Ads

Minggu, 03 Januari 2016

Suling Naga Jilid 038

Sebetulnya apakah yang telah terjadi dengan perkumpulan Ang-i Mo-pang? Seperti kita ketahui, perkumpulan itu adalah sebuah perkumpulan penjahat yang dipimpin oleh Tee Kok sebagai ketuanya.

Tee Kok adalah seorang bekas anggauta Hek-i Mo-pang yang dahulu terkenal sebagai perkumpulan sesat yang ditakuti orang. Tee Kok mengumpulkan beberapa orang kawan bekas anggauta Hek-i Mo-pang, kemudian ditambah lagi dengan anak buah baru yang terdiri dari orang-orang dari dunia hitam, dia mendirikan Ang-i Mo-pang.

Tidak kurang dari limapuluh anak buahnya dan semua anak buah Ang-i Mo-pang memakai pakaian serba merah. Kemudian muncul Bi-kwi yang menaklukkan dan mengalahkan Tee Kok. Akan tetapi wanita ini tidak mau menjadi ketua perkumpulan itu, melainkan menarik perkumpulan itu sebagai pembantu-pembantunya. Semenjak ditalukkan Bi-kwi, perkumpulan itu malah menjadi semakin kuat, dan anak buahnya selalu bertambah.

Dalam hal menerima anak buah baru, Tee Kok bersikap hati-hati sehingga dia dapat memilih anak buah yang benar-benar seorang yang selain memiliki kepandaian, juga memiliki setia kawan dalam dunia hitam.

Akan tetapi, sebulan yang lalu, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki muda, berusia tigapuluhan tahun, berpakaian seperti pemuda hartawan dan sasterawan, membawa pengikut sebanyak lima orang. Begitu muncul, pemuda yang mengaku bernama Bhok Gun ini segera menyatakan kehendaknya untuk menggantikan Tee Kok menjadi ketua Ang-i Mo-pang! Tentu saja mula-mula orang ini dianggap gila. Akan tetapi begitu pernyataan ini berakhir dengan perkelahian, Tee Kok dan semua pembantunya kalah dengan mudah oleh Bhok Gun!

“Kalau aku mau, apa sukarnya membasmi kalian semua? Akan tetapi aku tidak ingin membunuh kalian karena aku melihat bahwa Ang-i Mo-pang kelak akan menjadi perkumpulan besar, bahkan yang terbesar, di bawah pimpinanku. Mulai sekarang aku menjadi Pangcu, dan Tee Kok menjadi pembantuku. Siapa yang tidak setuju boleh maju melawan aku!”

Demikianlah, mulai hari itu, sebulan yang lalu, pemuda yang bernama Bhok Gun itu menjadi ketua Ang-i Mo-pang! Tee Kok menjadi pembantunya, bersama lima orang yang datang bersama Bhok Gun. Dan pada pagi hari itu, seorang di antara lima pembantu Bhok Gun melakukan pemerasan di restoran itu dan orang yang bernasib sial ini bertemu dengan Bi-kwi yang menyebabkan buntungnya sebelah lengannya.

Melakukan pemerasan merupakan hal biasa saja bagi Ang-i Mo-pang, maka mendengar betapa orang yang telah menjadi rekannya itu dibuntungi orang lengannya di restoran ketika dia sedang “bekerja”, Tee Kok cepat mengajak lima orang anak buah untuk menyerbu ke restoran. Tak disangkanya bahwa yang dikerjakan oleh rekan barunya itu adalah Ciong Siocia yang amat ditakutinya.






Dapat dibayangkan betapa gemparnya para angauta Ang-i Mo-pang ketika mereka melihat Tee Kok pulang bersama dua orang wanita dan seorang di antara mereka adalah Ciong Siocia!

Kini di sarang mereka terdapat dua orang pandai yang tentu akan saling memperebutkan kedudukan dan tentu akan terjadi pertentangan yang seru! Karena mereka semua tahu akan kelihaian Ciong Siocia, juga akan kelihaian ketua baru Bhok Gun, mereka tidak akan berpihak, dan hanya menanti siapa di antara keduanya itu yang akan keluar sebagai pemenang.

Memasuki sarang di mana perkumpulan berpuluh orang berpakaian seragam merah, Bi Lan merasa agak khawatir juga, karena ia merasa seolah-olah memasuki sebuah hutan penuh dengan srigala buas yang berkeliaran.

Tidak demikian dengan Bi-kwi. Wanita ini sudah pernah menaklukkan Ang-i Mo-pang dan ia merasa yakin bahwa Tee Kok dan seluruh anggauta perkumpulan itu tidak akan berani mengeroyoknya dan ia hanya akan menghadapi pendatang baru itu saja. Maka ia melangkah memasuki perkampungan Ang-i Mo-pang yang berada di luar kota Kun-ming dengan tenang, bahkan mendahului Tee Kok ketika mereka memasuki gedung utama yang tentu didiami oleh ketua baru itu.

Seorang di antara anak buahnya sendiri sudah cepat memberi kabar kepada Bhok Gun tentang datangnya Tee Kok bersama dua orang wanita, bahkan anak buah yang buntung lengannya dan yang berada di situ pula setelah mengalami pengobatan, juga cepat mengintai dan cepat pula lari kembali ke dalam ruangan besar di mana ketuanya sedang duduk menanti.

“Pangcu, benar siluman perempuan itu yang datang!” katanya dengan tubuh gemetar.

Pria muda itu tersenyum dan tetap duduk di atas kursi yang diberi warna merah pula. Dia sendiri mengenakan pakaian mewah, bukan pakaian merah seperti para anggautanya.

Pakaian seorang sasterawan muda yang kaya raya. Dan semenjak Bhok Gun menjadi ketua, ruangan yang luas inipun penuh dengan tulisan-tulisan dan lukisan-lukisan indah, bergantungan di dinding. Ruangan itupun bersih dan rapi, sama sekali tidak dapat disamakan dengan dahulu sebelum dia datang, ruangan itu kotor dan hanya penuh dengan senjata-senjata dan alat-alat penyiksa.

Begitu memasuki ruangan itu, Bi-kwi melihat perobahan besar ini, perobahan yang mencengangkan hatinya. Ia sendiri suka akan kebersihan dan keindahan, karena itu iapun selalu pesolek dan pakaiannya selalu bersih dan indah. Dan pada saat itu ia mendengar suara halus seorang laki-laki,

“Kalian semua mundurlah, aku akan menyambut kedatangan nona Ciong yang terhormat!”

Tentu saja tadi ketua baru ini sudah mendengar bahwa yang muncul itu adalah Ciong Siocia yang sebelumnya sudah didengarnya sebagai seorang wanita sakti yang telah menaklukkan Ang-i Mo-pang sebelum dia muncul di situ. Dan mendengar pula bahwa ternyata yang diganggu anak buahnya justeru Nona Ciong itulah!

Ketika Bi-kwi dan Bi Lan memasuki ruangan itu, Tee Kok mengikuti dari belakang dengan jantung berdebar tegang. Diapun maklum bahwa di antara dua kekuasaan ini tentu akan terjadi persaingan dan kalau disuruh memilih, tentu saja dia memilih Bi-kwi. Nona ini benar menganggap dia anak buahnya sebagai pembantu dan taklukan, akan tetapi tidak menuntut kedudukan ketua, bahkan jarang pula datang ke Kun-ming, hanya kalau ada kepentingan saja baru minta bantuan Ang-I Mo-pang. Sebaliknya, orang she Bhok itu ingin mutlak menguasai Ang-i Mo-pang dan menjadi ketua, bahkan tinggal di situ walaupun dia tidak mengenakan pakaian merah.

Sementara itu, mendengar suara laki-laki itu, Bikwi lalu mengangkat muka memandang dengan penuh selidik. Seorang pria yang usianya kurang lebih tigapuluh tahun, seorang pemuda yang sudah masak, dengan sinar mata tajam dan penuh pengertian, namun sinar mata itupun liar mengandung kecerdikan, bergerak-gerak terus ke sana-sini. Wajahnya pesolek dan tampan, dengan mulut yang selalu tersenyum manis. Kulit muka itu tentu dibedaki tipis, rambutnya yang panjang hitam itu mengkilat karena minyak, dan pakaiannya baru dan indah, pakaian sasterawan dari sutera putih yang dihias warna biru dan merah di sana-sini. Sepatunya yang tinggipun baru mengkilap. Seorang pria yang sungguh tampan dan pesolek, yang akan mudah menjatuhkan hati wanita.

Di lain pihak, Bhok Gun juga mengamati dua orang wanita yang memasuki ruangan dengan sikap tenang itu. Diapun terpesona melihat kecantikan Bi-kwi. Seorang wanita yang sudah matang, usianya tentu sekitar tigapuluh tahun, wajahnya cantik manis, pakaiannya mewah. Tentu ini yang disebut Ciong Siocia oleh Tee Kok dan para anggauta Ang-i Mo-pang. Akan tetapi, matanya yang sudah berpengalaman itu melirik pula ke arah Bi Lan dan diam-diam diapun terpesona oleh dara yang biarpun pakaiannya sederhana, namun dia tahu merupakan dara yang menggairahkan, bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar dan belum disentuh lebah atau kupu-kupu yang nakal.

Setelah dua orang wanita itu tiba di depannya, Bhok Gun lalu bangkit berdiri dan menyambut mereka dengan sikap hormat. Dia menjura kepada mereka dan berkata dengan suara halus dan senyum ramah gembira,

“Selamat datang di perkumpulan kami Ang-i Mo-pang, ji-wi siocia (dua orang nona)!”

Bi Lan adalah seorang gadis yang pada hakekatnya berwatak gembira dan ramah, maka menghadapi sikap tuan rumah yang tersenyum-senyum ramah dan hormat, ia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tangan di depan dada.

Akan tetapi, Bi-kwi hanya mengerutkan alisnya. Biarpun hatinya tertarik oleh gaya laki-laki yang ganteng ini, namun karena ia sedang marah mencari orang yang berani mengambil alih kedudukan di perkumpulan itu, diam saja dan hanya memandang tajam penuh selidik.

Tee Kok yang merasa tidak enak segera berkata! sambil berdiri berlindung di belakang Bi-kwi,

“Bhok Pangcu, ini adalah Ciong Siocia.... eh, pelindung kami.... dan Siocia ingin menemui pangcu dan ingin bicara....“

Bhok Gun memperlebar senyumnya dan kembali menjura kepada Bi-kwi.
“Sudah kuduga dari tadi bahwa nona tentulah Ciong Siocia. Silahkan duduk dan mari kita bicara dengan baik.”

Pemuda tampan itu mempersilahkan dengan tangannya, akan tetapi Bi-kwi tetap berdiri tegak, bahkan kini berkata dengan suara lantang dan ketus, walaupun suara itu dibikin bernada merdu.

“Selamanya aku hanya mengenal Tee Kok sebagai Pangcu (Ketua) Ang-i Mo-pang! Siapakah engkau yang datang menyambut aku dan sumoi?”

Diam-diam Bhok Gun tertegun. Kiranya gadis muda yang sederhana itu adalah sumoi dari Ciong Siocia. Kalau begitu berarti dia akan menghadapi dua orang wanita yang lihai dan dia harus berhati-hati. Akan tetapi wajahnya tetap tersenyum ramah dan dia mengangguk dengan tubuh membungkuk ketika menjawab.

“Aku bernama Bhok Gun dan melihat Ang-i Mo-pang kurang kuat, aku bermaksud untuk memperkembangkannya menjadi sebuah perkumpulan yang paling kuat di dunia. Untuk dapat menjadi perkumpulan yang hebat, tentu saja Ang-i Mo-pang harus dipimpin orang yang mampu, yang pandai, tidak sekedar memiliki beberapa ilmu pukulan seperti Tee Kok. Maka aku datang dan mengambil alih kepemimpinan.”

“Hemm, kau sungguh lancang! Apakah tidak tahu bahwa Ang-i Mo-pang mempunyai seorang pelindung? Tanpa persetujuanku, bagaimana engkau dapat menjadi pangcu baru?”

Bhok Gun tersenyum dan kembali menjura.
“Maaf, Siocia. Kalau begitu setelah kini kita saling berhadapan, biarlah aku minta persetujuanmu!”

Bi-kwi tersenyum mengejek. Bagaimanapun juga, sikap ketua baru yang ramah dan selalu hormat itu menyenangkan hatinya. Kalau benar orang ini memiliki kepandaian yang tinggi dan dapat menjadi pembantunya, hemm, tentu jauh lebih menyenangkan dari pada mempunyai pembantu seperti Tee Kok yang sudah tua dan buruk rupa itu, apa lagi memang ilmu silat Tee Kok tak dapat terlalu diandalkan.

“Tidak begitu mudah! Menjadi ketua Ang-i Mo-pang berarti menjadi pembantuku, dan aku harus membuktikan dulu apakah kau pantas menjadi pembantuku.”

Semua orang memandang dengan hati tegang. Tibalah saatnya yang menegangkan kini. Gadis sakti itu, yang ditakuti semua anggauta Ang-i Mo-pang, telah mengeluarkan tantangannya.

Akan tetapi, Bhok Gun sama sekali tidak kelihatan jerih dan masih tersenyum-senyum ketika melangkah maju ke tengah ruangan yang luas itu, lalu berdiri tegak dan menjawab, suaranya halus namun ramah dan tegas.

“Silahkan, Siocia. Engkau akan mendapat kenyataan bahwa bagaimanapun juga, aku tidak dapat disamakan dengan Tee Kok. Harap saja engkau suka menaruh kasihan kepadaku dan tidak menurunkan tangan kejam.”

“Kita lihat saja nanti!” kata Bi-kwi sambil melangkah menghampiri pemuda itu.

“Suci, hati-hati....” bisik Bi Lan karena gadis ini melihat betapa sikap pemuda itu amat tenangnya, dan sikap ini saja membayangkan bahwa pemuda itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga demikian yakin akan kekuatannya sendiri.

Bi-kwi hanya tersenyum mendengar peringatan sumoinya. Iapun bukan orang bodoh dan melihat sikap pemuda tampan mewah ini iapun melihat betapa pemuda ini memiliki sikap yang amat tenang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, seperti yang juga dimiliki pemuda di restoran tadi dan ia dapat menduga bahwa orang inipun tentu amat lihai. Maka begitu berhadapan, ia mengeluarkan seruan melengking dan menyerang dengan dahsyatnya memainkan jurus dari Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang dari Raja Iblis Hitam.

“Haiiittt....!”

Lengan Bi-kwi meluncur ke depan dengan cengkeraman ke arah dada lawan. Bhok Gun dengan sikap tenang melangkah mundur untuk menghindarkan diri, akan tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan seruan kaget ketika lengan gadis itu mulur memanjang dan masih melanjutkan cengkeramannya dengan hebat. Lengan Bi-kwi mulur dan bertambah panjang tidak kurang dari setengah meter!

Suling Naga