Ads

Jumat, 02 Agustus 2019

Mutiara Hitam Jilid 010

Jelas tadi ia melihat gadis cilik itu bergerak dalam jurus yang sama, akan tetapi mengapa amat berbeda? Memang tidak aneh sebetulnya. Seperti kita ketahui dari cerita SULING EMAS, mendiang Tok-siaw-kwi Liu Lu Sian telah berhasil mencuri banyak sekali kitab-kitab ilmu silat dari pelbagai perguruan silat dan partai-partai besar.

Diantaranya, ia telah mencuri pusaka Kong-thong-pai. Kemudian semua kitab pusakanya terjatuh ke tangan Kam Sian Eng, maka tentu saja sebagai muridnya yang amat rajin, Kwi Lan telah mempelajari pula ilmu silat dari kitab Kong-thong-pai ini. Seperti juga dengan ilmu-ilmu silat lain, penjelasan Sian Eng menyeleweng daripada ilmunya yang benar, maka menjadi berbeda, bahkan ada yang terbalik sama sekali!

Mengapa ilmu yang dipelajari terbalik dan menyeleweng ini malah mengatasi ilmu yang asli, yang telah dipelajari oleh Si Muka Bopeng? Hal itu pun tidak aneh. Biarpun telah mewarisi ilmu bermacam-macam yang dipelajari secara menyeleweng, namun Sian Eng telah berhasil memiliki dan mencipta ilmu-ilmu yang tinggi dan aneh, sehingga menyerupai ilmu ciptaan iblis sendiri.

Muridnya Kwi Lan, memperoleh kepandaiannya dari Sian Eng, tentu saja juga mendapatkan pelajaran ilmu menghimpun hawa sakti yang mujijat. Hanya ketika sudah membaca kitab dan belajar sendiri kitab-kitab itu, penafsirannya berbeda dengan penafsiran gurunya sehingga dalam ilmu-ilmu yang tinggi, terdapat perbedaan aneh di antara Kwi Lan, Suma Kiat, dan Sian Eng sendiri.

Akan tetapi karena dasar-dasar pelajaran lwee-kang, khi-kang dan sin-kang diperoleh dari Sian Eng, maka dalam hal ini mereka bertiga memiliki dasar yang sama. Dibandingkan dengan Si Muka Bopeng, Kwi Lan jauh lebih menang tenaga dalamnya maka biarpun jurus yang ia mainkan itu tidak asli, namun jauh lebih ampuh!

Si Muka Bopeng telah menerjang lagi kini dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya, karena ia bermaksud menangkap gadis cilik ini untuk ditawan dan kelak dipaksa mengaku darimana mempelajari ilmu silat Kong-thong-pai yang berubah aneh itu dan pula biarpun gadis itu masih terlalu muda setengah kanak-kanak, namun sudah kelihatan cantik manis sehingga hati Si Muka Bopeng tertarik.

Bagi Kwi Lan, serangan lawan yang kasar ini bukan apa-apa dan sama sekali ia tidak menjadi gentar, malah tertawa mengejek,

“Hi-hik, kau gunakan jurus Hekhouw-phok-sai (Macan Hitam Menubruk Tahi)? Busuk dan bau sekali!”

Gadis cilik yang nakal ini sengaja merobah nama jurus itu yang sebetulnya adalah Hek-houw-phok-thouw (Macan Hitam Menubruk Kelinci).

Si Muka Bopeng mengeluarkan gerengan marah sambil menubruk, seperti seekor harimau tulen. Kwi Lan sama sekali tidak mengelak, malah membarengi gerakan lawan dengan jurus yang sama akan tetapi diam-diam ia menyalurkan hawa sakti ke arah kedua telapak tangannya dan terciumlah ganda wangi karena gadis cilik ini telah mempergunakan Ilmu Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi). Ilmu ini adalah ciptaan Sian Eng sendiri yang mempergunakan sari kembang beracun yang amat wangi dan ketika berlatih ilmu ini, kedua telapak tangan digosok-gosok racun kembang ini sehingga hawa beracun yang berbau harum masuk ke dalam kedua telapak tangan.

Jika dalam keadaan biasa, kedua telapak tangan tidak berbau harum dan racunnya juga tidak keluar, akan tetapi apabila dipakai untuk bertanding dan dari dalam dikerahkan lwee-kang ke arah kedua tangan, maka hawa yang wangi beracun itu akan keluar dari telapak tangan.

Si Muka Bopeng menjadi girang melihat gadis cilik itu menyambut seranganya dengan jurus yang sama dan memapaki kedua tangannya yang menubruk. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya dan mukanya menyeringai. Gadis cilik sombong ini tentu akan mudah ditawan kalau kedua tangannya dapat ia tangkap. Bau wangi yang menyambar hidungnya tidak membuat Si Muka Bopeng sadar, bahkan makin girang mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu demikian wangi!

“Plak-plak!”

Kedua pasang tangan bertemu dan beradu telapak tangan. Si Muka Bopeng mengeluarkan pekik aneh dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting roboh telentang dan tidak bergerak lagi. Kedua lengannya masih berkembang seperti akan menubruk, akan tetapi lengan itu kaku dan telapak tangannya terdapat warna merah dan kebiruan, matanya mendelik napasnya putus!

Sisa para pengemis baju bersih menjadi kaget dan jerih. Wanita setengah tua yang kini menangisi pengemis baju butut tadi sudah hebat, kiranya gadis cilik ini lebih hebat lagi, dalam segebrakan mampu menewaskan pimpinan rombongan mereka!

Dengan ketakutan, sembilan orang pengemis itu cepat menyeret teman-teman mereka yang luka dan mengangkut mayat Si Muka Bopeng, lalu melarikan diri dari tempat itu sambil sebentar-sebentar menoleh ketakutan melihat ke arah Kwi Lan yang tertawa-tawa sambil bertolak pinggang!






Setelah semua pengemis pergi, Kwi Lan baru sadar akan suara Bi Li yang menangis terisak-isak. Ia cepat membalikkan tubuh dan melihat Bi Li berlutut di depan pengemis baju butut yang dikeroyok tadi, ia cepat menghampiri.

Kini pengemis itu sudah bangkit duduk, bersandar pada batang pohon, napasnya terengah-engah, kedua lengannya memeluk pundak Bi Li yang berlutut di depannya. Melihat keadaan mereka, Kwi Lan menjadi heran bukan main, akan tetapi ia tidak mau bertanya karena merasa jengah. Kenapa Bibi Bi Li mau dipeluk laki-laki jembel itu? Sebagai seorang gadis cilik yang belum pernah menyaksikan orang berpelukan, Ia tidak tahan untuk melihat lebih lama lagi, maka ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi mereka. Akan tetapi ia mendengar suara mereka ketika mereka bicara.

“Suamiku.... mana dia? Mana Hauw Lam anak kita....?” terdengar Bi Li berkata menahan isak.

Mendengar ini, Kwi Lan makin kaget. Suami? Jembel itu suami Bibi Bi Li? Rasa heran dan kaget membuat ia kembali membalik dan memandang pengemis itu lebih teliti. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, pakaiannya lapuk dan kotor, pakaian seorang jembel. Akan tetapi mukanya bersih terpelihara, muka yang pucat karena menderita luka parah, namun masih membayangkan ketampanan laki-laki.

“Bi Li.... isteriku, kenapa engkau meninggalkan aku? Kenapa engkau tega pergi meninggalkan kami, suamimu dan anak kita? Apakah kesalahanku kepadamu sehingga engkau begitu kejam?”

Suaranya ini penuh pertanyaan, penuh tuntutan dan tangis Bi Li makin tersedu-sedu. Di antara isak tangis, istri yang malang ini lalu bercerita dengan singkat betapa ia diculik dan dipaksa pergi oleh Kam Sian Eng untuk menyusui dan merawat anaknya yang baru terlahir, menceritakan betapa Kam Sian Eng adalah seorang yang berilmu tinggi dan betapa dia tidak berdaya.

“Demikianlah, Suamiku. Kuharap engkau suka mengampunkan aku, akan tetapi.... sungguh aku tidak berdaya.... sampai sekarang pun aku tidak mungkin bisa pergi meninggalkan Sian-kouwnio....”

Laki-laki itu makin pucat jelas ia menahan sakit sambil menggigit bibir.
“Ah, engkau terluka hebat.... mari kubawa ke pondok kami, biar kuminta Kouwnio memberi obat kepadamu....“

“Tidak perlu lagi!” Laki-laki itu yang bernama Tang Sun, suami dari Phang Bi Li, mencegah sambil mengangkat tangan, kemudian karena tidak tahan bersandar dan duduk, ia lalu merebahkan diri lagi, dibantu isterinya. “Lukaku amat parah, kurasa ada perdarahan di dalam dadaku, sakit sekali.... ougghh.... tak mungkin dapat diobati. Akan tetapi, terima kasih kepada Thian.... mati pun aku tidak penasaran, sudah dapat bertemu denganmu.... tapi sayang.... Hauw Lam.... di mana engkau, Anakku....?”

Mendengar disebutnya nama anaknya, Bi Li lupa akan penderitaan suaminya yang sudah menghadapi maut. Sambil memegang lengan suaminya ia berseru keras,

“Dimana Hauw Lam? Dimana dia?”

Suara Tang Sun makin lemah, bahkan agak menggigil dan pelo, akan tetapi lancar dan tidak terputus-putus lagi. Perubahan ini tidak diketahui Bi Li yang amat ingin mendengar cerita tentang puteranya.

“Sepeninggalmu, kubawa dia pergi mencarimu dan hidup menderita. Ketika dia berusia lima tahun. kuserahkan dia kepada ketua kelenteng di puncak Gunung Kim-liong-san yang kutahu seorang berilmu tinggi. Aku sendiri lalu melanjutkan perjalanan mencarimu, Bi Li, menempuh seribu satu macam kesukaran!”

Cerita ini terputus sebentar oleh tangis Bi Li penuh keharuan sambil memeluk leher suaminya. Kwi Lan yang berdiri tak jauh dari situ, merasa betapa jantungnya seperti disayat-sayat saking terharu, namun ia dapat menekannya dan tidak sebutirpun air mata menetes turun. Di dalam hatinya, ia makin menyesalkan perbuatan Kam Sian Eng yang telah memisahkan suami isteri ini dan menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan dua orang, bahkan mungkin tiga orang dengan anak mereka yang agaknya tidak diketahui pula dimana adanya.

“Akan tetapi sekarang aku tidak menyalahkan engkau, isteriku, setelah aku tahu betapa engkau pun menderita dan tidak berdaya. Aku lalu hidup sebagai pengemis dan akhirnya aku tertarik akan sepak terjang Khong-sim Kai-pang yang adil dan gagah, maka aku masuk menjadi anggauta Khong-sim Kai-pang.

Khong-sim Kai-pang termasuk perkumpulan pengemis golongan bersih yang ditandai dengan pakaian kotor, dan pada waktu ini golongan bersih sedang berusaha membasmi pengemis-pengemis golongan kotor yang ditandai dengan pakaian bersih. Setelah menjadi anggauta Khong-sim Kaipang, banyak teman-temanku membantuku mencarimu. Dan beberapa hari yang lalu, seorang temanku melihat engkau di depan pondok. Karena dia tidak mengenalmu akan tetapi merasa heran melihat seorang wanita dan dua orang anak tanggung tinggal bersunyi diri didalam hutan, ia lalu menceritakannya kepadaku. Nah, hari ini aku datang kesini menyelidik, siapa kira, disini aku bertemu dengan belasan orang pengemis golongan hitam yang mengeroyokku....”

“Dan Hauw Lam, Anakku.... dia bagaimana.... ?”

Bi Li mendesak, tidak sadar bahwa kini wajah suaminya yang pucat itu sudah mulai agak kebiruan.

“Dia.... dia....“ Kini napas Tang Sun mulai tersendat-sendat, “Dia, kini tentu sudah dewasa.... hampir lima belas tahun.... akan tetapi ketika aku datang menjenguk ke sana.... hwesio tua itu telah meninggal dunia dan.... dan Hauw Lam.... dia....” Sukar sekali ia melanjutkan kata-katanya.

Barulah Bi Li sadar akan keadaan suaminya. Ia menjerit dan memeluk, melihat suaminya meramkan matanya, ia menciuminya dan memanggil-manggil namanya, kini tidak peduli lagi akan anaknya. Kwi Lan yang berdiri termangu-mangu cepat menggunakan punggung tangan kirinya menghapus dua butir air mata yang tak tertahankan lagi menetes turun ke atas pipinya.

Tang Sun membuka matanya, lalu tersenyum dan membelai rambut isterinya. Wajahnya membayangkan kepuasan, akan tetapi kembali keningnya berkerut ketika ia berkata,

“....Hauw Lam.... dia.... pergi dari sana.... tak seorang pun tahu kemana. Isteriku, kau.... kau carilah dia....” Tangan yang membelai rambut itu lemas dan terkulai.

Bi Li menjerit dan roboh pingsan sambil memeluk mayat Tang Sun yang masih hangat!

“Bibi Bi Li....! Bibi Bi Li....!” Kwi Lan memanggil-manggil sambil mengguncang-guncang tubuh Bi Li.

Wanita itu akhirnya siuman dan dengan muka merah mata berapi-api ia meloncat bangun, membalikkan tubuhnya dan mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Bi Li memang memiliki kepandaian yang khusus ia pelajari dari Sian Eng, yaitu bermain pedang, bahkan ia menerima hadiah sebatang pedang indah dari Sian Eng. Kini dengan pedang di tangan, matanya terbelalak memandang kanan kiri, mulutnya menantang-nantang.

“Pengemis-pengemis busuk, jembel-jembel terkutuk! Hayo majulah semua, akan kubunuh kalian sampai habis!”

Kwi Lan maklum bahwa bibinya ini amat marah dan sakit hati karena kematian suaminya. Suami yang terpisah darinya, selama belasan tahun, dan yang kini begitu berjumpa terus meninggal dunia!

“Perempuan setan, berani kau membunuh saudara kami?”

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah tiga orang kakek berpakaian pengemis. Mereka adalah tiga orang kakek tinggi kurus yang memegang tongkat butut, sebutut pakaian mereka. Begitu melihat tiga orang kakek pengemis ini, sambil berseru marah Bi Li maju menerjang dengan pedangnya. Gerakannya secepat kilat, pedangnya berkelebat seperti halilintar menyambar.

“Tranggg....!”

Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan Bi Li ketika tertangkis sebatang tongkat butut yang dipegang oleh kakek pengemis yang bertahi lalat besar di bawah hidungnya.

Bi Li makin marah. Kakek pengemis ini kiranya lihai sekali, tidak boleh disamakan dengan para pengemis yang tadi mengeroyok suaminya. Maka ia lalu mengeluarkan seruan keras sambil memutar pedangnya dan mengerahkan tenaga, menerjang dengan cepat sekali.

Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, kakek pengemis itu terkejut dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kemudian terjadilah pertandingan hebat di antara Bi Li dan kakek pengemis.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar