Ads

Jumat, 27 September 2019

Mutiara Hitam Jilid 142

Kwi Lan masih pingsan ketika tubuhnya dipondong oleh Suma Kiat yang membawanya lari keluar. Pemuda ini meloncat ke atas seekor kuda dan terus mengaburkan kuda lari menuju ke selatan. Perang tanding telah terjadi dengan hebatnya namun Suma Kiat tidak mempedulikan semua itu. Ia membalapkan kudanya dan karena orang-orang Hsi-hsia sudah mengenal siapa pemuda ini maka mereka tidak mengganggunya.

Perajurit-perajurit Khitan juga tidak menghalanginya karena pemuda yang membawa lari gadis pingsan itu tidak menyerang mereka. Satu dua orang yang mencoba-coba menghalangi, roboh oleh pukulan tangan kiri Suma Kiat. Akhirnya ia keluar dari tempat pertempuran dan terus membalap ke selatan.

Setelah hari menjadi petang, berhentilah Suma Kiat di depan sebuah kuil tua. Kuil bobrok ini adalah kuil yang sudah kosong dan hanya dipergunakan mengaso dan bermalam mereka yang kemalaman di jalan. Kebetulan kuil itu kosong. Suma Kiat memondong tubuh Kwi Lan memasuki kuil.

Baru saja ia menurunkan tubuh gadis itu di atas lantai, Kwi Lan mengeluh dan bergerak. Suma Kiat cepat menotok jalan darah gadis itu, membuat Kwi Lan yang sudah sadar tidak mampu bergerak karena kaki tangannya menjadi lemas. Gadis itu membuka matanya dan teringatlah ia akan semua peristiwa yang dialami. Teringat betapa gurunya dikeroyok dan betapa ia membantu akan tetapi roboh oleh Thai-lek Kauw-ong yang lihai.

Kemudian ia melihat cahaya api menerangi kegelapan. Ketika ia melirik, ia melihat Suma Kiat sudah menyalakan lilin. Agaknya para penghuni kuil yang kemalaman di jalan lupa membawa sisa lilin mereka dan kini dinyalakan oleh Suma Kiat. Kemudian pemuda ini mendekati Kwi Lan dan duduk di atas lantai, wajahnya keruh dan tampak lelah. Kwi Lan berusaha mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka karena baru saja ia tertotok di luar tahunya.

Ia tahu bahwa suhengnya ini memiliki watak yang aneh, bahkan tidak normal seperti gurunya. Dan ia sama sekali tidak dapat menerka, apa yang hendak dilakukan pemuda ini terhadap dirinya, mengapa ia dibawa sampai ke tempat ini dan bahkan dibuat tak berdaya dengan totokan. Ia bergidik. Jatuh ke tangan suhengnya ini tidak kurang berbahayanya daripada jatuh ke tangan Bu-tek Siu-lam. Akan tetapi Kwi Lan membesarkan hatinya dan bertanya, suaranya biasa.

“Suheng...., bagaimana dengan Bibi Sian?”

Tiba-tiba saja Suma Kiat menangis tersedu-sedu, menyembunyikan muka dalam pelukan lengannya. Sampai lama pemuda ini menangis, pundaknya bergoyang-goyang, sampai mengguguk. Mau tak mau Kwi Lan agak terharu juga. Betapapun juga, pemuda ini bersama-sama dengan dia sejak kecil dan kini ditinggal mati ibunya. Tanpa ia sadari, sepasang mata Kwi Lan juga mencucurkan air mata. Gurunya tentu sudah mati.

Akhirnya tangis Suma Kiat terhenti. Kemudian ia mengangkat mukanya, memandang Kwi Lan dengan sepasang mata merah,

“Ibu sudah meninggal dunia....” katanya, suaranya parau, “Aku ditinggal seorang diri. Karena itu, engkau harus menolongku, Sumoi.”

“Tentu saja, Suheng,” jawab Kwi Lan halus. “Sebagai adik seperguruan, tentu saja aku suka menolongmu. Tapi, kau bebaskan dulu aku dari totokan. Amat tidak enak bicara dalam keadaan begini.”

Tiba-tiba, seperti ketika menangis tadi, Suma Kiat tertawa bergelak,
“Ha-ha-ha! Kau kira aku begitu bodoh? Membebaskanmu kemudian engkau menyerangku, ya? Ha-ha, Suma Kiat tidak begitu bodoh, Sumoi. Ha-ha!”

Sambil tertawa ha-ha-he-he, pemuda itu menowel paha Kwi Lan. Gadis ini bergidik. Benar gila suhengnya ini.

“Aku tidak akan menyerangmu, Suheng. Aku berjanji takkan menyerangmu.”

“Ho-ho-ha-ha, kalau tidak menyerang tentu lari meninggalkan aku! Ha-ha, aku tidak bodoh. Tidak boleh kau meninggalkan aku. Ibu sudah pergi, engkau tidak boleh pergi. ibu sudah mati.... huu-huuuk¬huuuk....“ Ia menangis lagi, “Ibu mati dan aku tidak bisa menjadi kaisar, menjadi pangeran pun tidak. Aaahhh, aku hanya punya engkau, Hanya engkau yang dapat menjadikan aku pangeran. Ahh, Sumoi, karena itu engkau tidak boleh meninggalkan aku dan terpaksa kutotok.”

“Apa maksudmu, Suheng? Menjadikan kau pangeran?” Kwi Lan bertanya, makin heran akan tetapi juga makin gelisah.

“Tentu saja. Ibu pernah bilang bahwa kau adalah puteri Ratu Khitan. Kalau aku menjadi suamimu, berarti aku mantu Ratu Khitan, seorang pangeran. Kalau kelak aku tidak menggantikan ibumu, menjadi Raja Khitan, setidaknya aku menjadi pangeran. Maka engkau harus menjadi isteriku, Sumoi.”






Kwi Lan terkejut sekali. Celaka, pikirnya. Jalan pikiran orang gila ini aneh sekali. Bagaimana ia dapat lolos? Ia harus cerdik.

“Ah, mana bisa, Suheng? Kau tidak mencintaku, aku pun tidak cinta kepadamu. Ingat, sejak kecil kita saling bertengkar saja mana mungkin menjadi suami isteri?”

“Ha-ha-ha, siapa bilang aku tidak cinta padamu? Kau begini cantik manis, begini molek. Eh, Sumoi, tahukah kau bahwa setelah kita dewasa, seringkali aku rindu kepadamu? Engkau cantik jelita,” Suma Kiat membelai dagu wanita itu kemudian menunduk dan mencium pipinya!

Kwi Lan bergidik. Celaka sekarang!
“Ah, Suheng. Kau jangan bodoh. Kau tahu bahwa aku bukan seorang wanita yang mudah ditundukkan. Sekali aku bilang tidak mau, sampai mati pun aku tidak mau. Kalau aku tidak sudi menjadi isterimu, kau mau apa? Lebih baik kita tidak bertengkar dan bebaskan aku, dan kita bicara dengan baik, mungkin aku dapat memberi jalan baik kepadamu.”

“Ha-ha, jangan coba untuk menipuku, Sumoi. Engkau boleh tidak sudi menjadi isteriku, akan tetapi aku punya cara untuk memaksamu.”

“Suheng, jangan gila!”

“Heh-heh-heh, memang aku gila. Bukankah Ibu juga dianggap gila oleh orang lain? Mau tidak mau engkau akan menjadi isteriku, Kwi Lan. Heh-heh, kau bukan sumoi lagi sekarang, melainkan Lan-moi-moi yang cantik manis, kekasih hatiku, isteriku yang molek. Ini sebabnya mengapa kau kutotok. Aku akan memaksamu malam ini juga menjadi isteriku. Kalau sudah terlanjur kau menjadi isteriku, masa kau bisa menolak lagi besok? Apa kau ingin menjadi bahan hinaan orang, bukan gadis lagi sebelum kawin? Kalau malam ini engkau menjadi isteriku, engkau akan terpaksa menerima aku sebagai suami. Ha-ha-ha, aku akan menjadi mantu Ratu Khitan. Hebat bukan rencanaku?”

Kerongkongan Kwi Lan serasa tersumbat! Ia tahu bahwa orang gila ini tidak akan segan-segan melakukan rencana gilanya dan dia akan menjadi korban. Dicobanya menggertak,

“Suheng! Biarpun sekarang aku tidak berdaya, akan tetapi kalau kau melakukan niat keji itu, besok kau akan kubunuh! Percayalah, kalau kau benar-benar memperkosa, besok kau akan kubunuh, kucincang hancur tubuhmu!”

Sesaat sinar takut menyelubungi wajah tampan itu. Memang pemuda itu agak takut terhadap Kwi Lan yang ia tahu memiliki kepandaian lebih lihai daripadanya. Mulutnya berkemak-kemik seperti bicara kepada diri sendiri. Melihat ini, Kwi Lan melanjutkan.

“Tidak ada gunanya, Suheng. Kau dapat memaksaku sekarang, akan tetapi kau takkan dapat menjadi mantu Ratu, tidak menjadi pangeran, melainkan besok kau menjadi mayat yang hancur lebur dagingnya. Lebih baik kita bicara baik-baik, kau bebaskan aku.”

Akan tetapi tiba-tiba wajah itu tersenyum-senyum lagi, seakan telah mendapat sebuah pikiran baru, kemudian Suma Kiat tertawa,

“Ha-ha-ha, tidak bisa kau membunuh aku. Kau kira aku begitu tolol memaksamu menjadi isteri malam ini dan besok kubebaskan? Ha-ha, salahmu sendiri kau membuka rahasia dan rencanamu. Kalau kau tadi tidak bicara, tentu malam ini kau kujadikan isteri dan besok kubebaskan. Tapi pikiranmu busuk sekali. Biar malam ini sudah menjadi isteri, besok hendak membunuh dan mencincang tubuhku. Iihh, isteri macam apa ini? Aku tidak akan membebaskanmu, Kwi Lan. Tiap tujuh jam kau kutotok kembali dan setiap saat kau akan kupaksa menjadi isteriku sampai.... ha-ha-ha, sampai kau mengandung! Nah, kalau kau sudah mengandung, baru kubebaskan. Setelah kau mengandung keturunanku, masa kau masih mau membandel!”

Sesak jalan pernapasan Kwi Lan. Ia merasa ngeri dan bulu tengkuknya meremang. Alangkah akan ngeri dan sengsaranya kalau rencana gila ini dilaksanakan. Dan sesungguhnya, kalau dilaksanakan ia tidak akan dapat berbuat sesuatu! Ia akan hidup seperti mayat, makan dipaksa, minum dipaksa, lalu diperkosa sesuka hati, dan baru akan dibebaskan kalau sudah mengandung. Celaka! Hampir ia menjerit saking ngeri dan cemasnya. Apa akalnya sekarang? Teringatlah Kwi Lan akan keadaannya ketika terancam oleh Bu-tek Siu-lam di kamar tahanan. Teringat ia akan akal Hauw Lam yang cerdik yang berdaya upaya sedapat mungkin untuk menyelamatkannya.

Hauw Lam, Si Berandal! Ah, terbayang wajah sahabat baik ini. Betapa cerdiknya, betapa setia dan betapa besar cinta kasihnya ketika pemuda itu mati-matian membelanya dengan segala macam akal. Pemuda yang cerdik, gagah dan jenaka. Dunia selalu akan berseri kalau berada di samping pemuda itu. Hauw Lam mencintanya. Akan tetapi.... disana ada Pangeran Talibu. Ah, betapa besar cinta kasihnya terhadap Pangeran itu. Tak mungkin ia mencinta pemuda lain.

Aihh, mengapa ia teringat yang bukan-bukan? Bagaimana andaikata Hauw Lam yang menghadapi persoalan dan ancaman mengerikan seperti dia sekarang? Ia kembali mengenangkan sikap Hauw Lam. Mengulur waktu! Ya, mengulur waktu memperpanjang ancaman dan memperlebar kesempatan.

Tiba-tiba ia menangis. Tadinya ia hanya ingin berpura-pura menangis saja, akan tetapi teringat akan kematian gurunya, akan sikap Pangeran Talibu yang bermesraan dengan Puteri Mimi, ia jadi menangis sungguh-sungguh! Air matanya bercucuran dan ia terisak-isak.

Suma Kiat kaget melihat ini. Selama hidupnya, belum pernah ia melihat sumoinya menangis seperti ini. Dahulu, semenjak mereka kecil, kalau mereka bertengkar, dialah yang menangis, bukan Kwi Lan. Agaknya Kwi Lan tidak mempunyai air mata untuk menangis. Akan tetapi sekarang menangis terisak-isak begitu menyedihkan! Seketika air mata Suma Kiat juga bercucuran dan ia merangkul Kwi Lan, mengangkat tubuh yang lemas itu sehingga terduduk dan menyandarkannya pada dinding kuil yang kering.

“Ada apakah, Sumoi? Ada apakah, kekasihku yang manis, isteriku yang denok? Kenapa menangis? Aku tidak akan menyakitimu, manis. Aku akan menjadi suamimu yang penuh kasih sayang. Anak kitak kelak tentu laki-laki dan tampan. Kita didik dia menjadi seperti.... eh, Paman Suling Emas! Ya, anak kita tentu jagoan!”

Hiburan ini bukan mengurangi kesedihan, bahkan menambah, membuat Kwi Lan menangis makin sesenggukan. Betapa tidak kalau hiburan itu mengingatkan ia akan keadaan yang mengerikan ini? Ia dihadapkan ancaman seorang gila dan ia tidak berdaya menyelamatkan diri. Ah, Hauw Lam di mana engkau? Kalau ada pemuda cerdik itu, tentu ada saja akalnya!

“Suheng...., apa engkau tidak kasihan kepadaku? Benarkah kau tega hendak menyiksaku lahir batin? Suheng, lebih baik kau bunuh saja aku....“

Suma Kiat merangkul lebih erat,
“Aihhh mana mungkin, sayang? Bagaimana aku dapat membunuh orang yang paling kucinta di dunia ini? Jangan khawatir, Kwi Lan, aku tidak akan menyakitimu. Percayalah, aku sayang kepadamu....”

Dapat dibayangkan betapa takut dan ngeri hati Kwi Lan ketika pemuda itu mulai membelainya, bahkan dengan gerakan halus dan hati-hati penuh kasih sayang. Suma Kiat meraba-raba jubah gurunya yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya. Berdiri seluruh bulu di tubuh Kwi Lan dan ia cepat-cepat berkata.

“Suheng...., dengarlah kata-kataku. Eh.... aduh, tolong kau sandarkan aku di dinding, jangan sentuh aku dan dengarkan dulu baik-baik.... aku.... aku menyerah, akan tetapi ada syaratnya....”

Suma Kiat menarik kembali tangannya, menyandarkan Kwi Lan di dinding dan memandang penuh perhatian, penuh kemesraan.

“Apa, manisku? Kau mau bilang apa?”

Mengulur waktu, harus mengulur waktu, demikian jalan pikiran Kwi Lan, teringat akan kecerdikan dan akal Hauw Lam.

“Suheng....” suaranya ia buat manis dan halus, “setelah kupikir-pikir, memang kau benar. Kita sudah kehilangan Bibi Sian, kalau tidak saling tolong, bagaimana lagi? Dan kupikir-pikir.... eh, engkau bukan seorang pemuda yang buruk. Engkau tampan, cerdik, juga gagah. Tidak kecewa menjadi isterimu. Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi....”

“Heh-heh-heh, jangan kau menipuku, Kwi Lan. Kalau aku disuruh membebaskanmu, tak mungkin. Aku tahu kelihaianmu. Engkau akan menjadi isteriku dalam keadaan tertotok....”

“Sesukamulah, Suheng. Aku sudah menyerah. Akan tetapi.... kuminta dengan sangat, jangan.... jangan malam ini! Lupakah engkau, Suheng, bahwa ibumu baru siang tadi meninggal dunia? Bagaimana kita dapat melakukan.... eh.... hal itu malam ini? Ini amat tidak baik dan durhaka, Suheng. Kau boleh totok aku, aku toh tidak mampu lari. Tapi malam ini jangan...., besok saja, terserah kepadamu dan aku menyerah, bahkan kemudian aku tidak akan menolak menjadi isterimu yang sah. Engkau menjadi mantu Kerajaan Khitan, mungkin kelak menjadi Raja Khitan, dan aku permaisurimu. Wah alangkah bahagianya!”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar