Ads

Senin, 20 Januari 2020

Pendekar Bongkok Jilid 092

Tentu saja dia merasa heran, akan tetapi diam-diam diapun lalu mendaki bukit, agak jauh di belakang serombongan orang yang memanggul atau memikul sebuah kursi di mana duduk setengah rebah seorang yang nampaknya sedang sakit. Dari keadaan itu saja mudah diduga bahwa orang-orang ini sedang pergi ke suatu tempat untuk bersembahyang, agaknya ke sebuah kuil.

Dugaannya benar. Kini mereka tiba di pintu gerbang dinding tembok yang panjang itu. Bukan dinding tembok benteng, melainkan dinding yang melingkari sebuah kuil yang luas sekali. Terdapat banyak bangunan di dalam kompleks atau perkampungan itu. Akan tetapi bangunan paling depan adalah sebuah kuil yang besar dan cukup megah. Di depan pintu kuil itu terdapat papan dengan tulisan tinta emas berbunyi: KUIL HATI EMAS.

Kim-sim-tang? Apakah ini pusat Kim-sim-pai? Dan di sini pula tinggal pemimpin pemberontak yang berjuluk Kim Sim Lama itu? Sungguh diluar dugaan sama sekali. Tempat ini sama sekali tidak menyeramkan seperti tempat yang menjadi sarang pemberontak. Bahkan merupakan sebuah kuil yang besar dan dimana datang banyak penduduk dusun untuk bersembahyang dan mohon sesuatu!

Akan tetapi dia segera teringat bahwa andaikata benar mereka itu pemberontak, mereka tetap saja adalah pendeta-pendeta yang biasanya memang berusaha untuk hidup saleh dan beribadat, menjauhi kejahatan dan mendekatkan diri dengan kebajikan. Merekapun bukan memberontak terhadap suatu kerajaan, melainkan terhadap Dalai Lama, seorang pimpinan pendeta pula. Mungkin saja suasananya menjadi lain dengan para pemberontak biasa yang biasanya terdiri dari orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, kejam dan liar.

Dia mulai memperhatikan keadaan luar kuil. Setelah melalui pintu gerbang dinding tembok yang tingginya lebih dari dua meter, nampak kuil itu, jauhnya kurang lebih lima puluh meter dari pintu gerbang. Di kanan kiri kuil itu terdapat bangunan-bangunan besar seperti pengawal kuil dan terdapat banyak jendela yang tertutup. Agaknya itu merupakan asrama para pendeta, pikirnya.

Di depan kuil terdapat halaman yang luas penuh dengan tanaman bunga-bunga dan juga tanaman yang mengandung khasiat pengobatan. Di sana sini terdapat arca-arca Buddha yang besar dan megah, juga pahatannya amat halus. Asap dupa mengepul tebal dari cerobong yang dipasang di tengah bangunan kuil, akan tetapi ada juga asap yang mengepul keluar dari pintu depan yang besar, dan membawa keharuman yang khas.

Sie Liong melangkah masuk ke dalam kuil. Dua orang pendeta Lama berdiri di kanan kiri pintu sebelah dalam dan menyambutnya dengan doa-doa yang tidak terdengar jelas, namun kedua tangan mereka yang dirangkap dan berada di depan dada selalu menyambut para pendatang dengan doa dan puja-puji.

Ketika Sie Liong memandang kepada mereka, kedua orang pendeta Lama yang masih muda-muda itu nampak memejamkan mata dan mereka itu kelihatan alim dan sopan.

Kuil itu penuh tamu dengan berbagai kesibukan sembahyang. Yang menyolok adalah tidak adanya sseorangpun wanita di situ. Sungguh berbeda dengan kuil-kuil lain yang selalu dipenuhi wanita.

Kemudian dia teringat bahwa kehidupan seorang pendeta Lama memang amat keras dan satu diantara pantangan yang paling kuat adalah wanita. Karena kuil itu dilayani oleh para pendeta Lama, maka agaknya tidak ada tamu wanita diperkenankan masuk! Teringat dia akan kuil Siaw-lim-si yang juga pantang dimasuki wanita, apalagi wanita yang muda dan menarik.

Di sebelah dalam kuil, terdapat pula pendeta-pendeta tua dan muda yang melayani semua kebutuhan mereka yang datang bersembahyang. Mereka semua rata-rata bersikap ramah, pendiam, sopan dan lembut. Sikap pendeta tulen, tidak nampak sikap keras dan liar sehingga orang takkan mau percaya kalau mendengar bahwa para pendeta Lama itu adalah pemberontak-pemberontak.

Meja-meja sembahyang yang besar-benar penuh dengan perabot sembahyang, lilin-lilin besar bernyala. Pendeknya, kuil itu lengkap dan juga amat luas. Akan tetapi hanya merupakan sebagian kecil saja dari daerah perumahan yang luas sekali itu. Di kanan kiri ruangan besar tempat sembahyang itu terdapat pintu-pintu kayu tebal dan besar, akan tetapi kedua pintu itu tertutup dan terkunci.

Memang tidak ada hubungan pintu itu dengan keperluan sembahyang. Dan di sebelah dalam, terdapat pintu yang lebar sekali. Ketika mendekati pintu yang menuju ke dalam ini, Sie Liong melihat bahwa di situ terdapat sedikitnya tujuh orang pendeta yang berjaga, ada yang bersila, ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Mereka itu tidak bergerak macam arca-arca saja, akan tetapi mata mereka tajam mengamati para tamu dan jelas bahwa tamu tidak diperkenankan masuk, karena jalan masuk itu tertutup atau terhalang oleh para penjaga ini.






Sie Liong melihat betapa pintu itu menembus ke jalan lorong yang panjang, kemudian membelok ke kiri sehingga dari situ tidak dapat melihat apa yang berada di belakang kuil itu.

“Apakah kongcu hendak melakukan sembahyang dan belum membawa perlengkapan? Kami dapat membantumu.”

Sie Liong membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pendeta berusia empat puluhan tahun telah berdiri di depannya dengan kedua tangan terangkap di depan dada. Mendaki bukit berkunjung ke kuil tidak sembahyang, tentu saja tidak masuk akal. Dia belum ingin memperkenalkan diri dan menjelaskan keinginannya bertemu dengan Tibet Ngo-houw.

“Saya ingin bertanya tentang nasib diri saya,”

Jawabnya karena memang dia tidak bermaksud untuk bersembahyang. Tadi dia melihat bagian kiri ruangan itu dan di sana terdapat sebuah meja sembahyang dimana orang-orang bertanya tentang nasib mereka.

“Ah, mari kami bantu, kongcu. Bertanya nasibpun harus melakukan sembahyang dan kalau kongcu tidak membawa perlengkapan, dapat membeli di sini, harganya tidak lebih mahal daripada kalau membeli di toko.” kata pendeta itu dengan sikap ramah.

“Terima kasih,” kata Sie Liong dan diapun mengikuti pendeta Lama itu yang mengambilkan perlengkapan bersembahyang berupa lilin dan hioswa (dupa biting).

Kemudian, di bawah petunjuk pendeta itu, Sie Liong melakukan sembahyang di depan meja sembahyang, kemudian dia, seperti para tamu lain, dipersilakan untuk mengocok ciam-si, yaitu batang-batang bambu sebesar jari tangan yang pada ujungnya bernomor.

Batang-batang bambu kecil sepanjang satu kaki ini berada di dalam tabung bambu besar dan mereka yang menanyakan nasib, setelah sembahyang dan dalam hati mengajukan permohonan tentang apa yang ingin diketahui mengenai nasibnya, diharuskan memegang tabung bambu sambil berlutut di depan meja sembahyang dan mengguncang-guncang tabung itu. Batang-batang bambu itu akan terguncang dan setelah ada sebatang meloncat atau terloncat keluar, maka itulah batang bambu yang menjadi jawaban pertanyaannya.

Sie Liong mengguncang tabung itu dan berloncatlah sebatang bambu dari dalamnya. Akan tetapi hal itu belum menentukan bahwa pilihan jawaban itu benar. Dia harus pula melemparkan dua potong bambu yang permukaannya berbeda.

Kalau dua potong bambu itu terjatuh ke atas lantai lalu kedua permukaannya sama dengan yang lain, dengan ada tulisan BENAR, maka batang bambu yang terloncat itu sudah sah akan kebenarannya. Sebaliknya, andaikata dua potong bambu itu terletak dengan permukaan yang berbeda menghadap ke atas, dia harus mengguncang sekali lagi dan memilih lagi. Juga apa bila kedua potong bambu itu menghadapkan tulisan SALAH, dia harus memilih lagi.

Setelah mendapat tanda BENAR, Sie Liong menyerahkan batang bambu itu kepada pendeta Lama yang bertugas di bagian pertanyaan nasib itu, dan setelah dicocokkan nomornya, pendeta itu memberinya sehelai kertas yang sudah ada tulisannya.

Biasanya, kertas ini berisikan sajak atau syair yang merupakan jawaban dari permintaan orang yang bersembahyang dan minta sesuatu, dan karena sajak itu selalu mengandung perumpamaan dan maksud tersembunyi, maka ada pula pendeta yang bertugas memberi tafsirannya. Hal ini sudah pernah didengar dan diketahui Sie Liong walaupun baru sekarang dia sendiri mengocok batang bambu untuk mendapatkan ramalan nasibnya.

Akan tetapi, ketika dia membuka gulungan kertas selembar itu, jantungnya berdesir. Di situ tertulis dengan jelas, dengan tulisan tangan yang indah, sebuah pesan untuknya!

KALAU PENDEKAR BONGKOK INGIN BICARA DENGAN KAMI, SILAHKAN MASUK SELATAN PINTU PAGAR BELAKANG.

Sie Liong mengangkat muka memandang kepada pendeta yang melayaninya, akan tetapi pendeta itu hanya merangkapkan kedua tangan depan dada dan menundukkan mukanya. Sie Liong merasa kagum sekali. Kiranya para pendeta Lama ini memiliki perkumpulan yang kuat dan dapat bekerja dengan rapi sehingga dia yang ingin melakukan penyelidikan, bahkan lebih dahulu menjadi bahan penyelidikan dan keinginannya sudah diketahui oleh mereka! Diapun segera keluar dari kuil itu, keluar dari pintu gerbang pagar tembok dan mengambil jalan memutar.

Kalau pihak Kim-sim-pai sudah tahu akan keadaan dirinya, bahkan mungkin tahu pula akan maksud kedatangannya, diapun tidak perlu berpura-pura lagi. Memang lebih baik kalau bicara dengan sejujurnya, menuntut sikap para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa Himalaya, yang kini mengungsi ke Kun-lun-san, daripada melakukan penyelidikan secara rahasia, hal yang amat tidak enak kalau sampai ketahuan pihak yang diselidiki.

Dengan sikap tenang dan hati tabah Sie Liong menuju ke arah belakang. Ternyata, memang tempat itu luas sekali, bentuknya memanjang ke belakang, seperti sebuah perkampungan saja. Ketika dia memutari pagar tembok itu, akhirnya di sebelah belakang dia melihat sebuah pintu yang tidak besar, bukan pintu umum, melainkan pintu untuk keluar masuk para pendeta anggauta perkampungan itu sendiri. Di pintu kecil itu, Sie Llong disambut oleh dua orang pendeta Lama yang usianya sekitar lima puluh tahun.

“Sie Taihiap, silakan masuk dan mengikuti kami. Para suhu telah menanti di dalam,” kata seorang diantara mereka berdua yang bersikap hormat.

Kembali Sie Liong kagum bukan main. Mereka itu agaknya telah lama mengikuti gerak geriknya dan sudah tahu benar siapa dia! Hal ini amat tidak menguntungkan bagi dia, karena tentu mereka yang sudah mengetahui akan kedatangannya itu telah membuat persiapan-persiapan,

Bagaimanapun juga, dia telah tiba di situ dan tidak mungkin dapat mundur kembali. Maka, sambil mengucapkan terima kasih, diapun mengikuti mereka masuk ke dalam melalui sebuah taman yang indah. Ketika dia malewati sebuah bangunan besar, lapat-lapat dia mendengar suara ketawa wanita! Namun, segera suara ketawa itu terhenti dan diapun pura-pura tidak mendengarnya.

Sie Liong hanya mencatat di dalam hatinya. Agaknya, sikap hormat dan sopan yang dia lihat di kuil tadi, sikap saleh dan beribadat para pendeta Lama yang melayani para tamu, masih perlu diselidiki lebih seksama lagi. Dari luarnya saja nampak bahwa pendeta itu hidupnya secara saleh dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi, namun di sini dia mendengar suara ketawa wanita! Tak mungkin dia salah dengar.

Dua orang pendeta Lama itu membawanya ke sebuah ruangan yang luas sekali. Sedikitnya lima ratus orang akan dapat berkumpul dalam ruangan yang luas itu. Ruangan itu terbuka dan di sudut terdapat bangku-bangku mengelilingi beberapa buah meja yang dideretkan menjadi meja panjang dan di situ dia melihat belasan orang pendeta Lama duduk bagaikan arca-arca tak bergerak, hanya mata mereka saja yang mencorong tajam menyambut kedatangannya.

Dua orang pendeta yang mengantarnya lalu memberi hormat dengan menyembah kepada belasan orang itu, kemudian mengundurkan diri membiarkan Sie Liong seorang diri berhadapan dengan tiga belas orang pendeta Lama itu.

Sie Liong juga melayangkan pandang matanya kepada mereka. Segera dia mengenal lima orang diantara mereka yang duduk berjajar. Biarpun usia mereka kini sudah enam puluh tahun lebih, dan sudah tujuh delapan tahun yang lalu dia pernah bertemu dengan mereka, namun dia tidak melupakan lima orang pendeta Lama itu. Siapa lagi kalau bukan Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet) yang pernah datang ke Kun-lun-pai dan menyerang Himalaya Sam Lojin dahulu!

Dan karena mereka berlima inilah maka kini dia datang ke Tibet, karena para gurunya minta kepadanya untuk menyelidiki mengapa Dalai Lama mengutus lima orang pendeta Lama ini untuk memusuhi para pertapa dan para tosu dari Himalaya, bahkan mengejar-ngejar mereka yang sudah melarikan diri mengungsi ke pegunungan Kun-lun.

Selain lima orang ini, delapan yang lain dia tidak mengenalnya. Akan tetapi, melihat seorang pendeta Lama yang usianya sudah tujuh puluh tahunan, tinggi kurus dengan muka kemerahan kekanak-kanakan, berjubah merah dan memegang sebatang tongkat pendeta yang berlapis emas, berwibawa dan duduk di kursi paling depan, juga kursinya berbeda dengan bangku-bangku yang lain, terbuat dari gading gajah, diapun dapat menduga bahwa mungkin kakek itulah yang berjuluk Kim Sim Lama!

“Orang muda, apakah engkau yang bernama Sie Liong dan berjuluk Pendekar Bongkok?” kakek itu bertanya dan diam-diam Sie Liong terkejut.

Ketika dia bicara, suaranya demikian tinggi dan tajam sekali, membuat jantungnya tergetar dan wajah yang kekanak-kanakan itu mengeluarkan sinar, dan matanya mengandung wibawa yang amat kuat. Bukan main, pikirnya. Kakek ini bukan orang sembarangan dan akan merupakan lawan yang amat berat. Akan tetapi dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada belasan orang itu.

“Benar, losuhu, nama saya adalah Sie Liong dan adapun julukan itu mungkin hanya kelakar orang-orang yang melihat keadaan tubuh saya yang cacat saja.”




Pendekar Bongkok Jilid 091
Pendekar Bongkok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar