Ads

Rabu, 20 November 2019

Istana Pulau Es Jilid 188

"Tutup mulut! Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai anak yang bernama Suma Hoat! Im-yang Seng-cu, aku dahulu menyayangmu di waktu engkau kecil karena engkau seorang anak baik yang tidak pernah menentangku, akan tetapi kalau sekarang engkau hendak menentangku, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan mengusirmu dari sini!"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa melengking nyaring disusul suara seorang wanita,
"Bagus sekali, dasar manusia jahat seperti iblis, anak sendiri pun dikutuknya!"

"Maya....!"

Tiba-tiba Suma Hoat yang berlutut dan berusaha melompat akan tetapi roboh kembali karena tubuhnya masih lemah dan pukulan batin mendengar ucapan ayahnya tadi benar-benar membuat hatinya makin remuk. Im-yang Seng-cu cepat memeluknya dan dengan mata terbelalak melihat betapa ada bayangan didahului sinar berkelebat menyambar ke arah tubuh Suma Kiat!

Kakek yang masih lihai sekali ini sudah mencabut pedangnya menangkis. Terdengar suara keras dan pedang di tangan Suma Kiat patah, tubuhnya roboh dan kembali bayangan itu berkelebat keluar.

"Keparat, hendak lari kemana?"

Siangkoan Lee dan Bu Ci Goat meloncat dan mengejar, akan tetapi baru sampai di pintu, kedua orang ini roboh dan bayangan itu berkelebat keluar meninggalkan suara melengking dan mengerikan!

Bu Ci Goat yang lihai itu telah berhasil bangun lebih dulu daripada Siangkoan Lee yang merangkak dan terengah-engah karena pukulan jarak jauh yang tadi membuat dadanya sesak. Bu Ci Goat cepat menghampiri suaminya dan terkejut melihat goresan pedang melukai leher dan dada suaminya. Suma Kiat dipapah bangun, duduk di kursinya dan melihat Suma Hoat, bangkit lagi kemarahannya, seolah-olah anaknyalah yang mendatangkan malapetaka itu. Telunjuknya menuding,

"Pergi....! Pergi kalian dari sini....!"

Im-yang Seng-cu mengerutkan alisnya, mengempit tubuh temannya dan membawanya keluar. Anak murid In-kok-san yang berbaris di depan, hanya memandang bengong. Mereka tidak berani mencampuri dan tadi ketika ada bayangan berkelebat cepat, mereka pun tidak dapat berbuat sesuatu.

Bu Ci Goat dan Siangkoan Lee cepat merawat Suma Kiat. Akan tetapi, biarpun serangan pedang itu mendatangkan luka yang tidak berapa berat, serangan batin karena munculnya Suma Hoat lebih hebat dan membuat kakek ini jatuh sakit lagi, tidak mampu meninggalkan pembaringannya.

Im-yang Seng-cu membawa Suma Hoat pergi dan berhenti di sebuah lereng puncak pegunungan itu. Suma Hoat mengeluh minta diturunkan, lalu berkata,

"Im-yang Seng-cu, apakah engkau melihat dia tadi?"

Im-yang Seng-cu menggeleng kepalanya.
"Orang itu gerakannya luar biasa sekali. Aku hanya tahu bahwa dia seorang wanita, entah tua ataukah muda, namun kecepatannya luar biasa sehingga aku tidak dapat mengenalnya. Tentu dia seorang yang sakti dan musuh Suma Kiat."

"Dia adalah Maya.... penghuni Pulau Es...."

Im-yang Seng-cu terkejut bukan main.

"Akan tetapi.... mungkin hanya rohnya saja.... dia.... dia sudah mati...."

Mendengar ini, Im-yang Seng-cu makin bingung dan meraba dahi sahabatnya.
"Engkau panas lagi. Harap jangan pikirkan apa-apa dan beristirahatlah."






"Im-yang Seng-cu, engkau satu-satunya sahabatku. Kau penuhilah permintaanku. Kau tinggalkan aku disini dan pergilah kau cari Bi Kiok."

"Akan tetapi engkau perlu perawatan," Im-yang Seng-cu membantah.

Tiba-tiba terdengar jawaban seorang wanita,
"Biarlah aku yang akan merawatnya, Im-yang Seng-cu."

Im-yang Seng-cu menengok dan melihat bahwa Bu Ci Goat, selir yang lihai dari Suma Kiat, telah berdiri disitu. Biarpun usianya sudah lima puluhan tahun, namun wanita itu masih tampak cantik dan pakaiannya mewah.

"Jangan kau kawatir, biarpun ayahnya membencinya, aku tidak. Kau pergilah memenuhi permintaannya, aku yang akan merawatnya disini."

Im-yang Seng-cu masih ragu-ragu, menoleh kepada sahabatnya. Suma Hoat mengangguk dan berkata lemah,

"Pergilah dan cari dia, Im-yang Seng-cu. Ibu tiriku akan merawatku disini."

Legalah hati Im-yang Seng-cu dan dia segera pergi meninggalkan sahabatnya bersama Bu Ci Goat. Setelah Im-yang Seng-cu pergi, Bu Ci Goat berlutut di dekat Suma Hoat, memeriksa keadaannya.

"Hemm, kulihat engkau telah diobati dengan baik dan hanya perlu beristirahat. Eh, Suma Hoat, siapakah adanya bayangan yang menyerang ayahmu tadi?"

Suma Hoat menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu...."

"Akan tetapi, engkau tadi menyebut nama Maya...."

"Mungkin dia, aku tidak yakin. Dia sudah mati ditelan badai.... andaikata benar dia, agaknya dia kaget dan takut dikenal olehku, maka dia pergi lagi. Untung bagi Ayah...."

"Dia lihai bukan main!"

"Dia penghuni Pulau Es, tentu saja amat sakti...."

Mengingat akan cinta kasihnya dahulu, Bu Ci Goat merawat Suma Hoat di lereng itu dan menyuruh anak buahnya membangun sebuah pondok. Semua itu dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh Suma Kiat yang juga jatuh sakit.

Setelah Suma Kiat jatuh sakit, maka tampaklah betapa Siangkoan Lee merupakan seorang yang pandai memimpin. Semua urusan berada di tangannya dan semua anak buah In-kok-san yang telah dikumpulkan untuk menyenangkan hati gurunya, amat tunduk dan setia kepadanya. Juga ilmu kepandaian Siangkoan Lee menjadi hebat. Boleh dibilang seluruh ilmu gerakan telah dia kuasai, dan biarpun dibandingkan dengan Bu Ci Goat dia masih kalah setingkat, namun pada waktu itu, Siangkoan Lee telah menjadi seorang yang sukar dicari lawannya.

Munculnya Suma Hoat menimbulkan gairah cinta lama di hati Bu Ci Goat. Biarpun wanita ini secara diam-diam telah memuaskan nafsunya dengan pelayan-pelayan pria yang menjadi anak buah In-kok-san, namun begitu melihat Suma Hoat, timbul kembali cintanya, maka dia lalu melakukan pengejaran dan berhasil menemukan Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat, bahkan dia lalu menawarkan diri untuk merawat anak tiri yang pernah menjadi kekasihnya itu.

Akan tetapi, dia segera mengalami kekecewaan. Suma Hoat telah berubah banyak sekali. Suma Hoat telah menjadi seorang yang sama sekali tidak mempedulikan bujuk rayunya, bahkan dengan suara dingin bekas Jai-hwa-sian ini berkata,

"Bu Ci Goat, harap kau jangan menimbulkan lagi persoalan hanya untuk melampiaskan nafsu-nafsumu. Hal pertama kali yang merenggangkan aku dengan Ayah adalah akibat perbuatanmu. Ketahuilah, pada saat ini, di dunia ini hanya ada seorang saja wanita yang kucinta, dan aku telah bersumpah tidak akan menyentuh wanita lain kecuali dia! Aku tidak dapat melayani hasratmu, dan engkau hendak merawatku atau tidak setelah penolakanku ini terserah kepadamu!"

Tentu saja Bu Ci Goat merasa malu sekali dan mundur teratur. Akan tetapi, demi kasih sayangnya kepada Suma Hoat dia masih menyuruh beberapa orang anak buahnya merawat dan memenuhi kebutuhan anak tirinya itu. Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan nafsu berahinya yang selalu mendesak, mulailah dia menggoda Siangkoan Lee yang biarpun rupanya buruk seperti seekor kuda, akan tetapi merupakan laki-laki yang tidak pernah bermain gila dengan wanita sehingga keadaannya itu membangkitkan berahi Bu Ci Goat yang merasa penasaran apakah dia tidak akan dapat menjatuhkan hati pria yang berhati teguh ini!

Dan dia berhasil. Akan tetapi, karena memandang rendah Suma Kiat yang sedang rebah dan sakit, dua orang ini kurang hati-hati dan mereka berani mengadakan pertemuan di dalam kamar Bu Ci Goat yang hanya berpisah dinding dengan kamar Suma Kiat.

Pada suatu hari, masih siang, kedua orang yang mabuk nafsu itu sedang berada di dalam kamar, tidak tahu sama sekali bahwa Suma Kiat mendengar suara mereka, turun dari pembaringan dan menghampiri pintu kamar Bu Ci Goat.

"Ci Goat....!"

Suma Kiat mendorong pintu, terbuka, dan memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ke atas tempat tidur Bu Ci Goat dimana selirnya dan muridnya, dua orang yang paling dicinta dan dipercaya, terbelalak penuh rasa kaget memandang kepadanya, kehabisan akal! Tiba-tiba Suma Kiat mengeluh, menekan dada kiri dengan tangan kanan, menyemburkan darah dari mulutnya, tubuhnya tergelimpang dan robohlah kakek ini ke atas lantai!

Serangan batin yang hebat ini tidak tertahan oleh tubuh yang lemah itu. Suma Kiat roboh pingsan dan tidak sadar kembali. Setelah jenazahnya dimasukkan peti mati dan dilakukan upacara sembahyang, Bu Ci Goat dan Siangkoan Lee yang berkabung, menangis sedih di depan peti mati.

Suma Hoat yang masih lemah, datang juga untuk bersembahyang ketika mendengar bahwa ayahnya meninggal dunia. Setelah bersembahyang, Suma Hoat menoleh kepada Bu Ci Goat, berkata perlahan,

"Apa gunanya setelah mati ditangisi?"

Ucapan itu ditujukan kepada selir ayahnya yang dia tahu merupakan seorang isteri yang berhati palsu, yang selalu menyeleweng, seorang isteri yang amat dicinta ayahnya, namun yang sesungguhnya tidak patut mendapatkan cinta seorang suami.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar