Ads

Senin, 20 Januari 2020

Pendekar Bongkok Jilid 095

“Thay Bo Lama, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapapun juga di sini. Maka, tentu aku tidak akan menyerang siapapun, dan hanya akan membela diri kalau aku diserang.”

“Sombong! Sambutlah serangan tombakku ini!”

Dia segera menggerakkan tombaknya dan terdengarlah suara bersiutan karena tombak itu bergerak dengan cepat dan kuat bukan main. Ketika menyerang dengan tusukan, tombak itu meluncur seperti anak panah saja, menusuk ke arah dada Sie Liong!

Sie Liong melihat gerakan ini dapat menduga bahwa lawannya yang kurus kering seperti cecak mati kering itu agaknya memiliki tenaga yang amat besar. Untuk meyakinkan dugaannya, diapun mengerahkan tenaganya pada tongkat yang dipegangnya, lalu dengan tubuh miring dia menangkis dari samping.

“Tranggg....!”

Dugaan Sie Liong memang tepat. Biarpun lawannya itu kurus kering dan kelihatan lemah, namun ternyata di dalam lengan yang kecil dan hanya tulang terbungkus kulit itu terdapat tenaga raksasa yang mengejutkan. Untung bahwa dia telah menduga sebelumnya sehingga tidak merasa terkejut. Juga tidak sampai terpental karena diapun sudah mengerahkan tenaganya ketika menyambut dengan tangkisan tadi.

Dilain pihak, Thay Bo Lama yang terkejut. Bocah bongkok itu mampu menangkis tombaknya dan tongkat yang dipegang bocah itu tidak sampai terpental atau patah, bahkan kedudukan kakinya sendiri yang menjadi goyah karena dia merasa seolah tombaknya bertemu dengan pagoda baja yang amat kuatnya!

“Bogus! Bocah bongkok kiranya engkau telah mewarisi sedikit ilmu dari Pek Sim Sian-su dan karenanya menjadi sombong! Akan tetapi awas, hari ini engkau akan mampus di tangan pinceng!” bentak Thay Bo Lama sambil melintangkan tombaknya di depan dada.

“Thay Bo Lama, ingatlah bahwa engkau yang memaksaku untuk berkelahi, bukan aku yang mencari permusuhan!” jawab Sie Liong dengan sikap yang amat tenang.

“Hyeeeeeehhhh.... haittt....!”

Thay Bo Lama mengeluarkan teriakan nyaring, lengan kirinya membuat gerakan memutar di depan dada untuk mengumpulkan tenaga sakti yang dipusatkan di kedua lengan. Kakek yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun ini ternyata memang masih amat kuat sehingga dari kedua lengannya itu timbul getaran melalui tombaknya dan kini tombak itu bagaikan hidup menyambar ke arah Sie Liong.

“Wyuuuuuutt.... singgggg....!”

Ketika dielakkan, senjata itu menyambar-nyambar dan melakukan serangan bertubi-tubi dan selain mendatangkan sambaran angin yang amat kuat, juga mengeluarkan suara bersiutan dan berdesing.

Namun, Sie Liong dapat selalu menghindarkan diri dengan tidak terlampau sulit, menggunakan gerakan kedua kakinya yang lincah untuk membuat tubuhnya selalu meliuk-liuk dan menyusup-nyusup diantara sinar tombak, dan kadang-kadang tongkatnya menolak tombak dengan tangkisan yang demikian kuat sehingga beberapa kali tombak itu menyeleweng dan Thay Bo Lama sendiri terhuyung!

Sie Liong maklum bahwa dia berada di dalam bahaya, juga dalam keadaan serba salah. Kalau dia terlalu lama melayani Thay Bo Lama, tentu tenaganya akan terkuras karena di situ masih terdapat banyak lawan yang tentu akan maju satu demi satu.

Sebaliknya, kalau terlalu cepat dia mengalahkan Thay Bo Lama, hal ini hanya akan membuat mereka menjadi semakin penasaran dan marah kepadanya! Jalan lari tidak mungkin lagi karena dia sudah terperosok ke dalam sarang mereka. Bagaimanapun juga, dia harus menghadapi ancaman bahaya itu dengan gagah. Tiba-tiba dia mempercepat gerakan tongkatnya dan dia mainkan Thian-te Sin-tung di bagian yang menekan dan menyerang.

Begitu Sie Liong mengubah gerakannya dan mulai menyerang, Thay Bo Lama terkejut. Dia melihat betapa tongkat itu seperti berubah menjadi banyak sekali. Sebagian menahan tombaknya, sebagian pula menyerangnya bagaikan gelombang lautan yang menyerbu dirinya!






Beberapa kali tubuhnya nyaris terpukul dan dia terus memutar tombak, melindungi tubuhnya sambil terdesak mundur. Padahal, belum ada tiga puluh jurus dia melawan! Cepat dia mengerahkan tenaga sakti dan mulutnya berkemak-kemik. Dia hendak menggunakan kekuatan sihir untuk mengalahkan lawan yang masih muda itu.

“Hyaaaahh, orang muda berlututlah engkau!”

Namun, biar masih muda, Sie Liong adalah murid yang dikasihi dan digembleng oleh Pek Sim Sian-su, maka tentu saja dirinya sudah “berisi” dan segala macam kekuatan sihir tidak akan mudah mempengaruhi batinnya yang sudah kuat.

Dia merasakan getaran ilmu sihir itu, namun cepat Sie Liong mengerahkan sin-kang melindungi dirinya dan sekali tongkatnya berkelebat, dua lutut kaki lawan telah dicium ujung tongkatnya. Thay Bo Lama mengeluarkan seruan kaget ketika tiba-tiba kedua kakinya menjadi lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi, diapun jatuh berlutut! Ternyata jeritannya mengandung perintah tadi disusul dengan dirinya sendiri yang berlutut, bukan lawannya.

“Thay Bo Lama, tidak berani aku menerima penghormatan itu!” kata Sie Liong sambil melangkah mundur dan menghadap ke samping.

Sikapnya wajar dan sedikitpun tidak menunjukkan ejekan. Justru sikap ini yang membuat Thay Bo Lama menjadi malu dan marah bukan main. Setelah rasa kesemutan yang membuat kedua lututnya lumpuh tadi lenyap, diapun bangkit berdiri dengan muka merah dan matanya mencorong memandang pemuda bongkok itu penuh kebencian.

“Hyaaatt-ahh....!”

Tiba-tiba Thay Bo Lama, pendeta mata satu itu sudah menyerang Sie Liong dengan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang rantai baja yang panjang dan berat sekali. Rantai itu menyambar ganas ke arah kepala Sie Liong.

Pendekar Bongkok sudah mengenal sejak dahulu akan kelihaian Tibet Ngo-houw ini, maka melihat rantai menyambar ganas, diapun merendahkan tubuhnya dan rantai itu lewat di atas kepalanya, kemudian diapun melangkah maju mendekat. Rantai itu panjangnya ada tiga meter sehingga kalau berkelahi jarak jauh, dia akan rugi. Rantai lawan dapat mencapai dirinya sedangkan tongkatnya yang hanya satu setengah meter panjangnya tidak akan dapat mencapai lawan.

Akan tetapi, Thay Bo Lama sudah menyambutnya dengan dorongan tangan kiri yang terbuka. Ada angin yang berbau amis manyambar ke arah Sie Liong. Pemuda ini meloncat ke kiri, maklum bahwa itu adalah pukulan yang mengandung racun. Memang, pendeta Lama yang matanya buta sebelah itu, selain amat lihai memainkan rantai bajanya yang panjang dan berat, juga terkenal memiliki pukulan beracun, juga pandai mempergunakan racun sebagai senjata atau alat untuk mengalahkan lawannya.

Sambil melangkah maju, Sie Liong juga menggerakkan tongkatnya menusuk ke arah perut lawan baru ini. Namun tiba-tiba rantai baja itu ditekuk menjadi dua dan ternyata pendeta Lama itu kini memegang rantai di bagian tengah dan rantai yang tadinya tunggal dan panjang itu berubah menjadi dua rantai pendek karena dipegang bagian tengahnya! Dan dua batang rantai itu berputar menangkis tongkat, bahkan membalas dengan serangan dari kanan kiri, dua helai rantai baja itu melakukan gerakan menggunting.

Kembali Sie Liong melangkah ke belakang untuk menghindarkan diri dari guntingan sepasang rantai baja itu. Akan tetapi, dia mendengar angin bersiut ke arah kepalanya dari belakang. Cepat dia merendahkan tubuh sambil memutar tongkat untuk menyambut penyerangnya dari belakang itu. Kiranya Thay Bo Lama yang sudah menyerangnya dengan curang sekali.

Thay Bo Lama yang tadi menghantamkan tombaknya ke arah kepala Sie Liong, kini berbalik malah diancam tongkat yang menusuk ke arah lambungnya dari samping. Cepat dia melempar tubuhnya mengelak, akan tetapi kaki Sie Liong menyambar dan diapun terpelanting! Untung bahwa tendangan itu tidak mengenai dengan tepat sehingga tubuh Thay Bo Lama hanya terpelanting saja dan tidak terluka.

Pada saat itu, Thay Hok Lama sudah pula menyerang dengan rantai bajanya. Ketika Sie Liong menggerakkan tongkat menangkis, ujung rantai yang panjang itu melibat tongkat! Maksud Thay Hok Lama tentu saja untuk merampas tongkat. Dia membetot keras untuk membuat tongkat di tangan pemuda itu terlepas.

Akan tetapi Sie Liong mempertahankan dan dengan pengerahan sin-kangnya, diapun membalas, menarik dan..... tubuh Thay Hok Lama melayang terbawa tarikan itu, melambung ke atas sehingga terpaksa Thay Hok Lama pelepaskan belitan rantainya dan dia meloncat turun dengan muka berubah merah.

Melihat betapa dua orang rekan mereka masih terdesak oleh Pendekar Bongkok, Thay Ku Lama memberi isyarat kepada dua orang sutenya, yaitu Thay Si Lama dan Thay Pek Lama.

Tiga orang ini serentak berloncatan turun ke gelanggang dan merekapun sudah menggerakkan senjata masing-masing melakukan pengepungan. Thay Ku Lama yang bermuka codet dan berperut gendut itu telah memegang goloknya, Thay Si Lama yang bermuka bopeng mempergunakan senjata cambuknya, sedangkan Thay Pek Lama yang barmuka pucat memegang sepasang pedang! Lengkaplah kini Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet) mengepung Pandekar Bongkok Sie Liong!

Sie Liong tersenyum dan terbayanglah peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika dia masih kecil. Ketika itu, diapun melihat Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan tiga orang gurunya atau juga dapat disebut suhengnya, yaitu Himalaya Sam Lojin. Mereka adalah gurunya karena dia menerima gemblengan silat pertama dari mereka bertiga, akan tetapi merekapun kakak-kakak seperguruannya karena dia adalah murid Pek Sim Sian-su yang terhitung susiok (paman guru) dari Himalaya Sam Lojin.

Masih terbayang olehnya betapa Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan Himalaya Sam Lojin, lima orang melawan tiga orang! Suatu pertandingan yang amat hebat dan dahsyat dan dia masih ingat betapa Himalaya Sam Lojin terdesak oleh Tibet Ngo-houw yang lihai itu. Untung ketika itu muncul Pek Sim Sian-su dan juga sute dari kakek sakti itu, Koay Tojin yang aneh dan Tibet Ngo-houw dapat dikalahkan dan diusir.

Dan kini, dia seorang diri harus menghadapi pengeroyokan lima orang Lama yang amat lihai itu! Namun, dia sudah menerima gemblengan lahir batin dari Pek Sim Sian-su dan dia tidak merasa gentar sedikitpun juga.

“Hemm, aku datang mewakili para tosu yang dimusuhi hanya untuk minta keterangan mengapa mereka yang tidak berdosa itu dimusuhi, dan ternyata sekarang Tibet Ngo-houw juga berusaha keras untuk mengeroyok aku! Apakah inipun termasuk perintah Yang Mulia Dalai Lama? Ataukah nama beliau itu hanya kalian pergunakan untuk menjatuhkan nama Dalai Lama? Bukankah ini juga merupakan suatu muslihat dalam pemberontakan kalian terhadap Dalai Lama? Sungguh bagus sekali!”

Sie Liong berkata. Karena maklum bahwa dia telah masuk sarang harimau dan tidak dapat mengharapkan lolos, maka diapun tidak menyembunyikan perasaan dan dugaannya.

Ucapan ini membuat lima orang pendeta Lama itu saling pandang dan tentu saja mereka merasa betapa janggalnya dan memalukan keadaan mereka di saat itu. Lima orang datuk besar persilatan yang namanya sudah menjulang tinggi, lima orang kakek sakti yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun dengan senjata-senjata pusaka andalan mereka di tangan, kini mengepung seorang pemuda yang cacat tubuhnya, bongkok dan hanya memegang senjata sebatang tongkat kayu pula!

Betapa memalukan keadaan ini. Akan tetapi mereka berada di sarang sendiri, tidak ada orang luar yang menyaksikan peristiwa memalukan itu. Yang hadir di situ hanyalah para rekan mereka, yaitu Kin Sim Lama, yang tentu maklum bahwa mereka harus maju bersama menghadapi musuh yang demikian lihainya, meskipun masih amat muda dan bongkok pula. Betapapun juga, ucapan Sie Liong tadi menyentuh perasaan harga diri mereka dan kini mereka berdiri berjajar, tidak lagi mengepung. Hal ini mereka lakukan atas isyarat Thay Ku Lama orang pertama diantara mereka.

Mereka hendak menggunakan tenaga gabungan mereka untuk mengalahkan Sie Liong sehingga tidak akan kelihatan terlalu mengepung dan mengeroyok! Mereka berdiri berjajar sambil bergandeng tangan, Thay Ku Lama di ujung kanan sebagai kepala dan Thay Si Lama di sebelah kiri paling ujung sebagai ekor.

Mereka membentuk suatu barisan yang mereka ciptakan sendiri dan nama barisan ini adalah Siang-thouw-coa (Ular Berkepala Dua). Memang barisan atau “tin” ini mirip gerakan ular yang berkepala dua. Mereka berlima dengan bergandeng tangan menghadapi lawan dengan gerakan melingkar-lingkar dan meliuk-liuk dan yang menjadi penyerang utama hanyalah sang kepala dan sang ekor yang keduanya dapat berganti tempat. Jadi penyerang utama hanya Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, sedangkan tiga orang Lama yang lain, karena kedua tangan mereka bergandeng untuk menyambung barisan itu, hanya membantu dengan tendangan-tendangan saja.

Menghadapi lima orang lawan yang sudah menyimpan senjata masing-masing dan kini bergandeng tangan itu, Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama sakti yang amat berbahaya, lihai dan licik sekali. Maka, diapun menduga bahwa mereka tentu akan mempergunakan suatu cara penyerangan yang istinewa, dan melihat cara mereka bergandeng tangan, diapun dapat menduga bahwa ini tentu semacam tin (barisan) dan cara bergandeng tangan itu menunjukkan bahwa mereka berlima tentu akan menyatukan tenaga sin-kang mereka.

Ini berbahaya bukan main. Menghadapi mereka itu satu lawan satu, mungkin dia masih dapat menandingi kekuatan sin-kang mereka, bahkan mengatasi mereka. Akan tetapi kalau tenaga sin-kang mereka berlima disatukan, dia harus berhati-hati sekali, terutama kalau hendak mengadu tangan!




Pendekar Bongkok Jilid 094
Pendekar Bongkok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar