Ads

Senin, 18 November 2019

Istana Pulau Es Jilid 180

Siauw Bwee membelalakkan mata dan mengerutkan alisnya.
"Maksudmu....?" tanyanya untuk mendapat ketegasan.

"Kita selesaikan persoalan ini di ujung pedang! Tentu saja kalau engkau berani, karena sebagai sucimu tentu tingkatku lebih tinggi darimu. Kalau engkau tidak berani melawanku, engkau harus pergi dari sini dan jangan muncul lagi disini karena berarti bahwa engkau takut dan sudah kalah dalam memperebutkan Kam-suheng!"

"Suci! Aku sama sekali tidak takut padamu, akan tetapi.... kita adalah saudara seperguruan, mana mungkin bertanding saling bunuh? Pula, memperebutkan cinta dengan taruhan nyawa antara saudara adalah perebutan hina...."

"Cerewet! Kalau takut, perlu apa banyak alasan? Siauw Bwee, ingat, aku adalah seorang peperangan, seorang bekas panglima perang. Tidak ada persoalan lain bagiku kecuali berjuang untuk memperebutkan kemenangan. Yang ada bagiku hanyalah kalah dan menang. Hidup adalah perjuangan, yang menang berhak mendapatkan, yang kalah harus tahu diri dan pergi. Kalau tidak kita putuskan sekarang sewaktu Suheng tidak berada disini, urusan diantara kita tidak akan ada beresnya!"

Siauw Bwee marah sekali.
"Aku tidak sudi! Aku tidak sudi memenuhi permintaanmu yang gila! Aku akan menanti datangnya Suheng."

Setelah berkata demikian, dengan isak tertahan Siauw Bwee berkelebat keluar dan lari dari situ.

Maya melotot memandang arca Han Ki, kemudian berbisik,
"Engkaulah yang mendatangkan ini semua dan engkau akan melihat seorang diantara kami bergelimpang tanpa nyawa!" Kemudian dia membalikkan tubuh, meloncat dan lari mengejar Siauw Bwee.

Dengan hati marah yang ditahan-tahannya, Siauw Bwee lari ke arah pantai yang merupakan tebing curam di Pulau Es. Dia sengaja mendaki pantai yang tinggi ini karena dia hendak melihat dari tempat tinggi ini untuk mencari suhengnya. Mungkin suhengnya yang ia tahu sedang bingung itu naik perahu dan menjauhkan diri dari pulau untuk mencari "ilham" menghadapi persoalan yang ruwet itu.

Hatinya marah sekali kepada Maya. Tentu saja dia tidak takut menghadapi sucinya itu. Kalau dahulu saja, sebelum meninggalkan pulau, tingkat kepandaiannya belum tentu kalah oleh Maya, apalagi sekarang, setelah dia mendapatkan banyak tambahan ilmu silat yang aneh-aneh.

Dia telah mempelajari Ilmu Kaki Tangan Kilat dari kaum lengan buntung dan kaki buntung mempelajari pula Jit-goat-sin-kang. Dalam Ilmu Swat-im Sin-kang pun kekuatan mereka seimbang. Dia sama sekali tidak takut, akan tetapi dia tidak mau melayani kehendak sucinya yang gila itu. Kalau mereka bertanding mati-matian, tentu akan menimbulkan malapetaka hebat. Andaikata dia kalah dan tewas, baginya sudah tidak ada urusan lagi.

Akan tetapi sebaliknya, kalau dia menang dan sucinya terluka atau tewas, bagaimana dia akan dapat memandang wajah suhengnya? Kalau menurutkan hati marah, tentu saja ingin dia melayani dan melawan sucinya yang juga menjadi saingannya itu. Akan tetapi, cinta kasihnya terhadap suhengnya terlalu besar dan tidak ingin menyakiti hati Kam Han Ki dengan melukai, apalagi membunuh Maya.

Setelah tiba di tepi pantai yang merupakan tebing tinggi dan amat curam itu, Siauw Bwee memandang ke sekeliling pulau penuh harapan. Namun dia kecewa karena keadaan di sekeliling pulau sunyi, sama sekali tidak tampak adanya perahu seperti yang diharapkannya. Ia lalu mengerahkan khi-kangnya dan mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, memanggil suhengnya,

"Kam-suheng....!"

Suaranya bergema sampai ke sekeliling pulau. Beberapa kali dia mengulang teriakannya yang melengking nyaring, menghadap ke berbagai penjuru. Namun, tidak ada terdengar jawaban, kecuali gema suaranya sendiri.

"Suheng....!"

"Khu Siauw Bwee, bersiaplah engkau!"

Siauw Bwee terkejut sekali dan cepat membalikkan tubuhnya. Kiranya Maya telah berdiri di hadapannya, dengan pedang terhunus! Wajah Maya kelihatan bengis dan penuh kebencian.

"Suci, mau apa engkau?"






"Cabut pedangmu dan mari kita selesaikan urusan antara kita, sekarang juga!"

"Aku tidak sudi!" jawab Siauw Bwee, menekan kemarahan hatinya.

"Kalau tidak mau, minggat engkau dari sini!"

"Aku pun tidak sudi pergi!" jawab pula Siauw Bwee.

"Hemmm, hanya ada pilihan bagimu. Pergi dari sini atau cabut pedangmu menandingiku."

"Kalau keduanya aku tidak sudi....?"

"Akan kubunuh engkau disini, sekarang juga!" Maya mengelebatkan pedangnya.

"Suci, engkau telah gila! Engkau gila karena cemburu dan iri hati!"

"Tidak, aku hanya mengambil jalan yang tepat dan singkat untuk menghabiskan persoalan yang berlarut-larut. Suheng tidak dapat mengambil keputusan, engkau pun ragu-ragu dan lemah, maka akulah yang mengambil keputusan. Hayo, cabut pedangmu, kalau tidak, aku akan menyerangmu!"

"Hemmm, Maya-suci, agaknya engkau sudah merasa yakin benar akan dapat menang dariku! Aku tidak takut melawanmu, Suci. Akan tetapi aku tidak mau, karena melawanmu berarti akan membuat Suheng makin berduka. Aku terlalu cinta kepadanya maka aku rela berkorban perasaan menghadapi penghinaanmu ini...."

"Cukup! Lihat senjata!"

Maya menjadi makin marah ketika Siauw Bwee bicara tentang cintanya yang mendalam. Pedang di tangan Maya berubah menjadi sinar terang ketika menusuk ke arah dada Siauw Bwee. Dara ini tidak bergerak, tidak mengelak, tidak menangkis hanya memandang dengan mata terbuka lebar, sedikit pun tidak gentar.

Pedang yang meluncur cepat itu tiba-tiba terhenti, tepat di depan dada Siauw Bwee, ujungnya sudah menyentuh baju dan tergetar. Maju beberapa senti meter lagi saja tentu ujung pedang akan menembus dada itu!

"Keparat! Aku bukan seorang pengecut yang suka membunuh orang yang tidak melawan!" Maya berseru marah sekali. "Khu Siauw Bwee, engkau adalah seorang pengecut hina kalau tidak berani melawanku, melainkan memancingku agar membunuhmu tanpa melawan sehingga kelak Suheng akan menyalahkan aku. Benar-benarkah engkau seorang pengecut hina?"

Siauw Bwee juga seorang gadis yang berhati keras. Kalau saja dia tidak ingat kepada Han Ki dan tidak ingin menyakiti hati orang yang dicintanya itu, tentu sudah tadi-tadi dia mencabut senjata dan melawan sucinya yang gila oleh cemburu dan iri hati ini. Akan tetapi, sekarang mendengar dia disebut pengecut hina, dia tidak dapat menahan lagi kemarahannya.

"Singgg....!" Pedangnya telah tercabut.

"Bagus, mari kita selesaikan!" Maya berseru girang dan menerjang maju dengan pedangnya.

"Trang-cring-cringgg....!" Bunga api berpijar ketika dua batang pedang itu bertemu bertubi-tubi.

Pertandingan itu hebat bukan main. Mereka sama kuat, sama cekatan, dan ilmu pedang mereka pun dari satu sumber. Lenyaplah bayangan tubuh kedua orang dara perkasa itu, terbungkus sinar pedang mereka yang bergulung-gulung seperti dua ekor naga sakti bermain di angkasa raya.

Pertandingan itu mati-matian, terutama sekali dari pihak Maya yang benar-benar ingin memenangkan pertandingan itu. Sebagai seorang yang biasa mempergunakan siasat perang yang keras dara ini sudah mengambil keputusan untuk membunuh sumoinya dalam pertandingan ini.

Bukan sekali-kali karena bencinya terhadap sumoinya, melainkan dia tidak dapat melihat jalan lain. Dia harus menang dan kalau kelak Han Ki datang, pemuda itu tentu tidak dapat menyalahkan dia yang menang dalam pertandingan yang terbuka dan adil. Kalau Siauw Bwee tewas, dia mendapat banyak kesempatan untuk menghibur Han Ki, dan tentu cinta kasih pemuda yang terpecah itu akan dicurahkan seluruhnya kepadanya.

Akan tetapi, betapa kaget hati Maya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan Siauw Bwee jauh lebih hebat dari dahulu! Gerakan kaki dan tangan sumoinya itu amat cepat dan aneh membuat dia bingung dan kadang-kadang dia terdesak hebat. Maklumlah dia bahwa tentu selama dalam perantauan ini, sumoinya telah mempelajari ilmu silat baru yang hebat! Dan dia hanya membuang waktu perantauannya dengan ilmu perang saja!

Maya amat cerdik. Diam-diam dia memperhatikan gerakan kaki dan tangan Siauw Bwee dan berusaha menyelami dan mempelajari intinya. Namun, sedikit saja dia membagi perhatian, sinar pedangnya terkurung dan dia hanya mampu menjaga diri saja tanpa mampu menyerang sedikit pun juga!

Maya makin terkejut, lalu berusaha mencari kemenangan dengan mengandalkan tenaga sin-kangnya. Dahulu, sebelum mereka meninggalkan pulau, tingkat sin-kangnya masih menang sedikit dibandingkan dengan sumoinya, dan tentu gemblengan-gemblengan dalam perang yang dialaminya membuat tenaganya lebih kuat lagi. Dengan pengerahan sin-kang sekuatnya pedangnya menyambar dan menangkis, dengan maksud untuk membuat pedang sumoinya patah atau terpental.

"Cringgg....!"

Nyaring sekali bunyi kedua pedang yang bertemu itu dan akibatnya, Siauw Bwee terhuyung mundur dua langkah sedangkan Maya mundur tiga langkah!

"Aihhh....!"

Tak terasa lagi Maya berteriak kaget. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dalam tenaga sin-kang pun dia kalah kuat sedikit! Hal ini tidaklah aneh karena Siauw Bwee mendapat tambahan tenaga baru dari ilmunya Jit-goat Sin-kang.

Kemarahan Maya menjadi-jadi. Dia menubruk ke depan dan melakukan terjangan membabi-buta, agaknya kini bermaksud mengadu nyawa! Lebih baik mati bersama daripada dia kalah dan kehilangan Han Ki!

Kalau dia menghendaki, biarpun tidak terlalu mudah, agaknya Siauw Bwee akan dapat keluar dari pertandingan itu sebagai pemenang. Namun, dara ini di balik kemarahannya masih sadar bahwa dia tidak boleh melukai sucinya, apalagi membunuh karena hal itu mungkin akan menjadi sebab putusnya hubungan cinta antara dia dan Kam Han Ki.

Karena inilah, maka dia selalu menjaga gerakannya agar jangan sampai mendatangkan serangan maut yang mengancam nyawa lawan dan kalau mungkin, dia hanya akan mengalahkan sucinya tanpa mendatangkan luka berat.

Akan tetapi, tentu saja hal ini sama sekali tidak mudah. Biarpun dia dapat menandingi sucinya karena ilmu-ilmu gerakan kilat dan Jit-goat Sin-kang, namun kelebihan tingkatnya tidak berapa banyak. Betapapun lihainya Ilmu Gerak Kilat dan Jit-goat Sin-kang, tidaklah melebihi kehebatan ilmu-ilmu yang diajarkan Han Ki kepada mereka. Keunggulan Siauw Bwee hanya karena ilmu-ilmu itu tidak dikenal oleh Maya, membuat sucinya menjadi bingung dan terdesak.

Lebih dari dua ratus jurus mereka bertanding namun belum ada yang kalah atau menang. Jangankan terluka bahkan tiada yang berhasil merobek ujung baju lawan sekalipun!

Maya makin penasaran, dan Siauw Bwee makin gelisah. Mengapa suhengnya belum juga datang? Sukar untuk menahan serbuan dahsyat sucinya, dan kalau dia mengalah terus, lambat laun dia sendiri yang akan celaka, akan terluka dan mungkin terancam maut!

Karena itu, mulailah Siauw Bwee mempercepat gerakannya dan membalas serangan sucinya dengan jurus-jurus dahsyat. Biarpun dia menggunakan jurus-jurus yang ia pelajari dari suhengnya, namun dia memasukkan inti gerakan dari gerak kilat kaki tangannya yang ia pelajari dalam perantauannya.

Menghadapi serangan dahsyat ini, Maya menjadi bingung dan terdesak mundur terus. Dia menggigit bibirnya melawan dan membalas dengan serangan maut, namun pembalasan serangannya hanya membuat pertahanannya kurang rapat dan dengan gerakan seperti kilat menyambar, ujung pedang lawannya sudah berhasil menembus pertahanan Maya dan melukai pundak kirinya!

"Aihhh....!"

Maya terhuyung dan biarpun dia mempertahankan, tetap saja tubuhnya tergelincir dan roboh miring. Pundaknya terbabat ujung pedang dan mengeluarkan banyak darah, membuat lengan kirinya seperti lumpuh.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar