Ads

Minggu, 03 Januari 2016

Suling Naga Jilid 039

Terpaksa Bhok Gun menangkis dengan cepat karena hampir saja dadanya kena dicengkeram.

“Dukk....!”

Keduanya merasa betapa lengan mereka tergetar dan Bi-kwi sudah melanjutkan serangan-serangannya dengan mempergunakan Ilmu Silat Hek-wan Sip-pat-ciang yang lihai itu. Namun, ketua Ang-i Mo-pang yang baru itu selalu dapat menghindarkan diri sambil berkali-kali mengeluarkan seruan kaget dan heran. Agaknya dia mengenal jurus-jurus ini karena dia dapat menghindarkan diri dengan gerakan yang amat tepat.

Bi-kwi merasa penasaran dan iapun cepat menyelingi serangan dengan jurus-jurus Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapanbelas Jurus Lutung Hitam) dengan tendangan-tendangan istimewa Pot-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin) dari Iblis Akhirat.

Kembali Bhok Gun mengeluarkan seruan heran akan tetapi yang merasa semakin penasaran adalah Bi-kwi karena pemuda itu kembali dapat menghindarkan diri dengan baik sekali dari serangan-serangannya, baik yang dilakukan dengan jurus Hek-wan Sip-pat-ciang maupun tendangan-tendangan Pat-hong-twi. Pemuda itu seperti telah mengenal semua gerakannya sehingga dapat menghindarkan diri dengan tepat sekali. Dengan gemas ia lalu mengeluarkan Ilmu Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) dari Iblis Mayat Hidup. Kedua tangannya mengeluarkan suara berdesing karena iapun sudah mengerahkan tenaga Kiam-ciang yang amat dahsyat itu.

“Ehhh....!”

Bhok Gun berseru kaget sekali dan dia meloncat mundur. Sudah belasan jurus dia diserang dan dia hanya mengelak dan menangkis terus.

“Nona, kau sambutlah ini!” bentaknya dan kini dia balas menyerang.

Kini giliran Bi-kwi yang merasa heran dan kaget karena serangan-serangan pemuda itu mengandung dasar ilmu silat yang dimilikinya, bahkan terkandung unsur-unsur semua ilmu silat yang dipelajarinya dari tiga orang gurunya. Ia mengelak sambil berloncatan dan balas menyerang. Sampai kurang lebih limapuluh jurus mereka saling serang dan akhirnya Bhok Gun meloncat ke belakang.

“Nona, tahan! Aku mengenal ilmu silatmu. Apakah engkau murid Sam Kwi?”

Bi-kwi berhenti bergerak, dan kini ia menghunus pedangnya. Dengan marah ia memandang pemuda itu, lalu telunjuk kirinya menuding ke arah muka lawan.






“Orang she Bhok, sebelum mampus di ujung pedangku, katakanlah, siapa sebenarnya engkau dan dari mana engkau mengenal ilmu-ilmuku tadi?”

Akan tetapi, pemuda itu memandang dengan senyum lebar dan tiba-tiba dia berkata dengan ramah sekali.

“Sumoi, harap kau suka simpan kembali pedangmu.”

Tentu saja Bi-kwi dan Siauw-kwi terkejut bukan main mendengar ucapan ini. Mereka memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

“Kau bohong!” Bi-kwi membentak. “Ketiga orang suhu kami tidak pernah mempunyai murid laki-laki, bahkan tidak mempunyai murid lain kecuali kami berdua!”

“Engkau benar, karena memang aku bukanlah murid ketiga susiok Sam Kwi. Akan tetapi, marilah kita bicara di dalam dan kalian akan mendengar siapa sebenarnya aku dan mengapa aku menyebut kalian sumoi. Marilah.”

Bhok Gun lalu memberi isyarat kepada Tee Kok dan para anggauta Ang-i Mo-pang untuk bubaran. Semua anggauta itu tentu saja merasa kecewa. Mereka tadinya mengharapkan untuk nonton perkelahian yang seru dan mati-matian. Akan tetapi ternyata perkelahian tadi tidak berakhir dengan kalah menangnya seorang di antara mereka, bahkan agaknya mereka itu masih ada hubungan keluarga seperguruan! Akan tetapi, tentu saja mereka tidak berani membantah dan Tee Kok lalu menyuruh mereka semua mengundurkan diri.

Bhok Gun mengajak dua orang gadis itu duduk di ruangan dalam, di bagian belakang dan di ruangan inipun keadaannya amat mewah dan menyenangkan. Jendela-jendela dibuka sehingga hawanya sejuk dan dipasangi tirai sutera sehingga keadaan dalam kamar tidak nampak dari luar.

Setelah dua orang tamunya duduk, Bhok Gun lalu bercerita dan dua orang gadis itu mendengarkan dengan penuh perhatian, juga dengan hati mengandung perasaan heran.

Dengan suara yang halus dan sikap yang menarik, pria yang ternyata memiliki banyak sekali pengalaman itu bercerita.

Kiranya dia adalah cucu murid dari mendiang Pek-bin Lo-sian, kakek yang menjadi keturunan terakhir dari perguruan mereka yang menguasai pusaka Pedang Suling Naga.

Selama hidupnya, Pek-bin Lo-sian tidak pernah menikah dan dia memiliki seorang murid tunggal yang setelah tamat belajar, diusirnya karena watak murid ini amat curang dan keji terhadap gurunya sendiri. Hampir saja murid ini membunuh Pek-bin Lo-sian ketika dia hendak merampas pusaka Liong-siauw-kiam. Untung bahwa Pek-bin Lo-sian masih memiliki kelebihan dari pada muridnya sehingga murid itu dapat dikalahkan dan murid itu melarikan diri dengan menderita luka-luka.

“Nah, murid dari su-kong Pek-bin Lo-sian itu lalu pergi merantau, memperdalam ilmunya dan akulah murid tunggalnya. Setelah merasa kuat, guruku pergi mencari sukong untuk merampas Liong-siauw-kiam, akan tetapi ternyata su-kong telah tewas dan pusaka itu telah diserahkan kepada orang lain.”

“Seorang pendekar....“ kata Bi-kwi pahit.

“Benar, seorang pendekar! Inilah yang menjengkelkan hati guruku. Su-kong sendiri adalah seorang datuk golongan hitam, sejak dahulu kita semua, perguruan kita, memusuhi golongan pendekar yang sombong. Eh, pusaka itu oleh su-kong malah diwariskan kepada seorang pendekar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perguruan kita. Guruku lalu menyuruh aku untuk turun gunung dan pergi mencari pendekar yang menguasai pusaka Liong-siauw-kiam itu, membunuh dan merampas pusaka.”

Ini merupakan cerita baru yang amat mengejutkan hati Bi-kwi. Kiranya kakek Pek-bin Lo-sian ini masih mempunyai cucu murid yang begini lihai! Dengan begini, ia mendapatkan seorang saingan tangguh dalam memperebutkan pusaka Liong-siauw-kiam! Akan tetapi, ia masih ragu-ragu dan belum percaya sepenuhnya akan keterangan Bhok Gun, maka ia mengambil keputusan untuk menyelidiki terus dan baru mengambil tindakan kalau sudah jelas siapa sesungguhnya orang ini.

“Kalau kau ditugaskan untuk mencari Liong-siauw-kiam, kenapa engkau mengambil alih kekuasaan Ang-i Mo-pang?”

“Aih, masa begitu saja engkau tidak dapat menduganya, sumoi?”

“Jangan sebut sumoi, aku masih ragu-ragu apakah engkau benar saudara seperguruanku!” kata Bi-kwi ketus.

Bhok Gun tersenyum.
“Baiklah, nona. Kita bicara sampai engkau yakin benar. Aku turun gunung dan tidak tahu siapa adanya pendekar yang diwarisi Suling Naga. Ketika aku mendengar tentang Ang-i Mo-pang di kota ini, aku mempunyai akal untuk dapat mengumpulkan pengaruh dan pembantu, yang memang sudah kulakukan dengan menaklukkan lima orang perampok yang kujumpai di tengah jalan. Dengan mengepalai sebuah perkumpulan besar seperti Ang-i Mo-pang, tentu aku akan dapat dengan mudah melakukan penyelidikan dan siapa tahu, aku mebutuhkan bantuan mereka dalam menghadapi musuh-musuhku. Dan ternyata dugaanku, karena Tee Kok tahu siapa pendekar yang mewarisi pusaka itu. Katanya seorang pendekar yang lihai bukan main....“

“Si mulut panjang Tee Kok!” Bi-kwi mengomel.

“Ha-ha, bajingan kecil macam dia mana bisa menyimpan rahasia? Tentang dirimu, dia hanya mengatakan bahwa Ciong Siocia adalah seorang lihai yang melindungi Ang-i Mo-pang, sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa engkau adalah murid Sam Kwi susiok.”

“Dia mana tahu?”

“Akan tetapi dia juga menceritakan bahwa engkau berusaha merampas pedang pusaka suling naga itu, bahkan dia juga membantumu akan tetapi kalian gagal dan dikalahkan pendekar pemegang suling naga. Sama sekali tidak pernah kusangka bahwa di antara kita masih ada hubungan saudara seperguruan, baru kuketahui ketika engkau menyerangku dengan jurus-jurus yang tidak asing bagiku tadi.”

Biarpun kini ia hampir yakin bahwa memang pemuda ini benar cucu murid Pek-bin Lo-sian, akan tetapi ia masih merasa tidak senang kalau dalam usahanya mendapatkan saingan. Untuk memancing sikap pemuda itu, tiba-tiba ia berkata,

“Su-kongmu itu akulah yang membunuhnya!“

Setelah berkata Bhok Gun memang kaget bukan main sampai meloncat bangun dari tempat duduknya, akan tetapi bukan karena marah. Ia malah tersenyum kagum.

“Aih, untung tadi tidak dilanjutkan pertandingan itu, kalau dilanjutkan tentu aku akan kalah. Kalau engkau sudah mampu membunuh su-kong, jelas bahwa ilmu kepandaianmu amat tinggi, lebih tinggi dari tingkatku!”

Tentu saja kata-kata ini hanya pujian saja karena sebelum mati, Pek-bin Lo-sian sudah menderita luka parah ketika bertanding melawan Sim Houw, juga usianya sudah amat tua sehingga tenaganya sudah lemah. Selain itu, guru Bhok Gun tidak dapat dinilai sebagai murid Pek-bin Lo-sian yang tingkat kepandaiannya kalah oleh kakek itu sendiri. Guru Bhok Gun sudah memperdalam ilmunya selama puluhan tahun.

Akan tetapi Bi-kwi tersenyum mengejek.
“Kalau ilmu simpananku tadi kukeluarkan, mungkin kita tidak lagi dapat bercakap-cakap seperti ini.”

Yang dimaksudkannya adalah ilmunya yang baru-baru ini ia pelajari dari ketiga orang suhunya, yaitu Ilmu Silat Sam Kwi Cap-sha-kun!

“Sudah lama aku mendengar dari guruku tentang ke tiga susiok Sam Kwi. Dan ingin aku mencari dan memperkenalkan diri, akan tetapi guruku melarang dan mengatakan bahwa sudah sejak muda susiok Sam Kwi tidak mempunyai hubungan dengan kami. Kini aku bertemu dengan kalian yang menjadi murid-murid susiok Sam Kwi, bukankah ini menggirangkan hati sekali? Kita masih saudara seperguruan, dan engkau juga mencari pusaka itu.”

“Dan engkau juga mencarinya. Berarti kita adalah saingan!” kata Bi-kwi.

Bhok Gun tertawa.
“Ah, mana aku begitu bodoh untuk memperebutkan benda begitu saja dengan kalian yang menjadi sumoi-sumoiku sendiri? Tidak, kami, yaitu aku dan guruku, mempunyai urusan yang lebih penting lagi dan kita dapat bekerja sama dalam hal ini. Dengan saling membantu, kuyakin cita-cita kita akan dapat terpenuhi semua dan tentang pusaka Liong-siauw-kiam, kalau memang engkau menghendaki, biarlah kelak untukmu. Aku akan membantumu sampai pusaka itu dapat kita rampas, akan tetapi engkaupun mau membantu kami dalam urusan kami”.

“Urusan apakah itu?” Bi-kwi mulai tertarik karena kalau pemuda ini mempunyai urusan yang dianggap lebih penting dari pada pusaka Liong-siauw-kiam, tentu urusan itu amat besar. “Terus terang saja, cita-citaku adalah menguasai Liong-siauw-kiam dan menjadi beng-cu dari dunia hitam.” Ia mendahului agar pemuda itu mengetahui di mana ia berdiri.

Bhok Gun mengangguk-angguk.
“Cita-cita yang baik dan mengagumkan, dan aku yakin, dengan kepandaian kalian, maka kalian akan berhasil.”

“Aku hanya membantu suci!” tiba-tiba Bi Lan berkata.

Bhok Gun memandang kaget. Karena sejak tadi diam saja dan hanya menjadi pendengar, kehadiran gadis ini seperti bayangan saja, oleh karena itu begitu mengeluarkan suara, mengejutkan hati Bhok Gun. Pemuda ini memandang wajah yang manis itu dan tersenyum lebar.

“Tentu saja, cita-cita sucimu adalah cita-citamu juga.”

“Aku tidak bercita-cita, aku hanya membantu suci mencapai kedua cita-citanya itu untuk memenuhi janjiku kepadanya,” kata Bi Lan dan iapun menentang pandang mata sucinya dan pemuda itu dengan berani, agaknya untuk menekankan bahwa ia tidak mau terlibat dalam urusan mereka berdua.

Diam-diam Bhok,Gun merasa heran sekali. Sumoi muda ini agaknya sama sekali tidak takut terhadap sucinya, bahkan ada sikap menentang! Kenapa sang suci diam saja? Bukankah dengan kepandaiannya yang tinggi, suci ini dapat menekan sumoinya?

“Orang she Bhok, lanjutkan ceritamu tentang urusanmu itu,” tiba-tiba Bi-kwi berkata seolah-olah tak suka mendengar sumoinya bicara.

“Sumoi, terus terang saja, urusan ini adalah rahasia besar yang tidak boleh kubicarakan dengan siapapun juga. Kalau kalian mengaku aku sebagai suheng, tentu saja persoalannya lain lagi. Sebagai adik-adik seperguruan, tentu saja kalian boleh mendengar urusan itu.”

Suling Naga