluarga para pendekar Pulau Es, akan tetapi dimainkan dengan sepasang sumpit. Tentu saja Bi-kwi tidak mengenal ilmu itu!

Kini, setelah lewat belasan jurus dan semua serangan Tee Kok dapat dihentikannya dengan todongan sumpit yang siap menotok jalan darah, mendahului kalau serangan golok dilanjutkan, tiba-tiba Hong Beng menggerakkan tubuhnya dengan cepat sekali dan mereka yang nonton perkelahian itu melihat betapa permainan sepasang golok itu menjadi kacau balau, tidak sempat menyerang lagi melainkan diputar-putar untuk melindungi tubuhnya.

Hal ini adalah karena tiba-tiba sepasang mata Tee Kok seperti berkunang-kunang rasanya, melihat betapa sepasang sumpit bambu itu berobah menjadi ratusan batang banyaknya. Tiba-tiba saja ada sebatang sumpit berada di depan matanya, siap menusuk matanya, lalu tiba-tiba saja menempel pada telinga, hidung, leher, dada dan bagian-bagian anggauta tubuh lain yang amat berbahaya. Sekali saja sumpit itu ditusukkan, biarpun hanya terbuat dari pada bambu kecil, tentu dapat menewaskannya.

Tiba-tiba terdengar Hong Beng mengeluarkan suara ketawa tertahan dan tahu-tahu tubuh Tee Kok tak bergerak lagi, berdiri dalam sikap hendak menyerang. Tubuh itu kaku, matanya melotot, golok kanan diangkat tinggi-tinggi dan golok kiri siap menyapu kaki lawan. Kiranya tubuhnya telah tertotok dua kali berturut-turut dan akibatnya, tubuh itu menjadi kaku seperti sebuah arca yang lucu.

Hong Beng tidak berkata apa-apa lagi, lalu berjalan kembali ke kursinya dan duduk sambil minum araknya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Melihat ini, wajah Bi-kwi berobah merah sekali. Pemuda itu memang terlalu besar kepala, pikirnya. Memang lihai, dan berhasil mengalahkan Tee Kok secara mutlak, akan tetapi di depannya bersikap begitu acuh, sungguh menggemaskan.

Bi-kwi menggerakkan tangannya, dua kali menepuk pundak dan punggung Tee Kok. Tubuh yang tadinya kaku itu roboh terpelanting, akan tetapi dapat bergerak lagi dan kini Tee Kok yang sudah yakin akan kehebatan pemuda itu, tak berani banyak lagak lagi hanya mengharapkan agar Bi-kwi dapat membalaskan kekalahannya.

Setelah membebaskan totokan tubuh Tee hok, Bi-kwi lalu menoleh kepada Hong Beng, sejenak memandang pemuda yang sedang minum itu dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Sinar putih halus menyambar ke arah telinga kiri pemuda itu.

Tentu saja sebagai murid seorang pendekar Pulau Es, Hong Beng tahu akan serangan gelap ini, serangan benda kecil yang agaknva ditujukan untuk melukai daun telinganya.
Diapun tahu bahwa penyerangnya adalah wanita cantik yang suaranya kadang-kadang dapat dingin seperti es itu, sinar matanya kadang-kadang tajam menusuk dan panas membara, kadang-kadang lembut dan dingin sejuk, yang oleh ketua Ang-i Mo-pang disebut Ciong Siocia.

Hong Beng tidak mengelak, melainkan menggerakkan sebelah tangannya seperti orang hendak menggaruk-garuk kepala dan pada saat tangannya menuju ke kepala itulah dia menangkap benda kecil itu dengan ibu jari dan telunjuknya.

Dan betapa kagumnya melihat bahwa benda yang dijadikan senjata rahasia itu hanyalah sebatang biting pencokel gigi! Kalau tidak memiliki tenaga sin-kang yang kuat dan juga kepandaian tinggi, tak mungkin mempergunakan benda sekecil dan seringan itu sebagai senjata rahasia yang ampuh !

“Terima kasih,” katanya seperti kepada diri sendiri. “Akan tetapi gigiku belum ada yang berlubang, tidak membutuhkan tusuk gigi!”

Yang dapat melihat semua ini hanyalah Bi-kwi dan Bi Lan dan kedua orang wanita ini tentu saja menjadi makin kagum. Akan tetapi Bi-kwi semakin marah dan ia sudah melangkah hendak menantang pemuda itu. Bi Lan agaknya maklum akan niat sucinya, maka lebih cepat lagi ia melangkah dan menghadang di depan sucinya, berkedip dan berkata,

“Suci, janjimu tadi tidak boleh kau langgar sendiri, hal itu akan mencemarkan nama besarmu. Selain itu, bukankah di sana menanti tugas yang lebih penting, untuk membantu Ang-i Mo-pang?”

Sejenak, dengan kemarahan meluap, Bi-kwi menentang pandang mata adiknya. Kemudian iapun teringat bahwa tadi ia berjanji bahwa kalau pemuda itu mampu mengalahkan Tee Kok ia akan mengampuni pemuda itu. Kini Tee Kok benar-benar telah dikalahkan, kalau kini ia turun tangan membunuh pemuda itu, berarti ia melanggar janjinva sendiri. Memang menurut wataknya, ia tidak perduli akan segala macam janji. Tidak dikenal kehormatan di dunia kaum sesat!

Akan tetapi, melihat adiknya seperguruan menentang, dan mengingat bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan, sedangkan kini Ang-i Mo-pang menanti ia turun tangan terhadap orang yang mengambil alih kedudukan dengan kekerasan, maka sebaiknya memang kalau ia melepaskan pemuda ini. Ia menarik napas panjang dan mendengus.

“Biarlah kuampunkan dia untuk kali ini. Lain kali kalau dia berani kurang ajar lagi dan bersikap sombong di depanku, tentu kepalanya yang kini kutitipkan kepadanya akan kuambil!” Ia lalu mengibaskan lengan bajunya dan keluar dari rumah makan diikuti oleh Bi Lan.

Pengurus restoran dan para pelayan tidak berani menghalangi biarpun dua orang wanita itu agaknya lupa untuk membayar harga makanan dan minuman. Bagaimanapun juga, dua orang wanita itulah yang telah mengusir orang berpakaian merah tadi, dan juga yang menaklukkan orang-orang Ang-i Mo-pang yang datang kemudian.

Tee Kok yang sudah tidak berani berlagak lagi, cepat menjadi penunjuk jalan, mengajak Bi-kwi dan Bi Lan untuk menemui orang yang telah mengambil alih kedudukannya sebagai ketua Ang-i Mo-pang.

Hong Beng hanya tersenyum mendengar ucapan Bi-kwi tadi. Dia lalu bangkit, memanggil pengurus rumah makan itu.

“Hitung sekalian dengan makanan dan minuman kedua orang nona tadi. Agaknya karena sibuk mereka lupa membayar, biarlah aku yang membayarnya sekalian.”

“Si-cu tidak usah membayar, kami bahkan merasa bersyukur bahwa si-cu kebetulan berada di sini tadi....“ kata pengurus rumah makan.

Akan tetapi Hong Beng berkeras membayar harga makanan dan minuman.
“Kalian sudah menderita banyak kaget dan rugi, juga harus menyingkirkan benda itu, bagaimana aku tega untuk tidak membayar harga makanan?”

Setelah membayar harga makanan, Hong Beng cepat meninggalkan restoran itu karena dia mengambil keputusan untuk membayangi dua orang gadis tadi yang agaknya hendak membantu Ang-i Mo-pang yang diambil alih oleh golongan lain. Tentu akan terjadi hal yang amat seru, pikirnya.

Hong Beng selama beberapa tahun terakhir ini bersama gurunya tinggal di satu di antara puncak-puncak Pegunungan Koa-li-kung, di tepi Sungai Me-kong yang sunyi. Lembah Sungai Me-kong ini amat subur dan di tempat sunyi itu mereka berdua hidup dengan tenteram, mencurahkan perhatian pada latihan silat. Kadang-kadang Hong Beng ditinggal seorang diri oleh gurunya dan ketika untuk terakhir kalinya, beberapa bulan yang lalu gurunya pulang dari perantauan, Suma Ciang Bun menyatakan bahwa muridnya itu sudah belajar lebih dari cukup.

“Segala macam ilmu hanya dapat matang dan sempurna kalau dipergunakan dalam kehidupan,” demikian antara lain Suma Ciang Bun berkata kepada muridnya. “Selain mematangkan ilmu dengan praktek menempuh kehidupan yang keras ini, juga apa gunanya engkau bersusah payah mempelajari ilmu-ilmu silat dariku kalau tidak dipergunakan? Perggunaan ilmu inilah yang terpenting, dan baik buruknya penggunaannya tergantung sepenuhnya kepadamu. Aku memberi sebuah tugas kepadamu, Hong Beng. Sanggupkah engkau melaksanakan tugas yang berat ini?”

Hong Beng yang berlutut di depan suhunya itu menjawab dengan tegas.
“Teecu sanggup melaksanakan segala perintah suhu yang bagaimana beratpun.”

“Baik, aku percaya padamu. Selama engkau ikut aku merantau, tentu engkau sudah mengenal keadaan dunia pada umumnya dan engkau tentu dapat berhati-hati dan menjaga diri. Ilmu baca tulis, sedikit banyak engkau telah menguasainya dan hampir semua ilmu silatku telah kuajarkan padamu. Ingat, engkau adalah murid keluarga para pendekar Pulau Es. Sebagai murid Pulau Es, engkau harus dapat menjaga keharuman nama keluarga Pulau Es dan di manapun engkau berada, engkau harus menjadi pendekar sejati. Tugas yang kuserahkan padamu ini berat sekali karena engkau harus pergi ke kota raja dan menyelidiki kehidupan seorang perdana menteri.”

Biarpun dia memiliki watak tenang dan pemberani, juga pendiam, mendengar ucapan suhunya itu, Hong Beng tertegun juga. Menyelidiki seorang perdana menteri di kota raja? Ini hebat! Melihat betapa muridnya terkejut akan tetapi tetap diam saja, Suma Ciang Bun merasa girang dan kagum.

“Hong Beng, selama bertahun-tahun ini pemberontakan terjadi di mana-mana. Memang, kami keluarga Pulau Es tidak mau melibatkan diri dengan urusan pemerintahan. Akan tetapi bagaimanapun juga, pemberontakan-pemberontakan itu membuat kehidupan rakyat menjadi sengsara. Setiap kali terjadi pemberontakan dan perang saudara, yang mengalami pukulan paling hebat adalah rakyat jelata. Dan aku sendiri merasa heran. Dahulu, bahkan sebelum menjadi kaisar, Kian Liong merupakan seorang pemimpin yang amat bijaksana dan baik. Sekarangpun nampak betapa kaisar ini mendatangkan banyak kemajuan, Akan tetapi, menurut kabar yang kutangkap, akhir-akhir ini Kaisar Kian Liong dipermainkan oleh seorang yang kabarnya dapat mempengaruhi kaisar sehingga dari seorang kuli biasa, orang itu terus diberi kenaikan pangkat dan akhirnya dicalonkan menjadi seorang perdana menteri. Hal ini bagiku mencurigakan dan tidak wajar. Nah, inilah tugas yang hendak kuserahkan padamu. Pergilah ke kota raja, selidiki keadaan seorang pembesar yang dicalonkan sebagai perdana menteri. Dia bernama Hou Seng. Selidiki mengapa kaisar dapat jatuh ke dalam kekuasaan orang yang bernama Hou Seng ini dan kalau perlu bertindaklah untuk membasmi segala macam sebab yang menimbulkan adanya kelemahan dalam kendali pemerintahan Kaisar Kian Liong.”

Pemuda itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu mengangguk dan menjawab, suaranya tenang dan tegas,

“Teecu akan melakukan semua perintah dan petunjuk suhu.”

Kembali pendekar itu merasa kagum terhadap muridnya. Dia tahu bahwa tugas ini berat dan asing bagi muridnya yang pengalamannya hanya ketika diajaknya merantau itu saja.

Bahkan bagaimana macamnya kota rajapun muridnya itu belum pernah melihatnya. Akan tetapi, sikap muridnya demikian tenang menghadapi tugas seberat itu. Diam-diam selain kagum, diapun merasa kasihan dan khawatir. Memang, tugas ini amat penting bagi kepentingan rakyat jelata dan perlu pula bagi muridnya sendiri untuk menggembleng diri dan memperdalam pengalaman hidup sebagai seorang pendekar. Akan tetapi, kota raja menjadi pusat di mana terdapat orang-orang pandai dari segala macam golongan.

“Hong Beng, untuk tugas ini, sebaiknya engkau mencari susiokmu (paman gurumu) yaitu adikku yang bernama Suma Ceng Liong yang kini bersama keluarganya tinggal di kota Thian-cin. Atau lebih baik lagi engkau mencari ci-huku (kakak ipar) bernama Kao Cin Liong yang bersama keluarganya tinggal di kota Pao-teng. Dari mereka itu engkau mungkin sekali akan memperoleh keterangan yang jelas tentang orang bernama Hou Seng itu. Apalagi ci-hu Kao Cin Liong adalah bekas seorang panglima kerajaan. Justeru setelah dia mengundurkan diri timbul kekacauan dan muncul seorang bernama Hou Seng itu.”

Setelah menerima hanyak nasihat dari suhunya, juga menerima bekal sekantong uang dengan pesan bahwa kalau dia kehabisan bekal dan tidak terpaksa sekali, jangan sampai merugikan orang lain dengan perbuatan yang jahat, melainkan terus terang saja minta bantuan kepada kuil-kuil atau kepada hartawan-hartawan yang dermawan, akhirnya pergilah pemuda itu meninggalkan puncak di Pegunungan Koa-li-kung di daerah selatan Hu-nan. Dalam perjalanan ini, ketika melewati daerah Siang-nam, tidak lupa dia singgah di kuburan ayah ibunya, yaitu di luar kota Siang-nam di mana dia dahulu dibantu oleh gurunya mengubur jenazah mereka.

Semalam suntuk dia duduk bersila di depan kuburan besar terisi jenazah ayah bundanya itu, tidak menangis atau berduka. Semenjak menjadi murid pendekar Suma Ciang Bun, pemuda ini sudah dijejali banyak pengertian tentang kehidupan dan sudah biasa membuka mata melihat kenyataan-kenyataan sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh bayangan-bayangan dan emosi-emosi yang membuat orang mudah berduka.

Semua peristiwa yang lalu telah pula berlalu, demikian batinnya berbisik. Dia mengunjungi makam dan berdiam semalam suntuk di situ hanya untuk menghormati peninggalan ayah dan ibunya. Apa lagi, pembunuh-pembunuh ayah ibunya telah dibalas oleh gurunya, sehingga dia tidak mempunyai dendam atau sakit hati lagi.

Harus diakuinya bahwa perantauan seorang diri, terpisah dari gurunya, merupakan hal yang berat dan kadang-kadang menggelisahkan. Akan tetapi ada saat-saat di mana dia merasa bahagia dan gembira, merasa bebas tidak terikat oleh apapun juga, hidup sendirian seperti seekor burung yang terbang bebas lepas di udara!

Demikianlah sedikit tentang diri Hong Beng. Pada pagi hari itu, dia tiba di Kun-ming dan tanpa disengaja dia memasuki restoran dan melihat Bi-kwi dan Bi Lan kemudian terlibat dalam peristiwa dengan orang-orang Ang-i Mo-pang. Dia belum pernah mendengar tentang perkumpulan itu, akan tetapi dari nama perkumpulan itu dia dapat menduga bahwa Ang-i Mo-pang tentulah sebuah perkumpulan penjahat. Rasa heran dan ingin tahu apakah hubungan antara dua orang gadis cantik dan lihai seperti yang dijumpainya di restoran itu dengan perkumpulan sesat membuat dia ingin sekali membayangi mereka.

Dia bersikap hati-hati sekali karena dia maklum bahwa dua orang wanita itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Diapun tidak ingin mencampuri urusan mereka, hanya ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dengan dua orang gadis itu. Ada sesuatu pada diri dua orang gadis itu, terutama pada diri gadis yang disebut Ciong Siocia, amat menarik hati Hong Beng.

Selama ini, belum pernah dia merasa tertarik kepada seorang wanita. Sejak kecil dia hidup dengan gurunya dan belum pernah dia melihat gurunya berdekatan dengan wanita, bahkan sikap gurunya terhadap wanita amat dingin. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi dirinya dan diapun belum pernah merasa tertarik kepada wanita. Kalau sekali waktu, ketika dia menjelang dewasa, ada perasaan tertarik ini kalau dia bertemu dengan seorang gadis dalam perjalanannya bersama suhunya, maka perasaan ini segera ditekannya karena dia malu terhadap gurunya. Tentu saja andaikata gurunya itu memiliki sikap pria wajar terhadap wanita, agaknya diapun tidak akan menekan perasaan itu.

Dan kini, begitu dia melakukan perjalanan seorang diri, dia bertemu dengan seorang wanita yang amat menarik hatinya, yaitu Bi-kwi! Dalam pandangannya Bi-kwi merupakan seorang wanita yang matang, yang amat menarik semua gerak-geriknya, berwibawa, dan ada sesuatu yang membuat dia merasa kasihan. Sesuatu itu mungkin garis-garis di antara kedua mata wanita itu, yang membayangkan suatu kepahitan hidup yang mengharukan hati Hong Beng. Gadis ke dua yang jauh lebih muda itupun manis sekali, akan tetapi dalam pandangan Hong Beng gadis itu masih kekanak-kanakan, masih mentah.

**** 037 ****
Suling Naga